
"Jangan pura - pura bodoh!" hentak Darrel pada seorang penjaga di rumah Frank, di jalan Van Hock. "Dimana Selena dan Frank!"
"Maaf, Tuan! kami tidak tau!" jawab seorang penjaga yang berhasil di lumpuhkan Darrel serta Andreas beserta pasukannya.
"Sejak kapan mereka pergi?"
"Sejak sore tadi, Tuan!" sahut seorang pelayan sembari menunduk dalam.
"Sinyal ponsel Selena masih ada di sini, Tuan!" bisik Andreas menunjukkan layar ponselnya.
"Temukan ponsel Selena!" teriak Darrel pada semua penjaga dan pelayan yang berhasil di lumpuhkan.
"Ba..baik... Tuan!" jawab seorang pelayan wanita ketakutan. Kemudian ia berlari menuju kamar. Dimana selama beberapa hari ini Selena tinggal di sana.
Seolah anak buah mengikuti pelayan wanita itu, dan berhasil menemukan ponsel Selena.
"Rupanya Selena dan pria tua itu cukup pintar!" gumam Darrel tersenyum sinis. Ia segera mengirim laporan pada Michael yang sedang dalam perjalan menuju kota Latina.
ð "Selena meninggalkan ponselnya! aku yakin Selena dan pria tua itu sedang berada di tempat Chania berada!"
ð "Brengsek! rupanya dia cukup pintar!"
ð "Cepatlah! aku akan menyusul!"
ð "Hm!"
***
Di jalan bebas hambatan, Michael meminta Dimitri untuk melaju lebih cepat. Di belakangnya ada beberapa mobil jenis jeep dan hummer yang membawa puluhan anak buahnya.
"Kau akan mendapat balasan yang setimpal, Selena..." gumam Michael dengan gigi yang mengerat, tangan yang mengepal kuat.
***
Kembali pada bangunan tua yang di gunakan Selena untuk menyekap Nyonya muda Xavier. Di sana Maya dan Chania yang tak bisa berkutik. Hanya bisa berdo'a dalam hati, agar bala bantuan segera datang.
"Persiapkan diri kalian! aku akan menyiapkan anak buah ku yang mana dulu yang harus masuk kesini! hahaha!" ucap Selena beserta tawa culas khas miliknya.
Selena membalikkan badan, di ikuti dua penjaga yang berjalan di belakangnya. Tanpa mengecek kembali pergerakan di dalam jeruji.
Maya mengangguk pada Chania, memberi isyarat bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menyerang mereka.
Pelan - pelan Maya membuka jeruji besi, Chania mengikuti di belakangnya dengan mengendap - endap. Dan saat sudah berada di luar jeruji, Maya berlari tanpa mengeluarkan suara tapak sepatu. Dengan membawa dua pisau kecil di tangan kanan dan kiri, Maya membuat dua penjaga tercekat.
Karena Maya menusuk leher dua penjaga dari belakang. Membuat mereka tumbang seketika karena tak ada persiapan. Hingga darah segar mengalir dari leher bagian belakang. Seketika dua orang itu mengejang.
Selena yang mendengar suara aneh anak buahnya, menoleh ke belakang. Betapa ia kaget setengah mati saat melihat dua anak buahnya kejang dan terkapar di lantai.
Dengan sepasang mata membulat, Selena mendongak, melihat siapa pelakunya. Lidahnya seketika kilu dan tubuh membeku saat melihat Maya tersenyum sinis padanya, dengan mengangkat dua bilah pisau kecil berlumur dada.
"Kau!" pekik Selena tak percaya.
__ADS_1
"Kenapa? kau kaget kami bisa keluar?" tanya Chania dari arah belakang Maya.
Saat melihat dua penjaga sudah tak bergerak, Chania segera menunduk mencari senjata milik para bodyguard. Hingga ia menemukan dua senjata api.
Selena hanya bisa menyaksikan gerakan Chania. Tubuhnya terpaku, tak menyangka semudah itu Chania dan Maya bisa lolos dari jeruji besi.
Chania yang sudah berlatih menembak beberapa kali memamerkan senjata api berjenis glock di tangannya. Tersenyum sinis pada Selena.
"Kalau kau tidak mati dengan glock suamiku, aku yakin kau akan mati dengan glock anak buah mu sendiri!" ucap Chania penuh penekanan. Ia serahkan satu pistol pada Maya.
Maya menerima satu pistol, dan memberikan satu pisau pada Chania. Meskipun Chania bukan ahlinya, Maya yakin Chania bisa menggerakkan pisau dalam keadaan terhimpit.
Chania mengarahkan senjata api ke arah Selena. Saat hendak meletuskan senjatanya, suara letusan terdengar dari pintu ujung lorong.
Maya dengan sigap mendorong Chania dan memeluk Nyonya mudanya, untuk menghindari peluru yang di lesatkan salah satu orang suruhan Selena. Maya mendorong tubuh Chania hingga berada di balik dinding dekat jeruji penjara.
Nafas memburu bagi keduanya. Kini suara letusan itu terus terdengar mengenai dinding ataupun jeruji besi.
"Semua! tangkap tahanan!" teriak Selena di ujung lorong.
"Ada apa, Selen!" tanya Frank yang baru datang.
"Chania berhasil keluar penjara, Pa!" jawab Selen.
"Sial!"
Saat suara letusan berhenti, Maya mengintip sedikit, ternyata musuh tengah mengisi peluru. Saat itulah di gunakan Maya untuk melesatkan dua peluru yang seketika menembus dada penembak dan satu lagi seorang pria yang baru akan masuk.
"Ayo, Nyonya!" Maya menarik tangan Chania untuk mendekati pintu keluar.Namun berulang kali musuh berdatangan.
Beberapa letusan ia lesakkan, namun hanya dua yang tepat sasaran. Berbanding berbalik dengan Maya yang sudah lihai. Setiap peluru yang letuskan gadis itu, pasti mengenai tubuh musuh. Meskipun tidak selalu di tempat yang sama.
Dorr!
"Akh!" pekik Chania. Kakinya terserempet peluru musuh. Goresan peluru membuat darah merah menguar dari kulit putih mulusnya.
"Nyonya!" teriak Maya panik.
"Perih, May!" keluh Chania terduduk di lantai.
Maya yang geram karena majikan yang sedang ia jaga terluka, ia segera merebut pistol di tangan Chania. Maya membawa dua pistol sembari mendekati pintu dengan letusan yang terus ia lepaskan.
Setiap musuh yang tewas, ia akan ambil pistolnya. Karena jumlah peluru yang terus berkurang.
Tanpa Maya dan Chania ketahui, keadaan di luar juga semakin kacau. Anak buah Selena berhamburan. Karena pada saat itu, muncullah rombongan Michael beserta pasukannya memasuki gerbang bangunan kosong.
"Michael datang!" desis Frank panik. Ia tak menyangka rombongan Michael bisa sampai secepat itu.
"What!" pekik Selena. "Bagaimana ini, Pa! kenapa mereka bisa secepat itu sampai di sini?"
Selena dan Frank sama - sama panik, mereka sembunyi di dalam ruangan khusus untuk mereka.
__ADS_1
"Mana aku tau, Selen!" jawab Frank. "Bukankah Papa sudah bilang, kamu harus berhati - hati!"
"Sialan!" umpat Selena.
Suara letusan terus saling bersahutan. Di luar bangunan oleh pasukan Michael, juga di dalam bangunan oleh Maya.
"Aku datang, Baby..." gumam Michael.
Mobil berhenti, dengan persiapan senjata yang cukup, Michael turun dan bergabung dengan pasukannya yang sudah lebih dulu menghadapi para musuh.
Anak buah Michael fokus menghajar anak buah Selena. Sementara Michael sendiri menerobos peperangan dengan bersenjatakan pisau kecil di tangan kiri, dan pistol glock kesangannya di tangan kanan.
Fokus utamanya adalah menemukan sang istri yang entah ada di sebelah mana. Kemudian ia harus menemukan Selena dan Frank agar mereka menebus kesalahan ini.
"Chania!" teriak Michael di antara lautan manusia.
"Selena benar - benar gila!" banyak sekali orang bayarannya!" gumam Jack pada Dimitri.
"Frank benar - benar nekat!" sahut Dimitri.
Keduanya saling asyik menyayat tubuh musuh yang mendekatinya.
"Sayang, semua hanyalah bodyguard - bodyguard lemah yang tak berguna!" lanjut Jack tersenyum sinis.
"Hahah! kau benar!" sahut Dimitri.
"Chania!" teriakan Michael terus terdengar, semakin dekat dengan pintu masuk.
Selena dan Frank pun sudah mendengar suara teriakan Michael. Tubuh mereka bergetar. Ini benar - benar kejutan untuk mereka berdua.
Sementara Chania dan Maya yang berada cukup jauh dari pintu utama memasuki bangunan kosong, belum juga mendengar suara Michael.
"Nona, ada suara letusan di luar sana!" ucap Maya kembali mendekati Chania yang sudah lemas karena melihat darah segar yang terus mengucur dari goresan peluru.
"Apa mungkin suamiku sudah datang?" tanya Chania penuh harap.
"Semoga, Nyonya!" jawab Maya juga berharap. "Musuh sudah tidak terlihat datang kesini, apa Nyonya bisa berjalan? kita harus keluar, Nyonya."
"Perih sekali, Maya.." keluh Chania. Tanpa sadar air mata menetes di pelupuknya.
"Saya akan membopong, Nyonya!" ucap Maya sembari berusaha membantu Chania untuk berdiri.
Di dalam ruangan khusus Selena dan Frank masih mondar - mandir untuk menemukan cara menghindari Michael.
"Selen! lewat belakang! jadikan Chania sebagai sandera untuk mengancam Michael! kita harus bisa membuat Chania berada di tangan kita!" ucap Frank. "Ayo! kita harus lebih cepat dari Michael!"
...ðŠī Happy reading ðŠī...
Hemm... kira - kira bagaimana nasib Chania selanjutnya?
Jangan lewatkan episode - episode berikutnya ya, Kak ð
__ADS_1
Salam...
Lovallena