
Mata mengerjap perlahan, setelah berjam - jam lamanya terpejam aki at obat bius. Gia akhirnya kembali membuka matanya. Hari tampaknya hampir pagi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 4, jendela tampak gelap.
' Aku tak sadarkan diri selama itu kah? '
Dengan tubuh yang masih lemas, ia kembali mengingat kejadian kemarin. Dimana saat ia mencuci tangan, tiba - tiba dua orang pria masuk ke dalam toilet wanita. Ia berteriak meminta tolong, karena ia hanya seorang diri di dalam toilet.
Namun sayang, tak ada siapapun yang mendengarnya. Dan saat itu juga, salah satu dari orang itu meraih dan mengunci tangannya.
Tanpa sepatah katapun, satu orang lagi menancapkan sebilah pisau kecil namun tajam ke arah perutnya dengan tangan yang terbungkus sarung tangan. Tentu saja untuk menghilangkan jejak.
Dengan darah yang mulai membasahi gaun putihnya, Gia di tarik masuk ke dalam toilet. Dan di kunci dari luar.
Sialnya selama beberapa saat tak ada satu orang pun yang memasuki toilet wanita. Sampai akhirnya ia sempat mendengar pintu utama toilet terbuka.
' Aku ingat, Sania sempat memanggilku... '
"Ugh!" tenggorokan terasa sangat kering. Namun saat mencoba bergerak mengambil gelas, rupanya efek obat bius masih tersisa.
"Apa yang kamu butuhkan?"
Suara barinton yang tak terduga membuat Gia hampir saja terjatuh dari ranjang pasien.
"Tu.. Tuan.." gagapnya. "Se..sejak kapan Tuan ada di sana?" tanya Gia melihat Jack membuka sedikit tirai.
"Sejak kemarin!" jawab Jack cuek.
Jack berjalan mendekati nakas dimana gelas yang hendak Gia ambil berada. Ia bantu Gia untuk menaikkan sandaran. Dan membuat Gia setengah berbaring. Lalu ia ambil gelas dan membantu Gia untuk meneguk air di sana.
Jangankan untuk menelan air secara berlimpah, menelan ludahnya sendiri saja terasa sulit.
Bagaimana tidak, tubuh gagap pria itu berada sangat dekat dengannya. Harum maskulin menyeruak hidungnya. Jemari kekar mengarahkan gelas kaca berbentuk tabung ke bibirnya.
Jantungnya berdebar hebat. Wajah tampan itu sudah berkali - kali membuatnya kehilangan konsentrasi. Dan kini, untuk pertama kali jarak itu semakin dekat.
"Terima kasih!" lirih Gia setelah ia meneguk beberapa teguk air.
"Hm.." jawab Jack datar. "Ada yang kau butuhkan lagi?"
"Tidak, Tuan!" jawab Gia menunduk.
Sepasang mata lentiknya tak sanggup untuk melihat mata tajam sang bodyguard utama Klan Black Hold.
"Kau lapar?"
"Em... tidak juga."
"Sarapan datang jam 6 pagi! Jika kau lapar sebelum itu, aku bisa memesannya dari luar! Jangan ragu untuk bilang!"
"Terima kasih, Tuan!" jawab Gia mengangguk.
Jack kembali ke sofa, dimana ia sebelumnya bersantai untuk mengamati pergerakan anak buahnya di luar sana melalui ponsel pintar miliknya.
Sedangkan Gia, gadis itu sesekali mencuri pandang pada Jack.
' Jumlah uang memang bisa membuat mereka selalu terlihat sangat tampan! '
Berbagai pikiran konyol hinggap di benak kecilnya. Namun kemudian rasa kantuk kembali mendera mata dan akhirnya terlelap.
***
Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul 8 pagi. Gia kembali terbangun. Kali ini terbangun dengan perut yang terasa lapar.
__ADS_1
Sebelum fokus pada perutnya yang lapar, Gia memilih untuk segera mencari objek pertama yang harus ia lihat. Namun sayang, kamar pasien seluas itu terlihat sangat sepi. Hanya ada dirinya seorang.
Clek!
Suara pintu terbuka. Gia segera menoleh pada pintu yang terbuka. Sosok yang sangat ia kenali keluar dari sana. Dengan baju lengkap, meninggalkan jas hitam, juga rambut basah yang ia gosok menggunakan handuk kecil.
Ya, Jack keluar dari balik pintu kamar mandi.
' Wow! ternyata dia masih di sini! '
Gumamnya dalam hati, dengan senyum yang tersembunyi.
' Ketampanan mu memang tidak tau tempat! dalam keadaan seperti itupun, kau justru semakin terlihat tampan, Tuan! '
Sudut bibir bergerak ke atas. Memberikan senyuman terbaik. Namun sayang, senyum itu tak bertahan lama. Sebab objek yang sedang ia nikmati sudah menatapnya dengan penuh tanda tanya dan sedikit tajam.
"Apa yang kau lihat?" tanya Jack.
"Ah...?" Gia tampak bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari jawaban terbaiknya. "Aa... saya.. hanya tidak menyangka Tuan Jack masih ada di sini!"
"Apa kau tidak suka?" tanya Jack. "Kalau kau tidak suka aku bisa meminta yang lain untuk menjagamu!"
"O..oh.. Tidak! tidak, Tuan!" jawab Gia cepat. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan langka seperti ini. "Saya justru sangat senang Tuan selalu menjaga saya. Saya hanya..." berfikir. "A.... begini! Mengingat saya, yang hanya sahabat Chania, rasanya terlalu berlebihan jika Tuan Jack yang menjaga. Jadi saya merasa shock ketika Tuan masih disini... hihihi!" Gia tersenyum kikuk. Menunjukkan deretan gigi putih yang terawat.
' Oh God! Gia... Gia... bodohnya dirimu! Sampai ketahuan mencuri pandang! '
Gia merutuki dirinya sendir.
"Hemm..." jawab Jack datar.
Sesungguhnya ia pun tak peduli dengan apapun yang akan di jawab oleh Gia. Karena ia sudah tau, perasaan seperti apa yang Gia berikan untuknya.
"Sudah lapar?"
Tanpa menjawab lagi, Jack segera meletakkan handuk di dalam kamar mandi. Kemudian menyisir rapi rambut basahnya. Dan kembali mendekati ranjang Gia, menyiapkan sarapan untuk gadis malang itu.
' Dear God! apakah ini mimpi? aku pikir aku harus bersusah payah untuk menyiapkan makanan ku sendiri.. '
Hatinya tersenyum lirih, namun bibirnya terlihat biasa saja.
Jack menarik meja otomatis dari samping ranjang. Mengarahkan ke depan dada gadis itu. Kemudian meletakkan piring berisi beberapa menu sarapan di sana.
"Kau bisa duduk?"
Gia mencoba untuk bergerak, dengan menahan rasa sakit dan kaku, Gia berhasil duduk. Namun luka di perutnya terasa cukup nyeri.
"Jangan di paksa!"
"Saya bisa, Tuan!" Gia menolak untuk menyerah begitu saja.
"Jangan membantah!"
Jack mengembalikan posisi Chania untuk bersandar. Mau tak mau gadis itu kembali bersandar. Jack mengganjal punggung Gia dengan bantal tambahan.
"Makanlah!"
Gia mengambil pisau dan garpu. Namun gadis itu terlihat cukup kesulitan untuk memotongnya.
Jack yang masih berdiri di sampingnya segera merebut pisau dan garpu itu. Membantu memotong daging, kemudian menusuk potongan daging dan mengarahkan ke mulut Gia.
Untuk sesaat gadis itu membeku. Rasanya sangat mendebarkan di suapi oleh pria tampan yang berhasil mencuri perhatiannya.
__ADS_1
"Buka mulutmu!"
Gia membuka mulut dan menerima suapan itu. Dan bertepatan dengan itu, pintu utama terbuka. Gia dan Jack menoleh bersamaan.
"Chania!" lirih Gia tersenyum senang sahabatnya datang.
Sedangkan Chania justru melempar senyuman penuh arti. Senyum yang mengartikan tengah menggoda kedua anak manusia itu.
Jack yang paham, hanya bisa menghela nafas. Kenapa istri bosnya itu datang di saat yang tidak tepat menurutnya.
"Lanjutkan, Jack!" ucap Chania mengedipkan satu matanya. Ia berjalan santai memasuki kamar VVIP dan mendekati ranjang.
"Ya, Nyonya!" jawab Jack. "Kau bisa makan sendiri, kan?"
"Hah!" pekik Gia. "Ah.. i..iya. bisa, Tuan!" mana mungkin ia menjawab tidak.
"Dia butuh bantuan mu, Jack! jika tidak, mana mungkin suamiku memintamu untuk menjaganya!"
"Tapi dia sudah bisa memotong daging sendiri!"
"Sudahlah, jangan membantah! lihat! ia bahkan harus menahan sakit untuk mengeluarkan sedikit tenaga!" ucap Chania saat melihat Gia memotong daging.
Menghela nafas berat, Jack kembali meraih pisau dan garpu Gia. Kembali mengulang apa yang baru saja ia lakukan.
Namun dari kejadian itu, nampaknya ketiga orang itu melupakan sosok gadis tangguh di belakang Chania.
Ya, Maya!
Sejak berada di ambang pintu, tepatnya di belakang Chania, hatinya sudah bergemuruh. Menahan sesak, hancur dan kecewa, melihat pria yang sebenarnya ia puja - puja sejak lama itu ternyata menjaga seorang gadis.
Bahkan dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat seorang Jack, pemimpin bodyguard, yang dinginnya hampir sama dengan Tuannya itu menyuapi seorang gadis dengan telaten.
Mimpi apa ia semalam?
Momen yang ia tunggu - tunggu untuk bisa melihat Jack saat mengantar sang Nyonya justru menjadi musibah baginya.
Melihat gadis yang di jaga Jack terlihat cantik natural, membuat hatinya menciut. Dia yang merupakan seorang bodyguard, dengan penampilan yang selalu terlihat tomboy, padahal tidak juga.
Nyalinya semakin ciut, saat mengingat status. Jika di telaah, pastilah Nyonya mudanya itu akan merestui jika Jack bersanding dengan sahabatnya.
Terlihat dari bagaimana cara Chania menggoda sang bodyguard. Agar kembali menyuapi gadis cantik di atas ranjang pasien.
Dengan menahan sesak yang menjalar sepenuh dada, mau tak mau Maya hanya bisa kembali melihat adegan romantis layaknya drama Korea. Meskipun Jack terlihat berwajah datar, namun gestur menunjukkan jika pria itu cukup respect pada sahabat istri bosnya.
"Enak?" tanya Chania.
"Enak kok! di kamar sebesar ini sudah pasti mendapat pelayanan dan menu terbaik, bukan?"
"Tentu saja!" sahut Chania. "Bahkan penjaga mu saja spesial! bodyguard terbaik dengan kedudukan tertinggi!" seru Chania kembali tertawa menggoda.
"Nyonya..." panggil Jack sedikit dingin.
Namun tak mungkin ia bisa marah pada Chania, bukan?
***
Di lain tempat, Andreas tengah menghadap Michael di ruang kerjanya. Di temani seorang bodyguard lain, Andreas memberi laporan terbaiknya hari ini.
"Saya sudah menangkap salat satu dari pelaku, Tuan!" ucap Andreas, "dan saat ini ia sudah ada di gudang! Noel mencoba untuk menggali informasi tentang motif mereka. Namun sepertinya dia berusaha keras menutupi siapa yang sudah menyuruh mereka menusuk Nona Gia!"
"Hem..!" jawab Michael dingin. Ia menatap hamparan kota Roma yang terlihat jelas dari ruang kerjanya. "Kita ke markas!"
__ADS_1
...🪴 Happy reading 🪴...