SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 285


__ADS_3

Jio meninggalkan area istana dengan menyisakan suara bising mobilnya yang memang di sengaja oleh sang putra mahkota. Sebagai sapaan yang berupa kode khusus untuk sang bodyguard yang berani mengencani saudara kembarnya tanpa izin terlebih dahulu.


Bukan ia tak suka pada Xiaoli yang berprofesi sebagai seorang bodyguard, hanya saja cara mereka yang menjalin hubungan secara diam-diam itulah yang membuat Jio merasa Xiaoli kurang gentle, karena tidak berani menghadap orang tua dari kekasihnya.


Xiaoli paham akan maksud dari Jio barusan, sehingga ia langsung mengangguk hormat dengan menatap kaca bagian depan mobil Jio ketika mobil Jio melintas. Seolah ia mengiyakan kode khusus yang di sampaikan oleh Jio. Di mana hanya ia seorang yang mengerti semuanya.


"Kita berangkat sekarang..." ucap Jia tersenyum cerah pada Xiaoli yang membukakan pintu mobil bagian belakang. "Sayang...." bisiknya lirih, sangat lirih hingga hanya Xiaoli saja yang mendengar.


Xiaoli hanya membalas dengan tersenyum ramah mendengar satu kata di akhir kalimat.


Tanpa di ketahui sang gadis jika ada beban berat yang sedang di emban sang pemuda. Di mana esok mau tak mau, siap tak siap, sanggup tak sanggup ia harus menghadap sang Tuan besar Xavier, yang tak lain adalah Ayah dari kekasihnya.


"Siap, Nona muda!" jawab Xiaoli dengan menunduk hormat pada Nona muda Xavier. Karena memang beginilah seharusnya sang bodyguard bersikap pada seorang Georgia Xavier Sebastian.


Setelah menutup pintu mobil penumpang bagian belakang, Xiaoli langsung masuk ke pintu kemudi. Dan melajukan mobil seperti biasa.


Kali ini Xiaoli ada yang berbeda dalam bersikap ketika berada di dalam mobi berdua, hanya berdua dengan sang kekasih. Ia lebih banyak diam, di banding menjawab celotehan manja dari Jia sepanjang perjalanan dari depan rumah sampai keluar pintu gerbang.


Hingga kini posisi Jia sudah mulai menunjukkan pergerakan yang seperti biasa. Jika tadi hanya berceloteh manja, maka kini ia sudah tidak lagi duduk di kursinya. Karena lengannya melingkar pada jok kemudi, memeluk sang sopir dari belakang dengan sentuhan manjanya.


"Kamu diam saja dari tadi?" tanya Jia yang dagunya kini menempel pada sandaran jok kemudi, di mana Xiaoli tengah mengendalikan mobil. Sedang lengannya menggelantung manja di dada Xiaoli, dengan posisinya yang masih berada di jok belakang.


"Apa yang kamu pikirkan, Amore mio?" tanya Jia mengecup pelipis Xiaoli berulang kali dan mengendus helai rambut pendek yang di sisir dengan rapi.


Tersenyum tipis, Xiaoli mengusap lembut pipi kanan Jia. Kemudian menolehnya dan ia daratkan kecupan di pipi kiri Jia.


"Tidak ada..." jawabnya kemudian.


"Jujur!" keukeh Jia menggosok dagu Xiaoli yang sudah kembali fokus menatap ke arah depan.


"Hemm..." Xiaoli mengangguk lembut dan berakhir dengan mengecup telapak tangan Jia yang masih berkeliaran di sekitar wajahnya.


"Kapan aku pindah ke depan?" tanya Jia dengan nada yang sangat manja dan sedikit cemberut. "Biasanya di sana tadi kamu sudah berhenti..." lanjutnya dengan mengerucutkan bibir.


Xiaoli tergelak sembari menggelengkan kepalannya pelan. "Ya... pindah lah ke depan, Bao-Bao!" ucap Xiaoli sembari menepikan mobilnya. Kemudian kembali menoleh Jia dan mendaratkan kecupan singkat di bibir tipis yang langsung tersenyum begitu mobil mewah itu berhenti.

__ADS_1


"Okay!" jawab Jia membalas kecupan Xiaoli dengan kecupan yang sama dan di  posisi yang masih sama.


Tak butuh waktu lama bagi Jia untuk kini ia berada di sisi kanan Xiaoli. Menemani sang pemuda mengemudikan mobilnya.


Jika tadi lengannya bergelayut manja di dada bidang Xiaoli Chen, maka kini lengan itu bergelayut manja di lengan kekar Xiaoli Chen yang kembali melajukan mobil menuju kampus sang Nona muda Xavier.


"Jangan kamu pikir aku tidak tau kalau ada yang sedang kamu pikirkan, Amore..." gumam Jia serius dengan kepala bagian kiri yang menempel pada lengan kanan Xiaoli.


Xiaoli menarik nafas panjang dan menghelanya secara perlahan namun sedikit terdengar kasar. Sontak Jia menoleh ke arah wajah tampan sang bodyguard.


"Apa?" tanya Jia dengan serius. Ia usap lembut lengan kekar sang bodyguard.


Xiaoli menoleh ke kanan, mendekatkan hidungnya pada kening Jia, menghirup wangi rambut Jia di bagian poni.


"Aku hanya sedang merangkai kalimat yang tepat untuk menghadap Tuan besar Michael. jawab Xiaoli melirik sekilas pada kekasihnya yang selalu di puja-puja, baik dalam diam, maupun terang-terangan di depan sang kekasih.


Mendengar jawaban Xiaoli, Jia tentu akhirnya ikut menarik nafas panjang dan membuangnya resah. Sang gadis tau, ini adalah ujian terberat untuk laki-laki yang ingin menjadi kekasihnya.


Menghadapi seorang Michael Xavier bukanlah sesuatu yang mudah. Emosinya sangat mudah meledak dan tidak beraturan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengurangi atau bahkan mungkin meredakan emosi sang Tuan besar.


Dan kali ini, Xiaoli justru akan bertaruh nyawa untuk bisa tetap menjadi kekasihnya. Xiaoli kini bagai tengah bergelantung pada tali melingkar yang bisa kapan saja menjerat lehernya jika kakinya terpeleset dari pijakan.


Jia menatap lekat sang pujaan hati. Di sisi lain ada tatapan pilu yang menyertai.


"Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu..." ucap Jia tulus.


Xiaoli tersenyum kecut. "Kalau aku mati di tangan Tuan besar besok, apa kamu juga akan ikut?" tanya Xiaoli terlihat serius, meskipun sesungguhnya ia bercanda.


"Itu tidak akan mungkin terjadi! Mommy tidak akan membiarkan Daddy membunuh siapapun penghuni istana..." sanggah Jia tak ingin hal itu terjadi.


"Kecuali pengkhianat!" sahut Xiaoli kembali tersenyum kecut. "Dan aku adalah salah satunya!" lanjut Xiaoli perih, pedih dan penuh luka sayatan yang tak kasat mata.


"Kamu bukan pengkhianat!" sahut Jia.


"Lalu apa julukan yang tepat untuk aku yang sudah berani memacari kamu... Nona muda..." Xiaoli menoleh Jia, tersenyum pahit, namun tak bisa untuk tidak mengecup kening sang kekasih.

__ADS_1


Tak bisa menjawab lagi, karena memang bisa jadi itu benar adanya. Jia hanya bisa semakin mengeratkan pelukan di lengan sang kekasih yang sedang mengemudi. Dengan kepala yang semakin ia buat nyaman bersandar di sana.


Tak peduli tangan itu bergerak untuk menggerakkan gigi dan sebagainya.


Satu yang menjadi tujuannya, yaitu menguatkan dan meyakinkan sang kekasih jika dirinya akan selalu ada.


"Mommy tidak akan tinggal diam... Aku yakin..." lirihnya.


***


Virginia tengah melangkahkan kakinya menuju Fakultas kedokteran yang menjadi ruang kelasnya untuk meraih gelar sarjana.


Bersamaan dengan itu, tanpa sengaja ia bersimpangan dengan seseorang yang langsung mengenali dirinya.


"Virginia, kan?" tanya orang itu begitu membalikkan badan. Membuat sang gadis kembali menoleh ke belakang dan melihat sosok tinggi tegap yang baru saja menyebut namanya.


"Siapa, ya?" tanya sang gadis.


Seseorang itu tersenyum tipis sembari mengikis jarak mereka. "Lupa?" tanyanya.


"Hm..." Virginia mengangguk sembari mencoba untuk mengingat-ingat.


"Axton! Kita bertemu saat di pantai!" ucapnya pemuda itu.


"Oh..." Virginia mengangguk paham. "Aku ingat!" ucap Virginia tersenyum. "Kenapa ada di sini?"


"Aku sedang mencoba mencari kampus! Jika ada yang bagus aku ingin mengambil S3 di sini."


"Oh..." Virginia mengangguk paham.


"Tak di sangka kita justru bertemu lagi di sini..." ucapnya. "Jadi..." Axton menggantung kalimatnya, seolah mencoba mengorek ingatan Virginia.


"Jadi apa?" tanya Virginia penasaran dengan kelanjutan kalimat Axton.


"Bukankah waktu itu kalau kita bertemu lagi, kami mau bertukar nomor ponsel dengan ku?"

__ADS_1


...🪴 Bersambung... 🪴...


__ADS_2