
Celana jeans dengan kaos hitam berlengan panjang, dan kerah yang menutupi leher sudah membalut tubuh gagah sang putra mahkota. Sepatu sport berwarna hitam dengan harga mencapai ribuan dollar membalut kaki jenjangnya.
Langkah kakinya cepat menuruni anak tangga satu persatu. Tangga yang meliuk dengan mewahnya itu menjadi pilihan untuk sang Tuan muda kembali ke lantai dasar rumahnya.
Namun baru sampai di tengah - tengah tangga, suara barinton yang sangat ia kenali menggema di seisi ruang tengah.
"Jio!" panggilnya.
"Ya, Daddy! Ada apa?" tanya Jio sembari terus menuruni tangga. Mengikis jarak antara dirinya dan sang Daddy baru memasuki area ruang tengah.
"Mau kemana lagi, kamu?" tanya Michael yang kini semakin mendekati tangga.
"Em... Aku ada urusan, Daddy!"
"Penting?" tanya Michael, melirik paper bag berwarna emas di tangan Jio.
Seketika Jio tampak bingung harus menjawab apa. Ingin jujur jika ia akan bertemu dengan Virginia. Tapi rasanya masih sangat malu untuk mengatakan semua itu. Ingin bohong, tapi Daddy nya bukanlah orang yang mudah untuk di bohongi.
Michael Xavier sangat peka dengan pembohong maupun pengkhianat.
"Cukup penting, Daddy!" jawab Jio apa adanya.
"Kau keluar lama atau tidak?"
"Sepertinya akan lama..." jawab Jio.
"Kalai begitu ikut Daddy sebentar!" ucap Michael.
"Kemana?" sahut Jio.
"Menemui Xiaoli!"
"Memangnya kenapa harus bersama ku menemui Xiaoli, Daddy?"
"Kamu adalah penerus Klan Black Hold! Setiap ada bodyguard baru pulang dari rumah sakit, kamu harus menjenguknya!" jawab Michael. "Meski mereka melakukan kesalahan sekalipun!" lanjut Michel. "Tidak terkecuali, Gerald! Sudah tanggung jawab kita sebagai para lelaki Xavier!"
Menarik nafas samar, dan menghembuskan pelan. Mau tak mau, Jio pun menganggukkan apa yang di perintahkan sang Ayah.
"Jack, panggil Gerald!" perintah Michael pada Jack.
"Siap, Tuan!" jawab Jack segera menaiki tangga. Yang mana ia yakin Tuan muda satu itu pasti ada di dalam kamarnya.
***
Jika Tuan besar dan para Tuan muda bersiap menjenguk Xiaoli. Maka sudah ada Nona muda yang menemui Xiaoli di mess bodyguard.
"Aku juga ingin memberikan jaket ini buat kamu, Xiaoli!" Jia meletakkan jaket hitam di meja yang dekat dengan pintu. Kemudian dia segera kembali keluar dan berdiri di depan pintu seperti sebelumnya.
"Untuk apa, Nona?" tanya Xiaoli yang bingung.
"Em... Aku membelinya. Untuk mengganti jaket kamu yang rusak karena aku.."
"Nona tidak perlu susah payah mengganti jaket saya, itu hanya sebuah jaket! Saya masih memiliki gantinya." jawab Xiaoli serius. Jaket dari seorang Nona muda pasti harganya tidak sembarangan pula.
__ADS_1
"Jangan buat aku semakin merasa bersalah, Xiaoli!" ucap Jia, "setidaknya terimalah jaket ini!"
Xiaoli yang bingung, akhirnya hanya bisa mengangguk, "terima kasih, Nona!" ucapnya kemudian.
Ia berasumsi, semakin cepat urusan Nona muda di kamarnya, makan akan semakin cepat pula Nona muda meninggalkan kamarnya.
Bukannya tidak suka di kunjungi Nona muda Xavier. Tapi itu akan sangat beresiko jika sampai Tuan besar Michael datang tiba - tiba. Karena Tuan besar bebas keluar masuk Mess bodyguard.
"Emm.. Xiaoli?"
"Ya, Nona?"
"Bisa, mulai sekarang kita berteman?" tanya Jia ragu namun penuh harap.
"Hah!" pekik Xiaoli. "Berteman?" tanyanya memastikan tidak salah pendengaran.
"Ya!" jawab Jia mengangguk penuh harap.
Merasa bingung, namun Xiaoli tetap harus menjawabnya.
"Maaf, Nona. Sebelumnya saya tidak pernah melihat hubungan pertemanan antara Nona muda dan Bodyguardnya." jawab Xiaoli dengan rasa hormat dan jujur.
"Memangnya ada aturan tertulis semacam itu?"
"Itu memang tidak tertulis, Nona. Tapi memang tidak seharusnya Bodyguard mengakrabkan diri dengan seorang majikan." jawab Xiaoli sebisanya, dan sesuai dengan apa yang ia pelajari dari sang Ayah.
"Jadi kamu menolak berteman denganku?"
***
"Harus sekali ya, kita menjenguk Kak Xiaoli bersama - sama begini?" tanya bocah 14 tahun yang paling banyak bicara itu. "Aku kan masih di bawah umur, untuk apa ikut menjenguk?"
"Kita juga harus menghargai mereka, Gerald!" sahut Jio, karena sepertinya sang Daddy tidak berniat untuk menjawab pertanyaan adiknya. "14 tahun di keluarga kita bukan lagi anak - anak. Tapi sudah harus mempelajari berbagai ilmu. Salah satunya menyatu dengan bodyguard kita. Kamu harus menjaga betapa berharganya dirimu di mata mereka. Supaya kamu tetap di hormati. Bukankah jika kita ingin di hargai orang lain, maka kita juga harus menghargai mereka?"
Menghela nafas panjang, "hm..baiklah!" jawab Gerald pasrah. "Ini akan menjadi pertama kalinya bagiku memasuki mess bodyguard! Bangunan yang di penuhi para monster Black Hold!" seru Gerald sedikit terkekeh.
"Kurangi kalimat bercanda mu itu, Gerald!" seru Tuan besar Michael dengan melirik sedikit ke sisi kiri. Dimana putra bungsunya berjalan satu langkah di belakangnya.
"Yes, Daddy! Sorry!" jawab Gerald santai, sembari melirik Kakaknya yang tampak sama dinginnya dengan sang Daddy.
Langkah tiga lelaki Xavier dan seorang pimpinan bodyguard semakin dekat dengan mess. Sementara semua yang ada di mess belum juga menyadari kedatangan sang Naga hitam beserta keturunannya.
Apalagi Jia dan Xiaoli yang berada di lantai dua. Tanpa siapapun dari keduanya yang mencoba untuk melihat jendela yang berada di dekat tempat tidur Xiaoli.
***
Xiaoli menatap lekat wajah cantik Nona muda Xavier yang menawan alami. Meski ia takut menatap wajah majikannya, namun nyatanya berhasil ia lakukan.
"Maafkan saya, Nona... Bukan saya menolak. Meski usia kita tak jauh berbeda, tidak sepatutnya bodyguard dan Nona muda nya berteman..." jawab Xiaoli merasa tidak enak hati. Namun itu adalah kenyataannya.
Jia menghela nafas kecewa. Sepertinya menjalin pertemanan ataupun hubungan dengan mereka yang bukan satu golongan dengannya akan benar - benar sulit.
***
__ADS_1
"Xiaoli sudah datang?" tanya Michael pada Antonio yang seketika terkesiap mendengar suara siapa yang datang.
"Tu..Tu...Tuan..." gagap Antonio dengan nafas terengah dan dada yang seketika naik turun karena takut.
Bukan hanya Antonio, tapi semua bodyguard yang sedang berada di ruang depan dan teras mess bodyguard pun ikut terperangah melihat siapa yang datang.
Satu yang menjadi pertanyaan mereka semua, kenapa pergerakan sang Tuan Mafia dan rombongannya sama sekali tak terdeteksi oleh mereka?
"Kenapa?" selidik Michael dengan ekspresi datarnya.
"Xi...xi...xiao..."
"Apa! Cepat katakan!" seru Michael sedikit menahan kesal.
"Xiaoli sudah datang, Tuan!" jawab Antonio reflek dan cepat. Tapi setelah itu, jantung seperti hampir saja melompat dari sarangnya.
"Lantas?" tanya Michael penuh selidik. "Kenapa kalian semua terlihat tegang?" lanjut Michael dengan nada yang semakin dingin.
Antonio, selaku bodyguard paling senior yang sedang berada di mess pun bingung untuk menjawab. Tapi ia tak berani melirik kanan kiri. Karena semua tau, Tuan mereka, Michael Xavier benci akan hal itu.
Michael merasa hanya akan mendapatkan nafas terengah dari Antonio. Tanpa pikir panjang lagi, Ia langsung melangkahkan kakinya. Memasuki mess yang saat ini hanya berisi orang - orang yang tubuhnya terasa tegang bahkan nyaris membeku.
Tak ada yang berani berkata jujur, tak ada pula yang berani mencegah langkah Tuan besar mereka. Akhirnya mereka hanya bisa pasrah akan apa yang mungkin tidak lama lagi terjadi.
Entah itu akan berimbas pada Jia atau bodyguard. Atau bahkan mungkin keduanya akan mendapatkan hukuman. Meski semua orang pasti tau, jika tak ada yang pernah mengundang Nona muda Xavier ke dalam mess bodyguard.
Jio, Gerald dan Jack mengikuti langkah tegap Michael. Dan keempat orang itu dapat melihat, jika ada yang sedang di tutupi oleh para pasukan bodyguard.
Langkah semakin dekat dengan tangga, dan kini Michael sudah menginjakkan kakinya di anak tangga pertama. Begitu seterusnya, sampai yang terakhir adalah Jack.
Sementara di atas, Jia masih mengobrol tentang hubungan pertemanan yang ia ajukan pada Xiaoli.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau! Yang penting jangan sungkan untuk memakai jaket dari ku, ya!" ucap Jia tersenyum manis pada Xiaoli.
Tentu saja hati laki - laki mana yang tak tersentuh melihat senyuman Nona muda Xavier yang menghanyutkan.
"Tapi..." Xiaoli tampak masih ragu untuk mengiyakan permintaan sang Nona muda.
"Tidak ada alasan, Xiaoli!"
"Baiklah, Nona.." lirih Xiaoli mengangguk.
"Aku akan membenci mu seumur hidup! Kalau kamu tidak mau memakai jaket dariku!" ujar Jia dengan nada manjanya.
Oh... Gadis petarung itu bisa bersikap manja juga rupanya.
Xiaoli tersenyum, "baiklah, Nona. Saya janji akan memakainya." jawabnya kemudian.
Sementara itu, pendengaran tajam empat lelaki di tangga, membuat mereka sengaja membuat mereka mengambil langkah senyap. Hingga Michael sampai lebih dulu di anak tangga teratas.
Tubuh segera berbelok ke arah kiri sebagai sumber suara perempuan yang ia dengar. Dan seketika itu pula langkahnya terhenti. Bersamaan dengan seluruh anggota tubuhnya. Bahkan nafas pun nyaris berhenti.
Bagaimana tidak, suara perempuan yang ia dengar adalah suara sang putri satu - satunya. Dimana ia tengah berada di depan kamar seorang laki - laki, yang tak lain adalah bodyguardnya sendiri.
__ADS_1
"JIA!" seru Tuan besar Xavier dengan suara menggelegar dan kilatan emosi di sorot matanya.
...🪴 Happy Reading 🪴...