SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 107


__ADS_3

Limousine yang di apit oleh 2 Jeep di belakang dan 1 jeep di depan masih terus melaju. Melewati jalan tol yang cukup sepi kala senja menyapa.


BLAARR!


Tiba - tiba suara dentuman terdengar begitu keras dari arah belakang. Sontak semua penghuni mobil menoleh ke belakang. Termasuk semua para pengawal Michael.


Kobaran api yang disertai kepulan asap hitam terlihat membakar sebuah Jeep paling belakang. Sudah bisa di pastikan jika seisi mobil pasti sudah tak bernyawa kala itu juga.


"Brengsek!" umpat Michael membelalakkan matanya. Wajahnya berubah hanya dalam satu detik saja.


"Apa yang terjadi?" tanya Chania dan Sania bersamaan.


"Kita di serang!" jawab Michael menarik tubuh istrinya untuk lebih dekat dengannya.


"Apa?" pekik Chania lirih. Kepala menoleh ke arah suaminya dan ke arah belakang secara bergantian.


Dan....


"APA!" respon histeris Sania jauh lebih mengagetkan seisi Limousine. Mengingat dirinya tidak pernah berada dalam posisi semacam ini. Lebih lagi ia tak tau jika Michael Xavier ada seorang Mafia.


Spontan Chania meraih tangan Sania agar tidak terlalu takut berlebihan.


"Hubungi markas!" perintah Michael pada Jack yang sudah siap dengan senjata laras panjang miliknya.


"Siap, Tuan!" Dimitri yang menjawab, karena ia tau Jack tidak akan sempat mengurusi ponselnya. Karena pria itu sudah mengeluarkan kepalanya di jendela.


"Kamu bisa duduk di bawah?"


"Bisa!" mengangguk cepat. Kemudian menarik tangan Sania untuk ikut duduk di bawah bersamanya. Kakinya menekuk dan melorot ke bawah.


Mobil Jeep di belakang Limousine sudah siap dengan beberapa senjata mematikan. Menerjang musuh dengan pistol dan sebagainya, bahkan bazoka dari mobil Jeep di belakang pun ternyata sudah mengarah ke belakang.


BLAARR!


Satu letusan bazoka mengenai mobil musuh yang berada di barisan paling depan.


"Mampus kau!" seru pengawal yang berhasil meledakkan mobil musuh. "Itu balasan karena kalian mengebom kawan - kawanku! Hahaha!" tawanya bangga.


"Ada berapa mobil musuh?" tanya Michael yang sudah On dengan alat komunikasi khusus milik mereka.

__ADS_1


"Sekitar 10 lagi, Tuan!"


"Fvck!" umpat Michael menahan emosi. "Kita terlalu ceroboh kali ini! Brengsek!" umpat Michael. "Ini benar - benar di luar dugaan!"


Suara letusan senjata saling beradu. Michael dengan aksi heroiknya sudah duduk di jendela limousine seperti biasa. Menoleh ke belakang dengan senjata Glock kesayangannya, dan juga rompi anti peluru di sudah terpasang di tubuhnya.


Peluru Michael yang tak pernah meleset mengurangi jumlah musuh satu persatu. Beberapa Jeep musuh mulai oleng dan menabrak pembatas. Beberapa kali terlihat Michael menghindari datangnya peluru yang secepat kilat.


Chania duduk di bawah dengan memeluk kedua kaki yang terlipat di depan dada. Kepala mendongak sang suami, menyaksikan aksi berbahaya sang suami dengan nafas tersengal. Tentu hati wanita hamil itu tak akan bisa tenang. Sekali saja Michael gagal menghindar, sudah bisa di pastikan peluru mendarat tepat di kepalanya.


Air mata menetes dari pelupuk mata indahnya. Berbagai pikiran buruk menerjang isi kepalanya. Ia tak mau jika sang anak kelak lahir tanpa tau siapa Daddy nya. Kedua anak kembarnya harus tau siapa Daddy mereka. Dan harus tau sehebat apa sang Daddy Michael yang banyak di puja banyak orang.


Dimitri dengan lincahnya mengemudikan limousine dengan berbagai manuver menegangkan untuk Sania yang sedari tadi hanya bisa bersembunyi menunduk di antara tangan yang melingkari lutut.


Ia sudah menangis, ada perasaan menyesal sudah mengambil keputusan untuk mau ikut saudara kembarnya yang kini dapat ia duga seperti apa latar belakang suami Chania sebenarnya. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat beberapa senjata yang kini berada di pangkuan Michael dan dua bodyguard di depan.


Suara desingan peluru terus terdengar, jumlah mobil musuh seolah tak berkurang. Meskipun mereka sudah berhasil melumpuhkan empat mobil terdepan.


"Kemana mereka lama sekali! Fvck!" umpatan terus meluncur dari bibir Michael. Dimana ia mengumpati anak buah yang di hubungi tak kunjung menampakkan tanda - tanda kehadiran mereka.


Jika saja tak ada sang istri bersamanya, ia tak akan ambil pusing. 3 mobil VS 20 mobil sekali pun bukan masalah berat untuk seorang Michael Xavier. Tapi kali ini, ada orang - orang yang harus ia lindungi nyawanya.


Namun sayang, peluru yang diletuskan musuh dari mobil lainnya berhasil menyerempet lengan Michael. Menembus jaket kulit yang ia pakai. Menerobosnya hingga menggores kulit lengan yang putih dan kekar.


"Fvck!" umpatnya.


"HONEEYY!" teriak Chania sedikit tertahan.


Namun Michael tak peduli dengan luka yang terbentuk seperti goresan yang berdarah.


"Aaakh!" teriak Sania sudah tak tahan dengan apa yang sedang terjadi. Namun wajah gadis itu tetap pada persembunyiannya.


"Sania, please! jangan panik berlebihan!" ucap Chania menenangkan Sania. Padahal dirinya sendiri dalam ketakutan yang sama. Hanya saja ini bukan kali pertama dalam posisi seperti itu. Sehingga ia lebih bisa mengontrol dirinya.


Dan di waktu yang sama, suara udara yang berputar dengan gerakan kuat dan cepat terdengar oleh telinga sensitif Michael. Ia menoleh ke arah datangnya angin itu.


"Mereka datang, Tuan!" teriak Jack sedari tadi yang beraksi seperti Michael, duduk di jendela dengan membawa senjata laras panjang.


Keduanya mendongak ke atas. Dimana burung besi itu semakin mendekat. Terlihat di sana seseorang duduk di kursi menghadap ke bawah dengan mengarahkan bazoka ke mobil musuh. Satu persatu mobil musuh dapat dimusnakan dalam beberapa menit saja.

__ADS_1


Mobil Jeep musuh terlihat kocar kacir menghindari bazoka yang di tembakkan salah satu pasukan Michael dari udara.


Michael dan Jack melihat ada kesempatan untuk meninggalkan lokasi, segera masuk kembali ke dalam mobil. Menutup kembali kaca mobil. Untuk saat ini keselamatan seisi limousine adalah hal utama.


Chania yang tau jika keadaan lebih baik, menarik Sania untuk kembali duduk di kursi. Sedang ia sendiri kini sudah duduk di samping suaminya dengan membawa kotak P3K.


Air mata terus menetes, sepertinya ia tak sanggup melihat luka suaminya. Jaket yang di lepas, membuat luka goresan peluru dapat dilihat dengan jelas.


"Sampai kapan kamu harus berperang seperti ini...?" tanya Chania lirih sembari mengusap luka dengan kapas yang di berikan cairan antiseptik.


Michael menatap penuh damba pada sang wanita yang berada di sampingnya. Jarak wajah keduanya sangat dekat. Michael dapat mendengar dengan jelas isakan lirih Chania. Tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang menetes.


"Ini tidak sakit sama sekali, Baby.." ucap Michael dengan dua sudut bibir terangkat ke atas. "Yang sakit adalah jika aku tidak bisa lagi melihatmu." lanjutnya dengan raut wajah yang serius.


"Aku mencintaimu, Honey.." lirih Chania sembari mendaratkan kecupan di bibir Michael.


"Aku pun sangat mencintaimu.." balas Michael mencium dalam kening sang istri.


Dua pasang mata saling bersilang tatap. Tanpa peduli dengan sekitarnya. Yang ada hanyalah saling melempar kalimat cinta melalui sorot mata.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap keduanya dengan perasaan campur aduk.


' Andai ada yang mencintaiku, seperti Tuan Michael mencintaimu, Chania... Kita kembar, tapi nasib membuat kau dan aku berbeda... '


Sania mengangkat sebelah sudut bibirnya. Berharap kelak akan mendapatkan cinta yang sama.


***


Limousin berhenti tepat di depan rumah mewah Michael. Semua turun dengan di sambut para penjaga istana Michael. Beberapa tampak memandang bingung, takjub dan juga penuh tanya.


' Begitu mirip! '


Setidaknya itulah yang ada di dalam benak mereka.


"Siapkan jadwal untuk menjemput Reno!" ucap Michael pada Jack.


"Siap, Tuan!"


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2