SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 200


__ADS_3

Jio melajukan mobilnya setelah pulang dari kampus. Ia mempunyai janji temu dengan seseorang yang semalam diam - diam ia hubungi. Ia berhenti setelah mobilnya masuk ke dalam gerbang besi yang melindungi istana Michael Xavier. Dimana cukup banyak penjagaan di sana.


Jio membuka pintu kemudi mobilnya. Tentu itu menarik perhatian para penjaga istana Mafia terhebat Italia itu. Semua berdiri tegak menghadap Tuan muda Xavier. Mempersiapkan diri jika sewaktu - waktu Tuan muda di Istana Michael itu memberikan titah.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan muda?" tanya seorang penjaga gerbang mendekati Jio.


"Aku hanya menunggu seseorang." jawab Jio santai sembari mendekati kursi panjang, tempat penjaga biasa bersantai jika tidak sedang bertugas menjaga pagar.


"Seseorang?" gumam semua penjaga saling melirik satu sama lain.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Jio sembari duduk di kursi itu, merebahkan punggung dengan santainya.


"Sudah, Tuan!" jawab salah satu di antara mereka. "Kami makan siang secara bergantian.."


"Oh..." Jio mengangguk santai, kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mengecek orang yang yang dia tunggu.


Ia terlihat santai dan biasa saja saat berada di keliling para penjaga pintu gerbang. Namun tidak dengan para penjaga gerbang. Mereka sungguh terlihat tegang dan gugup.


Bahkan takut untuk sekedar bersandar atau duduk di dalam pos penjagaan. Apalagi mengobrol dengan teman lainnya. Hanya mata yang saling melirik, kemudian saling mengangkat pundak masing - masing.


Mereka yang berjaga di pagar memang tidak terlalu akrab dengan pemilik Istana. Berbeda dengan bodyguard yang sering bertugas mengawal para penghuni Istana. Bertarung di barisan depan bersama para pemimpin.


Bahkan kini mereka di buat heran dengan perhatian Tuan muda tentang makan siang para penjaga pagar. Selain ada rasa terenyuh, juga ada rasa takut, jika ternyata hal ini bisa mengundang amarah Tuan besar mereka.


"Tuan muda, apa tidak kami saja yang menunggu?" tanya seorang penjaga memberanikan diri. "Nanti akan kami antar menemui Tuan muda."


"Tidak perlu, sebentar lagi dia pasti datang." jawab Jio datar.


Penjaga itu hanya bisa mengangguk. Tak lagi berani membantah keinginan Tuan mudanya. Mendengar nada bicara Jio yang datar namun membekukan suasana, membuat para penjaga hanya bisa pasrah.


Sampai sebuah kendaraan roda dua, berpakaian layaknya kurir berhenti tepat di depan pagar besi. Kurir itu tampak seperti orang bingung melihat kemegahan Istana Xavier. Di tambah jumlah penjaga yang tak main - main. Di tambah ekspresi mereka yang terlihat sangat datar dan dingin.


"Selamat siang, Pak!" ucap laki - laki berusia sekitar 28 tahun itu.


"Ya?" jawab penjaga dengan aura dingin yang khas.


"Apa benar ini rumah Tuan Jio?" tanya kurir itu takut - takut.


Tanpa menjawab, penjaga itu mengamati dengan seksama lelaki itu dari atas hingga ujung kakinya. Namun Jio yang mendengar namanya di tanyakan, segera berdiri dan mendekat.


"Aku!" sahutnya sudah sampai di pintu pagar yang hanya terbuka sedikit itu.


"Saya mengantar paket untuk anda, Tuan!" ucap kurir itu.


"Ya!" jawab Jio menerima sebuah kotak yang sudah ia tunggu.


"Bisa di cek terlebih dahulu jika Tuan berkenan."


"Tidak perlu!" jawab Jio datar.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" pamit kurir itu.


"Ya, terima kasih!" ucap Jio pada kurir itu.


"Sama - sama, Tuan!" jawab kurir itu menunduk hormat.


Sontak semua penjaga saling melihat satu sama lain untuk kesekian kalinya. Mereka sama sekali tak menyangka, jika Tuan muda mereka mengucap terima kasih pada seorang kurir.


Yang mana dua kata itu tak pernah sekalipun muncul dari bibir sang Tuan besar. Sungguhlah berbeda anak dan Bapak satu ini.


Setelah mendapatkan apa yang ia tunggu, Jio kembali ke mobilnya. Dan melajukan sportcar biru itu mendekati Istana Michael Xavier.


Setelah kepergian Jio, para penjaga saling mendekat dan bertanya - tanya. Tentu mereka sangat heran dengan sikap Jio yang terlihat lebih ramah di bandingkan sang Ayah.


"Tuan muda benar - benar berbeda dengan Tuan besar..." gumam salah satu dari mereka.


"Tuan muda jauh lebih tenang di banding Tuan besar."


"Ya, ketampanan mereka memang sama. Tapi sikap mereka sangat berbanding terbalik!"


"Jantungku nyaris berhenti berdetak, saat Tuan muda menanyakan kita sudah makan atau belum..." sahut yang lainnya.

__ADS_1


"Ya, kamu benar! Padahal aku dengar, Tuan muda jauh lebih berbahaya dan gesit saat di medan pertempuran!"


"Aku juga mendengar hal itu!" sahut lainnya lagi.


Semua penjaga masih berkasak kusuk sembari melihat bagian belakang mobil Jio yang semakin jauh. Maklum, jarak gerbang dan istana Michael memang cukup melelahkan jika di jangkau menggunakan kaki pemalas.


***


Di dalam kamarnya, Jio menyimpan kotak itu ke dalam sebuah paper bag berwarna emas. Kemudian menyimpannya di almari besar.


Jio merebahkan tubuhnya di kursi meja kerjanya. Menatap ke arah luar jendela. Pikirannya terbang kembali pada hari kemarin. Ketika ia mengamati percakapan Gerald dan penjaga toko tentang status perempuan yang akan di beri Gerald hadiah pertemuan.


Sepertinya dirinya dan Virginia. Yang statusnya sahabat. Namun yang di rasakan dan di inginkan bukanlah itu. Ia ingin memiliki, tapi rasa takut untuk di tolak selalu menghantui.


Namun ia kembali mengingat tentang pemuda di rumah sakit. Pemuda yang ia ketahui bernama Alex Miguel itu terlihat jelas jika tengah berusaha mendekati Virginia. Dari silsilah yang ia temukan selama menjadi hacker. Keluarga Miguel punya keterkaitan dengan keluarga Brown.


"Sebenarnya bagaimana perasaan mu padaku, Nia?" gumamnya.


Brakk!


"Kak!"


Suara pintu kamar di buka paksa yang di sertai suara perempuan memanggilnya pun membuat Jio menoleh. Jia masuk kamar Jio dengan wajah kusutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Jio melihat Jia yang menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur sang Kakak laki - laki.


Tak lantas menjawab, Jia justru menekan wajah ke dalam bantal. Membuat dirinya tengkurap.


"Kamu kenapa, Jia?" tanya Jio.


"Jia?" panggil Jio lagi, karena kesal adiknya itu hanya diam saja.


"Kalau tidak ada yang penting, keluar! banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!" Jio membuka laptop di atas meja kerja nya.


"Kak! bawa aku keluar dari rumah!" ucap Jia cepat sebelum di usir untuk kedua kalinya oleh sang Kakak.


"Mau kemana kamu?" Jio melirik sekilas sang adik yang kini sudah mengubah posisinya menjadi berbaring menghadap langit - langit kamar.


"Aku ingin tau kabar Xiaoli!"


"Aku masih tidak enak hati sebelum meminta maaf secara langsung padanya!"


Menarik nafas sedikit panjang, "Kamu tidak boleh keluar, Jia! Tunggu saja Xiaoli pulang!"


"Aku sudah tidak sabar, Kaaak!" rengek Jia. "Aku benar - benar tidak bisa tenang!"


Jio kini menatap lekat sang adik. Ada sesuatu yang mulai menjadi tanda tanya. Namun ia memilih untuk menyimpannya sendiri.


"Aku akan tanya kabarnya pada Paman Antonio! Hari ini dia yang berjaga!" ucap Jio meraih ponselnya dna mencari nama Antonio.


"Tapi aku tidak puas sebelum bertemu langsung dengannya, Kak!"


"Yang penting kamu tau kabarnya!" jawab Jio. "Urusan kamu minta maaf, kamu bisa menunggunya pulang!"


Jia mengerucutkan bibirnya kesal. Percuma saja meminta bantuan putra mahkota. Tetap saja ia tidak bisa keluar dan menemui Xiaoli. Rasa bersalah di dalam dada benar - benar tertanam sedalam itu.


Jia memeluk bantal Jio erat. Menunggu Jio yang tampaknya saling berbalas pesan dengan seseorang.


"Xiaoli sudah lebih baik! Besok dia akan pulang!" ucap Jio kemudian.


Sontak Jia menoleh, "Kakak yakin?"


"Itu yang di ucapkan Paman Antonio." jawab Jio. "Besok saja kamu minta maaf! Aku tidak segila itu melanggar peraturan Daddy!"


"Hemm... Baiklah!"


Jia pun kembali bangkit dari tempat tidur Jio, untuk segera meninggalkan kamar Tuan muda mafia itu.


Brakk!


"Jia!" seru Jio karena Jia kembali menutup pintu dengan keras. Namun entah, gadis itu mendengar atau tidak teriakan Jio.

__ADS_1


Jio memijit pelipisnya. Sudah pusing akan perasaannya sendiri. Di buat lelah adik bungsunya. Dan kini di buat bingung oleh adik perempuannya.


Semua menyangkut satu bagian yang sangat sensitif. Yaitu, perasaan.


# # # # # #


Hari kembali berlalu, Virginia keluar dari mini cooper nya dengan wajah kusut yang menyedihkan.


Jio yang sudah menunggu di dalam mobilnya pun, segera keluar dan mendekati sang gadis.


"Kenapa?" tanya Jio menghadang langkah Virginia.


Menggeleng lemah, "tidak apa.."


"Katakan, Nia! Aku selalu tau, jika ada yang sedang tidak baik - baik saja."


Menarik nafas panjang dan menghelanya, "Papa memaksa aku untuk berjalan - jalan dengan Alex!"


"Alex?"


"Iya, pemuda yang bertemu dengan kita di rumah sakit."


Tubuh serasa membeku. Namun darah di dalamnya serasa mendidih mendengar apa yang di ucapkan Virginia.


"Kenapa Tuan Irgee memaksa mu?" tanya Jio dingin.


"Entahlah, Jio. Aku benar - benar tidak menyukai pemuda itu. Aku selalu risih!"


"Jangan pergi!" pungkas Jio dengan nada ketus, sangat ketus.


"Tapi Papa terus saja memaksa!"


Seketika ekspresi Jio ingin sekali murka.


"Virginia, Mrs. Mellanie menunggu mu dari tadi. Kamu di suruh menemuinya di ruangannya!" ucap seseorang mahasiswi yang mendekati mereka.


"Ada apa?" tanya Nia.


"Aku tidak tau..."


"Baiklah!" jawab Virginia, "terima kasih!"


"Ya, sama - sama!"


"Jio, aku pergi dulu, ya?" pamit Virginia pada Jio.


"Hem.." jawab Jio datar.


Virginia pun berlalu masih dengan wajah tak ceria. Sementara Jio masih melihat punggung Virginia dari tempatnya berdiri.


"Sebenarnya apa hubungan kalian ini?"


Suara dari belakang membuyarkan lamunan Jio. Meski ia tak menoleh ke belakang, ia tau itu siapa.


"Sangat membingungkan!" lanjut Nikki yang sedari tadi sudah berada di belakang Jio dan Virginia.


Tanpa menjawab, Jio melangkahkan kakinya dengan malas. Nikki pun setia mengikuti sahabat kaya raya nya itu.


"Kalau cinta, katakan cinta. Sebelum dia di ambil siapa tadi?" tanya Nikki, "Alex?" tebaknya.


Jio lagi - lagi tak memberi reaksi. Namun telinganya tetap terpasang dengan baik untuk mendengar perkataan Nikki.


"Meskipun aku tidak tau siapa Alex, tapi dari namanya aku bisa menebak! Jika dia dari kalangan seperti kalian!"


Jio menghela nafas, karena tebakan Nikki memang benar.


"Rival mu bukan sembarangan, kawan!" ujar Nikki. "Kalau cinta, katakan secepatnya! Sebelum orang tua mereka yang bertindak!"


"Apa maksud mu?" kali ini Jio menimpali.


"Oh my God, brother! Apa kamu tidak merasa, kalau orang tua mereka yang sekarang ini bertindak?" tanya Nikki gemas.

__ADS_1


Jio melirik Nikki, kemudian kembali menatap ke arah depan. Mencerna kalimat Nikki dengan IQ 160 nya. Dan ia pun ...


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2