
"Ini saaangat indah!" seru Jia menatap lurus ke depan, juga sesekali ke bawah. Di mana lampu - lampu dari jalanan yang jauh di bawah sana, atau bahkan jalanan yang tadi mereka lewati terlihat sangat indah memancar di tengah pekat malam.
Juga lampu dari jendela - jendela rumah yang bersinar dengan redup, namun mempercantik suasana malam di atas bukit.
Udara malam yang dingin, semakin terasa dingin ketika daun - daun yang berjajar di bukit berayun teratur, hingga menimbulkan hembusan angin yang menembus kulit ari, hingga sampai pada tulang terdalam.
Namun semua terasa hangat, jika kita bersama dengan orang terkasih. Seseorang yang siap memberi kehangatan, dengan sentuhan yang mendebarkan. Atau pun dengan jaket kulit mereka.
Di antara semua rasa itu, di antara dinginnya udara di bukit Fields of Pealand, ada Jia yang mengobrol formal dengan sang bodyguard yang membawanya meninggalkan kota Roma.
Di bawa pergi keluar jauh dari rumah, bukannya Jia takut, justru Jia sangat menginginkan hal itu sejak lama. Bersama sang bodyguard, menghabiskan waktu yang tersisa dari waktu yang di berikan oleh sang Ayah, di tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Namun satu yang menjadi masalah bagi Jia...
"Bisa tidak, kamu jangan panggil aku Nona! Setidaknya saat kita hanya berdua seperti sekarang!" ucap Jia menoleh ke belakang. Di mana Xiaoli tampak terlihat sangat tampan di antara gelap malam, dengan baju serba hitam khas bodyguard, dan bersandar pada mobil sang Ibu.
Ya, obrolan formal yang di ucapkan Xiaoli membuat telinga Jia risih sekali. Namun jawaban demi jawaban yang kemudian di lontarkan pemuda itu justru membuat Jia seperti berada di kutub utara, tanpa baju penghangat, maupun perapian.
Benar, Nona Muda Xavier membeku, ketika Xiaoli justru mengajukan satu sebutan yang membuat aliran darah Jia tidak normal.
"Bolehkah aku memanggil mu dengan sebutan... Sayang?"
Nafas Jia memburu, dada yang berada di dalam jaket kedodoran bergerak kembang kempis. Namun semua itu belum terlihat, akibat jaket hitam Xiaoli seperti menelan hidup - hidup tubuh sintal nan rampingnya.
"Kamu tau, kenapa aku cemburu?"
Jia tersentak kaget, saat mendengar suara itu terdengar begitu dekat dengan telinganya. Bahkan dada sang boyguard nyaris terasa oleh punggungnya. Pergerakan Xiaoli memang cukup sulit untuk di deteksi lawan.
"Itu karena aku mencintaimu, Jia!" bisik Xiaoli dengan suara yang berat, dan terdengar sangat - sangat serius.
Sementara yang di tanya kini semakin tidak karuan. Tubuh yang berdebar, kaki yang terasa lemas. Jemari yang ada di sisi kanan dan kiri tubuhnya seketika seperti mengeluarkan keringat dingin. Dan Jia meremasnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Jia...." bisik Xiaoli sekali lagi, dengan suara yang berat. Seolah tengah mengeluarkan emosi di dalam dada yang sudah terpendam sekian lama.
Dan hembusan nafas sang bodyguard semakin terasa di telinga kiri Jia. Bagaimana hembusan nafas hangat yang di sertai dengan kalimat sakral itu terasa begitu menyejukkan dan menggetarkan seluruh jiwa raganya.
"Sekarang kamu tau, bukan? Aku cemburu karena aku mencintaimu..." bisik Xiaoli dengan sangat lirih namun terdengar begitu dalam dan serius. "Dan aku benci ada yang menyentuhmu, Jia!"
DEG!
__ADS_1
' Benar! Dia melihat ku tadi! '
Nafas Jia memburu bak baru saja berlari sekian mil.
"Katakan... kalau aku telah salah sudah mencintai anak Bos ku sendiri!" desis Xiaoli masih dengan posisi yang sama, suara berat yang sama dan hati yang sama.
Jia menggeleng samar, tidak sanggup untuk mengatakan apa yang di perintahkan Xiaoli. Karena ia sendiri telah salah karena mencintai seorang Bodyguard.
"Katakan, Jia! Aku telah berkhianat pada Klan dengan mencintai mu! Marahi aku! Tampar aku! atau lakukan apapun yang kamu inginkan untuk membuat bodyguard tidak tau diri sadar!"
Jia semakin menggelengkan kepal, tapi lebih cepat dari sebelumnya.
"Kamu tau bukan? apa yang akan terjadi dengan seorang pengkhianat di Klan milik keluarga mu?" tanya Xiaoli dengan dada yang bergemuruh karena menahan sesak dan mirisnya posisi yang ia duduki.
"Tuan Michael akan meledakkan kepalaku karena berani mencintai putri tunggalnya...." lirih Xiaoli dengan suara yang nyaris hilang saking sesaknya menahan gejolak dan kenyataan hidup di dalam dada.
Jia kembali menggelengkan kepala lebih cepat dan nyata. Bahkan nafas nya ikut tersengal mengingat jika sampai mereka menjalin cinta di belakang sang Ayah, itu artinya Xiaoli telah berkhianat. Lalu apa yang akan terjadi dengan Xiaoli?
Tidak mungkin sang Ayah mengampuni begitu saja. Michael Xavier tidak mengenal ampun pada siapapun. Terutama pengkhianat.
Tapi siapa yang berani berkata pada sang Tuan Mafia, jika mereka saling mencintai?
Tidak ada yang tau, keputusan apa yang akan di ambil seorang Michael Xavier, ketika seorang bodyguard mencintai putri satu - satunya.
"Tapi kamu perlu tau, Jia... cinta ku padamu adalah nyata! Perasaan itu benar ada dan benar - benar tulus kepadamu..." tegas Xiaoli berbisik dengan sangat lirih dan dalam. "Aku tidak memiliki perasaan semacam ini sebelum ini. Dan semua itu tumbuh saat pertama kali melihat mu, memasuki mobil..." lirih Xiaoli mengenang momen beberapa bulan lalu.
"Tapi aku tidak mau menjadi pengkhianat," ucap Xiaoli. Kali ini ia menatap lurus ke depan, nafasnya teratur namun dada masih sangat sesak. "Aku sudah bersumpah untuk setia dan tunduk pada Klan Black Hold yang di pimpin oleh Ayah mu..!"
"Aku membawa mu ke tempat ini, supaya aku bisa jujur kepadamu tentang apa yang aku rasakan, dan sekaligus menjadi momen perpisahan kita!" ucap Xiaoli. "Aku akan menghadap Tuan Michael, dan mengatakan penghianatan ini..."
Cepat Jia menggelengkan kepala mendengar kalimat terakhir Xiaoli. Ia yakin jika sang Ayah benar - benar akan meledakkan kepala Xiaoli jika sampai Xiaoli mengatakan semua itu. Tidak! Jia tidak ingin kehilangan sang bodyguard. Jia tidak akan sanggup kehiangan seseorang yang menjadi penyemangatnya beberapa waktu terakhir.
Apalagi ia baru saja mendengar pernyataan cinta itu dai sang bodyguard malam ini. Tidak akan sanggup jika harus berpisah malam ini pula.
Jia hendak berbalik untuk mencegah Xiaoli agar tidak sampai mengatakan pada sang Ayah jika pemuda itu mencintai nya. Namun yang terjadi adalah kakinya tersandung kaki lainnya dan membuatnya terpeleset.
"Hampk!" Jia mendelik saat ia mengira akan jatuh ke dalam jurang yang kedalamannya tidak ia ketahui itu.
Namun Xiaoli bukanlah sembarang bodyguard. Memiliki perhitungan yang sangat cepat ketika bekerja dan juga kepekaan terhadap bahaya. Maka dengan satu tangan, ia berhasil meraih tubuh Jia untuk tidak sampai jatuh ke dalam jurang. Ia tarik tubuh itu, hingga menabrak dada bidangnya.
__ADS_1
DEG!
Suara detak jantung yang terdengar, mewakili betapa keduanya sangat gugup saat ini. Betapa dunia mereka sedang di uji saat ini.
Tubuh Jia dan Xiaoli menempel dengan sempurna, sangat sempurna. Kedua tangan Jia ada di sisi kanan dan kiri dada bidang Xiaoli, mata Jia menatap leher dengan jakun sang lelaki yang sangat menggiurkan.
Sedangkan tangan kekar Xiaoli berada di pinggang Jia, mengunci erat pinggang itu agar tidak sampai jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam itu. Dan sorot matanya, dalam menatap wajah cantik Jia yang bisa ia nikmati dengan jarak yang sangat dekat. Dua senti meter saja jarak antara bibirnya dengan kening sang Nona Muda.
Bisa saja Xiaoli mendaratkan kecupan di dahi itu. Ia yakin Jia tidak akan marah kalaupun ia mendaratkan kecupan di sana. Karena ia tau dan yakin, jika Jia juga mencintainya. Terlihat dengan Jia yang menggelengkan kepala ketika ia hendak mengakui penghianatan akan perasaan terlarangnya.
Deru nafas memburu di dalam dada masing - masing. Posisi yang belum pernah mereka rasakan sama sekali di seumur hidup mereka.
"Aku mencintai mu, Jia..." lirih Xiaoli menatap dalam wajah cantik yang masih menunduk dengan menatap jakunnya yang kini bergerak naik turun karena di gunakan untuk berbicara.
Jia mendongak ke atas, menatap wajah tampan Xiaoli yang sangat dekat dengan wajahnya. Saling menatap lekat hingga jelas terlihat jika keduanya sama - sama mencintai.
"Jangan katakan pada Daddy, Xiaoli..." lirih Jia yang sangat takut jika kepala pemuda itu akan di ledakkan oleh sang Ayah. Ia baru saja mendapatkan apa yang ia inginkan, haruskan ia kehilangan dalam waktu secepat ini?
"Jangan..." lanjut Jia dengan jantung yang masih berdetak kencang kerana posisi yang sangat nyaman. "Aku tidak akan sanggup melihatnya..."
"Katakan... kenapa aku tidak boleh mengatakan ini pada Tuan Michael?" tanya Xiaoli lirih dan sangat jelas. "Aku mungkin bodyguard pertama yang mengkhianati Ayahmu dengan cara mencintaimu..."
Jia menggelengkan kepalanya lagi, "Aku tidak mau kehilangan kamu, Xiaoli..." lirik Jia.
"Apa yang membuat mu berat kehilangan aku, Jia?" tanya Xiaoli meski sebenarnya pemuda itu tau alasannya. Namun ia ingin mendengar dari perempuan itu sendiri. "Aku hanyalah bodyguard kurang ajar yang berani menaruh hati pada mu.."
Menarik nafas dalam dan panjang, Jia berkata... "Karena..." Jia kembali menarik nafas panjang untuk bisa kembali melanjutkan kalimatnya. "Karena aku... aku juga mencintai mu, Xiaoli..." jawab Jia dengan dada yang di penuhi debaran hebat.
Untuk sesaat keduanya hanya diam dengan posisi yang belum berubah. Dua pasang mata yang saling menatap lekat dan dalam jarak sangat dekat. Dengan dada yang menempel sempurna, hingga dapat merasakan detak jantung masing - masing.
Jia menatap mata Xiaoli yang menunjukkan keseriusan. Sementara Xiaoli menatap Jia dengan tatapan seolah mencari jawaban, benarkah yang di ucapkan sang Nona Muda? Jika ia juga mendapatkan cinta Jia?
"Aku mencintaimu, Jia... sangat mencintaimu..." lirih Xiaoli memperjelas perasaannya.
"Aku juga Xiaoli... aku juga mencintai mu... Untuk saat ini jangan katakan apapun pada Daddy tentang kita... aku mohon!" ucap Jia tak sanggup jika kehilangan sosok Xiaoli Chen secept itu.
Xiaoli memejamkan matanya dalam. Ia telah berdusta dan berkhianat jika tidak mengucapkan pada Michael, tapi ...
Menghela nafas... wajah haru terpancar dari keduanya. Mengukir senyuman tipis yang sangat mendebarkan.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...