SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 209


__ADS_3

Gerald yang baru saja memperkenalkan diri, kini di buat terpaku melihat siapa yang memasuki kelas barunya.


Seorang gadis cantik, berambut hitam kecoklatan masuk dengan masih mengenakan hoodie berwarna putih dengan lambang BTS di bagian dada sebelah kiri. Kemudian lambang dan tulisan BTS berukuran lebih besar di bagian punggung.


Terpana sudah mata sang Tuan muda kecil menatap kecantikan natural remaja seusianya. Sangat natural dan apa adanya. Tapi manisnya sungguh terasa.


Langkah gadis itu saat memasuki kelas, bak gerakan slow motion dalam sebuah adegan jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan kedipan mata gadis itu seperti tengah menebar pesona ke seluruh mata yang memandangnya.


Hingga Gerald sendiri seolah tak mampu berkedip melihat betapa menawan gadis dengan jemari lentik yang memegangi tali tas di depan dadanya.


"Selamat pagi, Miss Donna. Maaf saya terlambat." ucap gadis itu dengan nada yang sangat sopan dan lembut kepada guru yang hendak mengajar.


"Ya, Jenia." jawab sang guru. "Duduklah!"


Jenia mengangguk dengan senyuman manis. Sebelum ia menuju tempat duduknya, Jenia menyempatkan diri untuk melihat siapa yang sedang memperkenalkan diri.


Ketika sorot mata bertemu, maka di situlah senyum ramah dan tipis milik Jenia kembali terbit untuk menyapa murid baru yang kemarin sudah ia dengar berita akan kedatangannya.


Seketika itu juga senyum manis nan menawan seorang Gerald Xavier terbit untuk membalas sapaan gadis itu. Ya, terbit begitu saja.


Kemudian barulah gadis itu berjalan mendekati barisan bangku paling tepi, dan duduk di salah satu bangku kosong yang dekat dengan dinding sebelah kanan. Tanpa menoleh kembali pada Gerald yang masih menatapnya dengan tatapan terpana.


Apalagi ketika melihat lambang di dada dan di punggung gadis itu. Ia sempat tenggelam, karena ia ingat lambang itu juga tergambar di box kalung BTS yang ada di dalam tas nya saat ini.


"Gerald kamu bisa duduk di sebelah sana." ucap Miss Donna menunjuk bangku kosong di dekat Leo.


Bangku yang sengaja Leo kosongkan untuk menyambut Gerald di kelas mereka. Dengan cara meminta salah satu temannya untuk pindah ke bangku kosong yang lain.


"Baik, Miss!" jawab Gerald saat tersadar dari lamunannya.


Gerald hendak mendekati meja yang di tunjuk dan duduk di bangku yang di maksudkan Miss Donna itu. Tepat di barisan nomor tiga, berada di samping kiri meja Leo.


Dan di sisi kiri Gerald ada seorang laki - laki yang bernama Zian. saat Gerald berjalan ke bangkunya, maka ia akan melintasi bangku Jenia yang berada tepat di depan Zian.


Langkah pelan sang Tuan muda kembali bagai gerakan slow motion dalam sebuah adegan film yang dramatis. Dengan sepasang mata yang melirik ke arah Jenia yang sedang membuka tas sekolahnya sembari mengeluarkan buku pelajaran yang akan di ajarkan Miss Donna.


"Hai, Gerald!" sapa Zian saat Gerald baru saja duduk di kursinya.


"Hai!" balas Gerald, "siapa namamu?" tanya Gerald yang memang sangat mudah bergaul, juga tanpa ragu untuk bertanya nama.


"Kau bisa memanggil ku Zian!" jawab Zian memperkenalkan diri.


"Hm!" jawab Gerald dengan kekehan ala anak laki - laki saat mulai mengakrabkan diri.


Gerald duduk di bangku dengan posisi yang sangat pas untuk ia bisa melihat dengan jelas sosok Jenia. Gadis cantik yang mencuri perhatiannya di pandangan pertama.


Di hari pertama masuk sekolah itu, ia tak menyangka akan bertemu dengan bidadari yang muncul begitu saja. Lalu bagaimana dengan gadis yang ia bawakan sekotak kalung BTS?


Apakah masih akan berlanjut?


Atau....?


***


Langkah lebar anak muda yang menjadi idola kampus begitu cepat menjangkau kantin sederhana dimana biasa ia dan Nikki makan siang. Ia sengaja mendatangi tempat itu setelah kelasnya usai di hari yang seharunya mereka semua libur kuliah.

__ADS_1


Tujuannya hanya satu, menunggu Virginia yang Fakultasnya dekat dengan kantin itu.


"Aku tidak percaya kalian bisa menjalani hubungan unik seperti ini..." gumam Nikki sembari menyeruput jus jeruknya setelah menyantap makan siangnya.


"Apa maksud mu?"


"Harusnya kamu belajar dari masalah Virginia semalam. Orang tuanya gencar menjodohkan Virginia dengan pemuda lainnya." ucap Nikki menyindir. "Kalau kamu cinta, harusnya segera berterus terang. Sebelum datang Alex - Alex yang lainnya."


Jio terdiam, memikirkan kembali apa yang di sarankan sang sahabat sejak kemarin.


"Coba kalau saja aku anak orang kaya seperti mu, pasti aku akan menjadi Alex yang tangguh dan gentleman. Tidak seperti Alex yang semalam." ujar Nikki dengan kekehan mengejek Alex Miguel yang sangat mudah di singkirkan.


Seketika Jio melirik kesal pada Nikki yang bergaya sok percaya diri akan di terima Virginia kalau kaya raya. Meskipun dalam hati Jio tahu, Nikki hanya bercanda.


"Mau kemana?" tanya Nikki saat tiba - tiba Jio beranjak dari kursinya.


"Nia sudah keluar!" jawab Jio tanpa menoleh ke belakang, dimana Nikki masih menatapnya dengan tatapan heran.


"Dasar bocah! apa susahnya mengatakan cinta! belum tau rasanya di tikung teman dia!" gerutu Nikki menatap punggung Jio yang mendekati Fakultas Kedokteran, dan siapa sangka Virginia benar - benar keluar dari gedung itu.


"Ah! kenapa prediksinya selalu benar!" gumam Nikki melongo melihat Jio dan Nia yang kini sudah bertemu.


***


"Kamu ada waktu?" tanya Jio pada Nia yang baru saja tiba di depannya.


"Ada apa?"


"Kita pernah gagal ke pantai, bukan?" tanya Jio.


"Bagaimana kalau sore ini kita pergi ke pantai?" tawar Jio. "Aku pernah berjanji untuk membawa mu kembali suatu saat nanti. Rasanya nanti sore waktu yang tepat!"


"Sore ini?"


"Ya, bukankah besok kita libur. Kalau kamu mau kita bisa bermalam di tepi pantai." ujar Jio. "Menikmati udara pantai yabg dingin dan terang oleh bintang - bintang!"


"Bermalam di pantai?" pekik Virginia tak percaya.


Tiba - tiba saja jantungnya berdebar saat mendengar kalimat bermalam di pantai.


"Ya." jawab Jio. "Kamu tidak bisa?"


"Bukan tidak bisa. Aku bisa saja." jawab Virginia dengan menahan senyum di bibir. "Apa kita hanya akan pergi berdua?"


"Memangnya siapa lagi yang mau ikut dengan kita?" tanya Jio dengan wajah datarnya. "Nikki? Buat apa? Dia sudah punya acara sendiri!" gumamnya kemudian membuat Virginia kembali tersenyum malu.


Tanpa bertanya lagi, Virginia hanya membalas dengan sebuah senyuman miring.


"Kita, pulang dulu. Persiapkan apa yang akan kamu bawa. Setelah siap, aku akan menjemputmu."


"Siap, Jio!" jawab Virginia.


***


Selain kisah dua anak laki - laki Michael Xavier, juga ada anak perempuannya yang juga sudah mulai masuk kuliah hari ini.

__ADS_1


Mendapat hukuman tidak bisa pergi kemanapun setelah kuliah selama tiga bulan, membuat Jia cukup bosan memang.


Siang itu, saat Jio sudah pulang kuliah bersama Virginia, dia baru saja selesai dengan materi hari. Ia kemasi semua barang - barang miliknya.


"Ada apa dengan wajah mu, Jia?" tanya Diego yabg duduk di belakang Gladys.


"Aku baru saja mengalami kecelakaan." jawab Jia datar.


"Aku heran, bagaimana hal itu bisa terjadi padamu yang kemana - kemana di antar bodyguard?" sahut Gladys yang sudah selesai berkemas.


"Iya!" sahut Reena yang duduk di sisi kanannya.


Jia berhenti membereskan bukunya, kemudian kembali mengingat momen itu. Namun bukan momen yang ternyata memasuki kepala Nona muda Xavier. Melainkan wajah tampan sang bodyguard.


"Aku hanya sedikit membantah!" jawabnya kemudian dengan senyum samar.


"Aku shock saat melihat mu masuk kelas dalam keadaan seperti ini!" ucap Diego.


"Aku juga!" sahut Gladys.


"Apapun bisa terjadi, guys! Termasuk kecelakaan ku beberapa hari lalu.


"Tapi sekarang kamu sudah baik - baik saja, kan?"


"Tentu saja!"


"Jadi apa kamu akan ikut kami ke pantai?" tanya Reena.


"Ke pantai?" tanya Jia. "Kapan?"


"Sore ini!" sahut Gladys.


"Maaf, aku tidak bisa." jawab Jia menunduk lesu.


"Kenapa?" tanya Diego.


"Aku hanya sedang menjalani hukuman dari Daddy! Tidak boleh pergi kemanapun selain kuliah.


"Hah?" pekik Diego, "hukuman apa? Apa yang sudah kamu lakukan sampai harus di hukum?"


"Aku sudah membuat seseorang terluka parah!"


"What!" pekik Reena dan Gladys bersamaan.


"Kamu ini bisa - bisanya!" senggol Reena.


"Sudahlah, kalian pergi saja. Lagi pula sedang tidak ingin kemana - mana selain pulang."


Jawabnya bergegas untuk berdiri.


"Kurang satu personil dong kita!"


"Sudahlah... Ayo pulang!"


Sementara tiga gadis yang mulai meninggalkan bangku kuliah, ada Diego yang menatap lesu pada punggung Jia.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2