SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 89


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang setelah gagal menjalankan rencananya, Deborah di buat kesal. Matanya memancarkan kebencian tiada tara.


Jika bukan karena ingin mendapatkan sumsum tulang belakang Chania, sudah pasti ia akan memilih untuk membunuh gadis yang membuat Michael mengkhianatinya. Tapi bagaimanapun, semua berawal dari rencana masa lalu mereka.


Sedangkan jika Chania mati pun, ia yang akan kelabakan. Dunia akan runtuh di atas kepalanya, karena ada selembar surat wasiat yang tidak dapat di ganggu gugat.


"BRENGSEK!" teriak Deborah memukul kursi mobil yang ia duduki.


Teriakan Deborah, membuat mereka yang tergabung dalam satu mobil terlibat aksi saling lirik. Tak ada yang berani bertanya kenapa kehidupan Deborah begitu rumit.


Bukankah ia bisa melakukan cara lain, menculik dan memaksa Chania untuk mendonorkan sumsum tulang belakang setelah Chania melahirkan?


Kenapa juga Chania harus tetap hidup jika dia begitu membenci Putri Kimberly?


Pada akhirnya pikiran Deborah hanya berputar - putar di situ saja. Surat wasiat yang tidak dapat ia kalahkan itu mau tak mau harus membuat segala sesuatu di lakukan sesuai kehendak Chania.


Anak tirinya yang bahkan tak tau menahu tentang surat wasiat yang di pusingkan Deborah.


' Ingin rasanya aku merobek surat wasiat itu! '


Dengkusnya dalam hati.


***


Michael yang yang tengah di bakar rasa curiga dan penasaran, kini sudah berdiri di samping meja sofa. Menatap tas milik istrinya. Namun saat hendak mengambilnya ...


Tok tok tok!


Menghela nafas berat. Merutuki dirinya yang seolah tak percaya dengan Chania. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak tau pesan apa yang di terima istrinya tadi.


"Hem"


Michael keluar dari kamar, ia sudah tau tujuan Jack mendatanginya. Mereka beriringan menuju gedung latihan tembak yang berada di salah satu sisi area istana Michael.


"Aku memiliki banyak tugas untuk kalian!" ucap Michael menghadap banyaknya anak buah yang sedang berada di rumahnya.


Lebih tepatnya mereka yang baru saja tergabung dalam pasukan penjemputan sang Tuan Muda. Di tambah pasukan dari markas yang di panggil secara mendadak.


"Membunuh Deborah bukanlah hal yang utama. Karena aku masih memiliki pertimbangan lain. Aku akan membagi kalian, menjadi tiga team!"


"Antonio, aku mau kau dan pasukan yang sudah kau tunjuk, tetap fokus pada pencarian saudara kembar istriku!" ucap Michael menoleh pria bernama Antonio.

__ADS_1


Antonio merupakan ketua tim. Pria bertubuh tinggi, gagah dan memiliki tato di bagian leher itu berasal dari daratan Perancis. Sepak terjangnya bersama Michael sudah tidak di ragukan lagi. Terutama di bidang melacak keberadaan musuh. Sehingga ia pantas berada di bawah Jack dan Dimitri, menjadi pimpinan untuk 100 pasukan perang yang menyebar di seluruh Italia.


"Siap, Tuan!" jawab tegas Antonio. "Sampai saat ini saya sudah mendapatkan informasi keberadaan Nona Sania saat berusia 5 tahun, Tuan!"


"Bagus!"


"Dan kau Noel, aku mau kau beberapa pasukan mu terus mengawasi gerak - gerik Deborah!"


"Siap, Tuan!" jawab Noel, pria berbadan tinggi besar, berkulit putih dan berasal dari negara yang sama dengan Tuannya, Italia.


"Terakhir aku mau kau, Andreas!" sebut Michael.


"Ya, Tuan!" nama Andreas menghadap Michael dengan bangga. Wajahnya menunjukkan jika ia tak menyangka seorang Michael Xavier akan menyebut namanya. Selama ini ia pikir Michael tak pernah melirik ketulusan dan kegigihannya dalam membela Klan Black Hold.


"Aku mau kau menemukan seseorang yang memiliki sumsum tulang belakang seperti Selena!" ucap Michael sembari menyerahkan berkas data kesehatan juga tipe organ tibuh Selena. "Jack akan memilih 30 anak buah untukmu!"


Senyum bangga merekah di bibir pria dengan alis tebal, dan juga memiliki kadar ketampanan yang bisa di perhitungkan. Apalagi usianya masih 23 tahun. Tentu ia sangat bangga menjadi ketua tim untuk 30 orang di usia yang masih terbilang muda, di saat pemimpin yang lain sudah berusia 29 tahun ke atas.


"Siap, Tuan! terima kasih sudah memberi saya kepercayaan sedemikian besar!" jawab Andreas membusungkan dada.


"Hemm!" jawab Michael datar. "Aku tau pasti bisa!"


"Pasti, Tuan!" seru Andreas yakin.


"Kalian bertiga di bawah komando Jack dan Dimitri. Setiap temuan laporkan pada mereka!"


"SIAP!" serentak 3 ketua tim menjawab perintah Tuannya dengan tegas.


"Hidup Black Hold!" seru Andreas dengan bangga. Ia ingin menyemangati dirinya yang terpilih sebagai ketua tim.


"HIDUUPP!" sahut seluruh pasukan yang berada di dalam gedung.


"Hidup Tuan muda Xavier!"


"HIDUUPP!" sahut mereka kembali.


Pertemuan sore itu di tutup dengan masing - masing ketua tim yang mengumpulkan pasukannya untuk berdiskusi, saling bertukar pikiran dan menyusun rencana yang matang.


Sedangkan Michael kembali ke kamar utama. Dimana istrinya berada. Namun pikiran Michael tidak bisa sepenuhnya tenang dan positif thinking. Ia yakin ada yang tidak beres dengan ponsel Chania. Mau tak mau yang ingin sekali ia temukan saat ini adalah ponsel bermata tiga milik sang istri tercinta.


Tercinta??? 🙄 kapan dia menyatakan cinta? 😪

__ADS_1


***


Di kamar utama, setelah kepergian Michael dan Chania sudah keluar dari kamar mandi, ia segera memeriksa ponselnya yang sedari tadi ia matikan.


Beberapa pesan masuk secara beruntun. Chania sampai pusing mendengar suara dan getaran dari ponselnya. Ia menghela nafas sembari duduk di atas ranjang.


Setelah tanda pesan masuk berhenti, barulah Chania menyentuh kembali ponsel yang sebelumnya ia letakkan di sampingnya.


Hanya ada dua nama yang ternyata sedari mengirim pesan padanya. Satu nama dengan beberapa pesan saja. Sedang satu nama dengan puluhan pesan. Bahkan dengan beberapa tanda panggilan tak terjawab.


Chania mulai merasa gusar. Ia sudah tak lagi nyaman chatting dengan siapapun. Ia hanya membalas singkat dengan salam perpisahan di akhir kalimat.


Setelah itu ia memutuskan untuk tidur dan mengubah ponselnya dalam mode diam.


***


Pintu kamar terbuka, Michael yang sudah sampai di kamarnya, mendapati sang istri yang berbaring miring di ranjang dengan mata tertutup dan berselimut tebal hingga bawah dada. Menutupi perut buncit yang selalu menggetarkan hati seorang Michael Xavier.


Ingin rasanya pria berhati iblis itu menyentuh perut Chania, namun ia takut membangunkan sang istri. Dan apa yang ia rencanakan gagal.


Setelah hanya menatap lembut wajah cantik dan perut istrinya, ia segera mencari keberadaan ponsel yang menjadi incarannya. Dan mata tajamnya langsung menangkap ponsel yang berada di nakas.


Tak butuh waktu lama, ia kini sudah duduk di sofa menghadap sang istri yang tengah terlelap dalam mimpi. Sedang ponsel Chania sudah berada di genggaman.


Michael memasukkan sandi ponsel yang ia ketahui empat bulan lalu di ponsel lama Chania.


' Ternyata sandi ponsel mu tak pernah berubah, Baby.… '


Batin Michael tersenyum tipis. Karena sandi itu merupakan hari pernikahan mereka.


Sesuai dengan rencananya, ia langsung masuk ke aplikasi Chat milik Chania. Dua nama terlihat memiliki pesan yang belum sempat di baca oleh Chania.


Michael mengerutkan kening, manakala melihat nama Chef Reno dengan banyak pesan yang seolah berharap mendapat balasan dari sang pemilik ponsel.


Michael mulai mendengus kesal. Dengan melihat pesan terakhir yang terlihat saja ia sudah bisa menerka siapa Chef Reno itu. Meremas kuat jemari tangannya sendiri. Melampiaskan rasa amarah di dada. Padahal ia belum membuka pesan apa yang ada di dalam sana.


📩 Chef Reno


"Carina? kenapa tidak membalas?"


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2