
Sayu-sayu suara merdu burung gereja bersiul di atas atap istana Michael Xavier. Bersiul dengan merdu dan menyejukkan hati siapa saja yang sudah membuka mata di kala pagi itu.
Matahari hendak kembali terbit, menunjukkan sinarnya yang terang pada setiap insan yang bernafas di muka Bumi ini.
Di antara dinginnya udara pagi, di antara gelap malam yang mulai memudar, ada nafas-nafas yang baru membuka mata. Bahkan ada yang semakin lelap oleh dinginnya pagi. Sedangkan suara burung gereja di anggap sebagai nyanyian penimang tidur.
Salah satu di antaranya, ada seorang gadis yang menggeliat dengan sangat pelan. Merenggangkan setiap otot yang menegang, dan juga sendi-sendi yang terasa kaku. Menyeimbangkan nafas yang baru saja bekerja keras di kala matanya terlelap.
teringat tentang sesuatu, sang gadis membuka matanya dengan sangat cepat dan lebar. Melihat ke sisi kanan tempat tidurnya, di mana seingatnya ada pemuda yang menemaninya tidur semalam. Memeluknya hingga ia tak sadarkan diri, alias tertidur.
Namun sekarang sisi kanan ranjangnya kosong. Benar-benar kosong tak ada siapapun di sana, bahkan bantal pun terlihat rapi. Seolah tidak pernah di pakai untuk tidur sebelumnya.
"Apa mungkin semalam hanya mimpi?"
"Rasanya tidak mungkin..."
Gumam Jia menggelengkan kepalanya. Tidak mau jika semalam hanya lah mimpi semata. Semua itu terasa nyata dan benar-benar terjadi. Jika mimpi sudah pasti ia akan sangat kecewa.
Ia masih mengingat dengan sangat jelas ketika ia dengan manja meminta gendong sang kekasih, hingga di bawa untuk duduk di sofa, dan kemudian kembali berciuman mesra setelah obrolan yang sedikit menyesakkan. Ia bahkan masih sangat ingat, ketika tangan kekar sang bodyguard membelai mesra rambut, wajah hingga punggung sampai kaki.
Dan akhirnya sang bodyguard pamit untuk kembali ke mess. Namun ia masih tidak rela jika sampai momen itu berakhir begitu saja, dan terjadi dengan sangat singkat. Karena belum tentu sang bodyguard akan kembali mendatanginya di malam berikutnya.
Ketika dua anak manusia sedang jatuh cinta memang membuat waktu yang bergulir terasa sangat pendek dan cepat selesai. Seolah waktu adalah dahaga yang ingin terus di gelontor air.
Sehingga ketika Xiaoli pamit ia segera mencari-cari alasan obrolan dan juga meminta untuk di temani tidur sebagai jalan terakhir. Dengan berbagai bujukan manjanya, Xiaoli pun menuruti keinginannya.
Dan ia dengan sangat bahagia merebahkan kepalanya di dada bidang sang kekasih. Setelah di gendong dengan posisi yang sama. Di mana sang kekasih terus dan selalu menghujani wajahnya dengan kecupan juga peluan, hingga ia tak tau kapan momen itu berakhir.
Ingin membuktikan jika itu semua tidaklah mimpi, Jia langsung menyingkap selimut tebalnya dan melompat dari atas tempat tidur. Bergerak cepat mendekati pintu kaca yang tertutup gorden. Jia menggeser dengan cepat, dan yang terjadi adalah pintu langsung terbuka.
"Berarti semalam adalah nyata!" gumamnya dengan wajah yang langsung berubah cerah berbinar. Senyum merekah di bibir manisnya.
Kembali ia menutup pintu yang mengarah ke balkon kamar. Dan kembali melempar tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar, Jia kembali terbayang akan apa yang terjadi semalam. Sentuhan singkat yang sangat berarti untuk dirinya.
"I love you, Xiaoli Chen!"
# # # # # #
__ADS_1
Hari terus berjalan, waktu-waktu terlewati senormalnya kehidupan manusia. Diantara kisah cinta Jia yang sedang berbahagia, ada Jio yang masih berjuang untuk merebut kembali ingatan Virginia yang hilang.
Setiap hari ia di sibukkan dengan pekerjaan di kantor, karena sang Ayah yang memilih untuk bekerja di balik layar. Dan ia yang kini duduk di kursi miik sang Ayah.
Jam 11 siang, ia memutuskan untuk meninggalkan kantor. Ia pasrahkan pekerjaan yang tersisa pada kepercayaan sang Ayah di masa jabatannya. Seseorang dengan kedudukan yang berada di bawah Michael langsung, dan di pantau langsung oleh Jack Black.
Melajukan mobil Bugatti nya, Jio melesat memasuki komplek perumahan elit yang dimana kediaman Virginia berada. Memarkirkan mobil di tempat biasa, Jio langsung menuju pintu utama rumah keluarga Irgee Brown. Penghuni rumah sudah tau siapa dirinya, tidak perlu lagi melalui peraturan ketat ketika melewati pos security.
"Aunty..." sapa Jio ketika yang membuka pintu adalah Nyonya Brown.
"Jio..." lirih Nyonya Brown begitu melihat Jio yang mengetuk pintu.
"Siapa, Ma?" suara yang sangat di kenali Jio terdengar dari dalam rumah. Dan hati Jio terenyuh akan hal itu.
"Ada... Jio, Nia..." jawab sang Ibu menoleh putrinya yang duduk di sofa ruang tamu.
"Jio?" tanya Virginia menyebut nama yang menurutnya tidak asing, tapi sangat sulit untuk di ingat.
"Iya, Nia..."
"Boleh Jio masuk, Aunty?" tanya Jio.
Namun Jio dan Virginia tak bisa saling melihat satu sama lain. Karena posisi pintu dan sofa yang tidak berada dalam garis lurus.
Jio kembali memejamkan matanya untuk sesaat. Menarik nafas dalam dan menghela nya secara perlahan. Hatinya begitu rapuh jika berhadapan dengan sosok satu ini.
"Tidak kah kamu lihat vidio kita, Nia?" tanya Jio dari luar. "Apa janji yang kita ucapkan?"
"Aku tidak peduli! Aku tidak merasa mengenal kamu..."
"Ingat sekali lagi, Nia... Please..." ucap Jio memohon meski tanpa melihat Nia. "Foto kita di kamar kamu, tidakkah kamu mengingat itu?"
Virginia tau foto yang di maksud Jio. Sebuah foto ketika mereka masih kecil dulu. Foto itu terpajang di meja belajar Virginia. Hanya saja setiap ia mencoba untuk mengingat, selalu saja kepalanya sakit. Dan berakhir dengan air mata yang jatuh di pipinya yang mulus.
"Pergi kamu!" teriak Virginia yang seketika merasa kepalanya sakit, dan segera berlari masuk ke dalam ruang tengah.
Di saat itulah Jio melihat kelebat tubuh sintal Virginia, dan ia pun segera masuk tanpa permisi pada Nyonya Brown.
__ADS_1
"Nia!" panggil Jio mengejar Virginia yang berlari menaiki tangga.
Jio yang memiliki kecepatan lari di atas rata-rata, tentu dengan mudah mengejar Virginia yang berlari bahkan tidak sampai setengah dari kecepatan yang ia gunakan.
"Nia, please... kita bicara baik-baik! Jangan menghindar dariku..." mohon Jio menghalangi langkah Virginia yang sudah sampai di anak tangga teratas. "Please, Baby.."
Namun Virginia hanya menunduk, menghindari tatapan mata Jio dan bergerak ke kiri ke kanan untuk mencari celah sembari memegangi kepalanya yang terasa cukup sakit.
"Ayolah, Baby..." lirih Jio memohon.
"Pergi kamu!" bentak Virginia di depan dada Jio.
"PERGI! PERGI! PERGI!" seru Virginia berulang kali mendorong dada Jio sekuat yang ia bisa.
Jio, petarung tangguh yang tidak mudah untuk di tumbangkan itu kini bagai manusia tanpa tulang jika Virginia yang mendorong tubuhnya. Ia mundur begitu saja dengan pasrah tanpa perlawanan. Membiarkan Virginia melewati dirinya dengan begitu mudah.
Jio mundur dengan mata yang terus mengikuti langkah lari Virginia yang langsung menghilang di balik pintu kamar. Pintu kamar yang dulu bisa dengan bebas ia bisa keluar masuk kapan pun ia ingin.
Dan kini jika ia masuk secara paksa, tentu semua khawatir jika sang gadis akan semakin frustasi dan semakin membenci dirinya. Kemudian kepala sang gadis semakin terasa sakit.
Nyonya Brown datang, menghampiri sang pemuda dengan langkah pelan, lirih dan kasihan pada Jio yang tak kunjung di ingat sampai detik ini oleh sang putri tunggal.
"Jio..." panggil wanita yang menganggap Jio sudah seperti putranya sendiri itu. "Aunty sudah berusaha membuat Nia mengingat kamu... tapi dia selalu sakit kepala setiap mengingat kamu.." ucap Nyonya Brown mengusap lengan Jio dengan lembut.
"Jio tau, Aunty..." jawab Jio lirih.
"Besok Nia bilang ingin ke kampus lagi. Dia ingin mengenal kembali pendidikan terakhir yang sedang ia emban. Meskipun ia tidak ingat sama sekali teman-temannya, bahkan ia tidak ingat jurusan apa yang ia ambil..." ucap Nyonya Brown terdengar sangat memilukan.
"Besok Jio akan datang ke kampus Aunty..." jawab Jio. "Jio akan menjaga dan mengawasi Nia dari jarak jauh."
Terima kasih, Jio... Aunty tau, kamu adalah yang terbaik untuk putri Aunty satu-satunya.."Nyonya Brown menangkup wajah Jio seperti menangkup wajah Nia ketika sang gadis butuh pengakuan ataupun dorongan rasa percaya diri.
"Tapi semua ini..." Jio tidak bisa mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan.
"Saran Aunty... dekati kembali Nia seperti cara anak muda saling melakukan pendekatan. Tanpa perlu meminta Nia untuk mengingat hubungan kalian sebelum ini..." ucap Nyonya Brown tulus.
"Jio akan mencobanya, Aunty..." jawab Jio menatap lirih pada wanita yang ia harapkan kelak akan menjadi Ibu mertuanya itu.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...