SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 284


__ADS_3

Gedung yang biasa di jadikan sebagai tempat latihan menembak itu tengah berisi dua anak manusia yang tengah bertempur. Bukan perang bersama musuh, bukan pula perang saudara. Bukan juga perang untuk memperebutkan sesuatu yang membuatnya bersaing.


Jika dari luar gedung yang yang terdengar adalah suara letusan peluru, maka itu adalah hal yang sangat biasa dan wajar. Karena memang gedung itu adalah gedung latihan tembak.


Tapi yang di dengar Andreas dan seorang anak buahnya justru hanyalah suara angin yang bergerak cepat, dan sesekali suara pukulan yang mengenai tubuh seseorang.


"Apa yang di lakukan Tuan muda dan Xiaoli?" tanya Andreas berbisik sangat lirih.


"Mana saya satu, Tuan Andreas!" jawab anak buah Andreas yang sudah menjadi bawahannya selama hampir 10 tahun terakhir.


Kembali ke dalam gedung, di mana kesempatan terakhir untuk Xiaoli bisa memenangkan pertempuran dengan minimal menggunakan lima jurus yang berbeda telah tiba.


Nafas dua pemuda sudah ngos-ngosan. Karena 9 jurus sebelumnya di lakukan tanpa jeda, kecuali hanya untuk sebuah obrolan singkat demi membuat situasi semakin memanas.


Jurus terakhir yang di gunakan oleh Xiaoli Chen adalah bergerak untuk menghilang dan muncul kembali tanpa bisa di deteksi oleh lawan, kemudian kembali menghilang. Bergerak seperti hantu yang gentayangan untuk kemudian tiba-tiba muncul di dekat lawan.


Setidaknya itulah yang di rencanakan sang bodyguard saat ini. Jurus yang ia pelajari terakhir kali ketika ia masih berada di kuil tempat ia sebelumnya mengabdi.


Begitu Xiaoli bergerak, Jio langsung menutup matanya kembali. Yang perlu ia lakukan hanya membaca pergerakan udara di sekitar tubuhnya. Dan berulang kali ia dapat merasakan jika Xiaoli mendekat dan menjauh kembali secara berulang dengan gerakan yang sangat cepat.


Lantas dalam satu gerakan, Jio menoleh ke belakang, karena merasakan ada gerakan udara dari arah sana.


Namun yang terjadi adalah, sesuatu justru menghantam punggungnya, hingga bergeser ke arah depan sekitar 20 cm ke depan. Namun gerakan itu dengan jelas bisa ia rasakan. Yang mana artinya Xiaoli berhasil menaklukkan tantangan yang di berikan oleh sang Tuan muda.


Jio menoleh ke belakang dengan sangat cepat. Namun Xiaoli belum muncul setelah berhasil menendang punggungnya dengan cukup keras. Jio mengamati sekitar menggunakan ekor matanya saja. Dan ia au ada pergerakan udara di pojok dekat pintu keluar.


"Baiklah! Aku mengakui keseriusan mu!" ucap Jio meski ia belum melihat Xiaoli secara nyata. "Kau berhasil memenangkan tantangan yang aku berikan!"


"Jika sampai lusa terlewat dan kau belum juga menghadap Daddy dan Mommy! Aku sendiri yang akan memecahkan kepalamu!" desis Jio dengan gigi yang mengerat serius.


Dan bersamaan kalimat itu berakhir, Jio bisa merasakan angin kecil yang bergerak di punggung nya. Cepat-cepat sang Tuan muda menoleh ke belakang. Saat itu juga ia melihat Xiaoli sudah berjongkok hormat kepadanya. Menunduk menatap lantai yang ada di ujung kaki sang bodyguard.


Xiaoli menekuk satu kakinya hingga lutut menyentuh lantai, sebagai alas bokongnya. Jika satu lutut menempel pada lantai, maka satu kaki terlipat dengan lutut yang berada tepat di depan dada. Kedua tangan yang mengatup di depan hidung seolah tengah memohon ampun pada sang baginda raja.


"Maafkan ketidak sopan nan yang saya lakukan, Tuan muda." ucap Xiaoli dengan menunduk dalam. "Saya bersumpah! Saya berjanji akan menjaga Nona muda dengan nyawa saya! Saya berjanji, tidak akan membuat ia bersedih dan menangis!"


"Dan saya berjanji! Akan menghadap Tuan besar dalam dua hari waktu yang Tuan muda berikan." ucap Xiaoli serius, teramat serius. "Dan jika Tuan besar tidak berkenan, saya siap di hukum seperti apapun!"


Tanpa menjawab kalimat Xiaoli, Jio membalikkan badannya dengan gerakan cepat. Kemudian melangkah dingin ke arah pintu keluar gedung latihan tembak.


Brughh!


Andreas dan anak buahnya terjungkal ke arah dalam gedung, ketika pintu yang mereka jadikan sandaran untuk menguping tiba-tiba terbuka dari dalam oleh seseorang.


Karena dua orang ini hanya ahli perang tanpa memiliki indera pendengaran yang tajam, maka sudah wajar jika keduanya tidak bisa mendeteksi langkah Jio yang sengaja di samarkan.


Saling memukul pelan dan saling menyalahkan karena tidak berhati-hati, kedua orang itu seketika terkesiap dan kembali berusaha berdiri tegak ketika melihat Jio juga tengah berdiri tegak dengan melirik dingin pada mereka yang memang sejak tadi di ketahui oleh Jio tengah menguping urusannya dengan Xiaoli.


"Maaf, Tuan muda!" seru Andreas dan anak buahnya bersamaan.


Jio kembali berjalan tanpa menjawab juga tanpa kembali menoleh ke belakang. Pandangannya hanya lurus ke depan, dengan tatapan yang dingin. Melintasi kembali bodyguard yang sebelumnya tengah bersantai.


***


"Apa yang terjadi di dalam?" tanya Andreas pada Xiaoli, ketika pemuda itu muncul di samping Andreas yang masih menatap punggung Jio mulai meninggalkan area belakang istana.

__ADS_1


"Tidak ada!" jawab Xiaoli cuek dan langsung melangkah meninggalkan seniornya begitu saja.


Membuat Andreas dan anak buahnya saling lirik dengan menyimpan pertanyaan dan jawaban yang sama dalam sorot mata masing-masing.


Yaitu... Tidak tau!


# # # # # #


Malam yang di penuhi dengan emosi seorang putra mahkota telah berlalu. Meninggalkan serpihan emosi yang tidak akan semudah itu berakhir, sebelum semua jelas. Pagi yang cerah sudah tiba. Dimana semua putra Xavier tengah sibuk dengan urusan masing-masing.


Jio mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kampus. Tujuan sang pemuda tidak ada yang lain lagi, selain untuk mengawasi sang kekasih dengan cara berpura-pura tidak peduli.


"Sedang kan Jia juga mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus guna untuk menuntut ilmu, sembari berharap jika sang Ayah akan memerintahkan Xiaoli untuk menjadi bodyguard yang akan mengantarnya pergi pagi ini.


Hanya itu harapan Jia setiap hari. Tidak ada lagi harapan yang lain, selain memiliki waktu untuk berdua bersama sang kekasih.


Meski satu kampus, Jio dan Jia tak pernah pergi berdua bersamaan ke kampus. Karena memang Jio selalu memiliki urusan lain. Dia tak akan menetap di kampus sampai kuliah berakhir.


Kemudian si playboy Gerald, pagi itu juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Naik ke kelas IX membuat sang pemuda di awasi penuh oleh Mommy Chania yang tak ingin anak-anaknya tidak lulus dengan baik.


Sehingga pagi ini, sang Tuan muda kecil akan di antar oleh sang Ibu sampai tiba di kampus.


"Mommy akan tau, secantik apa Jenia!" seru Gerald ketika sesi sarapan pagi berakhir.


"Diam, Gerald! Mommy tidak mau mendengar ada urusan dengan teman perempuan mu di sekolah! Kamu harus fokus dengan kelas IX ini!" jawab sang Ibu dengan tegas.


"But, Mommy! Mereka itu penyemangat Gerald untuk datang ke sekolah!" jawab Gerald.


"Kenapa yang ada di otak mu itu hanya perempuan saja!" sahut Jio setengah ketus. Bau-bau emosi semalam masih ada tentunya.


"Karena mereka cantik!" jawab Gerald. "Lagi pula kenapa kalau Gerald seperti ini? Bukankah buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?" tanya Gerald melirik satu persatu anggota keluarganya. "Mungkin saja Daddy juga seperti Gerald dulu!" lanjutnya melirik sang Ayah yang seketika terkesiap menatap si bungsu.


Salah tingkah dan bingung. Ketika di depan istri dan dua anak lainnya, si bungsu justru seolah tengah membuka catatan kelam yang sudah lama ia tinggalkan itu.


"Kenapa jadi Daddy di bawa-bawa?" tanya Daddy Michael melototi Gerald, karena bisa jadi istri tercintanya akan tersulut emosi dengan kalimat Gerald yang memang ada benarnya.


"yaaa... kan... bisa jadi, Daddy..." jawab Gerald dengan entengnya sembari tersenyum nakal.


"Sudahlah! berangkat dulu saja kalian, Jio... Jia." sahut Mommy Chania pada anak kembarnya.


"Yes, Mommy!" jawab keduanya.


Jio lebih dulu berdiri, dan berpamitan dengan kedua orang tuanya, lalu berjalan menuju pintu keluar raung makan.


Baru setengah perjalanan, ia melihat Xiaoli muncul di ujung pintu. Dan ketika tatapan mata keduanya bertemu, Xiaoli reflek mengangguk satu ali, memberi hormat seperti biasanya.


Melihat siapa yang datang, tentu Jio langsung berhenti dan memperhatikan, apa yang akan terjadi setelah ini?


Siapa yang akan di antar oleh Xiaoli?


"Atau apa tujuan Xiaoli mendatangi ruang makan? tapi juga ada Antonio dan Noel yang datang menyusul di belakang Xiaoli.


Jio menoleh kembali ke arah meja makan. Berharap sang Ayah segera bersuara untuk menentukan tugas ketiga bodyguard yang baru saja menyapanya dengan sebuah anggukan kehormatan.


"Antonio! ikuti Gerald ke sekolah!" ucap Sang Mafia.

__ADS_1


"Siap, Tuan Besar!"


"Noel! Antar istriku mengantar Gerald ke sekolah!"


"Siap, Tuan besar!" jawab Noel sigap.


"Xiaoli, kau antar Jia ke kampus! Dna tunggu sampai selesai!"


"Siap, Tuan besar..." Xiaoli mengangguk dalam. Ia tau jika sang Tuan muda yang masih berdiri di tengah ruangan juga tengah mengawasi dirinya.


Sebelum sang Daddy menyebut nama Xiaoli, tentu Ji sudah tau siapa yang akan di antar oleh sang bodyguard utama paling muda itu.


Ia melangkah melewati para bodyguard, dan melirik dingin pada Xiaoli yang hanya menunduk ketika sang Tuan muda melewati dirinya.


Jio berhenti tepat di dekat pintu masuk ruang makan. Menunggu pergerakan dari Jia dan xiaoli Chen.


"Bye, Mommy! Bye, Daddy!"


Suara Jia mendominasi di ruang makan, dan itu membuat Jio kembali menatap ke arah Xiaoli.


Jia melangkah menuju pintu keluar, melirik Xiaoli dengan sebuah senyuman yang cerah. Karena keinginannya pagi itu berhasil di penuhi. Kemudian itu terus berjalan hingg sampai di depan Jio.


"Bye, Kak Jio! Saudara ku yang baik hati!" ucap Jia mencium pipi Jio dengan singkat. Hal ini meski jarang terlihat tapi tak membuat keduanya kaku setelahnya.


"Hmm..." jawab Jio dingin. Tentu itu membuat Jia mengerutkan keningnya. Tak biasa Jio bersikap demikian. Namun yang Jia pikirkan hanyalah... mungkin sang Kakak masih pusing karena urusan dengan Virginia yang tak kunjung selesai.


Akhirnya sang gadis berambut asli hitam itu melenggang keluar ruangan.


Sampainya Jia di depan pintu, bertepatan dengan Xiaoli yang berjalan sampai di depan Jio.


Dengan hormat, Xiaoli menghadap Jio sesaat. Dan kembali mengangguk hormat.


"Saya akan menjaga Nona muda dengan nyawa saya!" ucap Xiaoli pada Jio.


Tentu hal ini menarik perhatian seisi ruangan. Sudah tugasnya memang, menjaga penghuni istana dengan nyawanya. Hanya saja hal ini tidak perlu selalu di ucap, bukan?


"Permisi, Tuan muda!" pamit Xiaoli.


"Hm!" datar Jio.


Jio menatap punggung saudara kembarnya yang tengah di ikuti oleh Xiaoli di belakangnya.


Hingga ruang makan itu kembali kosong seperti sebelumnya.


Sementara di luar istana, Jia tenyata tak langsung berangkat, gadis itu masih asyik bercanda dengan kucing gembul yang menghampirinya.


Sementara itu, Xiaoli menunggunya di dekat pintu masuk penumpang bagian belakang.


Sedangkan Jio, sudah masuk ke dalam Bugatti miliknya, dan dengan mata memicing, ia sengaja menggeber mobil sportnya tepat ketika melewati mobil Jia yang akan di kendarai oleh Xiaoli.


Xiaoli paham maksud Tuan muda melakukan hal ini, meski yang lain tengah menatap bingung pada mobil sport biru yang mulai meninggalkan area depan istana, menuju pintu gerbang yang cukup jauh di depan sana.


"Apa-apaan dia?" gumam Jia yang kaget dengan geberan mobil Jio.


Lalu bagaimana dengan Jia dan Xiaoli?

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2