
Hari telah berlalu sejak di mana Jio bertemu dan mengenal Merr di kantin kampus. Berbagai cerita dan nasehat telah di sampaikan oleh sepupu Virginia yang menempuh pendidikan di London, Inggris itu.
Dan mungkin semua akan menjadi sebuah rahasia yang tidak boleh di ungkap pada Nia sampai sang gadis jelita kembali menjadi dirinya beberapa minggu yang lalu. Menjadi Virginia yang memiliki kekasih sehebat Georgio Xavier.
Pagi itu, adalah hari kesekian dari berlalu nya ulang tahun Xiaoli Chen. Juga hari kesekian dari hari dimana Jio memutuskan menjadi dirinya yang entah tahun berapa di masa lalu. Ia tak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya.
Tapi demi mendapatkan cintanya kembali, apapun akan ia lakukan, meskipun sulit bahkan terjal sekalipun. Yang jelas, sang pemuda ingin selalu ada di setiap hembusan nafas sang kekasih. Baik dalam keadaan normal, maupun dalam keadaan lupa ingatan seperti saat ini.
Di tengah Jio yang sedang berjuang merebut kembali cintanya yang terlupakan, ada Jia yang tengah berada di puncak kayangan karena cintanya yang terbalas. Dan juga karena Dewa Amore yang sedang berpihak padanya.
Duduk di kursi meja rias, sang Nona Muda tersambung dalam saluran video call ...
"Jadi siapa yang akan mengantarku ke kampus?"
Tanya Jia pada seseorang yang ada di saluran teleponnya. Yang wajahnya terlihat sangat tampan di layar ponsel miliknya. Sang pemuda tampak sedang duduk di kursi yang ada di meja ruang kamarnya, dengan memakai jaket kulit berwarna coklat tua dan dalaman kaos berwarna hitam.
"Aku dengar Paman Noel dan salah satu bodyguard di bawah kepemimpinannya." jawab suara pemuda yang tak lain dan tak bukan sudah pasti kekasihnya sendiri.
"Kenapa bukan kamu?" tanya Jia dengan bibir yang mengerucut tepat di depan cermin, di mana ia tengah memoles wajahnya dengan make up super tipis andalannya. Bibir yang sudah merah muda alami, ia poles menggunakan lip gloss berwarna pink cerah.
"Sorry, Bao Bao... Tuan Michael memintaku untuk ikut bersamanya mengunjungi Sebastian Corporation."
"Untuk apa Daddy ke sana? bukankah sudah di pasrahkan pada Kak Jio?" tanya Jia mengerutkan keningnya heran dan penasaran.
"Entahlah... yang aku tau, untuk sementara Tuan Besar kembali ke kantor sampai waktu yang tidak di tentukan." jawab Xiaoli dari sebrang. Sang pemuda jelas tengah mengagumi kecantikan paripurna sang kekasih sebum berangkat ke kampus.
Padahal Jia hanya berdandan sekedarnya. Kaos ketat yang di balut dengan hoodie berwarna pink, dengan di padu celana chinos berwarna putih bersih. Rambut panjang sang gadis di gerai bebas, namun dua sisi kanan dan kiri di satukan ke belakang menggunakan jedai kecil berwarna pink tua.
"Apa mungkin Kak Jio tengah berusaha atau berjuang untuk mendapatkan cintanya kembali?" tanya Jia. "Mengingat hilangnya ingatan Virginia adalah pukulan terberat bagi Kak Jio."
"Mungkin saja seperti itu, Sayang..." jawab Xiaoli semakin menatap dalam wajah yang terlihat begitu cantik.
Jika saja dunia berpihak padanya, ingin sekali Xiaoli sekarang juga menghampiri sang gadis dan mencium bibir merah delima yang selalu membuat aliran darahnya bergerak tidak normal setiap bibir mereka bersentuhan dengan intim.
__ADS_1
"Jadi kita tidak akan bertemu hari ini?" tanya Jia memasang wajah cemberut berlipat, menatap layar ponsel yang menunjukkan sang kekasih yang memasang wajah teduh dengan sorot mata kaya akan makna cinta.
"Nanti malam, bagaimana?" tanya Xiaoli.
Sontak mulut Jia terbuka sangat lebar. Wajah yang semula mendung melesat menjadi cerah berbinar. Senyum yang sebelum ini entah kemana, tiba-tiba saja kembali muncul dan memberikan aura yang sangat sangat sangat positif untuk wajah cantik nan mungil milik Jia.
Mengedip beberapa kali. "Kamu akan datang seperti waktu itu?" tanya Jia langsung mendekatkan wajahnya pada layar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias. Bersandar pada botol body lotion berukuran besar.
"Ya, Bao Bao..." jawab Xiaoli tersenyum. "Semoga tidak ada yang tau..." lanjutnya tersenyum rikuh karena haus menjadi seperti seorang penyusup hanya untuk mendatangi sang kekasih.
Di mana di luaran sana, bahkan sepasang kekasih di biarkan berada di dalam kamar berduaan tanpa perlu sungkan pada kedua orang tua kekasih masing-masing.
"Aku akan membiarkan pintu balkon kamar ku terbuka. Dengan begitu kamu akan lebih mudah untuk masuk, Amore!" sahut Jia bersemangat.
"Yap! Kamu benar, my Girl..." jawab Xiaoli dengan senyum menawan yang khas ia miliki. "Pergilah! Nanti kamu terlambat, Sayang!" pinta sang bodyguard.
"Okay! Bye bye, Amore! see you tonight!" ucap Jia memajukan bibirnya, memberikan sebuah kecupan jarak jauh pada wajah kekasih di layar ponselnya.
"Bye bye, Bao Bao. I love you..."
Dan panggilan video call berakhir dengan senyum cerah sang Nona Muda Xavier. Begitu juga dengan senyum di wajah sang pemuda yang selalu terbit setiap berhadapan dengan sang kekasih.
"Semoga hari ini cepat berlalu!" seru sang Nona Muda menangkup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan yang kedua sikunya berpangku pada meja rias. Tersenyum manja dengan menatap wajahnya di cermin yang memantul dengan sempurna.
"Aku sangat-sangat mencintai mu, Amore..."
***
Sedangkan Jio, sang pemuda yang memilih untuk mengambil cuti, bahkan sebelum ia resmi di lantik sebagai pemimpin baru Sebastian Corporation, saat ini sudah berada di kampus. Ia akan menjadikan dirinya utuh sebagai Mahasiswa untuk bisa mengawasi dan memantau sang kekasih dengan cara yang sudah ia sepakati dengan Merr beberapa waktu yang lalu.
Jio memarkirkan mobilnya di tempat biasa, dan ia langsung melangkah menuju koridor kampus. Dari ujung matanya, ia bisa melihat jika mobil sang kekasih telah sampai. Namun ia tak sedikitpun menoleh ke arah sana. Ia tetap melangkah dan mendekati fakultas IT yang ia tempati. Di mana sahabatnya Nikki mungkin sudah ada di sana.
' Morning, Baby... '
__ADS_1
Lirih Jio di dalam hati menahan pilu yang tak berujung.
***
Virginia turun dari mobil yang mengantarnya, dan langsung melangkah menuju koridor. Seperti biasa, ia melintasi mobil Jio yang terparkir dengan sangat gagah dan tampan.
Entah, kenapa sang gadis selalu ingin menoleh ke arah mobil pemuda yang beberapa waktu lalu sering sekali muncul di hadapannya. Namun akhir-akhir ini pemuda itu tak pernah lagi muncul di depan sang gadis ketika ia di rumah.
' Aku yakin, dia bukan pemuda yang serius mengejar ku... '
Lirih Virginia di dalam hati. Kemudian berlalu dari bodi belakang mobil Jio.
Virginia berjalan menuju Fakultas kedokteran, di mana ia menuntut ilmu sejak pertama kali menginjakkan kakinya di kampus itu.
"Nia!" sapa seseorang yang keluar dari mobil yang baru saja terparkir.
"Flo!" sapa Virginia menoleh ke belakang.
"Hai!" balas gadis bernama Flo yang merupakan Mahasiswi kedokteran dan berada di kelas yang sama dengan Virginia.
"Berangkat sendiri?" tanya Virginia.
"Iyalah!" jawab Flo. "Aku cuma punya satu sopir di rumah, dan itu sudah mengantar Daddy ku kemana-mana!" jawab Flo yang terlihat sudah sangat akrab dengan Virginia di hari ke empat mereka berteman.
"Emm... Flo?" panggil Virginia.
"Ya?" Flo menoleh ke sisi kiri, di mana Virginia berjalan.
"Apa dulu aku ke kampus bawa mobil sendiri?" tanya Virginia pada Mahasiswi yang mengaku sudah mengenal Virginia sejak awal masuk ke kampus.
"Iya!" jawab sang gadis. "Kamu bawa Mini Cooper orange!" jawab sang gadis dengan yakin.
Dan jawaban sang sahabat membuat Virginia seperti melamunkan sesuatu. Seolah tengah mengingat sesuatu yang membuatnya seketika memicing.
__ADS_1
"Sudah! Ayo!" Flo menarik lengan Virginia untuk segera masuk ke Fakultas yang menjadi tempat keduanya menuntut ilmu.
...🪴 Bersambung ... 🪴...