SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 150


__ADS_3

Zico Mourinho, putra tunggal Frank Mourinho adalah sahabat Michael Xavier sejak remaja. Hidup di dalam keluarga yang yang tidak 100% harmonis, membuatnya menjadi pria yang minim belas kasihan.


Watak nya hampir sama dengan Michael. Keras kepala, menyukai kekerasan, dan suka bermain wanita di masa lajang. Hanya saja dia tidak berurusan dengan dunia Mafia seperti yang di lakoni Michael sejak kecil.


Ia belajar bela diri, tapi tidak sefanatik Michael. Ia juga memiliki anak buah, tapi tidak sebanyak anak buah Michael.


Sejak kuliah, dia tak lagi kembali ke Roma. Melainkan menetap di Amerika Serikat. Hanya sesekali ia menjenguk ibunya yang lumpuh. Zico bergelut dengan dunia bisnis yang ia dirikan sendiri atas harta yang di berikan ibunya.


Saat ini, detik ini. Ia berhadapan dengan gadis yang sudah lama ia tunggu kebangkitannya. Sempat membiarkan gadis itu menikmati nafasnya, namun saat mendengar jika istri Michael di culik oleh adik tiri dan Papa kandungnya, ia mulai tak sabar.


Tiba di Roma saat hari mulai gelap, membuatnya langsung tancap gas menuju Latina. Sesuai dengan informasi yang di berikan Michael. Menyusul Mafia itu, yang sudah berangkat sekitar satu jam lebih cepat darinya.


Tiba di bangunan tua, saat 15 menit setelah kepergian Michael membawa Chania untuk ke rumah sakit. Membuatnya terlambat untuk bernegoisasi dengan anak buah Michael.


Sehingga saat ia berpura menyelamatkan Selena, gadis itu sudah dalam keadaan setengah telanjang. Sebagian tubuhnya sudah berhasil di rasai oleh dua anak buah utama Michael.


Untung, bagian intim gadis itu belum terjamah. Karena Zico punya rencana tersendiri untuk bagian itu. Sebagai tujuan utama ia membalas dendam atas kebenciannya selama ini.


Ibunya lumpuh, karena bertengkar dengan Deborah puluhan tahun silam, yang akhirnya membuat ibunya tertabrak mobil dan lumpuh sampai detik ini.


Sebuah pertanyaan yang di anggap Zico bagus sudah meluncur dari bibir Selena. Membuat Zico tersenyum sinis.


"Aku menyelamatkan mu dari dua bodyguard itu, karena aku tak ingin bagian penting dari tubuhmu di ambil olehnya!" jawab Zico.


Selena terlihat bingung. Apa maksud dari pria di depannya itu.


"Karena aku sudah menyiapkan pesta yang pernah ku janjikan pada sahabat - sahabatku!"


"Apa maksudmu, Kak!" hentak Selena.


Tersenyum smirk, "bersihkan dirimu, tidurlah sepuas mu, dan makanan akan selalu datang tepat waktu!" ujar Zico sembari kembali memakai jas hitamnya.


Selena menatap bingung dengan kakak tirinya itu.


"Ada banyak baju untukmu di almari dalam kamar!" ucap Zico sebelum keluar dari apartemen itu.


"Kak!" seru Selena namun tak di gubris oleh Zico.


Selena mencoba mengejar, namun sayang pintu telah terkunci. Ia bahkan tak tau nomor sandi dari pintu itu.


"Jelas aku di kurung di sini!" gumamnya kesal. "Baiklah! setidaknya bukan bangunan tua itu!"


Selena mengamati sekitar. Apartemen itu tidak terlalu besar. Namun dekorasinya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa apartemen itu hanya akan bisa di miliki oleh mereka berkantong tebal dengan rekening gendut.


Selena membuka sebuah pintu, yang mengantarnya masuk ke dalam sebuah kamar. Ia masuk, melewati beberapa pintu almari yang berhadapan dengan kamar mandi.


Sampai akhirnya ia melihat sebuah tempat tidur berukuran king size. Berhadapan dengan sebuah televisi yang menempel pada dinding.


Selena yang merasa memang waktunya untuk mandi, segera membuka almari untuk mengambil baju ganti. Satu persatu pintu yang ia buka membuat sepasang matanya terbelalak.


Bagaimana tidak? semua baju nyaris tak ada yang sesuai seleranya. Semua pakaian manyoritas mini, ketat, tanpa lengan, dan menonjolkan bentuk tubuh. Di pintu lainnya justru hanya berisi lingerie - lingerie seksi dengan berbagai model.


"Almari macam ini!" gerutunya kesal.

__ADS_1


Karena harus berganti pakaian, mau tak mau, akhirnya ia mengambil sebuah rok mini line A yang hanya menutupi setengah pahanya saja. Dan atasan tang top kerut dengan sebuah tali kecil di bagian pundak. Ia juga mengambil satu set dalaman yang terlihat sangat seksi.


"Apa dia pikir ini seleraku!" gerutunya kembali.


Selena merendam tubuhnya di dalam bathub. Menikmati air hangat yang berpadu dengan aromatherapy pilihan. Ia pejamkan mata, sembari bersandar di tepian bathub.


Teringat kembali hal menjijikkan yang semalam ia alami. Sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Semua hal yang belum pernah ia rasakan di kehidupan pertamanya dulu.


Selena mengusap tubuhnya bagian atas. Menyingkirkan sisa - sia sentuhan dari dua bodyguard Michael.


"Bukan mereka yang aku inginkan! tapi Tuannya!" gerutu Selena membuka matanya dan memukul air di dalam bathub. Beberapa butir air terlempar keluar bathub.


"Hah!" teriaknya sembari berdiri dan segera membersihkan dirinya.


Beberapa belas menit berikutnya Selena sudah berdiri di depan cermin almari. Melihat tubuhnya yang berbalut baju seksi ala anak muda.


"Aku cantik!" ucapnya sembari berputar di depan cermin.


Tangtop kerut crop tang ia kenakan membuat pusarnya terlihat. Perut ramping jelas terlihat. Kulit putih mulusnya terekspose sempurna. Make up tipis ia poleskan di wajah cantiknya.


Entah bagaimana bisa Zico menyiapkan alat make up di atas meja rias.


Tanpa teras hari sudah menjelang siang, Selena mendengar suara pintu terbuka. Cepat - cepat ia keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Selamat siang, Nona! ini makan siang untuk Nona!" ucap seorang pria berpakaian waiters meletakkan makanan di meja makan.


"Terima kasih!"


"Maaf, Nona! Tuan Zico bilang saya tidak boleh menerima ucapan terima kasih dari Nona!" ucap pria yang berusia sekitar 27 tahunan itu.


"Tuan Zico bilang..." pria itu menggantung kalimatnya sembari menatap Selena dari atas hingga ujung kaki, dan kembali ke atas.


"Apa!" hentak Selena mulai merasa tidak nyaman.


Tidak menjawab, pria itu justru berjalan mendekati Selena, dengan menatap nakal pada Selena.


Selena reflek mundur secara teratur. Namun pria itu justru semakin mendekat. Punggung Selena menabrak dinding. Saat hendak berlari ke kanan, pria itu lebih dulu berhasil menangkap pergelangan tangannya. Menarik tubuh ramping Selena dan menguncinya erat dari belakang.


"Lepas! apa mau mu!"seru Selena mulai panik.


"Tenanglah, cantik! aku hanya ingin mengambil hak yang di berikan Tuan Zico dari mu untukku!"


"Lepas!"


"Aku hanya ingin menciummu!" ucap Pria itu memutar tubuh Selena dan kembali menguncinya. Tangan kanannya mengunci erat leher Selena agar tidak memberontak.


Hingga pria itu berhasil mencium bibir Selena. Karena merasa ada kesempatan, pria itu juga mengecup turun sampai ke leher dan dada bagian atas yang terbuka lebar.


Melihat Selena yang tak mungkin bisa memberontak, pria itu melepas tangannya di leher belakang Selena, kemudian dengan nakal memukul nakal bokong padat Selena beberapa kali.


"Benar kata Tuan Zico! kamu seksi!" desisnya. Kemudian lanjut dengan meremas dada Selena dari luar bajunya. Gairah mulai memuncak.


Saat pria itu hendak mencoba untuk menurunkan tang top crop Selena, tiba - tiba pintu terbuka. Seorang pria mamasukkan kepalanya.

__ADS_1


"Waktumu sudah habis!" ucap pria itu.


"Tch!" pria itu berdecih. "Belum apa - apa!" gerutunya pelan.


Bagaimana pun pria waiters itu memang tidak di izinkan melakukan lebih. Hanya boleh incip - incip saja.


"Hah...hah.." Nafas Selena menggebu. "Apa maksud semua ini! Zico benar - benar gila!" gerutu ya menatap pintu yang kembali tertutup.


Selena mengintip dari lubang kecil, untuk melihat siapa yang berada di luar. Ternyata ada dua orang berpakaian bodyguard yang menjaga di depan pintu.


Selena menggelengkan kepalanya pelan. "Aku lebih baik mati, dari pada harus di perlakukan seperti anjing peliharaan oleh Zico!" gumamnya. "Mom..." lirihnya kembali mengingat sang ibu.


Sepertinya ia tau apa yang akan terjadi pada dirinya kedepan.


***


Michael dan rombongan sudah sampai kembali di istana Michael. Semua menyambut dengan penuh rasa syukur.


Termasuk ada Jia dan Jio yang ikut menyambut Daddy dan Mommy nya.


Michael kembali mendorong kursi roda Chania untuk memasuki kamar mereka. Kamar dimana benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya.


"Kami tau, Sayang! aku tidak ingin memasuki kamar ini saat kamu tidak ada!" ucap Michael berjongkok di hadapan istrinya.


"Kenapa begitu?"


"Rasanya udara di kamar ini hilang saat kamu tidak ada.." jawab Michael sendu.


Chania tersenyum, "Aku tidak menyangka Tuan Muda Xavier, manusia iblis itu berubah menjadi seperti kucing kecil yang menggemaskan!" ucap Chania tersenyum kagum pada suami tampannya.


"Karena makananku bukan lagi darah, tapi kamu.." jawab Michael ikut tersenyum.


"Hihihi!" Chania cekikikan mendengar jawaban suaminya.


"I love you, Baby..." ucap Michael mencium hidung istrinya.


"I love you more, Honey!" balas Chania menangkup kembali wajah suaminya. Mendaratkan kecupan di setiap inchi wajah suaminya.


"By the way... jika kamu sakit begini, apa kita tidak bisa healing?"


"Healing?"


"Bercinta, Baby..." gemas Michael.


"Gaya apa yang bisa di lakukan dengan kaki seperti ini?" tanya Chania dengan polosnya.


"Hahahaha!" Michael tergelak mendengar pertanyaan istrinya.


Yaa.. selama ini memang dia selalu nakal saat di atas ranjang. Apalagi istri nya itu selalu saja menurut saat dia ingin melakukan gaya apapun, bahkan di manapun. Kepuasan yang di berikan istrinya itu memang tiada dua.


...🪴 Happy reading 🪴...


Dear Kakak Reader...

__ADS_1


Othor pamit 2 - 3 hari tidak up ya.. Karena dunia real membutuhkan diri ini untuk tetao strong 🤩🤩


Salam sehat, Lovallena ❤️


__ADS_2