
"Dua cecunguk itu tertangkap!" gumam seorang pemuda yang di anggap sebagai bos di dalam suatu organisasi tertentu. "Kalau sampai mereka buka mulut, kita harus bersiap untuk berperang!"
"Mereka berdua memang bodoh!" geram seorang pria berusia jauh lebih tua dari yang di ketahui sebagai bos itu. "Gembleng anak buah mu, agar lebih kuat!"
"Aku tau, Uncle!" jawab pemuda itu.
"Dan ingat! Bukan hanya mereka! Tapi kamu juga harus menambah ilmu mu! Lawanmu setiap hari berlatih, dan tumbuh semakin kuat!"
Tersenyum sinis, "Aku tau, Uncle! Dengan dendam yang aku miliki padanya bertahun - tahun lalu, membuat aku semakin gigih berlatih! Aku ingin mencongkel kedua matanya menggunakan tanganku sendiri!"
Gumamnya menatap lurus ke depan. Satu tangan mengepal erat. Menandakan sang pemuda tengah meremas dendam yang membara.
"Bagus!" puji pria bertubuh besar yang sebagian rambut hitamnya sudah beruban.
"Sebenarnya aku sudah menyiapkan satu rencana jitu untuk menghancurkan Klan Black Hold yang sok berkuasa itu!" desis pemuda tampan, berambut hitam.
"Apa rencanamu?"
Pemuda itu tersenyum sinis, menyimpan arti yang begitu luar biasa. Sulit untuk di tebak, namun dapat di duga. Jika rencana mereka bukanlah rencana yang baik.
Obrolan antara seorang Paman dan Keponakan itu berlangsung di lantai teratas sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Di lihat dari gedungnya saja, bisa di perhitungkan, jika pemiliknya bukan orang sembarangan pula.
***
Beberapa meter lagi, Jio akan sampai di parkiran khusus roda empat di kampusnya. Melangkah tanpa peduli pada Mahasiswi yang mencuri pandang padanya di sepanjang koridor.
Ketampanan seorang Georgio yang menurun dari sang ayah, selalu menjadi magnet tersendiri saat ia berada dimana saja.
Melihat ke arah mobilnya yang terparkir dengan gagahnya, pandangan Jio teralihkan oleh seorang gadis yang ia ketahui sebagai idola sahabat barunya, Nikki.
Gadis berambut keemasan tampak kebingungan di samping mobil Mini Cooper miliknya. Beberapa kali ia terlihat celingak celinguk, seolah mencari seseorang yang mungkin ia kenal untuk meminta bantuan. Berulang kali pula gadis itu menunduk, melihat sisi bawah mobilnya.
Jio berjalan sedikit lebih cepat. Insting mengatakan jika gadis itu butuh pertolongan. Namun di sekitar parkiran saat itu hanya ada beberapa Mahasiswi bergerombol yang justru menatap sinis ke arah gadis berambut keemasan, si pemilik Mini Cooper orange.
Saat Jio melangkah, beberapa gadis yang menatap sinis, mengerenyitkan dahinya pada Jio yamg terlihat seperti pangeran berjalan tanpa pengawalan. Mereka saling berbisik. Pendengaran Jio yang tajam, sedikit banyak dapat mengartikan bisikan mereka.
"Ada yang menyobek ban mobilku..."
Suara lembut nan anggun saat menjawab pertanyaannya, terdengar begitu mendayu di telinga Jio. Meski gadis itu menjawab tanpa melihat dirinya, Jio sama sekali tak keberatan untuk memutuskan tetap mendekat.
Justru dengan sikap gadis itu, cukup menjelaskan jika Mahasiswi seperti ini cukup pemalu. Atau bahkan mungkin ia gadis yang malas berinteraksi dengan lawan jenisnya. Sama seperti dirinya sendiri.
__ADS_1
Langkah demi langkah Jio mengikis jarak keduanya. Semakin dekat jarak, maka desiran aneh semakin terasa di dada Jio. Reflek Jio memegang dadanya. Dimana sebuah kalung berliontin naga menggantung di sana.
Ia genggam liontin naga itu dari luar kaosnya. Seolah ia tengah berada di dekat sang pemberi kalung.
"Boleh aku lihat?" tanya Jio setelah jarak hanya menyisakan dua langkah saja.
"Hemm.." jawab gadis itu mundur dua langkah, tanpa melihat Jio sama sekali. Ia hanya menunduk, melihat ban depan mobilnya sebelah kiri.
Jio menghela nafas berat, saat melihat benda bundar itu jelas baru saja di sobek. "Ini harus menghubungi tukang derek..." gumam Jio
Jio melirik sekilas wajah sang gadis. Sekaligus melihat seperti apa cantiknya idola Nikki itu.
Di saat itulah, tubuh Jio membeku. Terperangah akan siapa yang tengah menunduk melihat ban mobilnya yang sengaja di sobek seseorang.
Darah serasa berhenti mengalir, hingga membuat kakinya serasa lemas seperti jeli. Tapi Georgio tidaklah di ciptakan untuk demikian lemah. Ia tetap berdiri pada sepasang kaki yang kokoh dan tubuh yang tegap.
Sepasang mata menatap lekat paras cantik sang gadis. Wajah yang sangat ia rindukan. Tatapan Jio turun ke tangan si gadis, mencari kepastian yang nyata. Di pergelangan tangan gadis itu, melingkar benda merah yang terakhir ia lihat hampir delapan tahun lalu.
"Nia..." gumamnya tanpa sadar.
Sang gadis tertegun, mengingat panggilan itu. Ia ingat satu - satunya orang yang memanggilnya Nia hanyalah Jio. Sontak gadis itu mendongak ke arah Jio.
Tubuh yang semula terlihat lemas karena bersedih hati, kini Nia ikut membeku, hatinya bergetar hebat saat itu juga. Melihat sosok lelaki yang beberapa tahun terakhir hanya bisa ia tunggu.
Dua pasang mata bersilang tatap dalam satu garis lurus tanpa berkedip. Sama - sama meyakinkan apa yang mereka lihat tidaklah salah.
"Nia.." lirih Jio mengulang.
"Ka..kamu.. Jio?"
Tak langsung menjawab, Jio hanya mengangguk lemah, Jio masih betah menatap lekat Virginia yang menatapnya sendu.
Jio maju satu langkah, bersamaan dengan itu, Virginia juga reflek maju satu langkah, sehingga keduanya kini hanya di pisahkan oleh senti meter saja.
Virginia reflek menyentuh bagian tengah dada Jio. Dada itu berdebar, saat ia mencari benda yang pernah ia pakaikan di sana. Dan ia berhasil menemukan.
Delapan tahun yang tidak sia - sia bagi Nia. Ia menemukan sesuatu yang ia berikan pada Jio hampir delapan tahun lalu. Ia pun masih memakai apa yang ia terima delapan tahun lalu dari sang lelaki.
Air mata menggenang di pelupuknya. Bersiap untuk meluncur bebas. Namun sekuat hati ia menahannya. Ia tak ingin terlihat selemah itu di depan Jio.
Virginia mendorong dada Jio. Tapi bukannya Jio yang terdorong ke belakang. Justru dirinya yang mundur ke belakang. Tidak semudah itu mendorong tubuh Tuan Muda Xavier, Virginia...
"Kenapa kamu baru muncul?" lirih Virginia. "Kamu bilang tujuh tahun, ini sudah hampir delapan tahun, Jio!" ucapnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Aku tau, maafkan aku, Nia..." ucap Jio serius. "Ada sesuatu yang belum bisa aku ceritakan padamu!"
"Tentang keluargamu?" tebak Virginia. "Aku menunggumu, Jio.. Setiap hari aku menunggumu..." lirih Virginia protes.
Obrolan kecil mereka menjadi pusat perhatian para Mahasiswi yang bergerombol. Seolah bertanya - tanya, apa yang terjadi pada keduanya. Apa mungkin mereka saling kenal?
Sementara keduanya kembali saling menatap. Jio dengan tatapan rasa bersalah. Virginia dengan air mata yang hampir tumpah.
Jio mendekat, ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil itu. Tapi ini kampus. Akhirnya ia hanya meraih pergelangan tangan Virginia dan menariknya untuk berjalan ke mobilnya yang terparkir di samping mobil Virginia.
Jio membuka pintu penumpang, dan meminta Virginia untuk masuk. Virginia menatap lekat wajah Jio, seolah tak percaya jika apa yang lihat adalah nyata.
Namun batin masih protes, karena Jio tiba - tiba muncul di kampus. Tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Padahal Jio tau dimana rumahnya.
"Masuklah, Nia.. Kita bicara di dalam. Mahasiswi di sana menatap benci kepadamu..." lirih Jio mendorong pelan tubuh Nia.
Virginia tau, kenapa para Mahasiswi itu menatap sinis dan benci padanya. Akhirnya Virginia masuk ke dalam mobil paling mewah di kampus.
Sementara Jio berputar untuk masuk ke dalam pintu kemudi. Ia sempat mendengar bisik - bisik para Mahasiswi. Seolah tidak terima jika Virginia masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa peduli, Jio memundurkan mobilnya dan membawa sang gadis pergi dari area kampus.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. Tak ada obrolan di dalam sana. Hanya sesekali saling melirik untuk meyakinkan pada rindu, bahwa apa yang di rindukan hati, sudah nyata ada di depan mata.
"Kenapa mereka terlihat membencimu?" tanya Jio tiba - tiba. Saat mobil berhenti tepat di lampu merah persimpangan jalan raya.
"Entahlah... Mereka menganggap aku tengah berusaha merebut kekasih salah satu dari mereka!" lirih Virginia.
"Merebut?" pekik Jio tak percaya. "Memangnya iya?"
"Tentu saja tidak!" jawab Virginia cepat.
Lega hati Sang Tuan muda mendengarnya.
"Aku hanya mengobrol dengannya kemarin, karena dulu laki - laki itu Kakak kelas ku di Junior High School!"
"Ohh..." Jio mengangguk paham.
"Lalu sebenarnya apa ada yang sedang kamu dekati atau berusaha mendekati kamu?" tanya Jio dengan dada bergemuruh.
Rasanya tak siap jika harus mendengar Virginia memiliki kekasih, atau bahkan sekedar pendekatan sekalipun.
"Aku..." lirih Virginia melirik Jio yang sudah kembali mengemudikan mobilnya. Melewati lampu hijau yang baru saja menyala.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...