
Jio, remaja dingin yang nyaris sulit tersenyum manis itu terpaku pada satu siluet remaja yang menarik perhatiannya sejak awal ia melihat di antrean Roller Coaster.
Gadis dengan rambut pirang keemasan, seperti rambut seseorang yang sangat Jio kagumi sejak belasan tahun yang lalu.
Padahal dia sendiri selalu menjadi pusat perhatian para gadis remaja di sekitarnya. Meskipun Jio cuek dan terkesan tidak peduli.
Tak terkecuali teman - teman gadis yang mencuri perhatiannya. Saat targetnya ikut melihat dirinya, maka ia akan segera menunduk atau membuang muka ke arah lain. Menutupi wajah tampannya dari sorot gadis itu.
Dan saat gadis yang sedari tadi mencuri perhatiannya itu berdiri, Jio sempat mengalihkan pandangan. Menghindari gadis itu tau, jika sedari tadi ia menatapnya dari belakang.
Namun saat gadis itu mulai keluar dari kursi dan melangkah, Jio kembali menoleh. Mencuri pandang, untuk bisa melihat secantik apa sang pemilik rambut pirang keemasan.
Dan saat itu juga, detik itu juga, darah seolah berhenti mengalir. Jantung bagai tak sanggup lagi berdetak. Tubuh terpaku dan membeku, sepasang mata enggan untuk berkedip. Nafas pun ikut tersengal, seolah paru - paru nyaris tak mampu menampung udara yang masuk.
"Virginia..." lirih Jio nyaris tanpa suara. Bola mata mengikuti gerak gadis cantik yang berjalan ke arah pintu keluar bersama beberapa temannya.
Lirihan Jio terdengar oleh sang adik yang sama - sama memiliki indera pendengar yang tajam. Sontak ia angkat kepala dari menunduk karena meminum orange juice miliknya.
"What?" lirih Jia mengerutkan keningnya. Menatap sang Kakak yang duduk seperti patung. Sontak ia menoleh ke belakang. Mengikuti arah pandang Jio.
"Virginia?" pekik Jia tak percaya. "Benarkan itu Virginia?" gumamnya lagi.
Jia yang masih ragu tentu berbeda dengan Jio. Jio hafal betul wajah Virginia sekarang dengan baik, meski tak pernah bertemu. Karena setiap hari ia selalu melihat deretan foto Virginia melalui aplikasi berbagi foto. Ia bahkan selalu mengikuti story gadis itu. Untuk bisa tau apa yang sedang di lakukan sang pemikat hati.
Langkah demi langkah gadis cantik itu, menghantarkannya untuk menjauh dari posisi duduk Jio dan Jia saat ini. Hingga ia keluar dari area kedai makanan dan menghilang di kerumunan.
Namun sepasang mata Jio masih tak ingin memutus dari apa yang baru saja ia lihat. Hati mulai tak tenang, ingin rasanya menarik gadis itu kembali untuk mendapatkan kepastian.
"Kamu yakin dia Virginia, Kak?" tanya Jia menatap lekat sang Kakak yang masih seperti patung.
"Aku harus memastikannya!" sahut Jio segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan cepat keluar restauran.
Jia reflek mengikuti langkah cepat sang Kakak. Ia pun penasaran, benarkan Virginia sekarang secantik itu? Pikirnya.
' Wajar sih kalau dia cantik! Dia tumbuh seperti remaja pada umumnya! Perawatan dan sebagainya! Berbeda dengan aku yang harus tinggal di tengah hutan! '
Gerutu Jia dalam hati. Ia terus mengejar langkah Jio di depan.
Jio menyelinap di antara kerumunan pengunjung wisata. Sampai ia kembali menemukan gadis itu tengah masuk dalam antrean bumper car.
Jio berhenti di jarah sekitar empat meter. Satu yang ingin ia temukan dari gadis itu. Gelang merah dengan mutiara putih yang menghiasinya.
"Benar dia Virginia?" tanya Jia saat sampai di belakang sang Kakak.
"Aku harus memastikannya!" jawab Jio.
Sontak Jia menarik lengan Jio dan mendekapnya erat.
"Ingat kata Daddy, Kak! Belum saatnya kita menemui teman - teman kita!" bisik Jia mengingatkan sang Kakak.
"Aku tau, Jia!" jawab Jio. "Aku tau apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kepastian dia Virginia atau bukan!"
"Bagaimana caranya?"
"Diamlah, Jiaa..." hentak Jio tertahan gemas pada adiknya yang cerewet.
__ADS_1
Jio terus mengamati pergelangan tangan gadis itu. Cukup sulit di amati, karena gadis itu terus saja bergerak. Sehingga lengannya tertutupi oleh teman - temannya.
Jio sudah tak sabar, akhirnya ia semakin mengikis jarak di antara mereka. Dan Jia reflek mengeluarkan masker.
"Jangan gila kamu, Kak!" ucap Jia menyodorkan masker mulut untuk di pakai Sang Tuan Muda Xavier.
Jio segera memakainya, untuk menghindari ocehan saudara kembarnya itu.
Baru lima langkah mendekat, jantung Jio sudah berdetak kencang. Bergemuruh seperti genderang perang yang di tabuh untuk membakar semangat. Ia hentikan langkah kakinya. Karena ia berhasil... Berhasil menemukan apa yang ia cari.
Nafasnya nyaris lenyap, namun ia berhasil menguasai diri. Dialah Virginia, gadis cantik yang ia rindukan selama tujuh tahun lebih. Gadis cantik yang selalu ia inginkan untuk hadir di setiap mimpi malamnya. Menghangatkan diri saat gelam malam menebar hawa dingin di kuil tengah hutan.
Sekarang mereka berada dalam satu tempat. Hanya berjarak dua meter saja. Namun Jio sudah membeku. Ia tak mampu untuk lebih dekat, meski hati sangat menginginkannya.
Peringatan dari sang Daddy bukanlah peringatan main - main. Ia tak bisa melanggar begitu saja. Apalagi untuk urusan pribadinya.
"Benar dia Virginia?" bisik Jia mensejajari posisi berdiri Jio.
Jio tak bisa menjawab, ia tak tau harus bagaimana bersikap. Karena hatinya sedang bergetar hebat.
"Iya!" jawab Jio merengkuh adiknya untuk berbalik badan. Karena insting mengatakan target mulai menyadari jiak sepasang matanya tengah mengintai.
Gadis yang dinyatakan Jio benar Virginia itu menoleh ke belakang. Karena naluri mengatakan ada yang mengawasi dirinya dari arah belakang.
Namun saat menoleh, tak ada siapapun yang melihat ke arahnya. Ia justru tersenyum simpul saat melihat sepasang muda mudi yang sedang memamerkan kemesraan di muka umum.
Dimana sang laki - laki merengkuh pundak si gadis dengan posesif. Dalam hati ia berangan, andai saja ia yang berada dekapan seseorang yang ..
Ah.. Sulit untuk di jelaskan.
Tanpa ia tahu jika sepasang muda mudi itu adalah saudara kembar. Dan salah satunya adalah seseorang yang sangat ia nantikan selama tujuh tahun terakhir. Ia usap lembut gelang merah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Karena merasa miris belum menemukan seseorang yang ia inginkan, Virginia kembali masuk ke dalam obrolan teman - temannya. Sambil bergeser untuk bisa segera masuk arena bumper car.
Naluri mengatakan jika Virginia tak lagi melihat ke arahnya. Jio kembali membalikkan badan. Ia mundur beberapa langkah. Ia ingin menikmati pemandangan paling indah di dunia itu dari jarak aman.
' Untuk saat ini, hanya ini yang bisa aku lakukan, Nia... '
' Suatu hari nanti, aku yang akan membawamu ke tempat ini! Kita jalan dan bermain berdua! Hanya berdua! '
Yakin Jio dalam hati.
"Dia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik ya, Kak?" gumam Jia ikut mengagumi kecantikan Virginia.
"Dia cantik sejak pertama aku mengenalnya, Jia!"
Jia memutar bola matanya malas. "Benar kata pepatah, Cinta itu buta!"
"Mungkin kamu benar! Karena mataku hanya bisa mengaguminya..."
Jia semakin tidak mengerti dengan kalimat - kalimat para pujangga yang sedang jatuh cinta.
"Kak! sampai kapan kita melihatnya di sini?" tanya Jia yang mulai bosan.
"Kau mainlah sesuka hatimu! Aku masih ingin melihatnya.." jawab Jio tetap menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Dimana gadis cantik yang mengobrak abrik isi hatinya itu tengah sibuk memainkan benda bundar di depannya. Tawa cerah ceria mendominasi gadis dengan sepasang mata bundar.
"What!" pekik Jia tak percaya akan jawaban sang Kakak. "Mana mungkin aku berkeliling sendiri di sini, Kak! Aku bisa hilang!" cerocosnya.
"Kamu takut?" Jio menoleh sang adik dengan tatapan sedikit mengejek.
"Bukan takut! Tidak ada yang aku takutkan di dunia ini selain omelan Daddy dan Mommy!" jawab Jia yakin.
"Lalu?"
"Hiih!" gemas Jia. "Mana asyik aku berkeliaran sendiri di tempat seperti ini!" gerutunya. "Apa kata mereka? Terkesan aku jomblo! Tak punya teman pula!" protesnya dengan bibir yang mengerucut.
Jio tersenyum samar. Menurut Jio, saudara kembarnya itu jika saja tidak terlahir dari keluarga Mafia, pastilah jadi gadis manja yang feminim. Hanya saja takdir menempatkan dia menjadi putri seorang Mafia kelas dunia. Yang hidup berdampingan dengan dunia hitam dan kekerasan.
"Kalau begitu tunggulah sebentar, aku masih ingin melihatnya.." ujar Jio kembali menoleh area bumper car.
Namun sial, Virginia sudah keluar dari arena, dan entah sekarang ada di mana.
"Dimana dia?" gumamnya segera memutar tubuh dan mencari keberadaan gadis cantik yang mencuri hati dan pandangannya itu.
"Dia hilang?" tanya Jia polos.
Menghela nafas berat, "Gara - gara kamu, tau!"
"Lah, kok aku?"
"Kamu tidak mau jalan sendirian!" jawab Jio sambil melangkah cepat, mencari jejak Virginia.
"Kan kita berangkat bersama untuk berlibur, Kak! Bukan untuk mengintai dia!" protes Jia mengikuti langkah cepat Jio.
"Tapi takdir membuat aku bertemu dengannya, Jia.." jelas gemas Jio pada adiknya. Ia tak bisa marah - marah pada adiknya itu. Tapi kesal seperti itu jelas sering terjadi.
"Aku pulang saja! Biar di jemput Paman Dimitri!" gerutu Jia berhenti untuk mengeluarkan ponselnya.
Belum sempat Jia menghubungi Dimitri, Jio merebut ponsel Jia berlipat lebih cepat.
"Apa yang aku katakan pada Daddy kalau kamu pulang duluan?" tanya Jio serius. "Kita harus pulang bersama!"
"Kalau begitu jangan salahkan aku!" kesal Jia kembali cemberut.
"Iya! Iya!" Jio akhirnya mengalah. "Aku tidak menyalahkan mu! Tidak seharusnya kita mengikutinya memang..."
"Nah, itu benar!"
Bruk!
Tubuh Jio sedikit terhuyung ke depan, meski tidak terasa sakit sama sekali baginya.
"Maaf!"
Suara lembut seorang gadis meminta maaf pada Jio yang baru saja menabrak dirinya tanpa sengaja.
Jia dan Jio reflek menoleh ke belakang, guna mengetahui siapa yang menabrak dan langsung meminta maaf.
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1