SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 189


__ADS_3

BUUGHH!


Belum sampai David menyentuhkan batu ke kepala Jio. Jio sudah lebih dulu menendang dengan mengarahkan kakinya ke belakang dengan kuat setelah melepas kasar kedua tangan dari leher dua Mahasiswi di tangannya. Hingga pemuda itu kembali terhempas sekian meter dan jatuh di tanah.


Tak ada yang tau jika Jio bukanlah sembarang Mahasiswa. Ia memiliki insting bahaya yang sangat bagus. Sehingga ia bisa dengan mudah tau, apa yang mungkin akan terjadi di sekitarnya kepada dirinya.


Jio membalikkan badannya, menatap tajam David yang seketika itu semakin takut. Menatap mata Jio sama seperti melihat sepasang mata iblis yang siap mencabut nyawanya.


"Kau yang mengantar Virginia menemui Lussio, bukan?" tanya Jio sinis sembari melangkah maju mendekati David, dengan langkah kaki jarak pendek yang teramat dingin.


"A..ak..aku hanya.. Di suruh!" jawab David tergagap sembari mundur ke belakang. "Aa..aku tidak pernah be..bertemu Lussio se..cara langsung!" lanjutnya mencoba membela diri.


Mata Jio sama sekali tak berkedip menatap David, "siapa yang menyuruhmu?" tanya Jio dengan nada bicara semakin dingin.


Jika Jio maju satu langkah, maka pemuda itu juga akan mundur satu langkah. Bedanya pemuda itu masih dalam posisi duduk di atas rumput. Dengan kedua tangan menyangga tubuhnya di belakang.


"A...." David tampak ragu untuk menjawab. Ia melirik kanan dna kiri, dimana banyak Mahasiswa menjadikan dirinya sebagai tontonan. Tak luput ia melihat dua Mahasiswi yang sedang kesakitan karena leher yang memerah oleh cekikan tangan Jio.


"Cepat katakan!" seru Jio menendang pipi David menggunakan kaki kirinya.


"Brother! Apa yang kau lakukan!" seru Nikki dari arah belakang. Ia mendekat dan memegang pundak Jio, mencoba untuk mencegah Jio bertindak gegabah di kampus.


"JANGAN IKUT CAMPUR!" sentak Jio menghempaskan tangan Nikki dari pundaknya. Hingga pemuda itu tersungkur di atas rumput pula.


"Sorry!" seru Jio menoleh Nikki sekilas. Perasaannya hanya menyingkirkan pelan tangan Nikki. Tapi siapa sangka pemuda itu sampai harus terjerembab di atas rumput.


Nikki menggelengkan kepalanya pelan dan tak percaya. Namun, ia bisa mengerti jika Jio tengah emosi berat. Hingga semua tak bisa di kontrol. Meskipun ia tak tau masalah apa yang ada di antara Jio dan tiga Mahasiswa itu, yang jelas pastilah bukan masalah sepele yang sedang terjadi.


"Jawab pertanyaanku, BODOH!" sembur Jio kembali menatap tajam David, "SIAPA!" seru Jio meraih kerah baju David dan kembali mendaratkan tinjuan di pipi kanan, hingga sudut bibir pemuda itu berdarah.


Nikki menatap ngeri akan apa yang di lakukan sahabat barunya itu. Ia tak menyangka jika Jio yang terkenal dingin memiliki emosi sedemikian gila.


Cepat - cepat Nikki berdiri dan berlari meninggalkan taman belakang untuk mencari pertolongan. Mencari seseorang yang bisa membuat sahabatnya tersadar dari emosi yang meledak. Jangan sampai sahabatnya berurusan dengan polisi kampus, pikirnya. Satu yang harus ia temukan...


Keberadaan Virginia!


Nikki berlari ke arah parkiran mobil roda empat berada. Cukup jauh, tapi tak apa. Ia harus memastikan Virginia sudah datang atau belum. Jika mobil gadis itu ada, maka ia tinggal mencarinya di Fakultas Kedokteran.


"Orange! Orange! Orange!" gumamnya mencari mobil Mini Cooper berwarna Orange. Mobil milik Mahasiswi yang ia idolakan sejak pertama bertemu.


Sepasang mata Nikki semakin cepat menyisir blok blok mobil yang berbaris. Hingga warna yang ia cari berhasil ia temukan.


"Hah! Akhirnya!" serunya puas.

__ADS_1


Ia membalikkan badan untuk mencari Virginia di Fakultas Kedokteran. Namun saat berbalik, ekor matanya menangkap pintu mobil Mini Cooper terbuka. Segera ia kembali menghadap blok parkiran. Menatap lurus ke arah mobil itu, dan Virginia keluar dari pintu kemudi.


"Beruntung sekali kau, Nikki!" serunya girang, segera ia berlari mendekati Virginia.


"Virginia!" panggilnya dari jarak sekian ratus meter yang pasti belum bisa di dengar oleh gadis itu.


"Virginia!" panggilnya lagi saat jarak semakin dekat. "Virginia!" ulangnya memanggil Virginia yang sedang menutup pintu mobilnya dan ia berhenti tepat di belakang gadis itu.


"Hai, Nikki..." sapa Virginia terlihat santai.


"Tolong! Tolong aku!" ucapnya sembari mengatur nafasnya yang putus nyambung akibat lelah berlari.


"Memangnya kamu kenapa?" tanya Virginia lembut dengan kening yang berkerut.


"Jio! Jio!" ucap Nikki menunjuk Fakultas Art & Desain.


"Jio!" pekik Virginia menatap serius pada Nikki. "Kenapa dengan Jio?" tanya Virginia mulai panik.


"Dia... Dia menghajar seorang Mahasiswa dan dua Mahasiswi!" jawab Nikki masih sedikit terengah.


"Kamu yakin!" tanya Virginia semakin panik. Seperti tak percaya dengan ucapan Nikki.


"Ayo cepat! Mereka di taman belakang kampus!" ajak Nikki. "Jangan sampai Jio bermasalah dengan polisi kampus!"


Dua orang itu berlari ke arah yang di tunjukkan oleh Nikki. Virginia tak peduli lagi dengan apa yang ada di sekitar. Ia hanya harus cepat sampai dimana Jio yang katanya tengah menghajar beberapa Mahasiswa.


"Kalau kau tidak mau bicara, aku akan membuat semua gigimu lepas! Termasuk mereka berdua!" ujar Jio.


Posisi Jio kini tengah berjongkok. Tangan kirinya memegang kerah baju David. Sedang tangan kanannya terkepal mengarah ke mulut David. Siap untuk menanggalkan semua gigi pemuda itu. Padahal baru saja ia membuat David pening karena satu bogem mentah darinya.


"Jio! Jio! Stop!" seru Virginia berlari dari arah belakang Jio.


Namun rupanya untuk saat ini Jio menulikan pendengaran dari suara siapapun. Tak terkecuali gadis yang.... Ya begitulah.


"CEPAT KATAKAN!"


Buuggh!


Perintah Jio di barengi dengan sebuah tonjokan berkekuatan sedang darinya. Namun sudah membuat kepala David semakin pening, bahkan dua giginya terlepas begitu saja.


"Jio! Stop, Jio!" seru Virginia bersimpuh dan meraih tangan kanan Jio, kemudian memeluknya di depan dada. Menahan agar tangan itu tidak kembali berulah. "Jangan bunuh dia, Jio! Dia bukan tandinganmu!" bisik Virginia mencoba untuk mengembalikan kewarasan seorang Jio.


Jio diam sesaat. Hanya nafas yang terdengar darinya. "Cepat katakan! Siapa yang menyuruhmu?" tanya Jio mengulang dengan nada lebih rendah di banding tadi.

__ADS_1


"A..Ayahku!" jawabnya ragu dengan tergagap. Ia masih lemas dan pandangan matanya mulai terasa ada kunang - kunang yang berputar.


"Ayahmu?" desis Jio memicingkan matanya. "Kenapa Ayahmu yang menyuruh? Siapa ayahmu?"


"Bukan hanya Ayahku, tapi juga Ayah mereka..." David menunjuk dua Mahasiswi dengan matanya, dimana dua Mahasiswi itu seketika menunduk dalam.


"Siapa kalian?" tanya Jio penuh penekanan. "Apa urusan Ayah kalian sampai harus membawa Virginia ke dalam bahaya!" Hentak Jio tak sabar.


"Perusahaan Lussio yang di pimpin Ayah kami terancam bangkrut! Dan mereka mengancam akan membunuh kami semua dengan cara di siksa. Kecuali kalau kami bisa membawa Virginia untuk mereka, maka mereka akan melepaskan kami semua!" sahut Mahasiswi berambut pirang.


Jio melirik ke belakang. Mendengarkan dengan seksama. Ia ingat jika perusahaan Lussio memang punya kerja sama di Italia, termasuk Roma.


"Maafkan kami, Jio! Maafkan kami Virginia!" ucap dua gadis itu segera menghampiri Virginia dan bersujud di samping Virginia yang kebingungan.


Virginia ingat, memang mereka lah yang menghajarnya waktu itu. Kemudian membawanya secara paksa untuk memasuki sebuah mobil yang di kemudikan David. Lelaki yang sebenarnya di ceritakan Virginia sebagai Kakak kelas saat di Senior High School.


"Maafkan aku juga, Virginia!" sahut David mengatupkan kedua telapak tangan ke arah Virginia.


Virginia menatap bingung pada tiga pemuda itu. Awalnya ia tak tau pokok permasalahan yang sedang di selesaikan Jio. Namun kini ia tau, jika Jip tengah membela dirinya.


"Kalian tidak perlu bersujud seperti itu..." lirih Virginia meminta dua gadis itu untuk kembali duduk. "Aku sudah memaafkan kalian, asal jangan di ulang kembali..."


"Maafkan kami, Virginia!" ucap mereka dengan suara isak tangis yang terdengar cukup memilukan di telinga Virginia. "Kami tidak akan duduk sebelum Jio mengampuni kami..."


"Maafkan kami, Jio! Jangan sakiti kami! Kami mohon ampun! kami tau siapa keluarga mu... Tuan Besar Michael Xavier, orang terkaya di kota ini... Ampuni kami, Jio..." lirih gadis si rambut hitam masih dengan posisi yang belum berubah. "Kami terpaksa melakukan semua ini!"


Sementara Jio mengeratkan giginya kuat, tatapannya tajam ke arah depan. Ia benci orang - orang yang memohon ampun padanya. Ia benci akan pengkhianatan. Ia benci akan orang - orang yang tunduk di bawah ancaman.


"Maafkan kami, Jio!" sahut David meraih tangan Jio yang ada di kerah bajunya, dan menciumnya untuk memohon ampunan.


Namun Jio segera menarik kasar tangannya. Ia benci tangannya di cium orang - orang yang ia anggap sebagai musuh.


"Jio.." lirih Virginia, "maafkanlah mereka... Lagi pula Lussio sudah mati. Tidak ada lagi yang mengganggu kita maupun mengancam keluarga mereka..." bisik Virginia lembut sembari mengusap dada bidang Jio. Berharap amarah di dalam sana bisa segera mereda.


Jio menatap tajam David, hingga pemuda itu hanya bisa menunduk. Tak bernai menatap mata Jio.


"Jio..." lirih Virginia kini menyentuhkan keningnya di pelipis kanan Jio. Deru nafas mengatakan seolah memohon agar Jio menuruti apa yang ia ucapkan.


"Aku akan melepas kalian!" desis Jio. "Tapi aku tidak akan melupakan kesalahan kalian bertiga! Satu kesalahan lagi, maka aku sendiri yang akan menyiksa kalian termasuk keluarga kalian!" serunya segera meraih tangan Virginia di dadanya, dan membawa gadis itu untuk berdiri.


Dengan langkah cepat ia tarik jemari lembut di genggaman, meninggalkan taman belakang kampus. Meninggalkan Mahasiswi lain yang menjadi saksi kemarahannya. Tak ingin lagi menoleh, apa lagi melihat wajah - wajah menyebalkan yang berani mencari masalah dengan dirinya.


Virginia mengikuti langkah Jio dengan perasaan lega, meskipun di dalam diri ia masih sangat kecewa akan alasan tiga orang itu menyiksa dirinya selama beberapa hari terakhir.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2