SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 164


__ADS_3

Darah merah mengalir dari lengan sang bodyguard, Jack Black. Memicing tajam, bukan karena sakit, ia justru kini terbakar emosi. Tidak ada sejarah bagi dirinya sampai harus tersayat oleh pedang musuh.


"Hiaakk!" teriak Jack mengaung di tengah malam gelap gulita. Berlari cepat, menghentakkan kaki ke tanah untuk melompat tinggi.


Menggunakan seluruh panca indera untuk membabat habis musuh yang baru saja menyayat lengannya. Merobek baju hitam kebesarannya.


Maka detik itu juga, pria bertato yang tak menyangka akan Jack yang tak peduli dengan lukanya kocar - kacir. Ia tak menyangka Jack akan tetap menyerang, meski darah terus mengalir.


Ting! Srett! Ting! Sret!


Berulang kali suara dua benda tajam beradu sengit, dan di susul dengan suara sayatan samurai setelahnya.


Dan yang terjadi adalah kulit dan daging musuh telah koyak. Tersayat oleh pedang tajam sang bodyguard.


"Aakkh!" teriakan terakhir dari pria bertato mengakhiri pertempuran malam itu. Tubuhnya ambruk ke tanah, namun mata masih terbuka.


Bersamaan dengan itu, seseorang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala di lempar tepat di depan wajah pria bertato dalam keadaan nyaris sekarat.


"Ka...kau!" desis pria bertato. Tak percaya melihat sniper yang ia sembunyikan dengan mudah tertangkap dan nyaris tewas di depannya.


"Beraninya kau mencari masalah dengan keluarga ku!" suara tegas, dingin dan penuh intimidasi datang dari arah belakang. Lebih tepatnya gerbang masuk istana Michael Xavier.


Dengan lemah dan susah payah, pria bertato menoleh ke arah sana. Meyakinkan siapa yang datang. Suara itu memang terdengar tidak asing, meski ia tak hafal.


Sebelumnya, rombongan Michael datang tanpa suara. Dengan begitu ia berhasil membabat habis pengintai atau sniper yang berusaha melesakkan panah jarak jauh untuk para anak buahnya.


Setelah yakin siapa yang datang, pria bertato memberi kode pada sniper. Dan dua orang yang siap di jadikan tawanan itu langsung menelan sesuatu. Ya, racun yang selalu mereka kantongi saat bertempur. Guna menghilangkan jejak.


Tau, jika dua orang musuh siap meminum racun, kaki Michael dan Jack kompak menjejak tangan - tangan mereka. Namun... gagal.


"F*ck!" umpat Michael saat gagal menghalangi keduanya meminum racun.


Dan itu semua di lakukan juga oleh seluruh anak buah musuh. Membuat Michael gagal mendapatkan tawanan untuk di interogasi lebih jauh.


Sementara dari sekian mil, seseorang memantau melalui teropong jarak jauh. Ia sempat tersenyum smirk saat mulai harus mengakui sekuat apa squad Klan Black Hold saat ini.


"Kita harus mengumpulkan tenaga dan pasukan lebih banyak lagi." ucap pria itu pada seseorang di belakangnya. "Pasukan Michael memang tidak bisa kita sepelekan. Kita kembali beberapa tahun lagi! Saat keponakan ku sudah siap untuk turun ke medan perang!"


"Siap, Tuan!" sahut pria itu.


# # # # # #


🍄 Tiga tahun kemudian . . .

__ADS_1


Jia, Jio dan Jellow telah di jadwalkan untuk kembali dari pengasingan. Tujuh tahun sudah tiga jagoan menempa ilmu di kuil yang jauh dari negara kelahiran mereka, Italia.


Kembali hadir pada dunia nyata, untuk menyatu dengan kehidupan normal yang sudah seharusnya ia jalani. Beradaptasi kembali dengan hal - hal yang sudah lama atau bahkan belum pernah mereka lakukan selama di kuil.


Georgio Xavier Sebastian, telah tumbuh tinggi menjulang. Melampaui tinggi ibu yang sudah melahirkan dirinya. Rambut pirang kecoklatan dengan kulit putih yang khas membuat sang putra mahkota terlihat semakin tampan dan mempesona.


Bagi seorang gadis, mendapatkan lirikannya saja mungkin akan membuat mereka nyaris pingsan. Atau bahkan terserang asma dalam hitungan detik?


Belum lagi otak jenius yang di miliki oleh Jio. Jio sangat mudah mempelajari teknologi baru yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya. Hanya dengan melihat, ia tau bagaimana semua sistem itu bekerja.


Georgia Xavier Sebastian, gadis 17 tahun itu juga telah tumbuh menjadi remaja cantik jelita. Namun sesuai dengan apa yang ia tempa selama tujuh tahun lamanya, maka ia tak bisa berlagak centil feminim seperti gadis pada umumnya.


Ia lebih suka bergaya casual, dengan sepatu sport dan celana jeans serta kaos sedikit ketat. Tidak ada embel - embel rok mini seperti ibunya semasa remaja.


Rambut hitam di gerai bebas, dengan sebuah jepit kecil di atas dahi, sudah cukup membuat Jia terlihat cantik natural ala anak remaja.


Berada di dalam limousine yang menjemput mereka di bandara, Jia dan Jio duduk berhadapan dengan sang Daddy. Sesekali Jio dan Michael saling menatap. Tatapan bangga dari sang ayah, sudah membuat Jio merasa aman. Tidak sia - sia sang ayah mengirimnya jauh dari kota.


Ya, sebenarnya mereka bukan lagi dari kuil, melainkan sebelum mereka kembali ke Roma, Michael membawa ketiganya ke dalam ring pertempuran bawah tanah. Pertempuran ilegal yang hanya bisa di lakukan oleh para petarung tangguh.


Jika nyawa melayang, tak ada satupun yang berhak untuk menuntut. Karena ada surat persetujuan resmi yang harus mereka tanda tangani.


Tubuh Jio di penuhi dengan bekas luka sisa pertempuran selama beberapa hari. Memar di beberapa bagian, namun tak ada yang serius. Semua hanya seolah sentuhan sedikit kasar dari lawan yang seluruhnya berhasil ia buat nyaris tewas.


Michael tak menyangka jika sang putra memiliki ide sedemikian cemerlang semasa bertarung. Hal itu membuat Klan Black memiliki anak buah baru yang jauh lebih kuat dari sekedar anak buah biasa. Tanpa harus bersusah payah melakukan uji lapangan.


Meskipun ia sempat kesal karena sang putra terlihat kurang garang dan terkesan lemah. Namun saat mengingat pesan Shifu, jika tak harus garang untuk menjadi yang terkuat, Michael yakin jika yang ia anggap sebagai kelemahan putranya adalah kelebihan yang tersembunyi.


Jio dan Jellow, dua jagoan kenamaan yang sama - sama keluar dari arena sebagai pemenang pertarungan ilegal secara berturut - turut. Keduanya harus mengakhiri pertarungan, saat tak ada lagi yang berani untuk maju melawan mereka.


Jellow di jemput oleh Darrel dan Oliver untuk pulang ke rumah mereka. Darrel tentu tak kalah bangga dengan kemenangan sang putra mahkota. Satu - satunya generasi penerusnya.


Kembali pada sang pemuda dambaan, Jio. Mobil limousine yang membawanya telah sampai di depan istana Michael. Terlihat di ambang pintu sang Mommy telah menunggu dengan penuh damba.


"Boy, girl!" sapa Chania menyambut kehadiran anak - anaknya.


"Mommy!" seru Jia berlari memeluk ibunya.


Di susul Jio yang langsung memeluk keduanya.


Keluarga yang lama terpisah telah bertemu kembali meski tanpa Gerald. Menyatu dengan jantung yang sama - sama masih berdetak.


Beberapa saat berpelukan, Chania mulai mengamati wajah sang putra. Ia belai wajah tampan seperti suaminya.

__ADS_1


"Ini pasti karena pertarungan ilegal itu." tebak Chania mengusap ujung bibir yang memar.


"Tidak sakit!" jawab Jio singkat. Menenangkan hati ibunya yang pasti khawatir akan dirinya yang harus masuk dalam ring pertarungan ilegal.


"Mommy tau... kamu petarung yang hebat seperti Daddy!" ucap Chania terus membelai wajah tampan dengan tatapan yang sendu. "Tapi kamu juga harus seperti Daddy..


selalu pulang dalam keadaan bernyawa. Dengan jantung yang masih berdetak!" Chania mengusap dada Jio yang lebih bidang dari pada tiga tahun yang lalu.


"Jio tau, Mom!" jawab Jio mendaratkan kecupan di dahi Chania dengan lembut.


Jia dan Michael menatap sendu dua orang itu. Semua tau, Jio adalah putra mahkota, generasi penerus Klan Black Hold. Dan Jia, akan selalu menjadi bagian utama Klan Black Hold kelak.


Menghela nafas berat, "Jio... kamu juga semakin tinggi!" puji Chania mengusap puncak kepala Jio yang berada beberapa puluh senti dari kepalanya.


"Jio memang harus lebih tinggi dari Mommy! siapa yang akan melindungi Mommy dan Jia, kalau bukan Jio?" tanya Jio tersenyum manis.


Ya, mungkin hanya dengan ibunya Jio bisa tersenyum semanis itu. Karena Jio lebih di kenal sangat dingin. Bahkan terkenal sebagai laki - laki tanpa senyuman.


"Kak Jio hampir setiap hari berlatih bergelantungan di pohon seperti monyet! pantas saja kalau tulangnya memanjang!" celetuk Jia menyenggol lengan Jio.


Chania tersenyum mendengar candaan putrinya. Meski keduanya lahir bersamaan, keduanya memiliki tinggi, ciri - ciri, bahkan sifat yang berbeda.


"Sudah waktunya makan siang! ayo kita makan! lalu kalian harus istirahat!"


"Yes, Mom!"


***


Di hari yang sama, di waktu yang berbeda. Gadis cantik bernama Virginia duduk manis di depan meja belajarnya. Kini gadis itu sudah duduk di bangku kelas 3 Senior High School. Satu tahun lagi ia akan lulus dan melanjutkan kuliah.


"Sudah tujuh tahun, Jio... kenapa kamu belum ada kabar akan pulang?" lirihnya menatap gelang yang tujuh tahun lalu di pasangkan oleh laki - laki oaling spesial yang pernah ia kenal.


"Setinggi apa dirimu sekarang? dan setampan apa wajahmu sekarang?"


"Terakhir, tiga tahun lalu.. Gerald bilang akan menyusul mu... mengikuti jejakmu untuk menjauh dari kota selama tujuh tahun..."


"Lalu dimana kamu sekarang? kenapa belum ada kabar?"


"Seharusnya... saat ini kita bisa menentukan berdua, dimana kita akan melanjutkan kuliah, bukan?"


"Jio..." lirih Virginia terus menggumamkan nama yang katanya akan kembali setelah tujuh tahun berpisah.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2