SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 176


__ADS_3

Semua tengah fokus untuk menembaki musuh di jalur masuk markas. Dimana banyak sekali pasukan musuh masuk dan memberondong pasukan Black Hold yang terjebak di dalam menggunakan peluru mereka.


Banyak pasukan musuh yang tumbang akibat peluru yang melesat dari senjata pasukan Black Hold, meski tak banyak. Karena mereka hanya menembak dari celah - celah sempit drum yang berjajar. Hanya kemungkinan kecil saja peluru bisa sampai pada musuh yang pasti sudah memakai baju tempur di tubuhnya.


Di antara suara desingan peluru, Dimitri mengisi ulang senjata di tangannya dengan menghadap ke samping kiri. Ia sempat membalikkan badan ke belakang sembari melihat sekitar. Memastikan tidak ada penyelinap diantara pasukan Black Hold.


Dan sepasang matanya terbelalak saat melihat benda hitam melayang di udara, tepat di atas drum dan mengarah ke pasukannya. Sebagai seorang petarung, tentu ia hafal itu benda apa.


Seketika sepasang matanya membulat lebar, dan darah seolah berhenti mengalir saat melihat benda bundar sedikit lonjong itu mendarat tepat di belakang Jio yang tengah menembaki musuh.


"Tuan muda, Granat!" teriak Dimitri menggelegar sembari berlari merayap cepat di atas tanah ke arah Jio. Ia tak peduli jika sampai ada peluru yang mendarat di punggungnya. Atau bahkan mungkin granat susulan.


Semua menoleh dan bersiaga. Karena sangat mendadak membuat sebagian reflek hanya tiarap di tempat. Karena semua dalam jarak cukup jauh dari Jio.


Kecuali Michael yang sebenarnya berada di samping Jio. Namun ia terlebih dahulu di tarik oleh Jack yang ada di sisi kirinya, begitu teriakan Dimitri terdengar di seluruh telinga pasukan Klan.


Granat bertahan hanya lima detik saja. Dari jarak lempar bisa jadi hanya dua sampai tiga detik yang tersisa untuk bisa menyelamatkan diri. Jio, pemuda itu tengah fokus menembak, tanpa melihat ke belakang.


Saat Dimitri mendekati Jio, ia justru terdorong ke belakang oleh tangan seseorang yang menghalangi dirinya untuk meyelamatkan Jio, hingga ia terhempas ke atas tanah. Karena bersamaan dengan itu, granat meledak begitu saja.


"TUAN MUDAA!" seru Dimitri memanggil putra mahkota Klan Black Hold. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya jika sampai Jio tewas dalam pertempuran pertamanya.


Batinnya berkata, siapa dirinya tanpa bisa menyelamatkan dan melindungi keluarga Xavier?


Bodyguard utama? Bahkan sebutan itu akan terdengar sangat tidak pantas jika sampai Tuan muda Xavier tewas di markas mereka sendiri.


Dimitri bangun, begitu juga yang lain. Semua menatap ke arah granat yang mulai mengeluarkan asap sisa ledakan.


"JIO!" seru Michael panik karena tak melihat sang putra di sana.


"Tuan muda!" seru Jack ikut mencari keberadaan Jio.


"Tidak mungkin Jio hangus bersama granat!" ucap Michael dengan dada kembang kempis. "Apa yang harus aku katakan pada Chania kalau sampai Jio tewas di markas kita, Jack!" ucap Michael terdengar pilu.


Sementara itu semua kembali bersembunyi di balik drum Karena peluru terus melesak dan menghajar pertahanan Klan. Hingga asap bergantian muncul, membuat jarak pandang mereka berkurang.


Dimitri masih diam seperti orang kebingungan. Ia yang pertama kali melihat granat itu mendarat. Sudah seharusnya ia yang menyelamatkan Tuan Muda Xavier. Namun gara - gara satu tangan yang mendorongnya ke belakang, membuatnya gagal menyelamatkan Jio.


"Jio!" suara Michael masih menguasai kubu Klan, karena saking khawatirnya pada sang putra.


"Aku baik - baik saja, Paman!" suara yang tak asing terdengar dari sisi kanan Dimitri yang tubuhnya baru saja terasa lemas bagai tak bertulang.


Segera ia menoleh, membalikkan badan untuk melihat sumber suara dan matanya membulat lebar, saat mendapati Jio yang terlentang di atas tanah berpasir. Wajahnya tampak santai. Jauh berbeda dengan semua yang mengkhawatirkan dirinya.


"Tuan muda!" seru Dimitri merasa lega. Karena Jio dalam keadaan baik - baik saja. Bahkan tak ada sedikitpun lecet di tubuhnya. Bahkan tak sehelai pun bajunya terkoyak. "Anda selamat, Tuan!" ujar Dimitri tersenyum lega.


"Aku tau jika ada granat yang datang ke arahku, Paman." jawab Jio. "Bukan perkara sulit mendeteksi pergerakan benda itu!" lanjut Jio tersenyum sinis.


"Jadi anda yang mendorong saya?"


"Hemm!" jawab Jio dengan entengnya.


"Terima kasih, Tuan..." ucap Dimitri tulus. "Tuan muda selamat!" seru Dimitri untuk bisa di dengar jarak sekian meter.


"Baguslah!" sahut Michael yang ikut mendengar dari anak buah di depannya. "Tuhan menyertai mu, Jio!" seru Michael.

__ADS_1


"Tuan muda Jio tidak akan semudah di kalahkan, Tuan..." ucap Jack menatap kagum pada pemuda yang kini sudah kembali berada di balik drum, dan siap menyerbu musuh dengan senjatanya.


"Dia bahkan lebih hebat dariku!" sahut Michael. "Pergerakannya lebih cepat dari yang aku duga!"


"Anda benar, Tuan!" jawab Jack kembali membaca situasi terbaru. "Tuan, jumlah mereka tinggal beberapa saja! Saat sebagian mengganti peluru, kita bisa menyerang mereka!"


"Hemm!" jawab Michael. "Sisakan satu untuk jadi tawanan!"


"Siap, Tuan!"


"Aku mau pria dengan rompi merah itu! Sepertinya dia pimpinannya!"


"Baik, Tuan!" jawab Jack memberi kode pada Dimitri.


Hingga semua saling memberi kode untuk bersiap menyerbu pasukan musuh. Dan menyisakan pria berompi merah.


Untuk sesaat semua berhenti menembak. Membiarkan mereka kehabisan peluru dan berasumsi jika pasukan Black Hold banyak yang tumbang.


Bahkan beberapa anak buah sengaja berteriak, berpura seolah mereka terkena peluru lawan dan tewas di tempat. Tentu semua itu gak terlihat oleh musuh, karena mereka ada di balik drum.


Michael mengambil salah satu pisau dari balik jaketnya. Jio, Jack dan Dimitri melakukan hal yang sama. Maka di tangan para punggawa kini ada pistol di tangan kanan dan pisau kecil nan tajam di tangan kiri mereka.


"SERRAAAANNGG!" seru Michael saat melihat pasukan musuh mulai lengah.


Semua pasukan Black Hold keluar dari persembunyian secara bersamaan. Sementara pihak lawan kewalahan karena sebagian besar dari mereka tengah mengisi peluru.


Suara desingan peluru saling bersautan dan menumbangkan pihak lawan. Tak ada pasukan inti Black Hold yang terkena peluru. Karena yang ikut dalam pasukan inti di dalam, adalah pasukan yang terlatih.


Pisau - pisau yang di bawa pasukan Black Hold pun sudah menancap di beberapa tubuh musuh.


Sementara Jio melawan tiga orang sekaligus. Dan dapat di babat dengan mudah oleh sang putra mahkota. Tentu saja, kekuatan Jio bak kekuatan dua puluh orang. Tanpa mengeluarkan senjata pamungkas, tiga pria berbadan besar ambruk ke tanah dalam keadaan tidak bernyawa. Dua di antaranya tewas karena peluru Jio mendarat tepat di denyut nadi leher mereka.


Sedangkan Michael yang enggan beradu menggunakan pistol, memilih untuk bermain menggunakan pisau. Dan gerakan senyap Michael berhasil menancapkan pisau tepat di tangan kanan pria berompi merah.


Dan Jio yang saat itu sudah menyelesaikan tugasnya, melihat sang ayah hendak melempar pisau ke arah pria berompi merah, ia segera ikut melempar pisau dan tepat mengenai tangan kiri pria itu.


Sehingga senjata M15 di tangan pria itu jatuh ke tanah, dan ia mengaduh kesakitan. Darah segar mengucur dari kedua tangannya. Kemudian Michael menjejak dada pria itu dengan sangat kuat, hingga darah keluar dari mulutnya. Dan tersungkur di tanah.


Bapak dan anak saling lirik. Dua petarung terhebat klan Black Hold sangat kompak dalam menyelesaikan musuh.


Begitu juga para bodyguard. Semua lawan berhasil di kalahkan. Ada yang tewas atau sekedar di biarkan sekarat begitu saja.


"Bawa dia!" titah Michael.


Sesuai perintah, Andreas membawa pria berompi merah. Sedang semua pasukan utama kini berkumpul dengan duduk di atas tanah. Beberapa lainnya membereskan sisa pertempuran.


"Menurutmu apa mereka ingin mengambil dua tawanan kita?" tanya Michael.


"Iya, Daddy!" sahut Jio. "Aku sempat mendengar seseorang berkata 'kita harus bisa membawa mereka pergi! Atau kita tewas sia - sia!' begitulah sedikit banyak!"


"Meskipun pada kenyataannya mereka tetap tewas sia - sia!" sahut Michael.


"Daddy tau? Tadi salah satu dari mereka bilang, jika yang menyuruh mereka untuk menghancurkan aku adalah seorang pemuda seusiaku!" ucap Jio. "Bagaimana mungkin kita bisa memiliki musuh seusia ku, menginginkan aku yang bahkan baru saja muncul!"


Semua saling lirik satu sama lain, sembari berfikir siapa kira - kira pemuda yang ingin menghancurkan Klan Black Hold.

__ADS_1


"Apa mungkin anak keluarga Lee?" gumam Michael menduga.


"Bisa jadi, Tuan! Pertempuran kita malam itu berawal dari permasalahan Tuan muda Jio dan anaknya!" sahut Jack


"Jadi maksud mu sekarang anaknya mulai bangkit untuk menuntut balas?"


"Ya, Tuan!" sahut Jack.


"Maksud kalian Lussio Lee?" tanya Jio mengingat pertengkaran masa kecilnya.


"Benar, Tuan!" jawab Jack.


Jio terdiam, jika benar itu adalah Lussio, bisa jadi Virginia pun akan ikut dalam bahaya. Lalu pengakuan yang mengatakan jika Jia juga akan menjadi sasaran, membuat Jio semakin pening. Lussio mengenal Jia. Meskipun Jia juga jadi seorang petarung, tetap saja Jio akan khawatir. Karena peringkat Jia masih berada jauh di bawahnya.


"Tambah penjagaan untuk Jia, Daddy!" ucap Jio. "Lussio juga mengenal Jia! Bahkan...." lirih Jio.


"Apa?"


"Lussio mengenal Virginia..." resah Jio.


"Kamu khawatir Lussio akan membahayakan Virginia?" tanya Michael. "Kalau iya, Daddy akan mengatur pengamanan untuk dia."


"Dia pasti menolak Daddy!"


"Pengamanan jarak jauh pasti aman - aman saja, Jio! Dia tidak akan tau!"


"Kalau menurut Daddy itu tidak akan menyinggung Virginia, Jio setuju!"


"Hem... Dimitri, pilih dua anak buah untuk memantau Virginia!"


"Baik, Tuan!"


"Noel! Susul Andreas! interogasi pria tadi! Benar atau tidak jika yang menyuruh mereka adalah Lussio Lee!" desis Michael geram.


"Siap, Tuan!" Noel segera berdiri dan menghampiri Andreas di gudang bagian belakang yang terhalang dinding menjulang.


"Kita pulang!" ujar Michael.


***


Di waktu yang sama degan Jio menghakimi musuh, Virginia yang sudah sampai di rumah justru mengalami ketegangan.


Bagaimana tidak, kini ia tengah duduk berhadapan dengan seorang pemuda yang belum ia kenal di sofa ruang tamu. Di sana ada juga sepasang orang tua, yang di yakini Virginia sebagai orang tua pemuda itu.


"Namanya Alex Miguel!" ucap Irgee Brown menunjuk pemuda berambut pirang itu. "Dia baru kembali dari Belgia setelah 3 tahun menyelesaikan kuliahnya.."


"Ya, Virginia... Dan kami ingin lebih mengenal dekat kalian!" sahut wanita paru baya. "Dan tampaknya Alex sangat ingin mengenalmu, saat pertama kali melihat foto mu di kantor Papa mu..." lanjutnya tersenyum manis.


Sementara Virginia melihat semua tamu di ruangan itu dengan tatapan bingung. Berulang kali ia menunduk, menghindari tatapan tiga orang itu.


"Usia kalian tidak berbeda jauh. Kalian bisa saling berteman.." ucap Irgee pada putrinya.


Virginia tak merespon. Sementara Mama nya menatap sedih pada putrinya. Ia tau, putrinya itu tidak akan semudah itu mau berteman dengan di perkenalkan seperti ini.


Karena ia tau, siapa lelaki yang di tunggu Virginia selama ini.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2