SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 175


__ADS_3

Berdiri tegak di tengah ruangan. Ruangan berbau anyir yang baru kali ini di masuki oleh sang Tuan Muda. Generasi Pemimpin Klan Black Hold selanjutnya.


"Mereka yang berkhianat di kantor Daddy?" tanya Jio menatap tajam dua orang yang sudah dalam keadaan lemah lesu di atas tanah berpasir.


"Ya! Dan kamu tau, jika tidak akan ada satu pengkhianat pun yang bisa kita ampuni!" ucap Michael menegaskan pada sang putra. Jika pengkhianatan tak akan pernah di ampuni di Klan Black Hold. Klan yang akan di pimpin oleh sang putra kelak.


"I know..." jawab Jio enteng. Ia sudah tau apa yang harus di lakukan oleh seorang pemimpin. Otak jenius dan ilmu yang ia pelajari sudah cukup membuatnya mengerti dunia hitam sang ayah.


"Lihat ini, Jio! Kamu harus tau cara menginterogasi musuh, supaya mereka tidak menyepelekan kita! Black Hold di kenal tidak ada ampun! Semua musuh yang masuk ke dalam markas ini, harus keluar tinggal nama dan membawa minimal satu petunjuk yang jelas!" terang Michael.


"Aku tau, Dad!" jawab Jio lagi.


"And, setrum dia supaya mau bicara!" titah Michael.


"Baik, Tuan!" jawab Andreas mengambil kembali alat khusus yang biasa mereka gunakan untuk menyiksa musuh.


"Baiklah boy! Saatnya kita bermain...." ujar Andreas terkekeh senang.


Dua tangannya mengarahkan ujung setrum ke arah dua tawanan. Siap mengalirkan arus listrik ke dalam tubuh dua pengkhianat itu.


"Bagaimana? Mau berubah pikiran sebelum ujung alat ini mengoyak tubuhmu?" tawar Andreas.


"Aku tidak peduli apa yang akan kamu lakukan!" desis salah satu di antara keduanya.


"Ok kalau begitu! Let's play...." seru Andreas antusias.


"AAAAAKKKHH!" teriak dua orang bersamaan.


Andreas meletakkan dua ujung alat setrum tepat di pundak kiri keduanya. Sontak membuat keduanya menjerit tak jelas. Tubuh bergetar tak karuan, sesuatu di dalam tubuhnya seolah tengah di acak - acak tak karuan. Setelah di rasa cukup, Andreas kembali melepasnya.


"Cepat katakan!" seru Andreas.


Keduanya masih diam tak mau bicara. Hanya berusaha menstabilkan tubuh setelah terkena arus listrik tegangan tinggi.


"Setrum lagi!" seru Michael.


Andreas kembali melakukan perintah Michael.


Sedang Tuan muda Xavier, masih asyik mengamati. Sesuatu yang baru untuknya memang. Tapi ini terlihat sangat seru. Ia mulai tahu apa yang harus ia lakukan saat menginterogasi musuh.


"AAAAKKKHHH!!"


Teriakan tak jelas kembali terdengar dari dua orang tawanan. Dan berhenti saat Andreas kembali menarik ujung setrumnya.


Satu di antara dua pengkhianat Sebastian Corp, mendongak. Menatap mata Michael dengan tatapan lesu namun terkesan menantang.


"Anak... perempuan..mu, akan... menjadi target!" ucapnya tersenyum sinis. Tubuhnya masih sangat lemas. Tapi ia harus mengatakan apa yang ia ketahui kepada Michael.


"Apa maksudmu, hah!" bentak Michael mendekat dan menjambak rambut pria itu dengan sangat kuat.


Begitu juga Jio, ia segera mendekat saat mendengar saudara kembarnya akan menjadi target musuh.


"Hahaha!" tertawa culas meski tubuhnya sudah tak mampu berdiri. "Aku memang tidak tau...siapa yang.... Yang menyuruhku!" ucapnya tergagap karena darah seolah kesulitan untuk mengaliri nadinya. "Tapi... Aku tau apa yang.. mereka inginkan.... Hahahah! Dan itu anakmu! Aakkh! Akhh! Akkh!"

__ADS_1


Suara pria itu berakhir dengan tiga tinjuan di rahangnya. Michael melakukan dengan di penuhi amarah. Sebagai seorang ayah, mendengar putrinya akan menjadi target kejahatan tentu akan membuat darahnya mendidih.


"Katakan dengan jelas! Apa yang mereka rencanakan!" seru Michael menatap tajam orang itu.


"A...aku tidak tau..." jawabnya lemas. Nafasnya mulai datang dan pergi karena terengah.


"Jangan bohong!" teriak Michael melempar kepala yang ada dalma genggamannya itu. Hingga tawanan terhempas ke belakang, dengan kepala menghantam tanah. Pria itu memejamkan matanya dalam. Karena sakit yang luar biasa.


Jio yang sedari tadi mengamati pria satunya, kini mulai berjongkok tepat di depan pria yang masih terduduk lemas.


"Aku rasa kau juga tau..." desis Jio datar.


Tatapan dingin yang ia pancarkan pada musuh, membuatnya terlihat lebih tenang dari pada sang Ayah yang lebih suka memancarkan aura iblisnya. Membuat seorang Michael Xavier menjadi terkesan bengis dan kejam, juga mudah terbakar emosi.


"Aku tidak tau..."


"Jangan bohong!" hentak Jio.


"Aku tidak bohong!"


Tanpa basa - basi lagi, Jio menghantamkan satu tinjuan tepat pada rahang pria itu. Dna menambahnya dengan menyiku tepat di tengah hidung musuh. Membuat pria itu menjerit kesakitan dan terhempas ke belakang.


"Itu hanya pukulan kecil dari ku, brengsek! Dan kau sudah jatuh! Bagaimana jika aku keluarkan seluruh kekuatan ku untuk meremukkan tulang - tulangmu?" desis Jio mengancam, menatap benci pada dua pria yang sudah tersungkur.


Sontak semua bodyguard yang berjaga di dalam sana, termasuk Michael menoleh ke arah Jio. Semua sudah tau seperti apa kekuatan seorang Jio Xavier jika di keluarkan semua.


Bahkan adu pukulan yang pernah di lakukan oleh seluruh anggota Klan di gedung latihan, di menangkan oleh Jio. Yang artinya kekuatan Jio melampaui kekuatan sang Ayah.


Jika sampai pria itu benar di berikan pukulan terbaik sang putra naga, bisa di pastikan pria itu akan tewas sia - sia.


"Cepat katakan apa rencana mereka!"


Jio menekan kaki kanannya dan semakin melesakkan ke arah leher. Otomatis sekali kesakitan, pria itu juga kesulitan bernafas.


Michael tersenyum tipis, ia puas dengan aksi sang putra yang tak mengenal ampun. Meskipun ia tau, ada setitik celah pengampunan di dalam diri Jio yang tak ada dalam dirinya.


"Akh!" jerit tertahan pria itu yang sudah nyaris mati di tangan Jio.


Jio mengendurkan kakinya, "cepat katakan! Atau ku patahkan lehermu secara perlahan! Itu jauh lebih menyiksa dari pada satu peluru yang menembus nadi di lehermu!" desis Jio.


"A..ku.. ti..dak ta...u.." jawabnya terbata, "yang aku.. tau.. jika salah.. sa..tu dari me..mereka.. ingin menghan..curkan keluarga Xavier.. terutama..." ucapnya penuh rasa tersiksa.


"Siapa! Cepat katakan!" Jio mengoyak leher pria itu dengan kaki berbalut sepatu mahalnya.


"Ka..mu..."


Sontak semua terkaget mendengar pengakuan orang itu. Bagaimana mungkin Jio sudah menjadi target musuh Black Hold. Bahkan Jio sendiri belum pernah turun secara langsung di medan pertempuran secara nyata.


Dada Jio bergemuruh. Siapa gerangan yang mencoba mencari masalah dengan dirinya yang bisa di katakan baru turun gunung. Menarik nafas panjang, Jio kembali jongkok, menarik leher pria itu dengan kuat. Hingga pria itu menjadi setengah duduk.


"Kau yakin aku yang di targetkan!" tanya Jio dingin.


"Ya!"

__ADS_1


"Lalu kenapa saudara perempuanku yang di jadikan sasaran!"


"Aku..tidak ta...u! Aku hanya tau... jika me..reka mengincar... dirimu!" ucap pria itu terus berkata dengan tergagap. Tubuhnya sudah lemas, seolah sudah tak ada tulang di dalam dagingnya.


"Jangan bohong!" seru Jio meninju pelipis lawan menggunakan tangan kirinya.


"Tidak! Aku tidak bohong!" pria itu terus menggelengkan kepala lemah. Sepertinya ia sudah menyerah dengan pukulan Jio yang rasanya seperti 20 kali lipat pukulan orang dewasa. Padahal menurut Jio sendiri itu hanya sebagian dari tenaganya. "Hanya..itu yang..aku..dengar!" lanjut pria itu merintih.


"Berikan aku satu petunjuk lagi! Seperti apa orang yang menyuruh kalian?"


"Markas di serang! Markas di serang!"


Suara teriakan dari luar membuat konsentrasi Michael buyar. Belum juga mendapat jawaban dari pria itu, sebuah bom terdengar meledak di dekat markas yang berada di tengah hutang ilalang, yang jauh dari perkampungan itu.


"Persiapkan diri kalian" seru Michael pada anak buah di dalam markas. "Jio, siapkan dirimu!" desis Michael mengeluarkan Glock kesayangannya. Sementara pedang abadi sudah ada di punggungnya.


Sementara Jio, pemuda itu tampak masih tenang, tanpa mengabaikan perintah sang Ayah. Tampaknya ia masih betah untuk menginterogasi dua tawanan itu. Batin dan kelebihan dari panca indera yang ia miliki mengatakan, jika lawan di luar tak seberapa berbahaya. Hanya saja jumlahnya lebih banyak dari pasukan yang mereka bawa.


"Cepat katakan!" Jio mengeluarkan pisau kecil dari balik jaket kulitnya, "atau kau ingin pisau ini mengoyak lehermu?" tanya Jio dingin mengacungkan pisau ke arah leher. Semakin pria itu diam maka jarak pisau semakin dekat.


"Pemuda seusiamu! saat.. Kami bertemu.. dia memakai masker dan topi hoodie nya!" ucap pria itu dan langsung pingsan tak berdaya karena Jio menutup obrolan dengan sebuah totok di leher belakang.


"Jio!" panggil Michael dengan suara tertahan.


Jio kembali melempar tubuh pria itu hingga ambruk. "Masukkan mereka ke dalam penjara!" titah Jio pada Andreas yang masih bertahan bersamanya. "Jangan biarkan musuh di luar bisa membawanya!"


Sementara Michael dan yang lain sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh. Mereka sudah berada di balik drum - drum yang berjajar. Menunggu gerakan macam apa yang di persiapkan oleh musuh di luar sana.


Jio mengeluarkan senjata Desert Eagle yang tadi ia masukkan ke dalam tali pinggang bagian belakang. Pedang yang sama dengan milik ayahnya sudah bergantung di punggungnya. Siap untuk di keluarkan kapan saja.


"Apa menurutmu mereka akan mengambil tawanan kita?" tanya Michael setelah sang putra sudah berada di sampingnya. Sembunyi di belakang tumpukan drum.


"Feeling ku mengatakan iya, Daddy!" jawab Jio mengintip pergerakan lawan, yang ternyata siap memberondong ke dalam gudang.


"Awas!" seru Jio pada seluruh pasukan yang hanya berjumlah 16 orang.


Sementara penjaga di luar nampaknya sudah tergeletak di lantai.


Berondongan peluru masuk ke dalam markas. Desingan peluru saling bersahutan. Dan suara peluru menghantam bagian drum menimbulkan kebisingan tersendiri.


Michael bergerak sedikit. Menyelipkan senjata laras panjang di antara pembatas drum. Dengan insting yang ia miliki, Michael melasatkan barisan peluru ke arah musuh. Dan bersamaan dengan itu suara teriakan musuh yang tertembak bersahut - sahutan.


Jumlah musuh yang masuk rupanya cukup banyak. Semua mengikuti pergerakan Michael. Jack membawa beberapa senjata yang sama dari gudang dan di bagi pada beberapa pasukan yang dekat dengannya. Salah satunya adalah sang tuan muda.


Semua pasukan Michael melakukan hal yang sama untuk beberapa saat. Pasukan musuh sudah banyak berkurang. Namun terlihat tak ada habisnya.


Dan saat semua fokus menembak dan bergantian mengisi peluru, benda kecil berwarna hitam jatuh tepat di samping Jio.


"Tuan muda, Granat!" teriak Dimitri melesat mencoba menyelamatkan Jio. Dimitri berada di jarak cukup jauh dari Jio. Tapi hanya dia yang tau jika ada sebuah granat mendarat tepat di samping Jio.


Dan... Kita semua tau, granat akan meledak setelah 5 detik pengaitnya di tarik.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


Seperti apa keadaan Jio selanjutnya? Stay tune ya.. ☺️


Maafkan Othor yang tidak bisa up rutin 🙏🥰


__ADS_2