
"Kematian cepat rasanya tidak adil untuk seorang pengkhianat!"
Satu kalimat yang keluar dari mulut sang mafia itu membuat seisi ruangan membeku dengan mata yang terbelalak lebar. Terutama Jellow yang baru pertama kali melihat sang Uncle terbakar api amarah di depan mata terhadap seseorang yang di anggap sebagai pengkhianat.
Selama ini ia hanya mendengar dan mendengar dari sang Ayah dan Ibu jika Uncle Michael nya itu tidak akan pernah bisa memaafkan seorang pengkhianat apapun alasan mereka melakukan kesalahan itu.
Pengkhianat tetaplah pengkhianat! Itulah simbol dari kebesaran seorang Michael Xavier memimpin Klan yang sudah turun temurun hingga kini berada di dalam genggaman sang Uncle.
Hanya saja, kali ini yang menyebutkan diri sebagai pengkhianat adalah Xiaoli Chen. Seorang bodyguard yang sudah cukup ia kenal dengan baik. Bahkan pernah ia rayakan ketika sang bodyguard berulang tahun.
Sedangkan Jio, meskipun responnya terlihat santai, dan hanya bola mata yang bergerak, tapi di dalam batinnya ia berharap sang Daddy masih memiliki hati. Karena Jio khawatir akan nasib sang saudara kembar yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.
Frustasi bukanlah hal yang mudah untuk di taklukkan oleh sebagian orang.
Menarik nafas dalam, dan menghelanya penuh dengan rasa bersalah, Xiaoli tentu tidak berani menatap sepasang mata sang mafia yang memercikkan bara aoi meski tak terlihat.
Michael melangkah pelan mendekati Xiaoli Chen yang masih bersimpuh di lantai dengan rasa takut, juga lega karena berani jujur demi sumpah yang pernah ia ucapkan.
Langkah pelan yang di ambil sang mafia adalah langkah dingin yang membuat ruang tengah yang luas itu terasa membeku. Tak ada yang tau apa yang akan ia lakukan, dan tidak ada yang tau seperti apa nasib Xiaoli Chen bahan untuk satu jam ke depan.
Masih hidup kah?
Atau bahkan tinggal nama, hingga mengurai air mata dari sang kekasih yang saat ini tengah mencari bantuan pada sang Ibu yang entah ada di mana.
Suara sepatu mahal Tuan besar yang menapak lantai, bagai hitungan detik demi detik untuk nyawa sang pemuda tercabut dari raganya. Semakin dekat suara langkah, maka nasib buruk sudah pasti semakin dekat dengan sang bodyguard.
' Jia... Jika aku mati di tangan Ayah mu yang tak lain adalah Tuan besar untukku, ketahuilah... aku melakukan ini semua demi kejujuran kita. Demi aku yang tidak lagi ingin menjadi pengkhianat di Klan yang sudah menjadi tempat Ayah ku bernaung selama puluhan tahun demi menghidupi aku dan Ibuku juga adik ku... '
' Bao Bao.... Aku mencintaimu... Mungkin dunia memang tidak memberi tempat untuk kita bisa besama... '
' Jika aku mati hari ini, dari atas langit sana... Aku akan berdoa, supaya kamu menemukan sosok yang lebih baik di banding diriku yang hanya pecundang di balik julukan bodyguard utama! Meski mungkin aku tidak akan sanggup melihat kamu di bahagiakan oleh laki-laki selain aku... '
' I love you, Bao Bao... '
Kata demi kata perpisahan ia sampaikan lirih di dalam hati untuk perempuan yang paling ia cintai setelah sang Ibu. Di mana dia adalah satu-satunya gadis yang berhasil menjungkir balikkan hatinya setelah ia baru pertama kali keluar dari kuil yang sudah membesarkan namanya di negara yang berjuluk negeri tirai bambu.
' Ayah...Ibu... Maafkan aku yang harus pulang karena suatu pengkhianatan. Dan maafkan aku... Jika yang pulang ke rumah nanti hanyalah raga tanpa nyawaku... Aku menyayangi kalian... '
__ADS_1
Satu kalimat untuk kedua orang tua yang sudah merawatnya sejak kecil, sebelum akhirnya ia di kirim ke kuil ketika usia yang masih anak-anak untuk menjadi penerus sang Ayah sebagai bodyguard kepercayaan Klan.
Hingga Xiaoli yang menunduk hormat dengan jantung yang berdebar mulai melihat ujung sepatu Sang Mafia berhenti tepat dua langkah di depannya.
Dan itu membuat jantung siapa saja berdebar semakin kencang. Menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
Menatap dingin, sang mafia bertanya, "Apa kau tidak berpikir terlebih dahulu sebelum memutuskan semua itu?" desis sang mafia dengan wajah emosi yang masih berusaha ia tahan untuk saat ini.
"Maafkan saya, Tuan!" ucap Xiaoli lebih memilih untuk meminta maaf. "Saya tau itu salah, saya tau saya sudah bodoh dengan memilih bersembunyi dari pandangan Tuan besar dan keluarga, juga semua pasukan Klan Black Hold." ucapnya tegas dan serius.
"Saya sadar saya kurang ajar dengan mencintai seseorang yang tidak seharusnya saya gapai..." ucapnya serius.
"Saya ingin mengaku pada Tuan besar sejak awal, tapi saya juga ingin menjaga perasaan Nona muda yang melarang saya jujur, karena..."
"Karena apa?"
"Karena takut saya di hukum seperti pengkhianat yang lain."
Tersenyum sinis, "Jangan membawa nama putri ku untuk menjadikan alasan kenapa kamu memilih berbohong dan mengkhianati ku!" desis sang mafia menatap dingin pada Xiaoli. "Dia baru pulang dari kuil setelah menghabiskan tujuh tahun masa remajanya di sana. Dia belum pernah jatuh cinta!" lanjut sang Mafia.
"Saya tau, Tuan! Saya tidak bermaksud untuk mencari perlindungan pada Nona muda. Saya hanya menyampaikan kenyataan yang ada. Saya tidak bisa menyakiti fisik maupun hati Nona muda walau hanya seujung kuku!" ucap Xiaoli serius.
Tersenyum miring setengah sinis, "Kau tau itu dan kau masih melakukan hal itu?" tanya sang tuan besar dengan aura seperti singa yang lapar.
"Apapun hukuman yang Tuan besar berikan akan saya terima." ucap Xiaoli memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya, menatap penuh hormat pada sang Tuan besar yang menatapnya dengan bengis dan penuh kebencian.
Tersenyum sinis, "Kau memang tidak punya hak untuk melawan ku jika kau bersalah!" desis Michael dengan dada kembang kempis karena marah. "Lihat!" ucap Michael menunjuk Jack dan Dimitri yang duduk berdampingan.
"Mereka adalah bodyguard utama ku! Dia bersama ku sejak usia mereka tak jauh dari usiamu! Dan mereka masih setia bersama ku tanpa mengkhianati ku sedikitpun!" ucap Michael menahan gemuruh kecewa di dalam dadanya.
"Dan kau!" desis Michael memicing tajam. "Kau sudah gadang-gadang dan aku percaya akan menjadi pendamping untuk putraku meneruskan kerajaan ku!" teriak Michael melepaskan semua rasa kecewa yang merajai dadanya.
"Tapi apa yang sudah kau lakukan sebelum semua itu terwujud?" tanya MIchael menurunkan oktaf, tanpa mengurangi ekspresi marahnya.
Xiaoli menunduk sembari memejamkan matanya dalam. Sungguh, ia tidak pernah melakukan pengkhianatan terhadap klan maupun Tuan besarnya. Dalam hatinya ia sudah siap untuk tunduk pada Tuan besar sejak ia di sumpah sedemikian rupa.
Tapi satu kesalahan yang teledor, membuatnya terlihat seperti pesakitan yang siap untuk di tembak mati, atau pun di siksa terlebih dahulu.
__ADS_1
Xiaoli semakin menunduk dalam, menyalahkan takdir cinta yang di gariskan Tuhan untuk nya. Kenapa cinta itu harus berlabuh pada seorang gadis yang sejak awal sudah bisa dipastikan akan sulit untuk ia gapai restu dari keluarganya.
Kenapa harus jatuh pada seorang gadis yang menjadi putri tunggal Tuannya?
Xiaoli membuka jaket kulit hitam yang ia kenakan, mengeluarkan semua senjata yang selalu ia bawa ke mana-mana. Pistol berjenis glock, beberapa pisau kecil yang terselip di saku-saku yang di desain secara khusus. Selain itu, Xiaoli juga mengeluarkan beberapa shuriken dari saku jaket bagian luar.
Senjata khas Jepang yang cukup berguna ketika darurat itu selalu ia bawa kemana-mana, dan selalu berada di saku bagian luar.
Ia meletakkan semua depan tubuhnya satu persatu. Menatanya menjadi berbaris rapi di atas lantai.
"Saya sudah tidak membawa senjata apapun lagi selain anggota tubuh saya, Tuan..." ucap XIaoli. "Silahkan Tuan ingin menghukum saya dengan cara apapun. Saya pun tidak akan keberatan jika Tuan membunuh saya menggunakan senjata-senjata yang saya miliki ini.." ucapnya pilu.
Teramat pilu... Cinta.. siapa yang tak ingin merasakannya?
Namun tidak semua orang bisa seberuntung Jio yang bisa memiliki kekasih dengan sangat mudah untuk bisa mendapatkan restu dari orang tua masing-masing.
Xiaoli terlihat begitu menyedihkan dan lemah. Sungguh, ini bukan lah Xiaoli Chen yang biasanya. Laki-laki itu tak pernah sudi untuk tunduk pada siapapun selain orang yang memang pantas untuk ia patuhi.
Jellow melihat semua itu. Jellow, lelaki yang terkenal sebagai casanova muda itu bisa melihat betapa tulus Xiaoli Chen mencintai sepupunya. Betapa Xiaoli rela mati demi mengakui sebuah kesalahan.
"Berdiri!" desis Michael setelah melepas sebuah tarikan nafas yang panjang.
Tak menunggu lama, sang bodyguard langsung berdiri dengan tegak menghadap sang Mafia.
"Hadapi aku!" ucap Michael. "Jika kau berhasil membuat ku lumpuh, aku menyerahkan putri ku untuk kau nikahi!" ucap Michael tegas.
Kalimat Michael membuat seisi ruangan menahan nafas masing-masing dengan jantung yang berdetak lebih kencang, hingga ke empat penonton reflek berdiri dari sofa masing-masing. Semua tau, jika seorang Michael Xavier tidak pernah main-main dengan kalimatnya.
"Ingat! Kau boleh membawa putri ku, jika kau berhasil membuatku lumpuh!" ulang Michael menekan kata terakhir yang ia ucapkan.
Xiaoli membuka matanya lebar, tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang bos. Mulut nya terbuka hendak berbicara, namun sungguh sulit untuk terucapkan walau satu kata sekalipun.
"Ta..ta..tapi..." Xiaoli tergagap di antara nafas yang tidak teratur. "Ma..ma..mana... mungkin sa..saya bisa melakukan itu, Tuan?" ucap Xiaoli dengan dada yang bergerak naik turun dengan cepat hingga kaki terasa begitu lemas.
Michael tersenyum miring, menatap dengan sebuah cibiran, "Kamu pikir aku menerima penolakan maupun penawaran?" desis sang Mafia.
"Tapi... saya tidak akan bisa melawan Tuan besar!" jawab Xiaoli menatap tak percaya pada Michael, satu-satunya orang yang tak mungin ia lawan papun alasannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kau mati saja!" sahut Michael dengan jemari yang menggenggam erat. "Percuma kau bicara padaku, kalau kau tidak berani berjuang untuk itu!" desis sang Mafia.
...🪴 Bersambung ... 🪴...