
Aksi saling todong antara Deborah dan juga seseorang di dalam Limousine Michael terjadi dalam kurun waktu beberapa detik.
Hingga Royce yang bersama Deborah ikut menodongkan senjatanya.
"Kau membuang waktu mu, wanita tua!" ejek pria itu tersenyum sinis.
Tatapan mata Deborah menusuk dan menyebar ke seluruh bagian dalam limousine. Tak ada Michael, juga tak ada Chania. Hanya ada beberapa pria di dalam sana.
"Brengsek!" umpat Deborah. "Dimana pengkhianat itu?" teriak Deborah.
"Hahahaha!" gelak tawa pria di dalam limousine. "Kau tertipu, nenek!" ejeknya.
"Hahahaha!" Deborah ikut tertawa lantang.
"Membunuhmu juga ada untungnya! bukankah kau salah satu bodyguard terhebat Michael?"
"Lakukan saja jika kau bisa!" sahut pria yang tak lain adalah Jack itu tersenyum sinis.
Sontak pengawal lain yang bersama Jack mengarahkan senjata mereka ke arah dimana Deborah dan Royce bersiap menarik pelatuk. Jumlah pasukan di mobil Michael tentu lebih besar dari pada pasukan di mobil Deborah.
"Kita akan mati bersama, Nyonya Arlington!" seru Jack tersenyum sinis.
Jack, bodyguard utama Michael juga memiliki banyak prestasi. Salah satunya menembak. Ia sangat di kenal di telinga musuh.
"Fvck!" umpat Deborah. "Pergi dari sini! kita akan kalah! aku tidak mau mati jika Michael masih hidup!"
"Siap, Nyonya!" jawab supir Deborah.
Mobil Deborah melaju lebih cepat, hingga melewati limousine dan sebuah Jeep di depan limousine.
"Mereka pergi, Tuan!" ucap Jack melalui saluran komunikasi miliknya.
"Aku tau!" jawab Michael. "Kita bertemu di rumah dan selesaikan masalah ini secepatnya!"
"Siap, Tuan!"
"Bagaimana?" tanya Chania menoleh Michael yang mengemudikan sebuah mobil Mercedez benz di tengah jalan raya.
"Wanita itu pergi." jawab Michael setelah mematikan alat komunikasi di telinganya.
"Pergi?"
"Ya, kita pulang sekarang, ya?" ucap Michael.
"Iya!"
Chania sedikit lega, namun juga was - was. Tidak ada yang tau apakah Deborah benar - benar pergi untuk pulang. Ataukah mereka akan bertemu di jalan.
Meskipun ia tengah bersama Michael yang jelas - jelas sulit untuk di kalahkan musuh. Tetap saja ia khawatir. Apalagi hanya sebuah mobil sedan berisi empat pengawal di belakang mereka.
"Sesuai janjiku, aku tak mau kamu berada dalam medan perang! setelah ini aku menyelesaikan masalah dengan wanita brengsek itu!" ucap Michael menatap lembut istrinya yang terlihat gugup.
"Aku hanya takut, jika seandainya tiba - tiba kita bertemu di jalan ini!"
"Tidak mungkin, Baby! kita melewati jalur yang berbeda dengan mereka!" jawab Michael di tengah fokusnya mengemudi. "Percaya padaku!" Michael menggenggam tangan kanan Chania dan melirik sang istri.
Chania mengangguk. Ia yakin Michael tak mungkin membawa ia dan calon bayi kembar mereka dalam bahaya.
Ting! ting! ting! ting! ....
Ponsel Chania berbunyi, sebagai tanda beberapa pesan beruntun masuk.
__ADS_1
Michael melirik dengan dahi yang mengerut. Seolah mencurigai sesuatu. Sedari kemarin ia tak mendengar suara ponsel Chania berbunyi. Sekali berbunyi, seketika firasatnya buruk.
Chani membuka tas sembari mencuri lirikan pada Michael. Ia tau, Michael meliriknya dengan tatapan yang mengintimidasi.
Jemari Chania bergerak membuka kunci layar. Mengerutkan keningnya sesaat kemudian. Membalas pesan yang masuk.
Tak lama kemudian bunyi pesan masuk lagi dari nama yang berbeda. Jemari Chania bergerak lincah di atas layar ponsel bermata tiga itu.
"Siapa?" tanya Michael singkat dengan nada yang dingin.
"E... te..teman kerja!" jawab Chania salah tingkah. Mendengar nada bicara Michael, ia merasa seperti tengah di ancam dengan senjata Glock yang ada di sisi kiri suaminya. Hanya dengan lirikan mata Michael yang tak biasa, tubuhnya seketika merinding.
"Teman kerja?" ulang Michael dengan nada yang dingin.
"I..iya!" jawab Chania kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Namun baru juga masuk tas, ponsel itu berdering. Sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Buru - buru Chania mengambil dan mematikan ponselnya sekalian.
"Kenapa dimatikan?" tanya Michael semakin curiga. Ingin rasanya pria itu merebut ponsel istrinya untuk tau apa yang di sembunyikan sang istri.
"Tidak penting!" jawab Chania kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.
Tak mau ambil pusing dan berdebat lebih panjang, Michael memilih kembali fokus melajukan mobil. Namun kali ini ia melaju dengan kecepatan tiga kali lipat dari sebelumnya.
Meskipun heran, namun Chania tak punya nyali untuk bertanya atau meminta memperlambat laju mobil. Ekspresi di wajah Michael sedikit berubah. Tak semanis sebelum ponselnya berbunyi.
Sebuah rencana yang di susun bersama Jack dan para bodyguard di Venice cukup ampuh untuk siang ini. Mengelabui anak buah Deborah, dan bertukar tempat saat memasuki lorong.
Michael masuk ke dalam mobil Mercedez Benz yang sudah di siapkan di dalam lorong. Untuk mengelabui, mobil Michael melaju tanpa pengawalan. Sampai saat di tengah perjalanan, barulah ada Jeep pengawal yang sudah menunggu kedatangannya.
Mobil Mercedez Benz yang dikemudikan Michael mulai memasuki area taman rumahnya. Terlihat pasukan Michael yang menjemput di Bandara sudah sampai dan tengah menunggu kehadiran sang Tuan muda.
Dua pengawal dengan sigap membuka pintu sisi kanan dan kiri.
"Hemm!" jawab Michael. Terlihat jelas jika wajah tampan itu tengah badmood.
"Iya.." jawab Chania lebih ramah seperti biasanya.
Beberapa maid yang tak paham jika Tuan mudanya sudah menikah terlibat aksi saling lirik. Seolah bertanya, Tuan muda dan Nyonya muda?
Chania berjalan di samping kiri Michael memasuki rumah megah milik Michael. Di ikuti Jack yang selalu setia.
"Jack! siapkan meeting sebentar lagi! di gedung latihan tembak saja!" ucap Michael. "Kumpulkan semua pasukan perang yang ada di sini!"
"Siap, Tuan!" Jack berhenti melangkah dan menunduk hormat. Membiarkan Michael terus berjalan hingga menghilang di balik lift. Barulah Jack kembali keluar dan memberi komando pada pasukan perang yang berada di bawah kepemimpinannya.
***
Pintu kamar yang selalu di jaga dua orang, membuat Chania kembali pada masa empat bulan yang lalu. Dimana ia selalu menyapa mereka yang sedang bertugas.
"Selamat datang kembali, Nyonya muda!"
"Eh... iya!" Chania tertegun, pasalnya pernikahannya dengan Michael belum di dideklarasikan. Tapi bagaimana para pengawal sudah banyak yang tau.
Michael dan Chania memasuki kamar mereka. Jantung Chania berdetak bak sedang genderang yang di tabuh untuk bersiap perang.
Sebuah kamar yang menjadi saksi terenggutnya kesuciannya. Dan kamar yang menjadi saksi dimana benih - benih percintaan berkembang di dalam rahimnya.
"Kamu merindukan kamar kita?" bisik Michael yang sudah bertengger di pundak kiri dengan tangan yang melingkar di perut bagian bawah.
"Emm...." tak bisa menjawab. Chania hanya tersenyum semanis mungkin. Menandakan ia malu untuk menjawab menggunakan sebuah kata iya.
__ADS_1
"Mau mengulang apa yang dulu sering kita lakukan disini?" tanya Michael menggoda.
"Ish! jangan ngawur!" Chania memukul pelan tangan Michael di perutnya. "Kamu kan mau bertemu dengan para anak buah kamu!"
"Baiklah, kalau begitu setelah pertemuan!" ucap Michael kembali menggoda dengan mencium tengkuk leher istrinya.
Seketika wajah Chania merah merona. Merasa malu dengan godaan Michael. Apalagi bibir pria itu menyentuh kulit lehernya dengan begitu lembut.
"Cepat temui mereka! aku mau istirahat!" pungkas Chania salah tingkah.
"Yakin tidak mau mecoba kembali ranjang kita?"
"Nanti! aku mau tidur!" Chania memutus paksa tangan Michael yang mengunci perutnya.
Menghela nafas kasar, "Baiklah, aku juga ingin masalah dengan wanita itu segera berakhir!" gumam Michael.
"Aku yakin kamu pasti mengakhiri dengan baik!"
"Tidak ada akhir yang baik dari sebuah permasalahan kami, Chania!" jawab Michael. "Satu - satunya cara adalah dia atau salah satu dari kita yang mati!"
"What!" pekik Chania membulatkan matanya. "Jadi kamu mau..." tak sanggup lagi berkata - kata.
"Ya! kecuali...."
"Apa?"
"Kecuali saudara kembar kamu di temukan!"
"Tapi dimana dia!" gusar Chania.
"Jangan khawatir! anak buah ku sedang mencari jejaknya!" ucapnya, "Sekarang beri aku ciuman selamat bekerja!" ujar Michael mengedipkan satu matanya.
"Harus?"
"Yes, Baby!"
Tanpa menunggu persetujuan, Michael sudah meraih kembali tubuh istrinya dan melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ciuman hangat namun tidak ingin untuk di teruskan. Karena sadar, puluhan anak buah sedang menunggunya.
"Kamu tidur saja, aku akan segera kembali!"
"Iya, aku mau ke kamar mandi dulu!" jawab Chania.
"Kamu pusing?"
"Sedikit! efek jetlag!"
"Bisa sendiri?"
"Bisa, Honey!" keukeh Chania.
"Ya sudah!"
Michael menatap punggung Chania yang berjalan menuju kamar mandi. Hingga sang istri menghilang di balik pintu.
Michael bergerak, hendak meninggalkan kamarnya. Namun pandangan matanya teralihkan oleh tas Chania yang di letakkan di meja sofa.
Michael terpaku untuk beberapa saat. Ingin rasanya, ia mengambil ponsel Chania. Ia begitu penasaran dengan siapa yang mengubungi istrinya di mobil tadi. Namun kemudian menatap arah pintu kamar mandi.
Dan...
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹