
Jika di kampus ada Jio yang galau karena Virginia bisa di katakan akan berkencan dengan Alex, maka di rumah ada Jia yang sedari tadi duduk di balkon kamarnya. Menunggu datangnya Xiaoli yang katanya akan pulang hari ini.
Namun gadis itu malu untuk bertanya pada siapapun. Termasuk meminta bantuan Jio untuk bertanya pada bodyguard yang sedang bertugas menjaga Xiaoli Chen. Sehingga ia hanya bisa menunggu dan menunggu.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Namun mobil bodyguard tak kunjung terlihat datang memasuki area Istana. Frustasi sudah Nona muda Xavier. Namun bukankah haru belum usai?
Maka Jia pun memutuskan untuk tetap berada di balkon, sembari membuat desain di layar laptop miliknya. Membuat desain abstrak yang sekedar muncul begitu si dalam kepalanya.
Detik demi detik telah berlalu, di lewati Jia yang masih asyik di depan laptop miliknya. Hingga suara deru kendaraan memasuki area Istana. Cepat - cepat Jia berdiri mendekati pagar balkon. Dan benar saja, dua mobil Jeep milik bodyguard memasuki area istana, dan melintas di jalan menuju area belakang Istana.
"Xiaoli pulang!" gumamnya lega. Penantian berjam - jam sudah terbayar dengan kedatangan pemuda itu.
Kini hanya menyusun alasan untuk bisa menemui Xiaoli Chen di mess bodyguard. Ah, tapi mana mungkin ia mendapat izin dari Daddy Michael untuk memasuki mess yang hanya di huni oleh bodyguard laki - laki.
Meski ia akan aman - aman saja ketika memasuki kandang buaya itu. Tapi tetap saja tidak sopan bukan, memasuki area yang hanya di tempati para laki - laki?
Jia pun kini kembali pusing untuk kedua kalinya. Ia tak punya nomor bodyguard selain Jack dan Dimitri. Tidak mungkin dia meminta nomor Xiaoli pada mereka berdua bukan?
Sampai akhirnya ia menemukan alasan yang cukup bagus untuk bisa mendatangi Xiaoli di mess bodyguard.
"Ok! Kamu memang tak kalah jenius dari Kakak mu, Jia!" seru Jia membanggakan dirinya.
***
Jam pulang kuliah untuk Jio sudah tiba sejak tadi. Pemuda itu bersandar di bagian kap depan mobilnya. Menunggu Virginia yang tak kunjung keluar. Mini Cooper milik sang gadis masih berada di sampingnya, hanya berjarak satu mobil lain saja.
Hati sang Tuan Muda tengah resah. Tak rela melepas sang gadis pergi berkencan, tapi ragu pula untuk mengungkapkan perasaan. Akhirnya siang itu, lagi - lagi ia hanya bisa meremas kalung kepala naga yang menggantung di lehernya.
Dan lagi, ia teringat akan percakapannya dengan Nikki tadi pagi. Tentang... jika cinta katakan cinta. Sebelum ia hilang di ambil orang.
"Jio?"
Panggil Nia yang entah sejak kapan gadis itu ada di sampingnya. Sejak tadi Jio hanya melamun. Memikirkan perasaan cinta yang selalu membuat IQ 160 nya mendadak jadi nol besar.
"Nia!" pekiknya seraya berdiri menghadap gadis itu.
"Kamu menunggu ku?" tanya Virginia berbasa - basi. Padahal ia tau, setiap hari mereka selalu bergantian menunggu dengan berbagai alasan.
"Eh, iya!" jawab Jio.
Virginia tersenyum malu, tapi hal ini setiap hari terjadi. "Ada apa?"
"Aku...." Jio ragu untuk berucap, tapi itu harus.
"Kenapa?"
"Aku.... hanya ingin memastikan, apa kamu yakin, akan pergi berkencan dengan Alex?" tanya Jio gamang.
Menghela nafas berat, kini Virginia yang ganti bersandar di kap mobil Jio. Wajah kusut kembali terlihat dari paras cantiknya.
"Aku tidak yakin, Jio.. Tapi Papa terus saja memaksa!" keluhnya.
"Kapan?" tanya Jio menatap lekat wajah Virginia.
__ADS_1
"Malam ini!" jawab Virginia dengan lesu.
Jio membuang mukanya pasrah. Kemudian kembali bersandar di kap mobilnya. Bibir seolah terkunci rapat. Tak bisa lagi berkata apa - apa. Karena malam ini, bertepatan dengan Friday Night. Dimana memang banyak anak muda yang akan keluar rumah, untuk menghabiskan malam bersama kekasih, atau sahabat mereka.
"Apa yang harus aku lakukan, Jio?" tanya Virginia, "aku tidak suka pergi dengannya.." lirihnya. "Bagaimana kalau dia menyakitiku?"
"Kemana kalian akan pergi?" tanya Jio.
"Mungkin pergi nonton!"
"Di mana?"
"Centro! Itu kalau dia setuju!"
"Jam berapa?"
"Sepertinya dia akan menjemput ku jam 5!"
"Kirimkan padaku lokasi mu nanti! Aku akan mengikuti mu dari jauh!" ucap Jio yakin. "Atau mungkin... Aku akan mengganggu kencan kalian!" ucapnya dengan nada bergurau. Namun dalam hati, itu memang rencananya.
"Kamu tidak sibuk?"
"Tidak!" jawab Jio cepat. Ia akan meluangkan waktu sore nanti untuk Virginia.
"Janji kamu akan datang?" tanya Virginia penuh harap.
"Aku berjanji!" jawab Jio yakin seyakinnya. Demi Virginia ia akan menyingkirkan jadwal apapun malam ini.
***
Jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Jio yang menyempatkan diri untuk datang ke kantor, kini buru - buru pulang. Jam 5 nanti, ia sudah harus memantau Virginia.
"Tuan muda mau pulang sekarang?" tanya Jack yang berada di depan ruang kerja Presdir, dimana ada Michael Xavier di dalam sana.
"Ya, Paman!" jawab Jio, "aku ada urusan!"
"Baiklah, Tuan!" jawab Jack.
Jio pun berlalu dari lantai tertinggi di gedung itu. Memasuki lift khusus petinggi seorang diri. Cepat - cepat pula ia menuju parkiran khusus petinggi. Untuk mengeluarkan mobil sport andalannya.
Tidak terlalu jauh dari Jio, Michael juga keluar dari ruang kerjanya. Di sambut oleh Jack yang selalu setia mengikuti kemanapun Michael pergi.
***
Sedangkan di Istana Michael, Nona muda Xavier tengah menjalankan aksinya. Ia membawa sebuah jaket lelaki yang baru saja ia beli secara online dengan pengiriman instan. Yang artinya, bisa sampai setelah satu jam pemesanan.
Kini gadis itu menuruni tangga, jaket hitam melingkar di lengannya. Melihat kanan kiri, tampaknya rumah masih sepi. Daddy dan Kakaknya tampak belum pulang. Gerald dan Mommy pun sepertinya sedang ada di kamar.
Kesempatan bagus bagi nona berambut hitam itu menjalankan aksinya. Yaitu menemui bodyguard baru di Klan Black Hold, Xiaoli Chen.
Langkah demi langkah mengantarnya sampai di depan mess bodyguard yang terdiri dari beberapa lantai. Lewatnya Jia tentu mengundang seluruh pasang mata bodyguard.
Yang mana, tak pernah sekalipun ada wanita Xavier yang mendatangi sarang buaya itu. Ya, mess bodyguard yang hanya di huni oleh laki - laki itu di sebut sebagai sarang buaya. Karena apa?
__ADS_1
Karena rata - rata mereka memang buaya darat. Yang memilih untuk hanya bermain - main dengan wanita. Hanya satu banding 100 yang merupakan lelaki tanpa nafsu liar. Tapi wanita Xavier sangatlah di hormati. Tak akan ada yang berani sekedar melihat saja.
"Nona, ada apa Nona ke sini?" tanya Antonio yang kala itu tengah duduk di depan mess bersama beberapa penjaga Istana yang sedang tidak bekerja.
"Em.. Aku mau menemui Xiaoli, Paman!" jawab Jia celingak celinguk ke dalam ruang tamu Mess, dimana biasa di gunakan untuk berkumpul ataupun makan.
"Xiaoli?" tanya Antonio.
"Ya, dia sudah pulang, kan?" tanya Jia.
"I..iya, Nona.." jawab Antonio bingung. "Xiaoli memang sudah pulang. Tapi apa hubungannya dengan Nona?" tanya Antonio ragu.
"Aku ingin memberikan jaket ini. Sebagai ganti jaket hitamnya yang hancur karena kecelakaan itu." jawab Jia.
"Ha?" Antonio terperangah. "Apa itu harus, Nona?"
"Ya, bukankah kita harus mengganti sesuatu yang kita rusakkan?"
"Em.. Baiklah, Nona! Biar saya yang memberikan jaket itu pada Xiaoli." usul Antonio. Karena sebagai bodyguard senior, ia tau apa yang mungkin akan terjadi jika sampai Tuan besar mengetahui putrinya memasuki kandang buaya.
"Tidak!" bantah Jia cepat. "Aku ingin memberikan jaket ini sendiri!" ujarnya.
"Tapi, Nona! Nyonya besar, dan Nona besar di larang memasuki mess ini."
"Siapa yang melarang? Tidak ada tulisannya!" Jia mengamati dinding di sekitarnya.
"Tentu saja Tuan besar, Nona. Dan itu peraturan yang tidak tertulis!"
"Pokoknya aku mau menemui Xiaoli! Aku punya urusan penting dengan dia! Kalau kalian menghalangi, aku membuat skenario supaya kalian semua di pecat!" ujar Jia asal bicara.
Tentu saja ia sendiri bingung, seperti apa cara membuat skenario yang terlihat natural. Yang terpenting saat ini, ialah ia bisa memasuki mess bodyguard, dan menemui Xiaoli Chen.
Sontak semua bodyguard yang ada di depan pintu saling tatap. Seolah bertanya bagaimana ini? Tapi semua tidak punya jawaban yang pasti. Semua sama - sama takut dan sama - sama ragu.
"Cepat, minggir!" seru Jia.
"I..iya, Nona!" jawab Antonio tergagap dan gugup.
Reflek, semua bodyguard yang menjadi penghalang jalan Nona muda Xavier, menyingkir dari tempat mereka berdiri. Semua melihat Jia yang melangkah memasuki mess dengan tatapan heran. Kemudian mereka kembali saling lirik dengan pertanyaan yang ambigu.
Dalam hati mereka berdo'a, semoga Tuan besar Xavier tidak mendatangi mess bodyguard sore itu.
Kembali pada Nona muda Xavier yang melangkahkan kaki memasuki mess bodyguard untuk pertama kali. Lima langkah sudah dia di dalam ruangan yang cukup luas itu.
"Eh, di mana kamar Xiaoli?" Jia menoleh ke belakang, menatap Antonio dengan serius.
"Di lantai dua, nomor 45, Nona!" jawab Antonio dengan sopan.
"Ok! Baiklah!"
Kembalilah Jia melangkah memasuki lorong, dimana sisi kanan dan kirinya merupakan pintu kamar bodyguard. Yang mana setiap kamar dengan ukuran 3x3 meter itu di isi oleh satu orang bodyguard.
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1