SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 86


__ADS_3

Seorang pria yang di ketahui sebagai ketua tim, menghadap seorang bos wanita yang diketahui gila harta, tahta dan tak pernah takut akan semua musuh.


Hanya satu yang di takutkan wanita itu, yaitu ...


"Gadis itu sudah hamil besar, Nyonya!" ucap pria dengan berbagai kemampuan itu.


"Sial!" umpatnya. "Berapa bulan?"


"Kami tidak tau, Nyonya. Yang jelas perutnya sudah besar!"


"Berarti benar dugaan ku! Michael menikahi putri Pelacur itu!"


Nafas Deborah mulai naik turun. Dokter akan menolak mengambil sumsum tulang belang wanita hamil.


Braak!!


Meja di antara sofa yang tak berdosa itupun menjadi sasaran amukan Deborah. Di jejak hingga bergeser sejauh dua meter.


"Ada apa, Mom!" sahut Oliver yang menuruni tangga. Berjalan cepat mendekati sang Mama yang uring - uringan di ruang tengah.


"Oliver!" panggil Deborah ketus. "Apa Michael dan gadis itu menikah?" desis Deborah.


Oliver menggelengkan kepalanya bingung, "Tidak, Mom! tidak ada pernikahan selama aku di sana!"


"Brengsek!" kesal Deborah. "Kau tau, anak pelacur itu tengah hamil besar!"


"Haa!" membulatlah bibir Oliver yang kemudian ia tutup menggunakan kedua telapak tangan. Tak sanggup lagi berkata - kata.


"Aku yakin mereka sudah menikah diam - diam! Aku tau siapa Michael! ia tidak akan menghamili siapapun, kecuali istrinya!"


"Tapi, Mom! setahuku Michael tidak ingin punya anak!"


"Lupakan omong kosong seperti itu, Oliver! Buka matamu! cinta itu buta! Yang tak mungkin bisa menjadi mungkin!"


Nafas Oliver memburu, begitu hancur mendengar kabar yang sangat tidak ingin ia dengar.


' Michael akan memiliki seorang anak dari gadis yang tak lain adalah adikku? '


Batin Oliver dalam hati. Tubuhnya lemas hingga terhuyung dan jatuh terduduk di sofa.


"Lupakan cinta mu pada Michael! dia adalah pengkhianat! aku akan membunuh ibunya yang gila itu sebagai balasan!" desis Deborah dengan gigi yang mengerat.


"Mom..."


"Patuhi Mommy, Oliver!" sentak Deborah tak terbantahkan lagi oleh Oliver.


"Selagi Frederick ada di sini, rencanakan untuk menyerang white house, di mana sahabatku yang gila itu tinggal!" tersenyum sinis.


Ia tak peduli lagi dengan persahabatan. Nyawa Selena sudah di ambang kematian. Tidak mendapatkan sumsum tulang belakang, maka Madalena menjadi korban.


"Siap, Nyonya!"


# # # # # #


Di sisi lain Italia, sesi makan malam telah berakhir. Chania tergopoh menghampiri Michael yang tengah melangsung meeting dengan Jack, Dimitri dan team inti pasukannya di ruang tamu kamarnya.


Guna mendapatkan kabar sang Mama yang berhasil sampai di rumah utama dengan selamat. Namun rencananya esok mereka akan kembali ke kota Roma, dan tak ingin ada pertempuran sebelum Chania sampai di rumah.

__ADS_1


"Selamat malam, Nyonya muda!" sapa lima orang bodyguard saat melihat Chania keluar dari kamar.


"Malam!" jawab Chania kikuk, karena terlihat begitu di hormati.


Michael menepuk sofa di sampingnya. Meminta sang istri untuk duduk bersebelahan dengannya. Ia merasa ada sesuatu yang penting ingin di sampaikan padanya.


"Honey! seragam kerja ku tertinggal! bisakah kamu suruh salah satu dari mereka untuk mengambilnya?" bisik Chania setelah duduk merapat pada sang suami.


Permintaan Chania membuat para bodyguard mengulum senyuman. Meski ia berbisik, tapi telinga para pasukan inti sudah terlatih dan sensitif.


"Seragam kerja?" tanya Michael mengulang permintaan Chania.


"Iya, aku hanya minta ijin pulang cepat kemarin!" jelas Chania terlihat khawatir Michael tidak mengizinkannya kembali bekerja. Sementara pihak restauran memiliki aturan tersendiri untuk karyawan yang ingin memutus kontrak atau resign.


Michael terkekeh kecil, kemudian mengambil selembar kertas di atas meja.


"Carina Gabriella" ucapnya membaca tulisan nama di dalam kertas. "Nama samaran yang cantik, Baby!" gumam Michael melirik istrinya dengan senyum penuh kemenangan.


Chania tampak bingung melihat kertas dan dirinya secara bergantian.


"Apa ini?" Chania merebut kertas dari tangan Michael. "Surat pengunduran diri?" gumam Chania tersentak kaget dengan menatap tajam suaminya.


Michael mengangguk dengan entengnya.


"Bagaimana bisa aku sudah mendapatkan surat ini?"


"Kau lupa lagi siapa suami mu?" tanya Michael serius. "Michael Xavier Sebastian." sebut Michael. "Dan Nyonya Xavier tidak boleh bekerja! apapun itu! dan apapun alasannya!" tekan Michael menatap dalam dan yakin pada istrinya.


Chania melirik pada para bodyguard yang juga merupakan panglima perang suaminya. Karena ia merasa salah tingkah dengan kalimat penekanan Michael.


"Masih mau ambil seragam?" tanya Michael mengulum senyum.


Michael mengangkat tangannya ke belakang punggung Chania, dan merengkuh pinggang Chania erat. Hingga lengan atas Chania menempel pada dada bidangnya. Memberikan kecupan di kepala atas Chania.


"Besok kita akan kembali ke Roma." ucap Michael. "Kita akan bertemu Papa dan Mama di rumah Papa."


Senyum malu - malu Chania menyusut secara perlahan begitu saja. Reflek ia merengkuh perutnya.


' Aku tengah hamil cucu mereka. Akankah orang seperti mereka mau mengakui calon bayi kembar ku? '


Tanya Chania dalam hati. Ia usap perutnya, belum apa - apa ia sudah merasa begitu miris.


"Kamu kenapa?" tanya Michael.


Chania hanya menggeleng pelan, "aku mau kembali ke kamar." ucap Chania berpamitan.


"Iya!" Michael mengangguk santai.


***


Chania masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya perlahan. Menutupi rasa resah di dalam dada dari sang suami. Ia tau ekspresinya sudah terbaca sejak tadi. Sehingga menghindar lebih baik dari pada harus menjawab pertanyaan yang akan sulit di jawab.


Chania berjalan ke arah balkon, berdiri menghadap hamparan pantai dengan ombak yang berdebur. Di atas, langit sudah menabur bintang. Cahaya lampu menerangi mereka yang menghabiskan malam di pasir pantai.


' Bagaimana jika anak ini tidak bisa di terima do keluarga Michael? '


' Bukankah Nyonya besar Sebastian membenci ku? karena aku putri Mama Kimberly? '

__ADS_1


' Oh My God! alasan apa yang harus aku berikan pada Michael? '


Chania memikirkan hal - hal yang seharusnya tidak perlu di pikirkan. Tapi apalah daya, ia tak tau tentang restu orang tua Michael.


Sepasang tangan merayap lembut di samping kanan dan kiri perutnya. Di barengi harum woody yang menjadi ciri khas seorang Michael Xavier. Hingga punggungnya bertubrukan dengan dada bidang yang selalu membuatnya nyaman.


"Kamu kenapa, Baby?" tanya Michael mengendus keharuman dari tubuh Chania melalui helaian rambut dan tengkuk leher kanan.


"Emh... tidak." jawab Chania menyentuh tangan Michael yang sedang mengelus perutnya.


"Jangan berbohong," ucap Michael, "aku tau, kamu ragu bertemu orang tua ku, kan?" desak Michael. "Kamu tau, hanya dengan sekali lirikan aku bisa tau yang membuatmu resah. Katakanlah, Baby..." bibir tipis mendarat di pipi chubby yang menggemaskan.


"Aku hanya takut kejadian waktu di LA terulang." jawabnya, "apalagi aku sedang hamil. Bagaimana jika kami terancam dari berbagai pihak?" tanya Chania menunjuk dirinya dan dua buah cinta mereka yang masih di kandungan.


Tersenyum tipis, "ada aku sebagai Daddy nya, apa yang kamu takutkan?"


Menghela nafas, "kamu tidak tau rasanya jadi aku!" dengkus Chania melempar pandang pada lautan lepas.


"Dan kamu belum mengenal aku dengan baik, Baby..." bisik Michael.


"Maksudnya...?"


"Kita tidur..." pungkas Michael berteka - teki.


"Tunggu! aku tau siapa kamu, aku tau karakter kamu, aku tau kamu luar dan dalam. Itu artinya aku mengenal kamu dengan baik."


"Belum..."


"Sudah!"


"Belum.."


"Sudaaah!"


"Sudahlah jangan berisik!"


Michael menarik rahang Chania, menghadapkan pada wajahnya. Untuk kemudian ia raih bibir manis memabukkan milik sang istri.


Momen manis di balkon, berakhir dengan sebuah ciuman panjang. Menghabiskan malam pertama setelah empat bulan lebih tak bertemu.


# # # # # #


Private Jet mengudara dari Venice menuju Roma. Chania duduk dengan manis di pangkuan sang suami. Dengan dua calon pewaris yang berada di dalam perutnya.


"Kita akan kembali dimana kami membuatmu, Baby..." ucap Michael bicara dengan calon bayi mereka.


"Hahaha!" kekeh Chania. "Ngajak bicara itu yang benar!" sembur Chania kesal.


"Hahaha!" Michael terkekeh sendiri.


***


"Mereka kembali ke Roma, Nyonya!"


"Siapkan rencana kita semalam!"


"Siap, Nyonya!"

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2