
Virginia terus berlari meninggalkan Alex yang sebenarnya juga mengejarnya. Namun lelaki itu kehilangan jejak sang Nona muda Brown.
Virginia terus berlari tanpa arah dan tujuan yang pasti. Namun dalam benak, lebih baik ia keluar dari mall dan menemukan kendaraan umum untuknya pergi meninggalkan Alex yang pasti akan menggila jika berhasil menemukan dirinya.
Sedari tadi ia sudah berharap agar Jio lekas datang, namun nyatanya nihil. Sang pemuda tak kunjung datang. Sementara ponselnya mati kehabisan baterai sejak pertama kali memasuki area mall. Kini gadis malang itu hanya bisa berlari untuk bisa segera sampai di pintu keluar mall, dan pulang.
Di sisi lain mall, ada Nikki yang berada di lantai lima. Sedari tadi ia sudah menyisir semua lantai satu persatu. Tapi tak kunjung menemukan keberadaan Virginia. Karena memang yang di cari pun pasti tengah berjalan atau berkeliling mall.
Dari informasi yang di berikan Jio, Virginia berada di area bioskop. Namun saat ia menyisir seluruh penonton bioskop, ia tak menemukan sosok yang ia cari.
Sungguh, hal memalukan yang ia lakukan secara berulang.
Nikki terus memandang dengan jeli satu persatu anak muda seusianya yang berada di sana. Tanpa memperdulikan pandangan orang di sekitarnya, mengenai dirinya yang bertingkah dan bergaya aneh.
Sampai akhirnya sorot matanya menemukan gadis yang tak asing baginya saat ia berhenti tepat di pagar pembatas. Tentu ia sangat hafal dengan gestur gadis itu.
Ya, Virgnia Brown. Gadis itu ada di lantai dua mall, dan hendak mendekati eskalator yang berjalan turun. Dari raut cemas wajah sang gadis, jelas gadis itu ingin segera meninggalkan mall.
"Virginia!" seru Nikki lirih dengan menajamkan pandangan matanya.
Cepat - cepat ia berjalan ke arah lift untuk bisa lebih cepat sampai di lantai dasar. Dan menemukan Virginia.
Lift yang membawa Nikki mulai berjalan turun. Namun kesal teramat sangat hati Nikki, karena lift harus berhenti terlebih dahulu di lantai tiga. Karena ada yang hendak masuk bersama dirinya yang hanya seorang diri di dalam lift.
Setiap waktu sangat berharga bukan?
Maka Nikki ingin sekali cepat sampai di lantai dasar. Karena bisa jadi Virginia sudah turun menggunakan eskalator atau bahkan mungkin sudah keluar dari pintu utama Mall.
Setiap detik bisa merubah keadaan!
Sama seperti Nikki, rupanya lelaki yang baru masuk lift itu juga buru - buru untuk bisa sampai di lantai dasar. Terlihat dari cara berdirinya yang tidak tenang.
Pemuda dengan penampilannya tak kalah mahal dari penampilan Jio itu pada akhirnya menarik perhatian Nikki yang berdiri di belakang.
' Orang kaya! pakai apapun tetap terlihat kaya! '
Gumam Nikki dalam hati.
Hingga pintu lift terbuka. Dua pemuda berjalan cepat keluar dari lift secara bergantian.
Jika pemuda tadi langsung melesat untuk mendatangi arah ke pintu keluar. Berbeda dengan Nikki yang harus celingak celinguk terlebih dahulu untuk bisa menemukan pintu keluar.
Nikki berhasil menemukan pintu keluar. Bersamaan dengan itu, ia melihat pemuda yang tadi bersamanya di lift sudah berlari keluar mall. Cepat - cepat Nikki ke arah pintu keluar. Ia yakin, Virginia sudah keluar dari Mall.
Jika Nikki tengah berlari mendekati pintu keluar mall, maka di luar mall sudah ada Virginia yang kini lengannya di cengkeram erat oleh Alex. Gadis malang itu tertangkap saat menunggu taksi lewat. Pergerakan Alex cukup cepat rupanya.
"Lepas!" ucap Virginia berusaha sebisa mungkin untuk melepaskan cengkeraman Alex.
"Kamu tidak akan semudah itu lepas dariku, gadis kecil!" desis Alex dengan gigi yang mengerat. "Kamu sudah membuat aku malu di bioskop! apa kamu tidak melihat seperti apa tatapan mereka padaku, hah?"
"Itu karena kesalahan kamu sendiri!" balas Virginia tak kalah sengit. "Dasar laki - laki brengsek!" sembur Virginia tepat di depan wajah Alex.
Sontak beberapa orang yang berada di sekitar melihat ke arah mereka berdua. Namun sayang, semua hanya diam tanpa ingin membantu melepaskan Virginia.
"Beraninya kamu mengatai aku brengsek di tempat seperti ini!" ucap Alex. "Kamu harus membayar rasa maluku!"
"Tidak akan! dasar lelaki tidak tau malu! Lepas!" teriak Virginia semakin keras.
"Awas kamu gadis sialan! lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!"
__ADS_1
Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil berwarna hitam dari sisi kanan mall. Dan langsung berhenti tepat di depan Alex yang mencengkeram lengan Virginia.
"Masuk!" ujar Alex mendorong tubuh Virginia untuk memasuki pintu mobil yang baru saja di buka oleh seseorang yang keluar dari pintu penumpang bagian depan.
"Tidak! lepaskan aku!" Virginia terus memberontak agar tidak sampai kaki atau tubuhnya masuk ke dalam mobil yang sepertinya sudah di pesan oleh Alex.
"Cepat!" seru Alex terus memaksa.
Bersamaan dengan Virgina yang di angkat paksa oleh Alex, datanglah Nikki dari pintu keluar mall. Sepasang mata segera beredar ke seluruh jalanan yang ramai oleh anak muda berlalu lalang. Yang ia lihat hanya ada beberapa orang sedang menatap ke arah yang sama. Namun mereka hanya diam.
Dan mata Nikki reflek mengikuti arah pandang orang - orang itu. Dan barulah pandangannya menangkap Virginia yang di bawa masuk mobil oleh lelaki yang tadi turun menggunakan lift bersamaan dengan dirinya.
"Hey! lepaskan dia!!" teriak Nikki dari jarak sekitar 20 meter.
Cepat - cepat Nikki berlari mendekati Alex dan Virginia yang hampir berhasil masuk ke dalam mobil hitam.
"Lepas!" seru Nikki menarik tubuh Alex.
"Jangan ikut campur!" desis Alex pada Nikki.
Nikki terus saja berusaha menarik tubuh Alex.
Namun sial, seseorang tiba - tiba menarik tubuh Nikki dari belakang. Sehingga Nikki terjengkang ke belakang, dan jatuh di atas lantai trotoar.
"Nikki! tolong aku!" teriak Virginia.
Namun lagi - lagi keberuntungan tak berpihak pada Nona muda Brown. Ia berhasil di bawa masuk ke dalam mobil.
Nikki kembali berdiri, dan lagi - lagi ia mengalami kesialan. Ia terlambat. Mobil hitam yang menculik Virginia telah berhasil meninggalkan Nikki.
"Brengsek!" umpat Nikki merasa gagal menolong gadis yang pernah ia idolakan itu. "Kalian pasti mati! tunggu saja sampai Jio datang!"
Namun siapa sangka keberuntungan datang di detik berikutnya. Mobil Bugatti Divo berwarna biru yang sangat dikenali oleh Nikki, berhenti tepat di depan dirinya yang sedang berteriak mengumpati mobil hitam.
Jio baru hendak turun dari kursinya, pintu baru saja ia buka. Namun Nikki sudah langsung menghampiri dan menginformasikan apa yang terjadi. Cepat - cepat Jio dan Nikki mengejar mobil yang masih sangat di hafal oleh Nikki.
Aksi kejar - kejaran berlangsung di jalanan kota Roma. Mobil sport Jio mengejar mobil hitam berjenis CRV. Tidak sulit memang untuk Jio. Tapi yang menjadi masalah adalah banyaknya kendaraan yang berlalu lalang di malam Friday Night.
"Ayo, Jio! kau harus selamatkan Virginia!" ujar Nikki yang sesungguhnya sangat tegang duduk di kursi penumpang di samping Jio. Yang mana Jio justru terlihat biasa saja dengan manuver yang ia lakukan.
"Jangan takut, mereka bukan tandinganku! Ini hal kecil untuk aku selesaikan seorang diri!" ucap Jio begitu saja, membuat Nikki sontak menoleh padanya.
Nikki yang tak mengetahui dunia hitam keluarga Jio, tentu terperangah dengan kalimat Jio yang seperti orang keceplosan.
"Maksud kamu apa, brother?" tanya Nikki di tengah rasa paniknya yang terlihat dari caranya memegang handle pintu di samping kanannya.
"Bukan apa - apa!" sahut Jio.
Beberapa meter kemudian, mobil Jio berhasil mensejajari mobil hitam. Dan menit berikutnya menabrak mobil paksa mobil hitam, hingga mobil hitam menabrak pohon di tepi jalan.
Sontak Jio dan Nikki turun dari mobil Bugatti. Dan menghadang mobil Alex yang di kemudian seseorang berpakaian hitam.
Jio melawan seorang diri dua pria yang keluar dari bagian depan. Tentu hal mudah bagi seorang Georgio Xavier Sebastian.
"Rupanya anak itu cukup pintar!" gumam Alex dari dalam mobil.
"Dia bukan hanya pintar!" sahut Virginia yang tangannya masih di kunci oleh Alex. "Tapi juga hebat! Lihat saja, anak buah mu tidak akan bertahan lebih dari dua menit!" ejek Virginia.
"DIAM!" sentak Alex merasa tidak terima karana anak buahnya di sepelekan Virginia.
__ADS_1
Namun detik berikutnya, memang hal mengenaskan terjadi. Dimana dua anak buah Alex sudah terkapar dia atas aspal dengan babak belur. Padahal Jio tak menggunakan senjata tajam apapun.
"Hahahaha!" Virginia tertawa culas. ""Sekarang giliran mu yang babak belur, Alex Miguel! Siap - siap aku akan membuat orang tua mu malu mempunyai anak seperti mu!" desis Virginia saat melihat Jio mulai mendekati mobil dengan wajah dingin yang ia pamerkan.
Tanpa menghiraukan ocehan Virginia, Alex membuka pintu sebelum Jio memaksa untuk membukanya. Namun sebelum ia seret Virginia keluar, tak lupa ia keluarkan sebuah senjata api dari balik jaketnya. Barulah ia bawa Virginia keluar dengan menodongkan pistol di pelipis sang gadis.
Virginia memang takut, tapi ia yakin Jio juga memiliki senjata di tubuhnya. Toh, ia sudah pernah mengalami hal lebih gila dari ini.
"Pergi! Atau gadis menyebalkan ini aku tembak!" ujar Alex mengancam Jio yang berdiri 2 meter di depannya.
Jio hanya tersenyum dingin. Dalam benak sang pemuda, ancaman jadul yang sama sekali bukan tandingannya.
"AAAAKKHHH!"
Tanpa di ketahui siapapun, tiba - tiba saja sebuah pisau sudah menancap di pergelangan tangan kiri Alex. Dan seketika itu pistol di tangannya jatuh di atas rerumputan.
Cepat - cepat Virginia melepaskan diri, dan berpindah ke sisi Jio.
"Wow! Keren!" seru Nikki dari tempatnya berdiri.
Jio melangkah mendekati Alex yang terduduk di atas rerumputan dengan memegangi tangannya yang tertancap pisau kecil milik Tuan muda Mafia.
"AAAAKKKH!" teriak Alex lagi saat Jio menarik paksa pisaunya.
"Sekali lagi kau meremehkan aku, dan menggangu Virginia, bukan hanya pisau ini yang menancap di tanganmu!" desis Jio sembari mengusapkan pisau ke baju Alex.
"Dari pada tangan kanan mu kau gunakan untuk menembak ku, lebih baik kau gunakan untuk meminta seseorang datang!"
Jio melenggang meninggalkan Alex yang kesakitan seorang diri. Menarik tangan Virginia untuk masuk ke dalam mobilnya, dan kembali menutup pintu.
"Thanks, Nik! Kau bisa katakan padaku, apapun yang kamu inginkan." ujar Jio yang di sambut dengan senyuman bahagia sang pemuda.
"Apa aku boleh meminta uang?" tanya Nikki.
"Apapun!"
"Kalau aku meminta Virginia?" goda Nikki dengan raut wajah menyebalkan miliknya.
"Maka kau akan menjadi santapan buaya di rumah ku!" jawab Jio dengan entengnya.
Menghela nafas berat, "aku masih mencintai nyawaku!" gumamnya.
"Katakan, apa yang kamu inginkan?" tanya Jio, "uang, paket liburan atau apapun yang kamu mau!"
"Hmm.. Tidak ada! aku tadi hanya bercanda! Kita bersahabat, brother!" ujar Nikki merangkul pundak Jio.
"Kau yakin?"
"Ya, tentu saja!" jawab Nikki yakin. "Hanya saja..."
"Apa?"
"Aku punya satu masalah yang harus kamu bantu untuk menyelesaikannya!"
"Katakan!"
"Kursi ku di tempati Virginia, lalu bagaimana aku akan kembali ke Mall tadi?" seru Nikki sedikit kesal.
Mendengar pernyataan Nikki, seketika Jio tergelak. Efek samping penggunaan mobil sport adalah hanya ada dua bangku.
__ADS_1
...🪴 Happy Reading 🪴...