SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 146


__ADS_3

Menemukan ide brilian untuk mengancam Michael, maka Frank segera mengajak Selena untuk keluar dari pintu rahasia. Dan masuk ke ruang yang di desain untuk penjara melalui pintu khusus.


Melewati lorong sempit, Frank dan Selena sudah berada di balik dinding penjara. Sedang di dalam lorong penjara, Chania masih terus berusaha untuk bisa berdiri dengan bantuan Maya.


Maya berhasil membopong Chania keluar hingga sampai di ujung lorong, tepatnya dekat pintu masuk penjara.


"Toloong!" teriak Maya.


Bersamaan dengan itu, Frank dan Selena berhasil membuka pintu rahasia di dalam penjara.


"Mereka!" pekik Chania saat menoleh ke belakang.


Dengan sigap Maya meletuskan senjata ke arah Frank dan Selena. Namun keduanya berhasil sembunyi di balik dinding.


"Awas!" seru Frank menarik Selena untuk menghindari peluru Maya.


"Kita harus cepat, Nyonya!" ucap Maya.


"Chania!" suara Michael samar - samar mulai terdengar dari posisi Chania saat ini.


"Michael!" pekik Chania. "Honey!" teriak Chania sekuat tenaga dengan masih menahan perih pada kakinya.


"Tuan! kami disini! tolong kami!" teriak Maya.


Namun keduanya belum bisa melihat dimana Michael berada. Ingin rasanya Maya berlari untuk segera menemukan Michael. Tapi ia tak mungkin meninggalkan Chania seorang diri dalam keadaan seperti itu.


Yang Maya lakukan saat ini hanyalah memegangi Chania, sedang tangan kanannya memutar kebelakang. Mengacungkan senjata ke arah Selena dan Frank.


"Ayo, Selen! tidak lama lagi Michael pasti menemukan istrinya!"


"Jangan sebut perempuan itu sebagai istri Kak Michael, Pa!" hentak Selena kesal mendengar sebutan itu.


"Sudahlah, jangan berdebat! ayo!" seru Frank.


Frank mengeluarkan pistolnya, dan mengambil ancang - ancang untuk bisa menyergap Chania dan Maya.


"Chania!" suara Michael semakin dekat.


"Tuan, kami disini!" seru Maya. "Tolong kami, Tuan!"


Saat Maya fokus berteriak memanggil Tuannya, Frank keluar dari persembunyian.


"Awas, Maya!" seru Chania saat melihat Frank bergerak semakin dekat.


Dorr!


Maya reflek meletuskan senjatanya. Bersamaan dengan Maya melesatkan peluru, Frank juga melesatkan senjata yang sama. Dan dua peluru yang lepas dari sangkarnya itu sama - sama melesak, menembus kulit dua orang berbeda.


"Akh!" pekik Frank jatuh berlutut di lantai. Perutnya tertembus peluru Maya.


"Papa!" pekik Selena. "Brengsek!" umpat Selena ke arah Maya dan Chania.


"Akh!" Jerit Maya, saat peluru melesak di paha kirinya. Hingga wanita itu sama jatuhnya.


"Maya!" jerit Chania histeris. Chania ikut terduduk memegangi Maya yang berdarah.


"Nyonya! berusahalah untuk keluar! Anda harus segera bertemu Tuan Michael!" ucap Maya di tengah rasa perih yang ia rasakan.

__ADS_1


"Tapi kamu..." Chania tak sanggup berkata - kata. Air matanya meluncur begitu saja. "Kita harus keluar bersama, Maya! Kita harus berjuang bersama!"


"Cepat, Nyonya!" seru Maya. "Jangan pedulikan saya!"


"Tidak, Maya!"


"Hahaha!" tawa Selena sinis. "Dari pada kalian berdebat, lebih baik kalian sama - sama menyerah! Aku akan menjadikan kalian budak nafsu anak buah ku!"


Selena mengacungkan senjata ke arah Chania.


"Cepat, Nyonya! keluarlah!"


"Aku akan membalas semua ini, Selena!"


"Dengan cara apa? suamimu di luar! tapi dia belum juga menemukan mu!" Selena mengongkang senjatanya.


Saat hendak melesatkan peluru, tiba - tiba...


"Baby!" pekik Michael di ujung pintu. Nafas memburu, jantungnya berdetak kencang saat melihat istrinya kembali. Bertemu kembali dengan seseorang yang sangat ia cintai. Pernah kehilangan berbulan - bulan, membuat Michael memiliki rasa trauma tersendiri.


"Hah!" Chania menoleh suaminya. "Honey!" Chania berusaha untuk kembali berdiri.


Michael mengepalkan tangannya erat saat melihat darah yang mengalir dari betis istrinya.


Namun sayang, saat hendak mendekat Selena berhasil melompat dan menyergap Chania lebih dulu, hingga Chania hampir roboh karena kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Selena mengunci leher Chania dengan lengan kirinya. Mengarahkan senjata ke pelipis Chania, hingga ujung glock menempel sempurna di sana.


"Selena!" seru Michael spontan menurunkan senjatanya. "Kau tau seperti apa jika aku marah! Jika kau berani menyakiti istriku, tentu kau tau berapa harga yang harus kau bayar!" desis Michael.


"Hah!" tergelak culas, "Majulah, Kak!" tantang Selena. "Satu langkah saja, maka istrimu akan tewas di tanganku!" desisnya.


"Selen! kau harus hati - hati!" ucap Frank di tengah rasa sakitnya. Lama kelamaan mata Frank semakin buram dan akhirnya ambruk tak sadarkan diri. Meninggalkan Selena yang berhadapan dengan Michael seorang diri.


"Papa!" seru Selena menoleh ke belakang. Menatap geram pada Maya, "Kau harus bertanggung jawab bodyguard sialan!" umpat Selena meletuskan peluru ke arah Maya. Namun Maya berhasil menggeser tubuhnya. Hanya lengan jaketnya saja yang tergores.


Di saat itulah, Michael memiliki kesempatan untuk menyelamatkan istrinya. Michael berlari tanpa suara. Dan langsung menjejakkan kakinya ke perut Selena.


"Aakkh!" teriak Selena. Seketika tangannya terlepas dari leher Chania. Ia tersungkur ke belakang. Pistol pun lepas dari genggamannya.


Michael menarik istrinya ke dalam dekapannya. Agara tubuh lemah itu tidak terjatuh.


"Kau harus membayar setiap tetes darah istriku!" ucap Michael dengan gigi yang mengerat. Tatapan tajam setengah iblis terpancar sempurna di matanya.


Sempat merasa takut dengan tatapan itu, namun Selena menepisnya. Kemudian berusaha mengambil pistolnya kembali. Namun Maya yang sigap, segera menendang pistol itu hingga terlempar jauh.


"Kau!" seru Selena pada Maya.


Saat hendak bangkit, Jack, Dimitri dan di ikuti Noel datang. Menyergap Selena tanpa menunggu perintah Michael.


"Haaah!" teriak Selena berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku, brengsek!" teriak Selena memberontak.


Noel mengunci kedua tangan Selena. Tenaga Selena sama sekali tak berarti untuk Noel yang berbadan gagah dan tinggi.


Sedangkan Dimitri mengangkat tubuh Maya yang terluka. Membawanya keluar dari bangunan tua itu.


"Kita ke rumah sakit!" ucap Dimitri pada Maya.


"Ya, Tuan!" jawab Maya pasrah.

__ADS_1


Dalam hati kecilnya, kenapa bukan Jack Black yang menolongnya? Kenapa buka. Jack yang mengangkat tubuhnya?


Michael membawa Chania untuk duduk di kursi penjaga.


"Tunggu di sini, Sayang!"


Kemudian Michael kembali pada Selena dan Noel. Dimana juga ada Jack yang mengongkang senjata ke arah Selena.


Dengan aura dingin khas pembunuh berdarah dingin, Michael berjalan memutari Selena. Pelan namun sangat mencekam.


"Kau tau..." ucap Michael lirih namun tajam. "Satu tetes darah istriku, kau harus menggantinya dengan satu tanganmu." lanjutnya membuat tubuh Selena menegang. Keringat dingin mengucur begitu saja.


"Tetasan kedua, kau harus membayarnya dengan satu kakimu!" lanjut Michael mendobrak jiwa Selena. "Tetesan ketiga, kau harus membayar dengan tubuhmu!"


"Maksud Kakak?"


"Seperti rencana mu membuat istri ku menjadi budak anak buah mu, maka kau harus menjadi budak anak buah ku!"


"Tidak! aku tidak mau!" teriak Selena.


Michael tersenyum sinis, "Kau lihat berapa tetes darah yang mengalir dari kakinya? Maka kemudian kau harus membayarnya dengan..." Michael menggantung kalimatnya, bersamaan dengan ia berhenti tepat di depan Selena. Menatap Selena lekat dan menusuk.


"Kau harus membayar dengan sumsum tulang belakangmu!" ucap Michael penuh penekanan.


"Jangan..." ujar Selena menggelengkan kepalanya. "Aku baru saja kembali hidup, Kak!"


"Keputusan ku untuk membuatmu hidup kembali adalah keputusan yang sangat salah!" ucap Michael. "Sangat salah!"


"Aku seperti ini karena kamu, Kak!"


"Berhenti memberi alasan yang tidak masuk akal!" sahut Michael.


"Aku mencintaimu, Kak!" ucap Selena. "Belasan tahun aku koma, tapi aku tetap ingat siapa dirimu, seperti apa perasaan ku padamu!" teriak Selena.


"Aku tidak peduli!" jawab Michael ketus. "Mulai detik ini, aku tidak akan melihat siapa dirimu! siapa kita di masa lalu! apa hubungan orang tua kita!"


"Kak!" hentak Selena tak terima.


"Noel, lakukan seperti apa yang aku ucapkan! hilangkan satu tangan dan kakinya! Kau dan yang lainnya juga bebas melakukan apapun padanya!"


"Tidak! tidak kak!" teriak Selena menggelengkan kepalanya.


Michael tak menggubris teriakan Selena. Ia meninggalkan lokasi dimana Selena memberontak kuncian tangan Noel yang tersenyum senang.


Michael mendekati kembali istrinya, dan mengangkat tubuh Chania dengan lembut. Jack mengikuti langkah Tuannya. Bersamaan dengan itu Darrel dan Andreas sampai di sana.


"Andreas, bantu Noel!" ucap Michael.


"Siap, Tuan!" jawab Andreas tanpa bertanya apa yang harus ia bantu.


"Maafkan aku, Baby..." lirih Michael mencium dalam kening istrinya. Membawa sang istri menuju mobilnya.


Kembali pada Noel yang menangani Selena, pria itu tengah tersenyum penuh kemenangan.


"Katakan cantik, dimana kamu ingin melayani ku?" bisik nakal Noel.


...🪴 Happy reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2