SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 231


__ADS_3

Keluar dari ruang BK dengan kepala pening, Michael berjalan lurus tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Semua yang di lakukan Chania untuk meredakan emosi sang suami sepertinya untuk saat ini tidak mempan. Karena Michael tampak masih geram pada lawan bicaranya barusan.


Kalau saja bukan berada di lingkungan sekolah, pasti Michael sudah meledakkan dua peluru tepat di dahi suami istri itu.


"Sudahlah, Honey..." lirih Chania mengusap dada bidang suaminya.


Michael masih diam saja.


"Bukankah kamu sudah tidak ingin lagi membunuh orang? Hm?" goda Chania dengan senyum manis miliknya.


"Mereka benar - benar orang tua yang bodoh!" gerutunya kesal.


"Iya..iyaa..sudah yaa? Toh anak itu mendapat hukuman yang lebih berat dari Gerald."


Tersenyum culas, "Hanya beda satu hari, Baby! Lebih berat apanya!" gerutunya semakin geram.


Chania tersenyum samar, "Yang penting kan lebih berat!"


"Yaa..yaa terserah kamu saja!" pungkas Michael.


Chania terkikik dengan tingkah suaminya. Kemudian menoleh ke belakang, dimana sang putra bungsu sudah membawa tas ranselnya di punggung. Dan bersiap pulang kembali ke istana karena di nyatakan skors selama dua hari.


Gerald mendongak, dan melihat wajah masam sang Mommy.


"Sorry, Mommy!" ucap Gerald tanpa suara.


Chania memiringkan bibirnya sembari menghela nafas berat dan sedikit rasa kecewa. Gerald memang berbeda dengan Kakak laki - lakinya yang masih bisa mengontrol emosi. Yang bisa menyelesaikan masalah, tanpa harus adu jotos seperti Gerald.


Chania kembali menatap lurus ke depan. Dengan tangan yang masih melingkar di lengan suaminya.


"Masuk mobil, Daddy!" perintah Michael pada Gerald yang hendak mendekati mobilnya.


"What!" pekik Gerald tanpa suara. Seketika dalam benaknya terlintas pikiran, jika ia akan di sidang. Entah di dalam rumah, atau langsung di dalam mobil sang Ayah yang luasnya luar biasa.


"Cepat!" seru Michael dengan wajah garangnya.


Membuat sang putra langsung kocar - kacir dan masuk ke dalam mobil limousine. Duduk dengan menghadap kursi yang biasa di tempati sang Ayah.


Sesuai dengan prediksi Tuan Muda kecil, jika ia akan di sidang, maka terlaksanakan lah apa yang ada di dalam pikiran pemuda tampan itu.


"Kenapa kamu bisa berurusan dengan anak bodoh macam dia, hah?" tanya Michael menatap tajam putranya.


"Namanya juga masalah yang tak ku sengaja, Daddy! kalau aku sengaja, pasti aku akan memilih lawan yang sepadan!"


"Setara Georgio Xavier?" tanya Michael membuat sang putra mendelik.


"Apa tidak ada lawan yang lebih tangguh, Daddy?" tanya Gerald dengan nada menyindir. Tentu saja sang Kakak lebih di atas segalanya. "Bahkan Daddy saja terkalahkan olehnya!" sindir Gerald tanpa melihat mata sang Ayah. Tentu saja ia kembali takut jika bermasalah karena mengejek seorang Tuan Besar yang tak lain adalah Ayah kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Siapa tau kamu bisa menang!" sahut Michael merasa tersentil saat di nyatakan kalah dari sang putra mahkota. Tapi bukankah lebih bagus jika sang putra mahkota lebih tangguh di banding dirinya?


"Daddy dulu seusiamu sudah mendapatkan banyak medali dari berbagai pertandingan yang di adakan antar kuil. Kenapa kamu satu pun tidak?" lanjut Michael balas menyindir sang putra.


"Daddy... please! bicara yang wajar - wajar saja. Masa iya Gerald yang sok jagoan melawan yang benar - benar jagoan?" gerutu Gerald kesal dengan omelan sang Ayah yang seolah menyebutnya sebagai alumni tanpa prestasi.


Chania mengulum senyumnya ketika melihat ekspresi sang bungsu yang lucu sekaligus menyebalkan. Gerald memang konyol, banyak bicara dan melawan. Dan jika soal ilmu bela diri, bahkan sang Kakak perempuan saja lebih hebat darinya.


"Sudahlah, Honey... jangan omeli Gerald di sini. Nanti di rumah, ya? aku sudah lapar!" bisik Chania yang duduk di samping sang suami.


Menoleh pada istri tercinta, maka Michael tidak punya jawaban lain, selain mengangguk untuk menyetujui apapun keinginan sang istri.


***


Virginia terlonjak kaget saat membuka pintu dan melihat sang kekasih berdiri tegak di depan pintu Ruang pemeriksaan Dokter Saraf, Martin Lee. Tentu saja dengan tatapannya yang menegangkan.


Papa dan Mama Virginia bahkan saling lirik satu sama lain. Sesuatu yang masih di rahasiakan pada kekasih putrinya. Kenapa semudah itu bisa terbongkar.


Jio menatap lekat sang kekasih, begitu juga sebaliknya.


Satu yang di tunggu Jio... penjelasan!


***


Jio, Virginia dan kedua orang tua Virginia kini duduk bersama di salah satu kantin yang ada di Rumah Sakit terlengkap dan terbaik di kota Roma. Kedua orang tua Virginia kini tak bisa lagi menutupi penyakit yang di derita sang anak gadis.


"Maafkan kami, Jio. Kami hanya belum siap memberitahukan semua ini pada kamu. Apalagi kalian baru saja resmi berpacaran..." jawab Irgee Brown.


"Virginia juga takut jika kamu akan meninggalkan dia, kalau tau dia sedang sakit yang tak biasa."


"Dan Aunty membenarkan argumen yang tak berdasar itu?' tanya Jio.


"Bukan membenarkan, Jio... Tapi kami sendiri khawatir. Pasti banyak anak muda yang menolak gadis yang sedang menderita karena satu penyakit."


"Aunty menganggap Jio sama dengan mereka?"


Tuan dan Nyonya Brown lagi - lagi hanya bisa saling melirik. Ia sudah salah menganggap Jio adalah pemuda macam itu. Pemuda yang hanya ingin indahnya saja dari sebuah hubungan.


"Maafkan aku dan kedua orang tuaku, Jio..." lirih Virginia menggenggam tangan Jio yang duduk di sampingnya. "Aku yang meminta mereka untuk tidak memberitahu kamu tentang sakit yang aku derita."


"Ini bukan masalah sepele, Nia... bagiku kamu segalanya. Kamu tidak akan kehilangan aku hanya karena satu penyakit yang bahkan bisa di sembuhkan." jawab Jio meremas lembut jemari sang kekasih.


"Tapi ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi, Jio..." sahut Irgee Brown.


"Apa?"


"Lupa ingatan dan kelumpuhan..."

__ADS_1


"Tapi Jio tadi tidak mendengar dokter mengatakan hal itu?"


"Karena Virginia tak ingin lagi mendengar dokter mengatakan hal itu berulang kali,"  jawab Irgee. "Cukup sekali saja dokter mengatakan hal itu saat awal mengetahui tentang penyakitnya."


"Kamu pasti baik - baik saja,"  jawab Jio ikut tak ingin tau lebih banyak lagi kemungkinan - kemungkinan buruk lainnya. "Aku akan tetap berada di samping mu, apapun yang terjadi." tegas Jio semakin meremas jemari Virginia.


"Terima kasih, Jio..." Virginia merebahkan kepalanya di pundak Jio, tanpa ragu dan tanpa rasa malu pada kedua orang tuanya.


"Kita akan hadapi bersama..." Jio membalas sikap Virginia dengan usapan lembut di puncak kepala sang gadis.


***


Sore menjelang malam hari, Jia sudah mempersiapkan diri untuk mendatangi pesta sang sahabat. Ia sudah di rias secara sederhana oleh sang Ibu yang merupakan mantan sekretaris yang harus selalu tampil cantik dan mempesona.


Meski Chania bisa merias dengan sangat cantik dan berkelas, tapi ia tak ingin sang putri terlihat berlebihan dalam berdandan. Apalagi Jia juga bukan tipe gadis feminim yang selalu tampil mewah dan menawan.


Gaun berwarna rose gold berbahan tile yang di pesan dari Butik, sudah melekat sempurna di tubuh sang Nona Muda Xavier. Lekukan yang indah di pinggang, di tambah dengan tatanan rambut yang di gerai dan di bentuk bergelombang semakin menyempurnakan penampilan sang Nona Muda.


Sebuh hiasan rambut yang terbuat dari butiran berlian di padu dengan pita, berukuran sedang melekat di bagian belakang kepala. Sehingga ia tetap terlihat cantik dan anggun sesuai usia.


"Sempurna!" seru Chania melihat sang anak gadis yang sudah tumbuh dewasa, Menjelang 19 tahun dua bulan lagi.


"Mommy tidak sedang menghiburku, kan?" tanya Jia menatap dirinya di depan cermin.


"Tentu saja tidak, Sayang! kamu memang sangat cantik! dan warna ini sangat cocok untuk kamu yang tidak suka warna mencolok.


"Thank you, Mommy!" ucap Jia.


"Ya, Sayang! ayo kita turun."


***


Maka turunlah Nona Muda Xavier yang di dampingi oleh Nyonya besar Xavier melalui lift. Dan saat pintu lift terbuka, ternyata ada beberapa bodyguard yang sedang menghadap sang Tuan Besar.


Beberapa jam tak melihat ponsel karena sibuk di rias oleh sang Mommy, membuat Jia tidak tau jika Xiaoli sedang tergabung dalam obrolan serius di ruang tengah yang luaskan tak terkira.


Dan saat melihat dua bidadari Xavier muncul dari balik dinding yang menutupi lift, maka semu mata tertuju pada Nona Muda yang malam itu terlihat jauh berbeda dari biasanya.


Dan Xiaoli, hampir kehabisan nafas saat melihat betapa... Ya....cantik!


...🪴 Bersambung ... 🪴...


Dear pembaca setia SANG MAFIA!, Author ingin mengucapkan terima kasih banyak atas semua dukungan dan support yang di berikan.


Semoga kita semua di berikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan puasa bagi yang menjalankan.


Salam, Lovallena

__ADS_1


__ADS_2