
"Apakan Nona ingin istirahat?" tanya Maya.
Hanya ada mereka berdua di dalam ruang rawat VVIP yang di tempati Gia.
"Iya, Maya. Kamu juga istirahat saja. Jangan sungkan."
"Saya di tugaskan untuk menjaga anda, Nona!" ucap Maya datar.
"Jangan khawatir... Tuan Jack biasanya juga tiduran di sana..." Gia menunjuk tempat tidur untuk penunggu pasien.
Maya menoleh, mengikuti arah yang di tunjuk Gia. Kemudian menghela nafas sedikit kasar. Rasanya semakin gila saja jika harus berhadapan dengan hal seperti ini. Tubuh wanita tangguh itu membeku.
"Ada apa, Maya?"
"Oh, tidak ada apa - apa, Nona!" jawabnya. "Biar saya bantu menurunkan penyangga." Maya beranjak untuk menurunkan penyangga tempat tidur pasien.
"Terima kasih.."
Setelah membantu Gia untuk berbaring, Maya mendekati tempat tidur untuk penunggu. Duduk di sana, mencoba menempatkan diri sebagi Jack yang seolah asyik menyaksikan gadis cantik terbaring di ranjang pasien.
Atau justru mereka asyik bercanda?
Ah, pikiran - pikiran liar tentang apa yang di lakukan Jack dan Gia terus bermunculan di benaknya. Sampai tanpa terasa, gadis di ranjang pasien telah tertidur.
Maya menatap lekat wajah lelap itu. Pikiran liar yang menyelinap di benaknya mencoba merasuki alam bawah sadarnya.
Maya berdiri kembali, mendekati ranjang pasien, berdiri tepat di sisi kiri Gia.
' Aku tidak tau sedekat apa dirimu dengan Tuan Jack! Tapi melihat kalian berdua kemarin, rasanya sudah cukup bagiku untuk tau, kalau kamu juga menaruh hati padanya! '
Batin Maya semakin tak terkendali.
' Maaf, Nona! aku yang lebih dulu mengenal Tuan Jack, jadi kau harus mengalah! '
Lanjut Maya dalam hati.
Melihat ke arah pintu, tak ada tanda - tanda orang akan masuk. Melihat ke sisi atas, hingga memutar tubuh. Tak ada CCTV di dalam ruangan itu.
' Tempat ini aman untuk mencelakai mu, Nona! '
Lanjutnya tersenyum sinis. Pengawal terlatih seperti dia, akan sangat mudah jika hanya harus menghabisi satu orang yang sedang tertidur saja.
Kedua tangan terangkat, mendekati leher Gia. Jarak semakin dekat, hingga sampai tepat di atas dada Gia.
Maya tersenyum tipis, merasa lebih baik mengakhiri rivalnya dari pada harus berjuang dua kali.
Namun...
"Haah!" pekik Maya menarik cepat tangannya dan melangkah mundur beberapa kali.
' Apa yang aku lakukan? '
Ucapnya dalam hati. Ia tatap kedua telapak tangan dengan tatapan tak percaya. Nafasnya terengah, bak baru saja berlari jarak jauh. Tubuhnya bergetar, namun hanya terlihat samar.
' Aku hampir saja membunuh sahabat Nyonya! '
' Bagaimana bisa aku hampir melakukan hal bodoh seperti ini? Mayaaa... kamu gila! benar - benar gila! '
' Membunuh sahabat Nyonya sama artinya membunuh keluargamu sendiri! Tuan Michael pasti tau aku pelakunya! dan keluarga mu akan menjadi tumbal kejahatan mu sendiri, Maya! '
' Pikiran gila macam apa ini! '
Gerutunya pada diri sendiri.
"Apa yang kau lakukan?"
Suara barinton terdengar dari arah pintu utama.
__ADS_1
"Tu..Tuan!" pekik Maya terkaget, reflek membalikkan badan dan mendapati wajah dingin memasuki ruangan. "Sa..saya.." Maya tergagap.
"Ada apa dengan mu?"
"Saya... hanya memastikan Nona Gia tetap aman sampai Tuan datang!"
"Kalau hanya untuk itu, kenapa wajahmu tegang begitu?"
"Oh...aa.. itu.. saya hanya sedang fokus pada Nona Gia. Tidak menyangka Tuan Jack akan datang!" jawab Maya menunduk. Tubuhnya masih terasa sedikit bergetar.
"Yakin?" tanya Jack bernada dingin.
"Ya, Tuan!"
Jack melangkah maju, mengikis jarak yang berjauhan, menjadi hanya tersisa tiga langkah saja.
"Kau tidak sedang ingin melakukan kesalahan, kan?"
"Sama sekali tidak, Tuan!" jawab Maya cepat. Ia tau siapa Jack, sangat mudah membaca gestur orang lain. Apa semudah itu dirinya di baca?
Jack mengangkat sebelah alisnya. Kemudian menoleh Gia yang menggeliat pelan di tengah tidurnya.
"Nyonya menunggumu di bawah!" ucap Jack kemudian.
"Maksud Tuan, saya tidak jadi menjaga Nona Gia?" tanya Maya menatap lekat Jack.
"Hem!" jawab Jack datar.
' Baguslah, lebih baik aku menjauh dari Nona Gia! '
"Baik, Tuan!" jawab Maya kemudian. "Saya permisi!" pamitnya menunduk hormat.
"Hm!" jawab Jack sekali lagi dengan nada yang sama, datar.
Sebelum pergi, Maya menoleh ke sisi ranjang pasien. Dimana wajah cantik Gia masih dalam tidur yang lelap.
Batin Maya tulus, kemudian membungkuk hormat pada Jack, dan berlalu dari kamar rawat Gia.
***
Michael, di iringi oleh Jack dan Dimitri memasuki rumah sakit terbaik di Roma. Bersiap menemui Chania yang di dampingi Maya dan Antonio untuk mengunjungi Gia.
"Chania!" panggil Michael saat melihat Chania hendak sampai di pintu keluar lobby, sedang ia baru saja memasuki pintu masuk lobby.
"Honey!" seru Chania begitu menoleh ke sumber suara yang sangat ia kenali. Ia berlari mendekati suaminya. Berpelukan sekilas, untuk saling memberi kecupan bibir.
"Sudah selesai menemui Gia?"
"Sudah, besok dia bisa pulang!"
"Siapa yang menjaganya sekarang?"
"Maya!"
"Hem.." Michael mengangguk. "Jack kamu saja yang jaga. Mulai sekarang jangan biarkan bodyguard perempuan menjaga seorang diri!"
"Siap, Tuan!" jawab Jack meninggalkan lobby.
"Kalau begitu kita tunggu Maya sekalian ya, Honey?"
"Iya, Sayang!"
"Kenapa kamu terlihat begitu kusut?" tanya Chania melihat baju Michael yang tak serapi biasanya.
"Aku..." Michael menatap lekat istrinya. "Aku baru saja menghakimi seseorang yang menusuk Gia!"
"Sudah di temukan?" tanya Chania.
__ADS_1
Mereka duduk di kursi besi yang ada di lobby rumah sakit.
"Hem.. sejak kemarin!"
"Lalu?"
"Teman satunya lah yang menjadi kunci utama. Untuk aku bisa tau siapa yang menyuruhnya menusuk Gia!"
"Em..." Chania mengangguk. "Kira - kira apa yang menjadi pokok permasalah mereka dengan Gia?"
"Bukan Gia, Baby!"
"Lalu?" Chania mendongak suaminya. "Siapa?"
Michael menatap lekat istrinya beberapa saat. Kemudian ia eratkan dekapan. Menarik tubuh istrinya untuk semakin masuk ke dalam pelukan.
"Kamu, Sayang..." jawab Michael lemah. Rasanya tak sanggup memberi tahukan hal itu. Tapi akan semakin buruk jika istrinya tak tau hingga membuatnya tak berhati - hati.
"Aku!" pekik Chania tak percaya.
"Ya, Sayang!" jawab Michael lesu. "Mulai sekarang kemanapun kamu pergi harus bersama banyak pengawal! ke toilet sekalipun!" tegas Michael tak ingin di bantah.
Chania membeku, memikirkan apa yang salah pada dirinya hingga seseorang berusaha mengancamnya.
"Honey! apa mungkin Selena pelaku utamanya?" tebak Chania. Karena satu - satunya orang yang pernah mengancamnya adalah Selena, saudara tirinya sendiri.
Michael tertegun, ia pun memiliki pikiran ke arah Selena. Hanya saja ia belum yakin jika belum ada bukti yang kongkrit.
"Kita akan segera tau siapa pelaku utamanya!" desis Michael yakin.
"Hm..." Chania mengangguk lemah.
***
Jack yang dalam perjalan ke ruang rawat Gia, melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia tau sang Nyonya menunggu bodyguard wanita di dalam sana.
Namun saat membuat pintu perlahan, ia cukup terkejut saat mendapati kedua tangan Maya berada di atas dada Gia. Seolah ingin mencekik gadis itu.
Saat ia hendak mengeluarkan senjata api di bagian belakang ikat pinggangnya, mendadak Maya mundur, seolah terkejut oleh sesuatu.
' Apa yang dia lakukan? '
Batin Jack.
Untuk beberapa saat, Jack membiarkan dirinya hanya di penuhi tanda tanya dengan sikap Maya.
Hingga ia sudah tak tahan, dan mengeluarkan suara barinton khas miliknya. Suara yang selalu bisa membuat bulu kuduk anak buahnya berdiri. Terutama jika mereka melakukan kesalahan.
Setelah kepergian Maya, Jack mendekati Gia. Mengamati setiap inchi dari gadis itu. Memastikan tak ada sesuatu hal yang di akibatkan oleh Maya.
' Apa mungkin Maya yang berusaha melukai gadis ini? '
Tanya Jack dalam hati.
' Tuan Michael harus tau! '
Jack mengambil ponselnya, dan mengirim pesan pada sang Tuan Muda.
📨 Dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat Maya hampir saja mencekik Gia. Dan entah apa yang membuatnya menggagalkan niatnya!
...🪴 Happy reading 🪴...
Bagaimana tanggapan Michael dengan pesan Jack?
Akankah Michael mempercayai Jack, atau feeling istrinya yang mengarah pada Selena?
Hem.. semakin rumit untuk Maya....
__ADS_1
Stay tune, SANG MAFIA! 😉