SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 113


__ADS_3

Akibat ketamakan, ambisi dan keegoisan membuat seseorang akan hancur pada suatu titik yang sudah di tetapkan sang pencipta, selaku penentu takdir manusia.


Jika beberapa orang berlomba untuk melakukan kebaikan. Maka ada juga beberapa orang yang justru memilih melakukan hal - hal keji demi tujuan yang ingin ia capai.


Entah, orang - orang seperti mereka percaya atau tidak akan ketetapan Tuhan. Yang jelas, sesungguhnya garis kehidupan sudah ada yang menentukan. Hukum alam itu akan terus berlaku selama manusia itu hidup.


Baik buruk yang kita dapatkan, adalah hasil perbuatan kita sendiri. Bukankah pepatah mengatakan, Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai?


Dan disinilah titik terendah seorang Deborah. Seorang wanita yang di selimut dengan ketamakan. Ia juga mengkhianati sang suami. Bahkan membunuhnya saat merasa dirinya terancam dan takut terkalahkan.


Semua yang hadir sudah duduk di tempatnya. Sania Arlington, duduk tepat di samping Chania Arlington.


Chania Arlington, yang kini menjadi Chania Xavier sempat beberapa kali berubah nama. Dari yang ia ketahui sejak awal sebagai Chania Renata, hingga mengarang nama menjadi Carina Octaryn.


Dan kini menjadi Chania Xavier, karena berhak menyandang nama belakang seorang Michael Xavier, sang suami.


Roma, Italia...


Saya, Smith Arlington, yang bertanda tangan di bawah ini, sekaligus menulis sendiri surat ini menyatakan...


Jika saya meninggal, entah karena tua, sakit ataupun terbunuh. Maka seluruh harta yang saya tinggalkan, akan saya bagikan kepada ketiga putri kandung saya. Dengan pembagian sebagai berikut.


30 % untuk Oliver Arlington


35 % untuk Chania Arlington


35 % untuk Sania Arlington


Surat ini hanya akan di bacakan, jika ketiga putri saya hadir. Terutama kedua putri kembar ku. Yang entah kapan keduanya akan di pertemukan Tuhan.


Dan jika ada yang bertanya kenapa bagian Chania dan Sania lebih besar. Itu karena mereka tak pernah mendapatkan kasih sayangku di seumur hidupnya.


Dan nama yang tak di sebutkan, tak berhak sepersen pun atas harta yang saya tinggalkan. Termasuk tidak berhak menempati rumah yang saya tinggalkan, tanpa persetujuan ketiga putri Arlington beserta keturunannya.


Surat ini adalah sah, dan mutlak! Tidak akan ada pengalihan harta dan sebagainya, tanpa persetujuan ketiganya dalam keadaan sadar.


Ketahuilah Oliver, Chania, dan Sania... Papa sangat mencintai kalian. Jadilah saudara yang saling menyayangi satu sama lain. Saat waktu mempertemukan kalian kelak.


Saya, Smith Arlington.


Sebuah tanda tangan resmi milik Smith Arlington tertuang di sana. Di atas kertas bersama dengan sebuah materai.


Roy dengan lugas dan terang - terangan menunjukkan lembar surat itu pada seluruh keluarga penting yang hadir.


Deborah di buat mendelik dengan apa yang di dengar oleh seisi ruangan. Dunia seakan siap runtuh di atas kepalanya. Bagaimana tidak, tak ada satu bagian pun yang menyebutkan namanya dan juga nama Selena, selaku putri terakhirnya yang kini masih dalam keadaan koma di rumah sakit.

__ADS_1


Itu artinya ia dan Selena bahkan tak bisa tinggal di rumah itu tanpa persetujuan Chania dan Sania. Dua gadis yang sangat ia singkirkan.


"Apa yang kau baca!" seru Deborah tidak terima. Wanita itu berdiri dengan tegak. "Bagaimana bisa namaku dan nama Selena tidak di sebutkan sama sekali" protesnya dengan geram.


"Karena Nona Selena bukan putri kandung mendiang Tuan Smith Arlington, Nyonya!" jawab Roy dengan jelas.


"Tidak mungkin! kau jangan mengarang cerita, brengsek!" sembur Deborah.


Tanpa menjawab lagi, Roy mengeluarkan amplop besar yang berisi hasil tes DNA belasan tahun yang lalu. Sebelum Smith membuat surat wasiat.


"Silahkan di baca, Nyonya!" Roy menyerahkan amplop itu pada Deborah.


Menatap nanar pada amplop, lalu kemudian menariknya dengan kasar. Menatap seluruh wajah seisi ruangan yang tampak menatapnya dengan berbagai pemikiran masing - masing.


Bukankah ia akan malu jika selama ini membangga - banggakan harta yang ternyata sebenarnya ia tak berhak sama sekali. Bahkan harta itu ia gunakan untuk membayar banyak sekali penjahat untuk melancarkan bisnis dan tujuan gila nya.


"Buka, Mom!" ucap Oliver pada Deborah yang masih dalam posisi berdiri. Menyadarkan wanita itu dari lamunan.


Deborah membuka amplop itu. Ada beberapa lembar kertas dari beberapa rumah sakit yang berbeda. Bahkan nama rumah sakit terbaik di Amerika pun ada.


' Ini gila! kenapa aku tidak pernah tahu Smith melakukan semua ini? '


Batinnya mulai merancau tidak jelas.


Di sana, di lembar - lembar kertas itu, terdapat tanggal - tanggal yang berbeda. Yang menunjukkan bahwa lembar itu di cetak belasan tahun lalu. Lebih tepatnya saat Selena berusia sekitar 1 hingga 5 tahun.


Dua pasang mata itu hanya fokus pada satu kata yang di cetak dengan huruf besar dan hitam tebal.


...NEGATIF...


Oliver menutup mulutnya yang membulat karena tak percaya. Jika sang adik yang juga menyandang nama Arlington, ternyata bukan dari darah yang 100% sama dengannya.


"Mom..." lirih Oliver.


Ekspresi Deborah mulai geram. Ia semakin geram saat membuka halaman - halaman selanjutnya.


Michael dan Chania terlibat saling tatap. Frederick dan Madalena juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Sania hanya fokus melihat ibu dan anak yang masih berdiri.


Sreettt!


Lembaran kertas putih di tarik paksa oleh Roy, sebelum Deborah berniat menyobeknya.


"Itu pasti salah!"


" Tidak ada yang salah, Nyonya!" jawab Roy tegas. "Ini asli tanpa rekayasa! harusnya anda berterima kasih pada Tuan besar Arlington karena selama hidupnya tetap memperlakukan Nona Selena seperti putri kandungnya. Bahkan memberikan nama besar beliau untuknya."

__ADS_1


Tersenyum smirk, "Aku tidak percaya!"


"Itulah kenyataannya, Nyonya!" jawab Roy sembari mengeluarkan berkas serah terima harta peninggalan Smith. Ia tak mau ambil pusing dengan kalimat - kalimat umpatan yang pasti akan keluar dari mulut seorang Deborah.


"Hentikan!" teriak Deborah saay Roy meminta Chania untuk tanda tangan pertama kali. "Aku istri sah Smith! aku yang berhak atas warisannya!" teriaknya membuat Chania membeku untuk sesaat.


"Silahkan tanda tangan, Nona!" ucap pengacara yang di bawa oleh Frederick.


"Diam kau!" seru Deborah merasa pengacara itu tidak berhak untuk ikut campur.


"Warisan tetap akan di berikan sesuai dengan surat wasiat, Nyonya!" ucap Roy sinis, bahkan tanpa melihat Deborah. Pengacara satu itu sesungguhnya sudah sangat malas berhadapan dengan Deborah.


"Bicara yang sopan, bodoh!" sahut Royce menodongkan senjata pada Roy. "Berikan bukti lain, jika memang semua harta tak berhak untuk Nyonya Deborah dan Nona Selena!" perintah Royce.


Tersenyum sinis. Roy mengeluarkan sebuah laptop dari tas jinjing hitam yang ia bawa. Di sana, di hadapan semua hadirin ia memutar sebuah video. Dimana Smith tengah duduk di sofa. Dan dengan lugas menceritakan perjalanan hidupnya.


Hingga kemudian, video itu memutar saat Smith menulis surat wasiat itu menggunakan tangannya sendiri.


Sania dan Chania meneteskan air matanya. Ini adalah kali pertama mereka mendengar suara Papa kandung mereka. Sungguh tampan, gagah, dan berwibawa. Itulah yang ada di benak mereka.


Sedangkan Oliver, gadis itu terpaku menatap wajah sang Papa. Dulu, pria itu selalu memanjakan dirinya dan Selena. Apapun yang mereka inginkan pasti ia dapatkan. Bahkan saat ada yang berusaha menyakitinya, pria itu selalu berdiri paling depan untuk memberikan perlindungan. Setetes cairan bening meleleh dari pelupuk matanya.


Ia mulai menerima apa yang di ucapkan sang Papa. Jika harta bagian Chania dan Sania lebih besar darinya, itu karena mereka berdua tak pernah merasakan apa yang ia rasakan selama bersama sang Papa.


"HAAAHHH!" teriak Deborah menggema di ruangan besar itu. Ia hampir saja melempar laptop milik Roy.


Untung saja pria itu sigap menyelamatkan laptop bergambar apel tergigit itu.


"Mom! kendalikan dirimu, Mom!" ucap Oliver menarik lengan sang Mama yang terlihat begitu frustasi.


"Nyonya! jangan seperti ini!" ucap Royce ikut mencoba untuk menenangkan. Meskipun bodyguard satu itu mulai tidak tenang. Nasibnya sebagai bodyguard Deborah mulai terancam. Tidak mungkin dia mau melindungi Deborah tanpa di gaji. Sementara wanita itu sudah jatuh miskin.


"Bagaimana Mama bisa tenang! jika apa yang seharusnya menjadi milik kita, justru di kuasai mereka berdua!" teriak Deborah menatap benci pada Chania dan Sania.


"Mom, masih ada aku! Mommy bisa tinggal bersama ku! asal Mommy mau berubah! lupakan ambisi Mommy!"


"30% persen harta Arlington tidak akan sebanding dengan mereka, Oliver! apa yang bisa kau lakukan dengan 30% itu!" hentak Deborah.


"Yang penting Oliver tetap memiliki hak, Mom! 30% itu sudah cukup membuat kita bisa hidup enak, asalkan Mommy tidak berperang dan melakukan kejahatan. Oliver akan membangun rumah yang tak kalah mewah dari rumah ini. Kita akan tinggal di sana!"


Nafas Deborah naik turun, dadanya tampak kembang kempis. Dari harapan bisa menguasai harta 100%, justru menjadi 30%, rasanya sangat kecil. Apalagi itu milik anaknya. Bukan miliknya sendiri.


"Harusnya kau malu, Deborah!" sahut Frederick sinis.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


Jangan lupa Votenya ya kakak 🥰


__ADS_2