
Berjalan berdua meninggalkan area taman, pandangan mata Jio terus saja di perlihatkan dengan pasangan muda - mudi yang mengumbar kemesraan.
Dari pelukan biasa sampai berciuman panas dan intim di titik - titik tertentu yang ada di area taman.
Sebagai lelaki normal, Jio pun memiliki hasrat untuk melakukan hal yang sama dengan sang kekasih. Siapa yang bisa menahan hasrat naluriah yang terkadang sulit untuk di bendung.
Begitu juga dengan yang di rasakan oleh Virginia. Sebagai gadis normal, ia pun ingin merasakan di peluk dan di cium sedemikian posesif oleh sang kekasih. Namun sebagai seorang perempuan, tentu ia malu dan ragu untuk melakukan semua itu duluan.
Dan langkah semakin dekat dengan area parkir yang tidak terlalu banyak muda mudi yang melintas. Hanya mereka yang sedang parkir, ataupun mereka yang hendak keluar seperti mereka.
Jio membuka pintu penumpang untuk sang gadis. Mempersilahkan gadis kesayangannya untuk memasuki kuda besi miliknya. Dan saat Jia sudah duduk di kursi. Jio ikut memasukkan kepalanya untuk memakaikan seat belt sang kekasih. Hal kecil namun sangat menyentuh hati sang wanita.
Namun sebelum itu, ia daratkan sebuah kecupan di bibir ranum Virginia.
"Imbalan!" celetuk Jio bercanda yang di sertai dengan sebuah... cekikikan.
Namun siapa sangka kecupan darinya di balas dengan lebih khidmat oleh sang kekasih.
Kedua tangan Virginia langsung mengunci leher belakang Jio. Hasrat sudah timbul sebelumnya, kini semakin terbakar. Tak ingin mengecewakan sang kekasih, tentu JIo membalas dengan sesuatu yang lebih besar.
Virginia memejamkan matanya dalam, berharap mendapat perlakuan yang jauh lebih romantis. Sehingga bibir dan lidah tak ragu untuk semakin aktif menikmati bibir ranum sang kekasih.
Sejak tadi di suguhi pemandangan liar, membuat hasrat kelakiannya Jio pun mendadak ikut liar. Bahkan mungkin ia lupa akan pesan Ibunya untuk tidak melampaui batas.
Gagal memakaikan sabuk pengaman, Jio justru mengubah posisi jok menjadi rebah. Dan dengan perlahan tubuhnya pun ikut masuk ke dalam pintu penumpang. Menyisakan kaki kiri yang menyangga pintu agar tidak tertutup sempurna.
Hilang sudah akal sehat saat itu. Karena terbawa oleh suasana syahdu yang romantis dan menghanyutkan.
Bibir dan lidah Jio aktif untuk menikmati bibir ranum yang sesekali mengeluarkan ******* - ******* kecil. ******* kecil itulah yang membuat tangan Jio tertarik untuk beraksi.
Tangan kiri menjadi penyangga tubuhnya di sandaran yang di pakai Virginia. Sedangkan tangan kanan mulai aktif membelai rambut panjang sang kekasih. Hingga masuk ke sela - sela leher. Menyentuh dengan sangat lembut dan mendebarkan.
Puas membelai helaian rambut, tangan sang Tuan Muda mulai merayap turun melalui lengan. Berakhir pada pinggang ramping sang kekasih. Di usapnya dengan lembut pinggang rampage yang membuat suhu tubuh Virginia semakin terasa panas di dalam sana. Namun anehnya semua terasa... indah.
Bibir Jio mulai turun, mengecupi leher yang harumnya tiada tara. Ia kecup setiap inchi dari bagian kulit leher sang kekasih, membuat tubuh sintal itu menggeliat kecil, dengan nafas yang semakin sulit untuk ia atur. Virginia menengadahkan kepala ke atas dengan sepasang mata yang masih tertutup, dan hanya sesekali terbuka sipit. Lalu kembali menutup.
Memberikan akses pda Jio untuk bisa mengeksplore lehernya dengan lebih bebas dan intim. Siapa sangka, apa yang di lakukan Jio memberi efek luar biasa pada tubuh gadis menjelang 19 tahun itu.
Saat kepala Jio meringsek di tekuk lehernya, maka Virginia meraih rambut sang Tuan Muda untuk di remas. Betapa semua terasa sangat aneh, namun sangat tidak ingin ia tolak.
__ADS_1
Merasa suasana semakin panas. Kaki Jio masuk ke dalam, dan pintu tertutup rapat. Jio berpaling sekilas untuk menyalakan mesin mobil dan AC agar tidak pengap. Lalu pada sang kekasih yang sudah menunggu untuk kembali di jamah.
Untuk sekilas, keduanya hanya saling tatap, dan hanyut dalam tatapan yang di sertai dengan gemuruh di dalam dada. Bagiamana detak jantung mereka terasa begitu kencang.
Dan saat Jio mendekatkan kembali wajahnya, Virginia reflek memejamkan matanya dalam. Dan Jio kembali mendaratkan kecupan dan ******* di bibir sang gadis. Hingga beberapa kali lidah mereka menari bersama. Dan hasrat kembali terbakar.
Bibir Jio kembali turun ke leher sang gadis. Mengeksplor dengan ujung lidah di beberapa titik. Tangan pun mulai bergerak nakal. Merayap di pinggang sang gadis, dan naik melalu jalan depan. Ya, dan tangan kanan Jio bertemu dengan gundukan yang selalu terasa aneh di perutnya ketika mereka berpelukan.
Tangan Jio merayap melintas, dan diam tepat pada gunduKan tersebut. Tanpa melakukan apapun, tangan Jio hanya diam di tempat, seolah mengukur sebesar apa isinya.
Merasa tangan sang kekasih ada di dadanya, nafas Virginia semakin menggebu tak karuan. Maklum, bagian itu tk pernah di sentuh oleh siapapun selain dirinya. Dan kini lelaki yang ia cintai tengah merayap untuk pertama kali di bagian itu.
Ia rengkuh tubuh Jio semakin kuat. Ia sama sekali tidak memberontak, kalaupun seandainya tangan itu masuk ke dalam bajunya sekalipun. Ia sama sekali tidak menolak sentuhan seperti apapun yang di lakukan Jio.
Nafas Jio terengah, tubuhnya bereaksi dengan sangat cepat. Hasrat terus saja memintanya untuk meremas benda yang belum pernah ia sentuh seumur hidup itu. Jio menghentikan aksi bibir dan lidahnya. Diam untuk memberi jarak satu senti meter. Dengan dada bergemuruh dan deru nafas tak teratur, Jio berkata lirih.
"Bolehkah aku menyentuhnya?" suara Jio terdengar sangat berat. Karena memang ada sesuatu yang sulit untuk ia tahan.
Virginia mengangguk lemah tanpa bisa menolak, karena ia pun penasaran seperti apa rasanya ketika benda itu di sentuh oleh lelaki yang ia cintai.
Merasa mendapatkan izin dari sang kekasih, dengan sangat pelan Jio menekan benda kenyal itu, dan apa yang terjadi pada tubuhnya sungguh tak bisa di ungkapkan lagi. Meski hanya menyentuh dari luar, dimana terhalang oleh br* dan juga baju yang sedang di kenakan sang kekasih.
Virginia memejamkan matanya semakin dalam saat mulai merasakan tangan Jio bergerak pelan dan lembut.
Virginia membuka matanya, saat merasakan tangan Jio berhenti bergerak, dan justru merapikan bajunya. Menatap heran pada Jio yang ia kira akan memasukkan tangan ke dalam bajunya, untuk kemudian... Ya.., seperti apa yang terlihat di dalam film - film dewasa.
Wajah Jio jelas memperlihatkan jika pemuda itu menekan sesuatu yang ada di dalam tubuhnya. Yaitu hasrat yang sudah menggebu ingin di lepaskan.
"Ini terlalu indah untuk di teruskan, Baby..." lirih Jio menatap lekat sepasang mata sang kekasih.
"Maksud kamu?" tanya Virginia tak paham.
"Tidak sekarang, dan tidak di tempat seperti ini. Suatu saat, di saat kamu dan aku siap untuk melangkah lebih jauh. Menjalani hari berdua, untuk selama - lamanya.
Virginia tersenyum kaku. tak menyangka Jio akan berhenti di saat dirinya pun sudah hanyut dan ingin mencoba sesuatu yang kata teman - temannya sangat... indah. Bagai terbang menembus cakrawala.
Virginia membelai wajah tapan yang masih ada di atasnya. Mengusap rahang tegas dan bibir tipis dengan sangat lembut dan pelan. Lalu ia kecup bibir tipis sang pangeran.
"Aku mencintaimu, Jio..."
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, Baby..." balas Jio dengan sangat dalam.
***
Udara dingin menyeruak di atas bukit Fields of Pealand. Di mana di atas sana, ada sepasang muda mudi yang abru saja turun dari mobil
Datang tanpa perencanaan ke bukit yang terkenal sangat dingin, apa lagi saat malam tiba, membuat tubuh Jia menggigil kedinginan. Tubuh sintal itu hanya di balut gaun pesta dan lengan tipis. tanpa membawa jaket ataupun long coat.
Namun yang membawanya untuk datang ke tempat itu adalah seorang pemuda yang bertanggung jawab. Belum selesai ia berucap, Xiaoli sudah melepas jaket hitamnya dan memakaikan pada Jia. Sementara dia sendiri memakai sweater hitam lengan panjang.
Ya, serba hitam adalah baju khas yanag harus di kenakan oleh bodyguard. Sehingga tidak salah jika jaket dan baju pemuda itu serba hitam di jam kerja.
Jantung bagaikan di pompa, ketika sorot mata mereka saling bertemu di jarak yang sangat dekat dan tidak ad yang mengganggu lagi, selain kendaraan yang lewat.
Jia menunduk, ketika ia tak sanggup lagi melihat betapa tampan wajah Xiaoli Chen dari jarak yang sangat dekat seperti ini.
Sadar jika Jia salah tingkah, cepat Xiaoli menyingkir dari hadapan sang gadis. Mengubah posisi menatap bawah bukit yang di penuhi dengan lampu - lampu kota yang sangat indah.
"Lihatlah, Nona... tempat ini sangat indah, bukan?" tanya Xiaoli membuat Jia kembali mengangkat kepalanya dan menoleh Xiaoli untuk mengikuti arah pandang sang lelaki.
"Oh, My God! ini sangat cantik!" gumam Jia menatap tak percaya pada apa yang ada di depan mata. Ia sampai maju dua langkah dan mendekati tebing. "Dari mana kamu bisa tau ada tempat seindah ini di sini, Xiaoli?" tanya Jia tanpa mengalihkan pandangannya.
"Saya pernah mengantarkan salah satu bodyguard yang sakit parah. Rumahnya masih jauh di atas sana!" Xiaoli menunjuk atas bukit yang lebih tinggi. "Nona menyukainya?" tanya Xiaoli.
Jia mengangguk pelan, kemudian menoleh Xiaoli Chen di belakang dan berkata, "bisa tidak kamu tidak memanggil ku Nona jika kita hanya berdua?" pinta Jia menatap lekat wajah tampan di sampingnya.
"Apa itu tidak lancang, Nona?" tanya Xiaoli tanpa melihat Jia. Ia tau sedang di tatap sangat lekat oleh sang gadis.
"Aku yang meminta, setidaknya ketika kit hanya berdua." jawab Jia kembali menatap ke arah depan.
"Kalau saya memanggil Nona dengan sebutan... Sayang... apa boleh?" tanya Xiaoli menatap lekat punggung Jia yang berdiri membelakangi dirinya.
Jia terpaku ketika mendengar Xiaoli berkata demikian. Yang mana sebutan itu mampu membuat hatinya membeku. Tidak bisa menjawab, Jia hanya diam dengan deru nafas yang tidaka karuan. Sorot mata yang semula mengagumi pemandangan di bawah, kini menatap kosong ke bawah sana.
Xiaoli melangkah maju, satu langkah Xiaoli sudah membuat sang bodyguard berada tepat di punggung Jia. Dan itu semakin menambah debaran yang tak karuan di dalam dada sang Nona muda.
"Kamu ingin tau... kenapa aku cemburu?" tanya Xiaoli sudah menghilangkan semua kalimat formal yang biasa di gunakan untuk bicara dengan keluarga Xavier.
Nafas Jia semakin tidak karuan. Ia akan mendengar alasan yang sangat ia nantikan sejak memasuki pesta tadi.
__ADS_1
"Itu karena aku mencintaimu, Jia..." bisik Xiaoli tepat di telinga Jia yang membeku.
...🪴 Bersambung... 🪴...