SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 273


__ADS_3

Jam kuliah untuk Virginia telah berakhir. Sang calon dokter di minta untuk mendatangi ruang dosen karena ada beberapa hal yang harus di informasikan atas permintaan keluarga Brown.


Selesai menghadap dosen yang akan membimbingnya mengejar materi tertinggal, sekaligus mengingat ilmu yang ikut terlupakan, kini sang gadis berdiri di depan pintu ruang guru dengan membawa beberapa buku di lengan kirinya.


Sedang di tangan kanannya ada ponsel yang siap ia gunakan untuk menghubungi sang sahabat terdekatnya, yaitu Flo.


Dalam saluran telepon...


"Kamu dimana?" tanya Virginia.


"Di kantin yang berada di dekat Fakultas!" jawab sang sahabat di sebrang.


"OK! Aku kesana sekarang!"


"Ya!"


Dan panggilan singkat itu berakhir dengan Virginia yang mulai melangkah menuju kantin dekat kampus. Itu artinya kampus untuk mereka dengan kalangan menengah kebawah. Karena memiliki harga makanan yang lebih bersahabat di kantong.


Meski demikian tak sedikit anak orang kaya yang ikut makan di tempat itu. Meski sebagian menganggap makanan di tempat itu di anggap tidak layak atau olahan masakannya tidak seenak makanan di kantin kelas atas. Salah satu dari mereka adalah putra mahkota dari keluarga terkaya di Italia.


Langkah kaki Virginia telah sampai di kantin yang belum pernah ia masuki selama ia kembali masuk kuliah itu. Ia berdiri di ujung pintu masuk. Menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Flo yang katanya tengah berada di kantin itu.


"Terjatuh..."


Suara seseorang terdengar sangat dekat di telinga kiri Virginia, di sertai dengan sebuah amplop yang tersodor ke arahnya.


"Thanks!" Virginia menerima amplop yang di berikan oleh sang Dosen tadi sebelum menoleh pada pemuda yang menyerahkan amplop itu padanya.


"Hemm..." jawab sang pemuda.


Virginia kini menoleh pada sang pemuda. Sesungguhnya sejak awal ia sudah tau siapa pemuda yang menyodorkan amplop itu padanya. Suara itu sering terdengar ketika berusaha untuk memanggil atau bahkan memohon untuk mengajaknya bicara.


"Kamu mengikuti ku?" tanya Virginia sedikit ketus.


"Tidak!" jawab pemuda yang tak lain adalah putra mahkota Klan Black Hold. "Aku sudah terbiasa  makan siang di tempat ini..." jawab Jio dengan berusaha untuk bisa bersikap datar. Meski dalam hati ia sudah tidak sabar, ingin sekali memeluk dan mencium gadis cantik di sisinya.


Virginia menatap Jio dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Seolah sangat tidak asing dengan bau harum yang menyeruak dari tubuh sang pemuda. Tapi sampai detik ia bahkan belum bisa menerima video yang masih tersimpan di ponselnya.


Video yang di ambil di atas brankar pasien sebelum melakukan operasi.

__ADS_1


Merasa Virginia tak lagi ingin mengajaknya untuk berbicara, maka Jio melangkah ke depan begitu saja. Meniggalkan sang kekasih yang kini menatapnya dengan bingung.


Jio duduk di kursi yang pernah ia duduki bersama dengan Nia. Jauh sebelum hari ini tiba.


"Virginia!" seru Flo dari dalam kantin.


Virginia kembali melangkahkan kakinya setelah menemukan posisi sang sahabat. Ia berjalan pelan memasuki area kantin. Dan itu artinya ia melewati meja yang di tempati oleh Jio.


Saat melintas di samping meja yang di tempati Jio, matanya tak bisa untuk tidak menoleh pada meja sekaligus pada beberapa mahasiswa yang sedang duduk di sana. Nafas sang gadis mendadak serasa hilang. Dadanya kembang kempis dengan ingatan yang tiba-tiba bereaksi.


Namun sebisa mungkin ia menahan dirinya untuk tidak merintih kesakitan di tempat umum seperti ini.


Duduk berdampingan dengan Flo, Virginia berulang kali mencuri pandang pada meja di mana Jio duduk bersama Niki dan beberapa mahasiswa lainnya.


"Flo?" panggil Virginia.


"Hemm?"


"Bisa kamu jawab dengan jujur?" tanya Nia dengan suara lirih namun terdengar sangat serius.


"Ya..." jawab Flo. Yakin tak yakin sang gadis harus menjawab demikian.


Seketika Flo terkesiap begitu mendengar pertanyaan Virginia. "Saat kamu sudah siap untuk mengetahui semuanya, aku akan menjawabnya, Virginia..." jawab Flo.


"Tapi aku mau tau sekarang, Flo..." jawab Virginia.


"Tapi..."


"Jawab dengan jujur, Flo! Please!" pinta Virginia memohon. "Di kamar ku ada foto ku bersama ana laki-laki saat aku masih kecil, kata Mommy itu sahabat masa kecilku... Sedang pemuda itu bilang... kami bersahabat sejak kecil..."


"Apa sangat mirip?"


"70% mirip..." lirih Virginia. "Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat dirinya..." lirih sang gadis. "Jawab pertanyaan ku, Flo! Sedekat apa aku dan dia?"


"Kalian... kalian adalah sepasang kekasih..." jawab Flo dengan menatap pilu pada sang sahabat.


Virginia langsung menoleh pada sang sahabat. Menatap lekat dengan nafas yang terengah, seolah tak percaya dengan jawaban Flo.


"Semua Mahasiswa di kampus ini tau, Nia..." jawab Flo dengan raut wajah yang penuh keprihatinan. "Karena saat awal Jio memasuki kampus ini, 90% Mahasiswi di kampus ini tertarik pada sosok Jio yang nyaris sempurna." jelas Flo.

__ADS_1


"Dan mereka semua kecewa, ketika tau jika Jio menjalin hubungan dengan mu... Dna semua gadis berharap bisa menjadi dirimu. Dan sekarang semua gadis seolah mendapat kesempatan untuk mendekati Jio..."


Dada Virginia bergemuruh. Entah apa yang di rasakan oleh sang gadis. Yang jelas ia tidak ingin percaya begitu saja dengan penjelasan Flo. Tapi bukti itu semakin nyata di depan mata.


***


Malam yang di nanti-nantikan oleh Jia telah tiba. Jam 10 malam, kelebat sosok terlihat di jendela kamar Jia. Jia tau siapa yang datang. Maka dengan gerakan cepat yang ia bisa, Jia menunggu pemilik tubuh itu di dekat pintu untuk di kagetkan.


Niat hati ingin mengagetkan sang kekasih, justru ia sendiri yang di buat bingung. Sosok seseorang sudah terlihat, tapi ketika pintu terbuka dari luar, justru tidak ada siapa-siapa di luar sana.


"Siapa yang membuka pintu?" gumam Jia lirih melihat kanan kiri dan juga atas bawah. Namun tidak ada siapapun juga.


"Apa yang anda cari, Nona?"


"****!" umpat Jia reflek, ketika mendengar suara dari dalam kamarnya.


Cepat sang gadis membalikkan, dan tidak salah lagi sudah pasti sang kekasih sudah ada di dalam kamarnya entah dengan cara seperti apa dan bagaimana.


Pembunuh senyap satu ini memang cukup pintar untuk membuat ilmu yang di pelajari sang gadis seolah tidak berguna.


Atau Jia yang terlalu lupa siapa kekasihnya?


"Kamu selalu pintar mengelabui aku!" gerutu Jia hendak meringsek dengan mencubit pinggang sang kekasih.


Namun belum sampai jemari lentik itu tiba di pinggang Xiaoli Chen, sang bodyguard sudah menghilang dari pandangan sang gadis.


"Amore...." panggil Jia setengah merengek.


Jia tau.. beginilah resiko ketika menjalin hubungan dengan seorang pembunuh senyap yang ilmunya jauh lebih tinggi di banding dengan dirinya.


"Kena!" bisik Xiaoli dengan desisan mesra di telinga Jia dengan tangan yang tiba-tiba sudah memeluk Jia dari belakang. Mengunci tubuh dan lengan sang gadis dengan erat.


Wajah tampan sang bodyguard mendarat dengan sangat mulus di ceruk antara pudak dan leher bahkan tanpa terdeteksi oleh Jia.


"Genit..." desis Jia tersenyum dengan wajah yang bersemu merah karena malu sekaligus senang.


Xiaoli melirik pada tempat tidur yang terdapat papan catur yang sudah di tata rapi.


"Apa rencana mu malam ini, Bao Bao?" tanya Xiaoli dengan suara yang terdengar begitu mendayu dan merdu di telinga Jia.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2