
Bersenda gurau, saling becandai satu sama lain tanpa menimbulkan kecurigaan para bodyguard yang lain, terutama pemimpin yang sedang bergabung, Jio dan Jellow. Sepasang kekasih tampak menikmati malam ini. Malam yang pasti akan terasa sangat singkat oleh sepasang kekasih itu.
Kerena Jio hanya memberi waktu untuk saudara kembarnya itu hanya 1 jam untuk bisa bergabung bersama para bodyguard di halaman mess bodyguard, merayakan ulang tahun Xiaoli Chen. Dan durasi 1 jam itu sudah tiba. Sudah saatnya untuk Jia kembali ke istana. Meninggalkan mess bodyguard, yang rata-rata di huni oleh laki-laki
Termasuk saat ini. Jumlah laki-laki berkali-kali lipat dari jumlah wanita yang ada.
Padahal jika mereka semua tau, Xiaoli adalah kekasih Jia. Sudah sewajarnya jika Jia menemani sang kekasih di pesta ulang tahunnya. Hanya saja dunia tidak tau, atau hanya belum waktunya untuk mengetahui semuanya.
"Kembali lah ke kamar mu, 15 menit lagi aku akan menyusul untuk membantu mu menyelesaikan tugas mu." perintah Jio membuat semua bodyguard terdiam untuk sesaat. Karena sang Tuan Muda sedang berbicara serius pada Nona Muda.
Apalagi semua orang yang berada lingkungan istana Xavier tau, jika sang Tuan Muda sedang dalam mode buruk. Mengusik sedikit, bisa berakibat fatal. Sejak hari itu Jio selalu dingin pada siapa saja, dan mahal akan sebuah senyuman.
"Yaah, Kak! Padahal masih seru! ya kan, Aunty Gia?" tanya Clarice pada Gia yang duduk di samping Jack. Mencari pembela yang sekiranya satu server dengannya.
Gia tampak kehilangan nafas untuk sesaat ketika tiba-tiba di tanya demikian oleh Jia. Matanya yang membulat, melirik kanan kiri, melihat sekitar. Seolah bertanya pada yang lain...
Benarkah malam ini masih seru?
Yaa... meskipun semua pasti akan menjawab iya! Tapi Gia memilih untuk setuju dengan perintah Tuan Muda. Bisa di bilang memilih mode aman.
"Memang malam ini masih seru, Jia... Tapi kamu tidak, atau mungkin belum terbiasa dengan semua ini. Jadi Aunty pikir, lebih baik kamu kembali dulu saja ke rumah..." jawab Gia tersenyum semanis mungkin. Meskipun sebenarnya itu adalah senyum terpaksa, karena harus setuju dengan permintaan sang putra mahkota.
"Jadi... Aunty Gia setuju dengan Kak Jio?" Jia memicingkan matanya menatap Gia. Namun dari picingan mata itu ada ancaman yang sesungguhnya di sadari oleh Gia.
"Ya... mau bagaimana...?" jawab Gia salah tingkah. "Dari pada Aunty di todong Glock oleh Daddy mu..." jawab Gia membalas ancaman halus Jia dengan nama besar Ayah Jia sendiri.
' Aunty... tega sekali... '
Lirih Jia dalam hati, merintih sedih dan melas. Namun ia sama seperti Gia. Tidak berani melawan seseorang yang lebih berkuasa dari siapapun yang ada di lingkungan itu.
"Jujur! Aunty lebih takut dengan Glock Daddy Michael, Jia..." lanjut Gia memberi penjelasan.
"kalau sampai Daddy tau kamu ada di sini, yang bahaya bukan hanya kamu. Tapi kita semua!" sahut Jio mengingat kan pada sang adaik tentang siapa Ayah mereka.
"Kalau begitu sebaiknya kamu kembali sekarang saja, Jia! keberadaan mu mengancam aku juga rupanya!" sahut Jellow dengan kesadaran yang sudah semakin menurun di banding saat awal-awal Jia datang.
Jia menatap kekasih yang ada di depannya. Dan sang pemuda berkedip dalam sebanyak satu kali, sebagai tanda ia setuju dengan perintah saudara dan sepupu Jia.
"Hahh!" menghela nafas kasar dan gusar, Jia merapikan buku dan pensilnya, merasa sudah tidak ada lagi yang menginginkan dirinya ada di sana. "Baiklah, aku akan kembali ke kamar saja!" lanjutnya. "Aku tunggu Kak Jio di kamar!" ucapnya sembari berdiri dan sedikit ketus.
__ADS_1
"Ya!" jawab Jio.
"Bye semua... Selamat malam!" pamit Jia dengan memasang wajah kecewa. Dan ia juga berpamitan dengan sedikit menghentak karena kesal.
"Selamat malam juga, Nona Muda Xavier..." jawab para bodyguard bersamaan.
Tak terkecuali Xiaoli Chen. Pemuda itu juga mengatakan hal yang sama di bibirnya. Tapi tidak dengan hatinya. Di dalam hati ia berucap...
' Selamat malam, Bao Bao... tunggu sampai kita punya waktu untuk berdua, hanya berdua... Aku mencintai mu lebih dari diriku sendiri... '
Ucap Xiaoli dalam hati. Sedangkan tangan ingin sekali meraih jemari lentik itu dan menggenggamnya. Kemudian mengantar sampai di depan pintu kamar sang gadis.
Ah, sampai masuk kamar, jika takdir tidak menentang.
Sabar Amore tampan! Jangan buru-buru... Author bilang.
Sebelum menghilang di balik gerbang yang menutupi halaman mess bodyguard, Jia kembali menoleh ke belakang. Satu yang ingin ia lihat sebelum kembali ke kamarnya. Yaitu Xiaoli.
Dan sungguh beruntung, ketika ia menoleh ke belakang, masih di kursi yang sama, dengan posisi yang tidak berubah, Xiaoli masih betah menatap dirinya. Memberikan senyum samar yang hanya di sadari oleh dirinya.
"Bye..." lirih Jia tanpa suara. Hanya bibir saja yang sedikit terbuka.
Di saat Jia bersedih karena harus mengakhiri pesta secara terpaksa, justru di halaman mess masih terlihat sangat ramai. Canda gurau, bahkan karaoke di lakukan oleh mereka. Namun tidak dengan Xiaoli. Bodyguard yang menjadi raja semalam di pesta malam itu tidak bisa melebur bersama yang lain.
Semenjak kepergian sang gadis, yang di susul oleh Jio 15 menit kemudian, Xiaoli tampak memilih untuk kembali ke kamarnya, jika bisa. Namun untuk saat ini akan terlihat sangat tidak sopan jika ia melakukan hal itu. Karena masih ada para bodyguard senior yang berada di sana. Meski Jellow pun sudah baru saja meninggalkan lokasi.
Namun waktu terus berjalan. Apapun yang sedang mereka lakukan, pasti akhirnya harus di akhiri dan usai.
Seperti pesta kecil-kecilan yang di buat oleh Jellow ini. Pesta berakhir, dan Xiaoli kini sudah melangkah memasuki kamar mess nya saat jam dinding menunjukkan jam satu dini hari.
Satu yang langsung ia ambil dari saku jaket coklat tua miliknya. Ponsel yang menjadi satu-satunya media komunikasi dirinya dengan sang kekasih. Perantara penyampai rindu dan cinta ketika raga tak bisa saling menyentuh.
Saat membuka ponsel yang sudah tidak ia sentuh sejak terakhir mengirim pesan pada sang kekasih itu ternyata memiliki beberapa pesan dari nama yang sama, Bao Bao.
Jia dalam pesan chat...
"Happy Birthday, Amore..." sebuah emoticon love putih berada di akhir kalimat.
"Maafkan kekasih mu yang bodoh ini! Aku sungguh tidak tau jika kamu berulang tahun hari ini..."
__ADS_1
"Aku sungguh menyesal!"
"Katakan kamu ingin hadiah apa dariku?"
"I love you, Xiaoli Chen!"
Xiaoli tersenyum membaca pesan singkat yang di kirim oleh sang kekasih pasca kembali dari halaman mess tadi. Rasa ingin memeluk sang kekasih semakin terasa di dalam hati yang sedang di landa cinta menggebu.
Dan obrolan dalam saluran chat mulai di awali oleh sang bodyguard..
Xiaoli : "Sudah tidur?"
Jia : "Belum, sudah selesai pestanya?"
Tak butuh waktu lama untuk sang pemuda mendapat balasan chat dari sang kekasih.
Xiaoli : "Sudah! Dan ternyata aku masih merindukan mu... meski tadi sudah melihat senyummu..."
Sebuah emoticon love putih turut serta dalam pesan singkat sang bodyguard.
Jia : "Aku juga masih sangat merindukanmu. Aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung padamu... Amore!"
Xiaoli : "Tunggu!"
Pesan yang hanya berisi satu kata itu membuat Jia mengerutkan keningnya. Tunggu untuk apa pikirnya.
Jia : "Kamu mau kemana, amore?"
Tidak ada balasan. Bahkan sepertinya Xiaoli menutup aplikasi chat nya setelah mengirim satu kata tunggu itu.
Jia yanng berbaring di atas tempat tidurnya membanting ponselnya ke sisi kiri. Kemudian menatap langit-langit kamar dengan tatapan bingung. Mengira-ngira kemana perginya sang kekasih?
Kenapa chat darinya tak kunjung di balas?
Disaat semua itu terjadi, tiba-tiba sesuatu tampak bergerak di balkon kamar Jia.
"Wait! apa itu?"
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1