
Michael masih dalam posisi yang sama. Menyembunyikan wajah tampannya di tengkuk leher Chania yang harum. Memberi kecupan lembut di leher putih nan jenjang itu beberapa kali.
Semakin lama Michael mencium bau harum khas Chania, semakin hatinya berdesir aneh. Ia merasakan nyaman juga kesejukan hati yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Detik demi detik berlalu, tubuh tegang Chania melunak. Sebelumnya ia menganggap Michael hanya berpura, untuk kemudian menikamnya dengan cara lebih keji.
Namun sampai detik ini, ia justru merasa nyaman berada dalam dekapan Michael yang menghangat di tengah dinginnya malam.
Chania mendongak keatas, menatap langit yang menabur bintang. Ia mulai mengartikan jika langit telah menyempurnakan malam mencekam yang baru saja ia lalui.
Dimana hanya dalam hitungan detik, pria berhati iblis yang tengah memeluknya itu berubah perilakunya beberapa kali. Dan saat ini pria itu seolah menjadi pria paling romantis yang pernah di temui Chania.
"Chania..." lirih Michael.
"I...iya, Tuan?" Chania melirik Tuannya yang belum mengubah posisi. Bahkan nampaknya pria itu tengah memejamkan mata.
"Masih sakit?"
Chania menelan ludahnya gugup. Ia tau yang di maksud Tuannya. Namun ia malu untuk membahas hal itu saat ini.
"Emm... masih, Tuan"
"Jika lain kali aku meminta, apa kau mau?"
"Hemm?" Chania tertegun.
"Besok pagi aku akan memintanya lagi, aku harap kamu tidak akan menolak"
' Bahasa Tuan Michael sungguh berbeda. Sekarang jauh lebih santai dan nyaman. Tanpa menggunakan saya, kamu dan sebagainya. Apakah itu artinya dia membuka hati untukku?
Ah Chania! mimpimu terlalu jauh! '
Hati Chania bergemuruh, antara senang, ragu dan bimbang.
"Bermain satu kali dalam semalam rasanya sangat tidak memuaskan."
Chania kembali menelan ludahnya mendengar kelanjutan kalimat Michael. Tapi ia pun menyukainya asalkan.....
"Saya mau saja, Tuan! asal ..." Chania sengaja menggantung kalimatnya.
"Asal apa?"
"Asal Tuan memperlakukan saya dengan baik dan lembut! Kapanpun Tuan minta saya pasti mau."
"Jika aku ingin bermain kasar, bagaimana?" tanya Michael menatap nakal pada Chania yang reflek membuka sedikit mulutnya. Sepertinya gadis itu tengah membayangkan sesuatu yang liar.
"Emm..." Chania tak punya jawaban. Ia membuang pandangan ke arah lain secara perlahan dengan salah tingkah.
"Jangan di pikirkan" ucap Michael tersenyum tipis, kembali mengeratkan kedua tangannya di perut Chania. Menyandarkan telinganya di puncak kepala Chania itu, serta menatap indahnya langit yang mewarnai malam dimana pertama kali mereka bercinta.
Chania tergelak kecil. Sepertinya bekunya waktu sudah mencair. Chania merasakan ketulusan dari pelukan Michael. Namun kenapa laki - laki itu tak mengucapkan maaf, setelah sempat mencekik lehernya tadi.
__ADS_1
' Aaah aku lupa! mana mungkin Tuan Mafia minta maaf! '
Gerutu Chania dalam hati.
Obrolan - obrolan kecil kembali berlanjut. Sedikit gurauan yang di lontarkan Chania hanya membuat Michael tersenyum tipis.
***
🍄 Di sudut lain istana Michael . . .
Banyak sekali pasang mata yang bisa melihat kemesraan Michael dan Chania di balkon atap. Meskipun tak ada yang bisa mendengar obrolan lirih mereka.
Mereka adalah mata para penjaga istana yang terletak di setiap sudut taman. Yang bertugas mengamankan rumah Tuannya dari jangkauan musuh dan penyusup. mengingat sang Tuan muda tidak pernah jauh dari bahaya yang kapan saja akan datang.
Namun tidak dengan salah satu pasang mata! ia menatap benci aktivitas dua manusia di balkon itu.
Sepasang mata itu mendongak, menusuk balkon lantai 2 dengan tatapan penuh kebencian. Siapa dia?
Siapa lagi jika bukan Oliver!
Gadis itu tengah duduk di salah satu kursi taman, meratapi kesedihan hatinya akibat ulah Michael dengan Chania. Ia merasa kalah dengan gadis kecil itu.
Mulai dari Michael membawa pulang wanita untuk pertama kalinya. Sampai akhirnya melihat dengan mata kepalanya sendiri ranjang Michael yang berantakan. Dan saat ini?
Mereka tengah bermesraan di balkon kamar Michael. Terlihat Michael sangat menikmati suasana itu.
Perempuan 27 tahun itupun memicingkan matanya dengan tangan yang meremas gaun malamnya.
"Dasar pelacur kecil!" desis Oliver lirih.
Ucap Oliver dalam hati.
# # # # # #
🍄 Keesokan harinya . . .
Benar saja Michael kembali membuatnya melayang - layang di angkasa. Saat ia baru saja membuka mata, ternyata Michael sudah berhasil meloloskan lingerie yang ia kenakan, tanpa ia sadari.
Entah kapan lingerie berwarna merah itu lenyap dari tubuhnya. Dan entah dengan cara apa Michael melepasnya, di sobek kah? atau bagaimana? Yang jelas baju dinas malam itu sudah teronggok di lantai.
Menyisakan pakaian terdalam dengan warna yang sama. Kain tipis yang di padu dengan brukat di beberapa bagian. Yang berguna untuk mempercantik tampilan luar. Dan tentu saja untuk membangkitkan gairah kaum adam yang sudah panas dingin oleh hasrat.
Michael seketika mendaratkan ciuman di bibir Chania, saat sepasang mata lentik itu baru saja terbuka.
Kedua tangannya bekerja sama untuk memberi r*ngs*ng*n di kedua bukit kembar. Salah satu tangannya sudah berhasil melepas pengait dan melempar br* ke lantai.
Chania mulai terbakar hawa nafsu. Ia pun akhirnya tenggelam ke dalam lautan bercinta yang di pimpin oleh Michael.
Erangan, desisan, rintihan dan lenguhan saling bersahutan di kamar megar itu untuk menyambut senja.
Rasa sakit di bagian inti Chania sepertinya terkalahkan oleh gairah bercinta. Padahal jika di rasakan, tentu saja masih cukup sakit.
__ADS_1
Sampai akhirnya Michael berhasil mencapai tujuan. Dan melepaskan deburan gairahnya di atas perut Chania. Karena ia lupa memakai pengaman. Selihai itu ia mengatur ritme percintaan.
Puas membuat Chania menjerit pagi - pagi, Michael tersenyum puas dan sinis. Ia angkat tubuh polos Chania dan membawanya ke kamar mandi.
Kembali mereka melakukan ritual mandi bersama. Dengan saling gosok dan saling menggoda.
Namun seperti itulah Michael, ia belum bisa tertawa lepas meskipun Chania sudah menggodanya. Ia hanya selalu melempar senyuman tipis ataupun dingin.
Tapi bagi Chania, itu sudah pencapaian terbaik. Mengingat Michael adalah pria yang selalu menunjukkan muka garang setengah iblis.
***
Setelah Michael dan Chania berangkat ke perusahaan, Oliver melajukan mobil miliknya untuk keluar dari kediaman Michael.
Dengan amarah menggebu, ia injak gas layaknya pembalap di arena balap. Ia begitu cemburu melihat Chania yang bisa mendampingi Michael 24 jam nonstop.
' *Aku harus melakukan sesuatu untuk pelacur kecil itu!
Dasar ******!
Kenapa kau datang saat aku hampir mendapatkan Michael*! '
Gerutu Oliver di sepanjang perjalan.
Sampai akhirnya mobil mewahnya, memasuki gerbang yang baru saja di buka oleh penjaga. Penjaga sudah hafal dengan Oliver, sehingga tak perlu Check lengkap.
Oliver masih melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Memasuki jalanan yang mengantarkan menuju istana yang di dominasi berwarna hitam itu.
Ia edarkan pandangannya pada area taman bermain. Di salah satu sudut taman ada area bermain. Dimana dulu ia sering bermain di sana bersama Michael.
Michael kecil yang tampan, adalah Michael yang ramah dan baik hati padanya juga pada Selena, adiknya.
Sampai akhirnya Selena mengalami penyakit langka yang membutuhkan pendonor sumsum tulang belakang. Dan sialnya tak ada satupun yang cocok.
Sesaat setelah kejadian Selena, Mama Michael mengalami insiden yang tak kalah menghebohkan.
Dan Deborah lah yang berhasil menyelamatkan. Namun sialnya Deborah ingin kebaikannya di balas dengan menemukan gadis yang memiliki sumsum tulang belakang untuk Selena.
Sejak saat itulah, Michael menjadi begitu dingin pada Oliver. Karena Oliver yang merupakan saudara kandung Selena, tak bisa di andalkan sama sekali. Ia bahkan enggan memberikan sumsum tulang belakangnya untuk sang adik. Dan lebih sibuk mencari perhatian Michael kembali.
Michael yang begitu menyayangi ibunya, dan enggan memiliki hutang nyawa, menyanggupi keinginan Deborah. Tentu saja karena paksaan sang papa juga.
.
.
🪴🪴🪴
Kemana Oliver?
Apa yang ingin di lakukan Oliver?
__ADS_1
Tunggu di episode selanjutnya 🌹🌹🌹
Dan terima kasih banyak untuk para reader setia ku 🥰🥰