SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 103


__ADS_3

Sania berdiri dari duduknya. Mencegah dua punggung yang berjalan beriringan mendekati pintu kamar hotelnya. Sepasang suami istri itu berhenti, dan kembali menoleh Sania dengan tanda tanya.


"Maaf, Tuan. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Sania menatap lekat Michael.


Sontak Chania menoleh sang suami. Sedang Michael sendiri menautkan kedua alisnya, menyipitkan pandangan menatap Sania.


"Aku tidak mengenalmu." jawab Michael datar.


Namun dalam benak Michael ia ingat kata - kata Reno kala itu. Jika Sania sudah bersama Margareth sejak gadis itu masih kecil. Mungkin saja Sania pernah melihatnya atau sekedar foto dirinya di ponsel Margareth.


"Oh, maafkan saya, Tuan. Wajah dan nama Tuan Xavier seperti tidak asing bagi saya." Sania menunduk dalam. Menghormati suami saudaranya yang terlihat bukan sembarang konglomerat.


Tanpa menjawab, Michael kembali membalikkan badan dan mengarahkan Chania untuk meninggalkan kamar hotel Sania. Jack langsung menutup pintu setelah bosnya keluar.


"Terus awasi dia!" desis Michael saat berjalan melewati Antonio.


"Siap, Tuan!" Antonio menunduk dalam.


***


Memesan kamar presidential suite di hotel yang sama, Michael dan Chania akan menghabiskan sisa waktu mereka di Paris. Setidaknya sampai berhasil membawa Sania kembali ke Italia.


Memadu kasih dengan berendam di dalam bathub, Michael memeluk Chania dari belakang di antara busa - busa putih yang menggumpal. Dua pasang mata menghadap kaca yang terlihat gelap dari luar. Namun dari dalam terlihat begitu jelas indahnya menara Eiffel dengan background hamparan langit biru yang cerah nan luas.


Kepala Chania dengan manjanya bersandar pada dada bidang seorang Michael Xavier. Dimana pasti banyak wanita di muka bumi ini yang memimpikan untuk bisa bersandar di sana, kapan saja mereka mau.


But sorry, girls.... dada bidang dan gagah itu hanya milik seorang wanita. Dialah Chania Renata, satu - satunya gadis yang berhasil menyandang nama Xavier di belakang namanya.


"Honey... menurut kamu sania akan mau ikut kita atau tidak?" tanya Chania.


"Aku yakin dia pasti mau." jawab Michael mengusap perut Chania dengan satu tangan. Sedang tangan lainnya mengusap jemari lentik. "Dia hanya butuh waktu saja."


"Aku harap juga begitu." jawab Chania mendongakkan kepala, menatap sang suami dengan seutas senyum simpul.


Michael membalas senyum itu dengan sebuah kecupan lembut di bibir sang istri.


"Baby, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk kedua calon anak kita?"


"Emmm...." Chania mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban.


"Mereka laki - laki atau perempuan?"


"Kamu mau tau?"


"Jelaslah, Baby... masa calon Daddy nya sendiri tidak boleh tau mereka laki - laki atau perempuan."


"Kamu maunya laki - laki atau perempuan?"


"Laki - laki atau perempuan tidak jadi masalah. Yang penting mereka adalah anak - anak ku. Wujud nyata dari apa yang ada dalam diriku." jelas Michael mencium pipi Chania.


"Mereka laki - laki dan perempuan!" jawab Chania singkat.

__ADS_1


"Maksudnya, satu laki - laki dan satu perempuan?"


"Iya, Honey!" gemas Chania mentoel hidung mancung suaminya. Hingga busa putih sedikit menempel di sana.


Michael terhenyak, "Kamu yakin?" menatap sang istri seolah tak percaya.


"Iya, Daddy Michael!" jawab Chania mengusap lembut rahang suaminya. Menambah banyaknya busa yang menempel di wajah tampan.


Tersenyum bangga, "Berarti kita akan memiliki sepasang anak kembar?"


"Ya, Sayang!"


"Dear Lord!"


Michael terlihat begitu senang dengan kenyataan yang ia dengar. Seketika ia mengikis jarak di antara bibir mereka. Hingga benar - benar menyentuh dan menyatukan dua bibir yang sama - sama menggila jika sudah bertemu.


Rengkuhan Michael semakin erat di barengi dua pasang mata yang sama - sama terpejam. Menyatukan cinta yang begitu nyata.


Tuan Mafia itu sudah jatuh terlalu dalam akan cinta seorang Chania. Begitu hanyut akan belai kasih gadis yang berusia 8 tahun lebih muda darinya.


"I love you.." lirih Michael saat pautan terlepas dan seketika itu kembali memagut bibir manis sang istri, bahkan sebelum Chania sempat menjawab ungkapan cinta itu.


"Honey! aku mau belanja keperluan bayi di sini boleh?" tanya Chania setelah ciuman berakhir.


"Why not!" Michael tersenyum. "Beli apapun yang kamu inginkan!" lanjut Michael membelai mesra wajah cantik Chania.


"Apapun?" tanya Chania.


"Kalau begitu aku akan menghabiskan uang yang kamu punya hari ini!" seru Chania.


"Hahaha! habiskan saja kalau kamu bisa!" jawab Michael terkekeh gemas.


"Aku menghabiskan 5 M dalam sehari, boleh?" tanya Chania.


"Hemm.." Michael mengangguk santai.


"10 M, boleh?"


"Boleh!" tersenyum tipis.


"20 M?"


Michael tersenyum gemas, "Jangankan 20 M, Baby! 1 Triliyun pun kalau kamu sanggup habiskan dalam sehari, habiskan saja." jawab Michael memeluk gemas istrinya.


Mulut Chania terbuka lebar, matanya membulat. "Kamu punya uang 1 Triliun?"


Tersenyum miring, "Memangnya 1 Triliun itu banyak?" tanya Michael.


"Banyaklah!"


"Tapi bagiku itu tidak sebanding dengan senyum mu, Sayang!" Michael kembali mencuri ciuman di bibir manis. "Lebih baik kehilangan 1 Triliun dari pada kehilangan senyummu ini!"

__ADS_1


"Hahaha! Suami ku tenyata benar - benar kaya!"


Ucapan Chania tak membuatnya besar kepala. Karena memang dia sudah kaya raya bahkan sebelum ia hadir di dalam rahim Mamanya, Madalena.


Sebelumnya, Chania pun bukanlah orang miskin. Hanya saja tak sebanding sama sekali dengan kekayaan Sebastian Group.


Sedang Michael adalah pewaris tunggal. Sudah bisa di pastikan seberapa kaya pria itu kelak.


***


🍄 Menjelang sore, di kota penuh cinta, Paris.


Sesuai janjinya, Michael membawa Chania untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan berkelas di kota Paris. Ini adalah kali kedua mereka mendatangi kota Paris. Namun keadaan berbeda dengan saat pertama kali mereka datang.


Kali ini Chania bisa dengan bangga menggandeng tangan Michael di hadapan umum. Seolah menunjukkan pada dunia, jika Michael Xavier, pria yang merengkuh jemarinya posesif itu adalah pelaku utama yang membuat perutnya membuncit.


Jack, Dimitri dan dua bodyguard lain selalu siap siaga berada di belakang Michael. Memastikan keamanan maksimal untuk sang Tuan muda beserta istri dan calon anak mereka.


Sejauh kaki Michael melangkah, selama itu pula banyak pasang mata wanita mencuri - curi pandang padanya.


Hal biasa untuk orang seperti Michael mendapat lirikan macam itu. Baju mahal, jam tangan mahal, sepatu mahal, plus di kelilingi bodyguard. Sudah jelas dia bukan sembarang milyarder.


Sebagian memandang iri pada sosok yang berhasil menggandeng tangan Michael, dialah Chania. Sebagian lagi, memandang tak berkedip, berharap keajaiban membuat mereka bisa berkenalan atau bahkan menggantikan posisi bidadari di sampingnya.


Namun Chania, gadis itu tentu tak tinggal diam. Melihat banyak pasang mata yang melirik suaminya, matanya pun ikut menajam. Menghunus pada mereka yang berani terang - terangan memperhatikan Michael.


Menyadari istrinya yang di landa kesal, dengan sengaja Michael mendaratkan kecupan bertubi - tubi di kepala Chania. Seolah memperjelas pada dunia, jika apa yang ada dalam benak wanitanya adalah benar.


Dirinya hanya milik Chania seorang!


Senyum merekah dari bibir yang cemberut. Meluluhkan rasa cemburu yang sudah menggunung.


Beberapa langkah kemudian, mereka memasuki salah satu butik branded, B*rb*rry. Michael duduk di sofa tunggu bersama Jack dan Dimitri. Sedang dua bodyguard mengawasi Chania yang berputar ke sana kemari memilih baju bayi yang di keluarkan merek itu.


Puas dengan brand itu, mereka beralih ke butik lain. Berbagai pasang baju sudah berada di dalam paper bag yang di bawa dua bodyguardnya.


"Hari ini aku akan menghabiskan uangmu, Honey!" seru Chania bergelayut manja di lengan suaminya.


"Terserah kamu, Baby!" jawab Michael santai.


Namun dari sekian banyak paper bag, tak ada satupun barang milik Chania pribadi. Semua adalah kebutuhan calon dua bayi mereka. Dan Michael sudah tau akan hal itu. Istrinya bukanlah wanita materialistis. Sehingga selorohan Chania tak akan membuatnya khawatir akan kekeringan kantong.


***


"Mi...Michael!" pekik seorang wanita yang berdiri di sebelah meja makan. Dimana Michael dan Chania tengah makan malam.


Michael melirik keatas, namun seketika itu juga ia membuang pandang. Memilih kembali menatap sang istri tercinta.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2