
Mobil berhenti tepat di depan salah satu hotel berbintang di Paris. Dimana kabar dari Antonio menyatakan, di sanalah Sania saat ini berada. Di salah satu kamar, menunggu dengan setia kakak angkatnya yang selalu bergumul dengan siapapun yang ia incar.
Chania dengan gugup dan jantung yang dag dig dug karena akan bertemu dengan saudara kembarnya, terus mendekap lengan kiri suaminya. Wajahnya terlihat tegang, sesekali melirik suaminya.
Sedang tangan kirinya terus mengusap perutnya. Bagian dari tubuhnya yang selalu menjadi sumber kekuatan lain untuk segala kegugupan dan ketakutan yang ia hadapi.
Michael dan Chania, kini sudah berdiri tepat di sebuah pintu, dimana konon kata Antonio di sanalah Sania saat ini. Jack, Dimitri dan Antonio ada di belakang mereka. Selalu setia mengawal setiap langkah Tuan mereka.
Ting tong!
Bel di tekan oleh Jack. Hanya butuh sekali tekan, telinga sensitif Michael, Jack dan Dimitri sudah bisa mendengar adanya pergerakan dari dalam kamar.
"Dia ada." lirih Michael pada istrinya.
Jantung Chania semakin tak karuan, ia eratkan jemari yang masih melingkar di lengan sang suami. Michael sadar akan kegugupan sang istri. Ia daratkan sebuah kecupan di puncak kepala. Dan berhasil menambah sedikit rasa percaya diri Chania.
Chania tersenyum satir, di tengah kegugupannya. Ia tengah merangkai kalimat yang tepat untuk meyakinkan sang saudara kembar. Ia juga sudah mempersiapkan buku diary peninggalan sang Mama sebagai bukti awal jika mereka adalah kembar.
Ceklekk..
Pintu terbuka sedikit. Jantung Chania bak genderang yang di tabuh untuk segera maju berperang.
Detik berikutnya, pintu terbuka sepenuhnya. Sosok gadis dengan pakaian sederhana, kaos putih ketat dan celana jeans ketat. Rambut pirang kecoklatan di ikat keatas secara asal. Sania berdiri dengan masih menunduk.
Mata Chania sontak terbuka lebar, nafasnya terasa berat. Tubuhnya pun terasa semakin kaku. Ia seolah melihat dirinya sendiri tengah berdiri.
"Ada perlu apa, ya?"
Sania mendongak melihat wajah Michael untuk pertama kali, seketika ia mengerutkan keningnya. Wajah yang semalam ia lihat di foto yang di tunjukkan pria asing itu. Sontak ia menoleh perempuan yang ada di sampingnya.
Dan benar saja, kedua gadis itu seperti sedang bercermin. Begitu mirip dari segi wajah. Lebih tepatnya, Sania adalah wujud Chania sebelum hamil dan kabur.
Jika di bedakan untuk saat ini, mereka berbeda dari warna rambut. Karena Chania mengecat rambutnya yang pirang kecoklatan dan bergelombang, menjadi hitam legam dan lurus. Kemudian pipi Chania yang chubby dan perut yang membuncit karena hamil anak kembar.
"Sania?" lirih Chania, dengan mata yang masih tak berkedip melihat ciptaan Tuhan yang sungguh menyerupai dirinya. Hanya suara mereka saja yang berbeda.
"Kamu.....?"
Tak menjawab, Chania melepas tangannya dari lengan suaminya, dan langsung maju dua langkah dan berhasil memeluk saudara kembarnya itu.
"Sania..." lirih Chania bersamaan dengan luruhnya air mata haru.
Belum sanggup untuk membalas, Sania masih tertegun dan diam saja. Namun dalam hati kecilnya ada rasa nyaman saat di peluk orang asing itu.
Bayangkan saja, jika kita yang terbiasa berwujud tunggal, tanpa memiliki saudara kembar. Lalu tiba - tiba muncul di hadapan kita sosok lain yang begitu mirip dengan kita, dan mengatakan sebagai saudara kembar, pastilah kita akan shock setengah mati.
Seperti itulah yang di rasakan Sania saat ini. Ia tak mengenal siapa yang memeluknya ini. Namun wajahnya begitu mirip dengannya.
__ADS_1
Berbeda dengan Chania, yang sedari beberapa bulan lalu sudah tau, jika dirinya memiliki saudara kembar. Namun entah dimana.
Dan disinilah mereka sekarang dipertemukan. Tempat yang sudah di bawah rencana Darrel Harcourt, atas permohonan Michael semalam.
"Kamu...?" Sania masih ragu untuk menyebut nama Chania, nama yang disebutkan Antonio semalam.
"Aku Chania!" jawab Chania melepas pelukannya. Menatap lekat wajah cantik yang sama dengan wajahnya.
"Chania?"
"Ya! kita adalah kembar, Sania!" jawab Chania sembari mengusap air matanya. "Semenjak aku tau aku memiliki saudara kembar, aku ingin sekali menemukan kamu. Tak ku sangka suami ku mewujudkan mimpiku. Dia berusaha keras untuk menemukan dirimu."
Sania masih terdiam. Membiarkan Chania yang masih memegang kedua pundaknya.
"Dari mana kamu yakin kalau kita kembar?"
Buru - buru Chania menurunkan tangan, membuka tas kecil yang ia bawa. Mengambil buku diary usang sang Mama.
"Kamu harus membaca ini, Sania." menyodorkan buku diary, itu. "Ini adalah buku diary Mama kita!"
Dengan ragu, Sania mengambilnya. Mengamati buku kecil itu dan memutarnya beberapa kali.
"Bisa kita bicara di dalam?" tanya Chania.
Sania menatap Chania, kemudian melihat Michael yang memasang wajah datar. Wajah yang terlihat tak asing baginya. Kemudian beralih pada tiga orang di belakang Michael.
Sania mengangguk, membuat Chania tersenyum lega. Ia tarik tangan suaminya. Dan mereka semua masuk ke dalam. Kecuali Antonio dan Dimitri. Mereka harus berjaga di luar pintu.
"Silahkan duduk!" ucap Sania formal.
"Hem.." Chania mengangguk tersenyum.
Chania dan Michael duduk bersampingan. Sedang Jack masih berdiri tepat di samping sofa. Sania sendiri duduk di sofa single dengan buki diary yang masih di tangannya.
"Anda tidak duduk, Tuan?" tanya Sania pada Jack.
"Tidak, Nona!" jawab Jack dengan sedikit mengangguk sopan.
"Oh.." Sania terlihat begitu kaku.
Berbeda dengan Chania yang seolah ingin segera berbincang akrab dengan Sania.
"Sania, ikutlah bersama ku pulang..."
"Pulang kemana?" tanya Sania. "Rumah ku di sini. Bersama Papa Alexandre."
"Paris bukan rumah asli mu, Sania. Rumah kita di Italia. Kita lahir di sana."
__ADS_1
"Aku tau.." jawab Sania dengan ekspresi wajah sendu. "Tapi bagiku, Italia adalah tempat tinggal yang menyedihkan untukku!"
"Kenapa?"
"Di sanalah aku di buang!"
"Kamu harus, Sania. Bukan orang tua mu yang meninggalkan kamu di panti asuhan."
"Hahaha!" Sania tergelak sumbang. "Ya... sejak kecil aku tidak tinggal dengan mereka."
"Aku pun tidak tinggal bersama mereka, Sania. Aku hanya tinggal bersama Mama dan Papa tiri kita."
"Aku tidak peduli..."
"Sania..." lirih Chania dengan air mata yang tak tertahankan. Meluncur bebas tanpa bisa di hentikan. "Bacalah diary Mama dulu. Aku harap kamu akan berubah pikiran setelah tau semuanya!"
"Jika sempat aku akan membacanya!"
"Sania... kamu harus tau, Papa meninggal saat kita masih sangat kecil. Ia di bunuh oleh istrinya. Dan sejak saat itu mungkin kamu tidak lagi bertemu dengan Papa!"
Sania tampak malas mendengar penjelasan Chania. Namun ia tetap memasang wajah sopan pada tiga orang tamunya.
"Ikutlah bersama kami, Sania." mohon Chania menyentuh tangan Sania yang berada di pangkuan. "Kita harus menuntut hak kita. Membalas kematian Papa!"
"Harus kita, kah?" tanya Sania. "Kamu yang pernah mendapatkan cinta Mama, aku tidak sama sekali!"
"Sania...." Chania semakin menangis.
Sania menatap Chania lekat. Seolah tak rela air mata menetes dari pelupuk saudara kembarnya.
Namun ia merasa lega, ketika tangan Michael dengan sigap merengkuh tubuh kembarnya dan mengusap lengannya.
"Bacalah dulu buku itu. Kami akan kembali menemui mu lusa!" ucap Michael datar, namun terdengar penuh penekanan.
Pria itu tak sanggup melihat air mata kesedihan yang menetes dari mata lentik sang istri. Sehingga ia ambil alih pembicaraan Chania pada Sania.
Sania tak menjawab. Ia hanya membuat garis lurus di bibirnya. Namun mendengar nada Michael bicara, ia merasa ada rasa takut sendiri. Apalagi sedari tadi pria itu memasang wajah tidak ramah padanya.
Michael mengajak Chania untuk berdiri dan meninggalkan kamar Sania. Jack membuka pintu untuk Tuan dan Nyonya nya yang bersiap untuk keluar.
"Tunggu!" ucap Sania.
Langkah Michael dan Chania terhenti. Mereka menoleh ke belakang, berharap Sania segera bersedia ikut dengan mereka saat itu juga. Agar semua tidak lebih rumit lagi.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1