
Chania menutup buku diary itu lalu menghela nafas panjang. Menatap langit, seolah mencari keberadaan sang Mama dan Papa di sana. Juga saudara kembar yang bahkan tak pernah sekalipun ia lihat.
' Jika benar aku memiliki saudara kembar, dan ia masih hidup. Itu artinya aku tidak sebatang kara. Tapi dimana dia berada? '
Beberapa saat kemudian Chania kembali membuka diary itu, namun saat itu, bersamaan dengan layar ponselnya yang menyala di barengi dengan suara dering panggilan masuk.
Chania reflek menoleh untuk mencari tau siapa yang menelfon dirinya. Dan nama pria yang paling ia cintai muncul di sana untuk meminta panggilan video call. Buru - buru ia mengambil dan menggeser tombol hijau.
Dalam sambungan video call. 📱
Chania : "Hai!"
Michael : "Hello, girl!"
Chania : "Ada apa, Honey? ada sesuatu yang penting?"
Chania melihat Michael yang tengah bersandar di kursi kebesaran sang pemimpin dengan sedikit menggoyangkan kursinya.
Michael : "Tidak, hanya ingin melihat mu."
Chania : "Hah! melihatku?"
Michael : "Yes, Baby!"
Chania tersenyum manis dengan pipi yang merona. Malu sekaligus senang, ketika kembali di hubungi dalm kurun waktu hanya berjarak dua jam dari keberangkatan sang suami ke kantor. Lupa sudah ia dengan apa yang membuatnya pusing.
Chania : "Kangen yaa..?"
Michael : "Emm... tidak juga. Hanya ingin melihat wajah jelek mu saja."
Michael tersenyum mengejek. Padahal dalam hatinya ingin mengucapkan wajah cantikmu. Tapi sang Tuan Muda yang tak pandai mengungkapkan perasaan itu, tak mau semudah itu terlihat seperti budak cinta.
Chania : "Aku jelek?"
Ekspresi Chania mulai kusam, tak secerah beberapa detik sebelum Michael mengatainya jelek.
Michael : "Iya, kamu jelek! Haha."
Michael semakin terkekeh dengan candaannya sendiri. Ia bahkan tak menyadari bahwa saat ini ia seperti bukan seorang Michael Xavier, Bos Mafia berhati iblis.
Chania : "Jelek tapi bikin rindu kan?"
Michael : "Siapa bilang? tidak ada yang merindukan mu."
Wajah yang semula merah merona kini berubah menjadi merah padam. Naik turun dadanya menggambarkan kobaran emosi yang mulai merembet dan siap meledak di dalam dada akibat ejekan sang suami.
Chania : "Dasar kamu jahat! Sok keren! Sok Tampan! Sok Kaya! Padahal kamu buruk rupa! Kamu jelek seperti iblis! MENYEBALKAN!"
Teriak Chania meluapkan kekesalan di dadanya. Kemudian wajah cemberut menjadi akhir dari teriakannya. Tak lama kemudian air mata menetes dari kedua mata lentiknya.
Michael yang semula tertawa oleh teriakan Chania, seketika berubah menjadi shock dan bingung. Ia tak menyangka kalimat candaan bisa membuat Chania menangis dalam hitungan detik.
Michael : "Baby..Baby.. aku hanya bercanda!"
Mana tau dia emosional ibu hamil tidak bisa di ajak bercanda dan bahkan sulit terkontrol.
Eh, lebih tepatnya mana dia tau kalau istrinya sedang hamil.
__ADS_1
Chania : "Mana ada bercanda seperti itu! Mengatai aku jelek dengan wajah mengejek seperti itu!"
Hentak Chania dengan suara meledak - ledak, di sertai suara khas ketika seseorang menangis.
Michael : "Baby... please! just kidding! kamu sangat cantik sejak kamu memelukku tadi pagi."
Berpikir cepat, mencari kata - kata yang bisa di gunakan untuk mengambil hati sang istri. Ia bahkan kini tersenyum semanis mungkin.
Chania : "Bohong! kamu pembohong! aku benci kamu!"
Teriak Chania dengan derai air matanya.
Michael : "Baby..."
Tap!
Tombol merah di tekan sepihak oleh Chania. Ia tak peduli dengan panggilan Michael. Gadis itu justru kini tengah sesenggukan akibat di katai jelek oleh suaminya.
"Huaaa.. Daddy mu bilang Mommy jelek!" ucap Chania mengusap perutnya. "Mommy benci Daddy mu!" gerutu Chania menghentakkan kedua kakinya saking kesalnya.
"Hiks..hiks!"
Sementara di sisi lain rumah Michael, penjaga dan petugas kebersihan taman memandangi arah balkon sejak mendengar Chania teriak - teriak memarahi Michael. Namun mereka tak ada yang berani mendekat lantaran mendengar suara Michael dari panggilan ponsel.
Mereka terlibat saling tatap saat mendengar suara tangisan Chania semakin kencang. Dan samar - samar mendengar ucapan Chania tentang Daddy dan Mommy.
Namun orang-orang itu hanya bisa mengedikkan bahunya. Tidak ada yang berani bertanya, maupun tidak ada yang berani menyimpulkan.
***
🍄 Sebastian Company
Dia baru saja melompat kaget saat istrinya mendadak mematikan video call yang dia ajukan. Membuat layar yang baru saja tergambar wajah sang istri, berubah menjadi gelap.
"Aaahh!! bisa - bisa nya aku salah bicara lagi!" gerutunya menyisir kasar rambutnya berulang kali.
"Kenapa juga dia begitu mudah menangis!"
"Haahh! fvvck!"
Bukan untuk mengumpat istrinya, melainkan mengumpati kebodohannya. Niat menggodanya justru berakhir fatal. Air mata sang istri terlanjur menetes. Dan kini ia di buat pusing tujuh keliling.
"Ahh!"
Resah sudah Tuan Mafia satu itu. Dan untuk pertama kalinya juga ia di landa gelisah macam itu. Pikirannya mulai jauh dari kata jernih.
Mengambil kembali ponsel yang sempat di lempar di atas meja kerja karena Chania menolak panggilan selanjutnya. Setelah itu langsung keluar dari ruangan dengan fasilitas terlengkap yang ada di gedung menjulang tinggi itu.
"Kita pulang!" ucapnya pada Jack yang spontan berdiri saat Tuan mudanya keluar dari balik pintu.
"Baik, Tuan!"
Jack mengikuti langkah Michael yang terkesan begitu cepat dan bahkan setengah berlari. Ia tampak kebingungan dengan sikap bos nya itu. Apa yang membuat sang Tuan muda seperti baru saja mendengar kabar buruk.
Sepanjang perjalanan wajahnya diliputi ketegangan. Beberapa kali tampak berdecih kesal, sambil membuang kasar ponsel tiga mata dengan lambang apel yang di gigit itu. Alasannya tetap sama, sang istri menolak panggilan bahkan kemudian tak dapat tersambung.
"Kau bisa tidak melajukan mobil lebih cepat! kalau tidak bisa minggir! Aku saja yang bawa mobilnya!" amuk Michael pada Dimitri yang berakhir dengan aksi saling lirik antara dirinya dan Jack.
__ADS_1
"Bisa, Tuan!" jawab Dimitri dalam sekejap.
Dan detik berikutnya mobil Limousine, mobil panjang nan mewah itu melaju dengan kecepatan di atas biasanya. Bukan termasuk mobil balap, membuat Dimitri cukup sulit membual mobil menyelip dan menyalip dengan mudah. Namun percayalah, ia sudah bekerja semaksimal mungkin.
Roda mobil berdecit tepat di depan rumah megah Michael. Tanpa menunggu di bukakan pintu oleh Jack, Michael sudah turun dari mobil.
Jack yang sudah berusaha cepat turun dari mobil, nyatanya kalah cepat dari gerakan sang Tuan muda. Dua bola matanya membulat menatap punggung sang bos. Tubuhnya terpaku di sisi mobil yang pintunya bahkan belum tertutup.
"Kenapa dengan Tuan muda?" tanya Dimitri dari balik kemudi.
"Entahlah, pasti ada hubungannya dengan Nyonya muda." jawab Jack menutup pintu limousine yang di tinggalkan Michael.
***
Sepasang kaki Michael Xavier memijak kuat anak tangga yang berjajar rapi. Beberapa kali tampak meloncati anak tangga untuk mempercepat langkahnya.
Cit!
Sepasang sepatu mahal berdecit tepat di depan pintu kamar utama yang berlapis emas. Pintu termegah yang ada di dalam rumah dengan puluhan kamar tidur itu.
"Chania di dalam?" tanya Michael tanpa menoleh pada dua penjaga.
"Iya, Tuan muda."
Michael menyentuhkan jarinya pada finger lock.
Clek! clek!
"Kenapa tidak bisa di buka!" gumam Michael berulang kali mencoba menyentuhkan jari telunjuknya secara bergantian, dan mencoba membuka pintu. Namun berulang kali gagal.
"Ada apa, Tuan?" tanya seorang pengawal.
"Kalian buta!" bentak Michael.
"Maaf, Tuan!" jawabnya kemudian.
"Mungkin di kunci Nona dari dalam, Tuan."
"Sh!**!" umpat Michael memukul pintu kamarnya.
Gusar sudah sang Tuan Mafia. Ia gelengkan kepalanya resah. Mondar - mandir di depan pintu kamarnya sendiri, dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
TOK TOK TOK TOK TOK TOK!!!
Ketukan berulang di lakukan Michael dengan cara yang kasar dan cepat.
"Chania! buka pintunya!" teriak Michael, kemudian menempelkan telinganya pada daun pintu. Pendengarannya yang tajam tak mendengar pergerakan apapun dari dalam.
"Baby! Come on!" teriak Michael namun terdengar pelan seperti memohon. "Buka pintunya.. please! dengarkan dulu aku bicara!"
Prakk! Prang!
Benda jatuh di anak tangga teratas, tepat ketika Michael memanggil Chania dengan sebutan Baby dengan ekspresi gusar dna memohon.
Sontak Michael dan dua penjaga yang terfokus pada pintu menoleh ke arah sumber suara.
"Ma...maaf!" ucap sang pemecah vas bunga berisi mawar asli yang baru saja di gantinya.
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹