
Jio tengah berada di antara kepiluan yang ada di dalam ruang rawat inap VIP, yang mana saat ini hanya ada mereka berdua di dalam sana. Melihat kekasihnya terbaring dengan selang infus yang jarumnya menancap di lengan kiri sang gadis, sudah cukup membuat hati Jio merasa resah. Apalagi sore nanti sang kekasih akan menjalani operasi. Yang artinya kemungkinan besar kenyataan pahit atau tidak akan segera datang.
Menghela nafas berat, "Jika bisa, biarlah aku yang merasakan sakit yang sedang kamu derita, baby..." jawab Jio ketika sang gadis bertanya, ada apa dengan dirinya.
Tersenyum gamang, Jia meraih tangan kekasihnya untuk di genggam lebih erat serta di usap dengan lembut. Di antara senyum itu, ada rasa sakit yang ia simpan. Juga ada senyum tulus yang memang selalu ia pancarkan jika sedang bersama Jio, supaya sang kekasih tidak terlalu khawatir dengan keadaan yang ada.
"Kalau kamu yang sakit, siapa yang akan melindungi aku?" tanya Virginia. "Siapa yang akan membantu Uncle Michael menyelesaikan semua masalah beliau yang seolah tidak ada habisnya."
"Tapi melihat mu sakit adalah hal terberat yang harus kau lalui, Sayang..." jawab Jio dengan lirih.
"Aku tau, aku bisa merasakannya. Kalau kamu juga terluka melihat aku seperti ini. Aku bisa merasakannya." jawab Virginia mendekatkan tangan Jio ke bibir, dan mengecup buku - buku jemari tangan itu dengan mata yang terpejam
"Semua ini pasti akan berlalu. Dan aku akan baik - baik saja. Kita akan kembali bersama setelah aku sembuh. Dan lagi, aku tidak akan pernah melupakan kamu... Aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu selamanya. Sayang." ucap Virginia lagi. Menyakinkan sang kekasih jika semua akan baik - baik saja.
"Tapi bagaimana jika hasilnya nanti berbeda?"
"Bagaimana jika setelah operasi, kamu justru lupa ingatan, lalu kamu melupakan aku, meskipun kamu tidak ingin melupakan aku..."
"Bagiamana jika kamu tidak bisa lagi mengingatku, Baby?"
Tanya Jio dengan nada yang sangat memilukan relung hati siapa saja yang mendengarnya.
"Setidaknya aku tidak lumpuh, dan tidak perlu membuat kamu malu karena memiliki kekasih lumpuh..." jawab Virginia dengan sedikit gurauan.
Jio menggeleng cepat. Meskipun yang di ucapkan Virginia adalah gurauan, tapi di artika oleh Jio sebagai kalimat yang serius. Padahal ia tidak akan pernah malu apapun yang terjadi dengan sang kekasih. Kalaupun Virginia lumpuh, ia akan tetap setia dan tetap menjadikan sang kekasih sebagai satu - satunya gadis yang ia cintai.
"Aku tidak akan pernah malu memiliki kasih yang lumpuh. Aku tidak melihat fisikmu lagi, Baby... bagi ku dengan kamu setia menunggu aku pulang selama tujuh tahun sudah cukup membuat aku yakin jika kamu adalah gadis terbaik untukku!" tegas Jio tak ingin di bantah.
Jio menunduk dan mengecup dahi Virginia yang langsung memejamkan matanya. Merasai betapa dalam dan syahdu kecupan yang di berikan oleh Jio untuk nya.
Kembali memposisikan diri untuk duduk, Jio menatap lekat sang kekasih. Dan sebuah ide muncul di benaknya.
"Kita harus membuat Vidio kebersamaan. Sebagai bukti bahwa kita adalah sepasang kekasih, jika ternyata kamu lupa ingatan." ucap Jio. "Meskipun sangat berharap itu tidak akan pernah terjadi." lanjutnya terdengar sangat pilu.
"Vidio bagaimana?" tanya Virginia.
Jio mengambil ponsel dari dalam saku celana panjang yang ia kenakan. Kemudian memposisikan diri untuk duduk samping kekasih. Setelah menghadapkan kamera ke arah depan. Jio langsung memeluk pundak sang kekasih. Dan mulai berucap.
***
__ADS_1
Jika Jio dan Virginia tengah mengukir kenangan dengan cara membuat sebuah video yang bisa menjadi bukti tak terbantahkan. Maka sang saudara kembar tengah melepas rindu yang sudah menggunung. Semakin bertambah waktu dan semakin bertambah hari tidak bertemu, maka rindu akan semakin terkumpul.
Menumpuk rindu adalah sesuatu yang berat. Apalagi setelah pernah saling merasai bibir satu sama lain. Pernah saling merasai pelukan satu sama lain.
Setelah hampir satu minggu tidak pernah memiliki kesempatan untuk berdua, maka hari ini semua rindu yang terpendam akan mereka ledakkan berdua. Hanya berdua.
Ya... meskipun harus ada pilu di hari itu. Karena bertepatan dengan hari di mana kekasih saudara kembarnya menjalani operasi. Namun tidak menutup kemungkinan bagi keduanya bisa mencuri waktu untuk bersama.
Puas menciumi bibir kekasihnya, dan puas di berikan sebuah ciuman yang hangat oleh sang kekasih untuk menambah semangat menyambut hari itu. Maka kini Jia kembali pada posisi normal nya seseorang duduk di kursi penumpang bagian depan.
Senyum manis belum juga terlepas dari bibir sang gadis, hingga Xiaoli kembali melajukan mobil Jia untuk menuju kampus yang menjadi lokasi pertama yang harus di datangi oleh Jia hari itu.
***
Senyum cerah, sulit di sembunyikan oleh Jia, ketika gadis itu memasuki kampus. Bagaimana tidak. Jika biasanya mobilnya sampai di parkiran dan ia hanya bisa langsung turun dari mobil dan langsung masuk ke kampus.
Maka hari ini ia mendapat kecupan, ciuman, pelukan sekaligus ucapan semangat dari sang kekasih yang akan setia menunggunya di tempat parkir. Hal itulah yang membuat Jia memilih untuk masuk ke kampus di jam yang mepet dengan jam masuk kelasnya.
Demi bisa berlama - lama dengan sang kekasih di dalam mobilnya. Untuk kembali bertemu sekitar dua jam lagi.
"Jia?" sapa Diego yang duduk di bangku depan kelas.
Melihat senyum di bibir Jia, Diego melihat ada yang sedang berbahagia. Maka iapun mengikuti langkah Jia memasuki kelas.
"Hai, Gladys!" sapa Jia pada Gladys. Sahabat yang pada akhirnya tanggal ulang tahunnya menjadi tanggal jadi bagi dirinya dan Xiaoli.
"Hai, Jia!" balas Gladys.
"Kamu terlihat sangat bahagia, Jia..." ucap Diego setelah duduk di bangkunya.
"Oh, ya?" tanya Jia yang tidak menyangka jika dirinya benar - benar terlihat bahagia di mata teman - temannya.
"Iya," jawab Diego. "Kamu punya pacar baru?" tebak Diego ragu. Sebagi pengagum rahasia Jia, tentu laki - laki itu tak mau jika Jia memiliki kekasih.
"Ha?" pekik Jia. "Kalian salah... aku hanya senang, karena tadi pagi Daddy bilang dua minggu lagi hukumanku selesai!" kilah Jia tak ingin hubungannya dengan Xiaoli di ketahui oleh orang lain.
"Tapi... aku lihat sejak kita bertemu pertama kali setelah ulang tahunku, kamu selalu terlihat berbeda, Jia. Seperti ada rasa bahagia yang tidak bisa kamu gambarkan." sahut Gladys.
"Kalian ada - ada saja penerawangannya!" jawab Jia sekenanya. Wajahnya memerah karena salah tingkah. "Aku biasa saja!"
__ADS_1
"Tapi apa yang di ucapkan Gladys memang benar, Jia!" sahut Reena.
Jia menggelengkan kepalanya pelan dengan di iringi senyuman bingung harus menjawab apa lagi.
"Oh, ya! kalian tau?"
"Apa?" tanya Reena dan Gladys bersamaan. Tapi Jia ikut menoleh pada Diego yang sepertinya akan bercerita.
"Setelah acara ulang tahun kamu malam itu, waktu aku pulang, ternyata ban mobil ku pecah!" jawab Diego mengingat momen malam di mana ia harus menginap di hotel.
"What!" pekik tiga gadis bersamaan.
"Bocor?" tanya Gladys yang seketika merasa tidak enak, karena kejadian saat ulang tahunnya.
"Tidak! tapi seperti sengaja ada yang menyobek pakai pisau atau cutter, entahlah! yang jelas dua ban ku pecah dengan cara yang sama." jawab Diego.
"Lalu kamu bagaimana pulangnya?" tanya Reena.
"Malam itu aku memutuskan untuk tidur di hotel, dan baru pulang esoknya setelah supir ku mengganti bannya."
"Jadi mobil mu di derek dulu?"
"Ya iyalah, masa aku dorong ke bengkel!" jawab Diego.
Reena dan Gladys tersenyum kaku mendengar candaan Diego.
"Tapi siapa kira - kira yang menyayat ban mobilmu?" tanya Jia.
"Aku tidak tau, CCTV benar - benar tidak memperlihatkan ada yang melintas di sekitar mobilku."
Jia tertegun mendengar jawaban Diego. Ia mengaitkan dengan hilangnya Xiaoli di tempat tunggu, dan tiba - tiba kekasihnya itu muncul dari area parkir.
' Apa mungkin Xiaoli yang melakukan semua itu? karena dia cemburu melihat aku dan Diego waktu itu berdansa? '
Gumam Jia di dalam hati. Ia sampai harus berfikir keras untuk memutar memori waktu itu.
"Kamu kenapa, Jia?" tanya Reena yang melihat Jia tampak melamun.
"Oh, tidak ada.." jawab Jia sekenanya.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...