
Reflek, Jio dan Gerald segera ikut naik dan menoleh ke arah yang sama. Betapa terkejutnya mereka melihat Jia ada di depan kamar seorang bodyguard.
"Jia!" pekik Jio tak percaya.
"Kak Jia!" pekik Gerald melongo melihat Kakak perempuannya ada di dalam mess bodyguard yang hanya di huni oleh para lelaki.
Sedangkan Jack hanya menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan kamar Xiaoli.
“Daddy!” pekik Jia yang seketika merasa tubuhnya merinding begitu melihat siapa yang
datang.
“Apa yang kamu lakukan disini?” desis sang Tuan Besar Xavier dengan nada yang teramat
mengerikan untuk di dengar siapa saja yang mengenal dirinya tentunya.
“Ji…Jia…hanya…” tergagaplah Nona muda Xavier. Menatap mata sang Ayah yang seperti ingin
menelannya hidup – hidup. “Hanya ingin…”
“Ingin apa!” sentak Michael dengan nafas terengah. Dada naik turun menahan emosi yang menyeruak di dalam dada.
“Jia hanya ingin minta maaf pada Xiaoli, Daddy…” lirih Jia menunduk. Kembali rasa bersalah
dan tak percaya pada ucapan para bodyguard menyeruak di dalam dada.
“CEPAT PERGI DARI SINI!” teriak Michael menggelegar. Tanpa peduli dengan semua jantung yang
seketika ingin melompat dari sarangnya.
Hingga semua sisa bodyguard yang ada di bawah dan yang ada di dalam kamar tidur semua keluar
dan berkumpul di sekitar area tangga. Semua yang tidak mengetahui kehadiran
Nona muda Xavier di dalam Mess tentu bertanya - tanya akan apa yang terjadi. Dan kenapa Nona Jia ada di dalam sana.
Sebelum pergi, Jia menoleh pada Xiaoli yang masih ada di dalam kamar dengan nafas yang naik turun. Tentu ia takut jika kali ini ia akan di hukum mati.
“CEPAT KELUAR!!” seru sang Tuan besar, bahkan saat belum sampai satu detik mata Jia
dan Xiaoli bertemu.
Jia tersentak kaget untuk kedua kalinya. Tanpa berpamitan, Jia melangkah
meninggalkan kamar Xiaoli dengan langkah lesu.
Sepanjang langkahnya untuk sampai di depan Michael, Jia hanya menunduk dalam. Tak berani
melihat mata sang Daddy. Bahkan mata Jio sekalipun. Saat sudah benar sampai di
depan Michael, Jia berhenti. Barulah ia berani mendongak, menatap sepasang mata Daddy nya yang
di penuhi dengan kilatan emosi.
“Maafkan Jia, Daddy!” lirihnya penuh rasa bersalah. “Jia mohon jangan hukum Xiaoli untuk
kesalahan Jia sekarang…” ucap Jia dengan penuh harap.
“Per…gi!” jawab Michael lirih dan melandai, seolah menghiraukan permohonan putrinya. Meski landai nyatanya itu adalah nada paling mengerikan untuk Jia.
Jia melirik Kakaknya seolah meminta bantuan sang Kakak seperti biasanya. Namun yang di
tatap hanya bisa diam membisu. Karena seorang perempuan Xavier memasuki Mess
bodyguard adalah sesuatu yang tidak pernah diizinkan. Apapun alasannya. Jio tau akan hal itu.
Akhirnya Jia hanya bisa kembali menunduk dan melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Wajah
Nona muda Xavier kembali terlihat lesu setelah tadi sempat cerah karena pertemuannya
dengan Xiaoli.
__ADS_1
Sementara Xiaoli, saat mendengar suara Michael pertama kali, sudah langsung merasa diri
menjadi bodyguard paling bodoh yang pernah ada. Bagaimana tidak, sudah tau diri
dalam bahaya, justru tak segera meminta Nona mudanya untuk keluar.
Dan kini bahaya tidak hanya untuk dirinya, melainkan untuk semua bodyguard. Bahkan
seluruh keluarga Xavier mungkin akan terkena imbas dari apa yang terjadi.
Dengan menunduk, Xiaoli melangkah keluar dari dalam kamar nya. Ia sangat takut
menghadap Tuan besar Xavier tentu saja. Tapi ia akan di sebut sebagai pengecut
atau pecundang jika tak berani muncul di hadapan Tuan besar Xavier.
Kini tubuh yang belum sepenuhnya sembuh itu berdiri di depan kamarnya. Menghadap ke sisi
kanan dimana Michael tampak masih kembang kempis menahan ledakan emosi di dalam
dada.
Sorot mata Sang Mafia lurus mengarah pada dirinya yang kini seperti tawanan yang hendak di
gantung di tiang nasab. Dengan mengumpulkan nyawanya, kini Xiaoli melangkah
maju. Apapun yang terjadia ia harus tetap menghadap sang Tuan besar Xavier.
Demi kembali memohon ampunan atas keteledorannya yang berulang. Namun kali ini benar - benar di luar pengetahuannya.
“Jelaskan untuk apa putriku menemui mu?” Michael menyambut Xiaoli dengan pertanyaan yang juga
di dengar oleh semua anggota bodyguard yang sudah terlanjur mengumpul di area tangga.
Xiaoli menunduk hormat sebelum menjawab pertanyaan dari Tuannya. Kemudian bediri tegak
dengan sikap gentle man yang ia miliki.
“Nona Jia hanya ingin meminta maaf kepada saya, Tuan.” Jawab Xiaoli apa adanya. "Tidak lebih."
“Tidak, Tuan,” jawab Xiaoli cepat dan tegas, “hanya saja saya tidak pernah merasa Nona Jia
mempunyai kesalahan kepada saya. Jadi seharusnya Nona Jia memang tidak perlu
meminta maaf. Apalagi mendatangi saya di tempat ini.”
Michael menatap dalam dan tajam pada Xiaoli yang masih berdiri tegak menghadap dirinya. Seolah
tak sedikitpun ia takut jika seandainya Michael menjatuhi hukuman untuk yang
kesekian kali.
“Saya siap menerima hukuman apapun dari Tuan Besar Michael!” lanjut Xiaoli saat merasa Tuannya tak
ingin menanggapi pejelasannya.
Michael menarik nafas panjang, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Menatap
satu persatu wajah anak buahnya yang langsung menunduk begitu sorot matanya
sampai di mata mereka.
“Dengarkan aku, semua!” seru Tuan besar Xavier dengan suara dinginnya yang khas.
“Siap, Tuan!” jawab seluruh anak buah Klan Black Hold.
“Sekali lagi kejadian ini terulang, aku akan menganggap kalian semua berkhianat!” ujar Michael
dengan suara yang lantang. “Dan kalian tau aku tidak pernah mengampuni seorang
pengkhianat!” lanjutnya dengan sorot mata iblis yang ia miliki.
__ADS_1
“Baik, Tuan!” jawab semua secara serentak.
"Maafkan saya, Tuan." imbuh Xiaoli kembali menundukkan kepalanya lebih dalam.
Membuang nafas panjang,"siapapun yang berani menentang kebijakan ku adalah kesalahan besar!"
***
Jika ada Jia yang ternyata masih mencoba menguping pembicaraan sang Ayah melalui pintu
keluar Mess, maka ada Jio yang sedang di landa rasa gundah.
Bagaimana tidak, ia memiliki janji untuk menemui Virginia di salah satu mall yang sudah
di janjikan. Hadiah sudah di tangan, kalimat sudah tersusun rapi di dalam
kepalanya. Namun hingga jarum kecil jam tangannya melewati angka enam, sang Daddy masih memberikan ceramah pada para anak buahnya di Mess bodyguard.
Waktu yang seharusnya hanya untuk menjenguk Xiaoli, kini justru menjadi sesi interogasi para bodyguard. Semua gara - gara Jia yang memasuki mess bodyguard tanpa izin sang Ayah terlebih dahulu.
Sedari tadi pemuda itu hanya bisa melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia pun sesekali membuka ponselnya untuk melihat pesan dari Virginia. Namun tak ada pesan lagi, setelah terakhir kali Virginia mengabari jika ia sudah berada di dalam mobil sport jenis Lamborghini berwarna hijau sekitar satu jam lalu.
Hati sang Tuan muda benar - benar resah. Sementara pesan yang ia kirim untuk Virginia semua hanya bercentang satu. Yang artinya ponsel atau aplikasi chat gadis itu sedang dalam keadaan off. Semakin waktu berjalan, semakin tidak tenang hati Tuan Muda.
"Jio! ikut Daddy!" titah Michael sembari berdiri dari kursi kayu yang ia duduki sejak musyawarah di mulai.
"Kemana, Dad?" tanya Jio menatap punggung Daddy nya yang meninggalkan ruang depan Mess.
"Menemui Jia dan Mommy!" jawabnya pada sang putra yang ia ketahui tak berucap sekalipun sejak tadi, kecuali atas perintahnya.
Sama seperti Jio, Gerald pun sebenarnya sudah lelah, tapi ia tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sang Ayah. Akhirnya dua Tuan Muda hanya bisa saling lirik dan menghela nafas berat.
Kini ketiganya meninggalkan Mess bodyguard, dan kembali menuju Istana Michael untuk menginterogasi Jia yang juga baru saja meninggalkan mess dengan tenang. Karena ia tak mendengar Xiaoli di hukum berat akan masalah ini. Hanya sebatas omelan Tuan besar saja yang ia dengar.
"Dad, Jio ada urusan. Bisa tidak Jio tidak perlu ikut?" tanya Jio penuh harap sembari berjalan memasuki Istana milik sang Ayah.
"Sebagai putra mahkota keluarga Xavier, kamu wajib ikut, Jio!" jawab Michael datar tak ingin lagi di bantah.
Jio menunduk dalam. Tak ingin membantah, tapi hati dan pikiran sesungguhnya sudah tak ada lagi di lingkungan keluarga Xavier. Melainkan ikut serta kemanapun Virgnia sekarang berada.
"Kalau Gerald?" tanya Gerald antusias dengan senyum mengembang.
Seolah mengejek sang Kakak yang sedang terjebak di dalam masalah yang di buat kembarannya. Merasa diri bukanlah putra mahkota, artinya ia tak wajib untuk hadir, bukan?
"Selama di belakang namamu ada nama Daddy, kau wajib hadir!" jawab Michael tanpa enoleh ke belakang.
Seketika Jio mengulum bibirnya yang ingin menertawai sang adik. Namun sebisa mungkin ia tahan, karena sang Daddy sedang dalam mode serius.
Sementara Gerald, seketika mendelik tak percaya begitu mendengar jawaban sang Ayah. Senyum kemenangan tumbang begitu saja.
"Jack! panggil Jia ke ruang kerja ku!"
"Baik, Tuan!" jawab Jack yang sedari tadi mengikuti langkah para majikannya.
"Tunggu Daddy, di ruang kerja!" perintah Michael pada kedua putranya.
Menghela nafas bersamaan, "ya, Daddy!" jawab keduanya bersamaan.
***
Duduk di kursi kerja miliknya, Jio hanya terus fokus pada ponsel sembari menunggu ekdatangan sang Ayah yang menjemput Mommynya.
Hanya satu yang ia tunggu, kabar Virginia. Sementara ponsel gadis itu semakin tidak dapat di hubungi sama sekali. Akhirnya terpakksa ia melacak ponsel Virginia. Ia buka laptop di meja kerjanya. Jika perlu ia menghack ponsel Virginia.
Dan saat proses itu berlangsung, seluruh keluarganya telah berumpul di ruang kerja. Dan entahlah bagaimana hasil dari pelcakannya.
***
Sementara itu, masih di kota yang sama, namun di tempat yang berbeda, seorang gadis cantik dengan rambut pirang keemasannya tengah duduk di salah satu kursi bioskop sejak lebih dari satu jam yang lalu.
Di sampingnya ada seorang pemuda tampan yang sedari tadi mencoba untuk mencuri kesempatan. Entah itu mencium atau sekedar memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Stop it!"
...🪴 Happy Reading 🪴...