SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 211


__ADS_3

Matahari semakin condong ke barat. Bumi bagian Italia siap untuk menjalani malam yang syahdu untuk sebagian orang. Dan sunyi untuk sebagian orang lainnya.


Bukankah nasib beserta kehidupannya tak selalu sama?


Termasuk untuk tiga anak Xavier yang sedang dalam dunia mereka masing - masing. Usia yang berbeda, juga dengan cerita yang berbeda pula.


Terlahir dari rahim yang sama, bahkan Ayah yang sama, tentu bukan jaminan untuk mereka memiliki nasib dan watak yang sama pula, bukan?


Dari yang di anggap paling tua, Georgio Xavier Sebastian. Atau yang biasa di panggil Jio atau juga Tuan Muda Jio. Pemuda itu tengah melajukan mobil sport mewahnya melintasi jalur luar kota. Untuk bisa sampai ke pantai Mediterania.


Malam yang indah nan romantis mungkin akan terjadi di sana. Mengulang kembali sesuatu yang hampir terjadi di sana.


Dan malam ini bawah bintang yang bertaburan, dan bulan yang bersinar terang, semua yang indah mungkin tidak akan nampak di mata Jio untuk malam ini.


Hanya cantik sang sahabat lah yang mungkin akan memenuhi pandangan sang putra mahkota.


Langit mulai menampakkan cahaya orange di kanan mobil. Samar - samar cahayanya menembus kaca jendela, dan menerpa kulit putih di antara rambut keemasan sang Nona muda Brown.


Wajah cantik yang semalam hampir di cium paksa oleh seorang pemuda yang tidak gentlemen, kini terlihat begitu menawan di terpa cahaya matahari sore.


Dari ujung mata kanannya, Jio berulang kali melirik ke samping. Dimana gadis itu tengah sibuk memilih lagu yang ingin ia putar.


"Kamu suka musik jenis apa?" tanya gadis itu tanpa melihat Jio yang selalu tersenyum mendengar suara merdu sang Nona cantik.


"Apa yang kamu sukai adalah kesukaanku!" jawab Jio seasal itu.


Sebagian gadis mungkin tidak akan percaya. Tapi itu memang benar adanya. Jio bukanlah lelaki yang pandai menggombal seperti si bungsu. Yang di sebrang sana tengah di labrak seorang gadis.


Namun siapa sangka jawaban itu membuat pipi sang Nona muda Brown merah merona. Dengan seutas senyum yang coba untuk ia tutupi.


"Baiklah, aku akan memutar satu lagu kesukaan Mama yang juga aku sukai!" seru Virginia. "Sepertinya kamu tidak akan suka!" lanjutnya menekan tombol play.


Dan mulailah intro yang cukup tenang untuk di dengar telinga, ketika berada di dalam mobil dengan mode berjalan santai seperti saat ini.


Oh oh..


When the visions around you


Bring tears to your eyes


And all that surrounds you


Are secrets and lies


I'll be your strength


I'll give you hope


Keeping your faith when it's gone


The one you should call


Was standing here all along


Lirik itu terus berlanjut hingga untaian lainnya. Berputar dengan sangat syahdu untuk di dengar dua anak muda yang sedang menyimpan perasaan yang sama. Sesekali Virginia terus mengikuti lirik lagu yang berjalan diiringi musik yang romantis.


Meski lagu itu terbilang lama, rupanya anak muda masa kini masih ada yang mengenalnya. Ya, itu pasti warisan dari orang tua mereka.


"Apa judulnya?" tanya Jio menoleh sekilas Virginia yang sesekali menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik yang lembut dan santai.

__ADS_1


"This I promise you.." jawab Virginia menoleh pada Jio yang fokus dengan kemudinya. Menatap lekat wajah tampan lelaki yang sering ia rindukan selama tujuh tahun terakhir.


"Apa?" tanya Jio dengan nada serius.


"This I promise you..."


"Apa?"


"Hah?" pekik Virginia menanggapi kata 'Apa' dari Jio. Rasanya tidak mungkin jika pemuda itu tak mendengar jawabannya. "Apa apanya?"


"Kamu bilang mau janji... katakan!" jawab Jio dengan mengulum senyuman di bibirnya.


Seketika Virginia merasa ingin menghilang saja.


"Kamu ya!" seru Virginia memukul pelan lengan Jio. Ketika menyadari jika Jio tengah bergurau. Dengan cara menggodanya melalui judul yang ia ucapkan. "Itu judul lagunya..." lanjut Virginia sedikit menghentak karena gemas.


"Hahaha... I know...beautiful!" jawab Jio kemudian.


Wajah gemas kembali berubah menjadi merah merona seperti tomat matang yang halus.


***


Jika di jalanan sore, di bawah langit orange ada sang putra mahkota yang sedang berbunga - bunga hatinya. Karena berada dekat dengan gadis cantik yang sudah menjadi impiannya selama belasan tahun lamanya.


Sedang di istana Xavier, ada Nona muda yang sedang mencoba menemukan cara untuk bisa bertemu dengan Xiaoli yang sudah mulai bertugas kembali.


Ia duduk di balkon kamarnya. Mengangkat kakinya di atas meja sembari memutar ponsel di tangannya. Punggung bersandar pada sandaran kursi, denga kepala yang beringsut ke samping.


Berbagai ide konyol muncul di pikirannha yang pendek. Namun lagi - lagi ia harus mulai belajar dari kesalahan. Yang mana ide - idenya selalu menimbulkan masalah di akhir keberhasilan.


Sangat menyedihkan memang kisah cinta sang Nona muda Xavier.


Di tengah pikiran yang kalut, telinganya yang sudah di latih untuk mendeteksi pergerakan dan suara yang sangat kecil sekalipun, mendengar suara samar di halaman depan balkon. Sekilas seperti orang yang sedang bercakap sambil berjalan.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba!


Bodyguard yang di akui Jia paling tampan dan muda, melintas dari samping istana menuju halaman depan istana bersama dengan seorang bodyguard lain yang tak ia kenali.


Tujuan mereka tentu untuk berpatroli.


Mulut terbuka lebar, mata pun tak kalah melotot, melihat betapa maskulin Xiaoli di lihat dari samping. Cahaya matahari sore menambah kesan tampan dan gagah sang pemuda.


Bahkan saat pemuda itu sudah membelakanginya sekalipun. Potongan rambut hitamnya yang rapi menjadi magnet tersendiri untuk para lawan jenisnya.


' Dia memang tampan! '


Ucap Jia dalam hati. Tanpa berani berucap sedikitpun, karena Xiaoli sendiri memiliki pendengaran yang sangat sensitif.


Bak di terpa angin tak kasat maat, sepertinya apa yang di ucapkan Jia dalam hati sampai ke telinga Xiaoli yang berjalan membelakangi balkon kamar Jia.


Merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang mengintai tapi bukan musuh, Xiaoli pun menoleh ke belakang. Untuk melihat siapa yang sedang mengawasi dirinya.


Dan saat ia menoleh ke belakang, ia tak menemukan siapapun di sana. Termasuk di balkon - balkon kamar yang berjajar. Namun ia melihat pergerakan udara yang sangat cepat di salah satu balkon yang ia ketahui sebagai balkon kamar sang Nona muda Xavier.


' Rasanya tidak mungkin jika Nona Jia mengawasi kami... '


Batin sang bodyguard yang tingkat levelnya cukup cepat naik. Baru beberapa minggu bersama klan Black Hold. Tapi ia sudah meraih beberapa penghargaan khusus yang di seleksi oleh bodyguard utama. Yaitu Jack dan Dimitri.


Xiaoli kembali menghadap ke depan seperti yang masih di lakukan temannya. Dan detik berikutnya ia kembali merasakan ada mata yang sedang mengawasi dirinya.

__ADS_1


Sepasang mata melirik ke arah kanan, untuk merasakan lebih kuat dari sebelah mana sorot mata yang tengah mengawasinya berasal.


Bibir tersenyum tipis, saat ia mulai yakin, dari mana pancaran mata itu berasal. Bagai sedang menghadapi musuh, maka ia melakukan gerakan senyap. Sangat senyap, hingga Jia tak menyadari jika Xiaoli tiba - tiba menoleh ke belakang.


Dan...


"HAAH!" pekik Jia tertahan, saat ia tertangkap basah tengah mengawasi pergerakan Xiaoli dari belakang. Nafas hampir saja melayang dan menghilang entah kemana.


Seketika bibir tersenyum kikuk bahkan kaku, saat melihat Xiaoli berjalan ke depan namun kepalanya kini mengarah pada dirinya. Membuat dua sorot mata bertemu dalam satu garis lurus tanpa sengaja. Dan itu menimbulkan rasa malu di dalam diri sang Nona muda Xavier.


Xiaoli tersenyum manis dan ramah. Merasa jika Nona muda tengah melihatnya, sudah menjadi kewajibannya untuk menyapa para penghuni istana. Tak terkecuali Nona muda yang usianya tak jauh berbeda darinya.


Jia pun semakin salah tingkah dengan sikap Xiaoli yang justru terlihat sangat tampan dan... ah sudahlah.


Setelah langkah Xiaoli mencapai tiga meter, Xiaoli memilih untuk memutus pandangannya pada Nona muda Xavier, yang mana sesungguhnya tak boleh ia tatap dengan tatapan ingin memiliki. Karena mencintai majikan, anak majikan ataupun keluarga majikan hukumnya adalah haram di dalam Klan Black Hold.


Melihat Xiaoli yang sudah tak lagi melihat ke arah dirinya, cepat - cepat Jia membalikkan badannya. Guna mengambil udara sebanyak yang ia bisa. Tatapan sang bodyguard benar - benar membuat sang Nona muda hampir menderita sesak nafas. Atau bahkan menderita jantung loncat.


' Apa yang aku lakukan? benar - benar memalukan! '


Gerutunya merasa diri paling bodoh. Manakala teringat kembali, saat Xiaoli akan menoleh ke belakang, cepat - cepat ia menunduk. Menghilang di balik pagar yang terbuat dari dinding, dengan beberapa bunga di depan pagar.


***


Meninggalkan Nona Jia yang salah tingkah di saat hari akan berganti malam. Maka ada putra bungsu Xavier yang di cerca pertanyaan oleh seorang gadis melalui saluran telepon.


📞 "Kamu bilang akan menemui aku! tapi kamu malah menolak panggilan telepon ku waktu istirahat pertama. Apa yang kamu lakukan tadi?"


Tanya gadis dari panggilan sebrang sana.


📞 "Maaf, tadi aku ada keperluan mendadak!"


Jawab Gerald tersenyum kikuk sembari menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.


📞 "Kamu bilang tidak sabar ke sekolah, karena ingin bertemu dengan ku? Kamu bohong!"


Hentak gadis di sebrang. Gadis yang mampu ia taklukan dalam waktu beberapa hari setelah ia kembali dari kuil.


📞 "Aku tidak bohong Chloe! Tapi aku tadi memang ada keperluan. Besok aku akan menemui mu, Okay?"


Gerald kembali membuat janji yang entah akan ia tepati atau tidak. Karena buaya darat satu ini sedikit pandai bersilat lidah memang.


📞 "Tidak okay! Kamu benar - benar berbeda! Aku pikir kamu akan menomor satukan aku, seperti pertama kali kamu ingin mengenalku!"


Omel gadis di sebrang. Yang mana gadis di sebrang sebenarnya sangat tertutup. Hanya saja jika benar Gerald menyukainya, tentulah itu keuntungan tersendiri, bukan?


📞 "Aku tidak akan bohong, cantik! beri tahu aku, dimana kelasmu?"


📞 "8 C!"


Jawab singkat Chloe yang seketika itu menutup panggilan teleponnya.


"What!" pekik Jio ketika panggilan telepon itu di potong secara sepihak.


"Benar - benar gadis ini!" gumam Jio. "Kenapa banyak sekali gadis cantik di sekolah!"


Gerald berangan - angan tentang cantiknya Jenia dan Chloe.


"Dulu seperti apa cara Daddy menaklukkan banyak wanita?" tanyanya pada diri sendiri. "Bukankah semua pernah bilang, kalau Daddy dulu buaya darat! Eh buaya Alaska! Hahah!" kekehnya mengingat julukan yang di berikan Jenia.

__ADS_1


"Buaya pelihara buaya!" lirihnya kemudian.


...ðŸŠī Happy Reading ðŸŠī...


__ADS_2