SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 69


__ADS_3

Matahari semakin bergerak naik, Chania masih nyaman bergelung di bawah selimut. Meskipun hanya merebahkan diri sembari memainkan ponselnya. Entah apa yang ia lakukan dengan ponsel kesayangannya. Gulir kanan, gulir kiri, scroll ke bawah scroll ke atas. Namun wajahnya cukup terlihat serius.


Sedangkan Michael berada di meja kerja yang berada di kamarnya. Menghadap laptop karena memutuskan untuk work from home, dan membatalkan semua meeting hari ini.


Perasaan bersalah, menyesal di tambah menyaksikan Chania yang tersiksa saat muntah membuat Michael tidak dapat berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya.


Beberapa kali menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal sebagai tanda ia tengah frustasi berat.


Melirik Chania sekilas di atas ranjang, hendak mengakui semua kesalahan dan memohon ampun. Kemudian berjanji untuk mempertahankan dan memperjuangkan sang istri dari Deborah.


Namun nyalinya mendadak menciut. Ia belum siap jika Chania mengambil keputusan di luar keinginannya. Kembali menatap laptop, menghela nafas dengan gusar.


***


Waktu terus berlalu, Chania bangun dari tidurnya saat matahari hampir sampai di peraduannya.


Michael? entah sedang dimana pria yang sedang pusing itu.


Chania keluar dari kamar, memasuki dapur dan ikut nimbrung dengan beberapa Chef yang bertugas untuk menyiapkan makan malam.


Chania yang tak cukup pintar memasak, memilih untuk celingak - celinguk dan mengajak ngobrol para Chef.


Para Chef yang juga sempat mendengar teriakan Deborah, merasa cukup miris saat melihat Chania secara langsung. Namun mereka tidak tau, jika Chania sendiri pun ikut mendengar.


Tampak canggung untuk beberapa detik, namun berhasil menormalkan diri masing - masing.


"Ini kalian mau buat apa?" tanya Chania menunjuk adonan di dalam mangkok kaca berukuran besar.


"Itu untuk Desert, Nona." jawab Chef yang mengaduk adonan.


"Desert Tuan muda?"


"Yang ini untuk para maid dan penjaga rumah, Nona."


"Oh!" Chania mengangguk. "Kalau aku minta apa tidak boleh?"


"Nona mau? ini hanya desert sederhana, Nona. Desert untuk Nona dan Tuan muda sedang di persiapkan oleh Chef Zerren." menunjuk salah satu Chef di sisi lain.


Menggelengkan kepala, "Aku ingin mencoba desert para maid dan penjaga."


"Baik, Nona. Nanti akan saya siapkan khusus untuk Nona Chania."


# # # # # #


Kekacauan terjadi di istana Michael saat matahari baru saja terbit. Para maid berkeliaran di setiap sudut persembunyian di istana dalam keadaan memaksakan diri untuk sadar sepenuhnya.


Para penjaga dengan tubuh kekarnya berlarian dengan membawa senjata menyusuri setiap sudut terpencil bahkan mengepung luar pagar. Beberapa penjaga sudah keluar dari istana menggunakan mobil patroli.

__ADS_1


Michael dengan segala emosi, kekhawatiran juga penyesalan, dan amarah sepenuh dada, melampiaskan segalanya itu dengan menembak udara dan beberapa benda yang terlihat dari balkon.


"Fvck! Fvck! Fvck!" umpatnya dengan jari telunjuk yang terus menari pelatuk.


"Cari sampai ketemu!" teriak Michael. "Jika tidak ketemu kepala kalian yang akan aku penggal!"


Tatapan membunuh Michael terpancar tanpa ada yang berani melihatnya.


"Chania..." lirihnya.


Buntu sudah pikiran Michael. Ia hanya takut jika Chania di culik oleh Deborah.


"Jack?" panggil Michael pada Jack yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.


"Siap, Tuan!" jawab Jack sigap.


"Ingat! jangan sampai ada yang tau Chania menghilang. Jangan biarkan Deborah tau jika Chania keluar dari rumahku. Tapi jangan lengah untuk memantau mereka secara diam - diam."


"Baik, Tuan!"


"Aku berharap Chania tidak berada di tangan wanita sialan itu!" desisnya dengan gigi yang mengerat.


"Saya juga berharap begitu, Tuan. Saya akan memerintahkan seluruh anak buah untuk melakukan operasi senyap."


"Hemm!" membuang muka.


Jack keluar dari kamar Michael dengan perasaan yang mulai tersentuh. Ia tak menyangka hilangnya Chania bisa membuat sang Tuan muda sedemikian frustasi.


Hampir sepuluh tahun mengabdi menjadi bodyguard sekaligus tangan kanan Michael Xavier, baru kali ini ia melihat Tuannya rapuh karena seorang wanita selain ibunya.


Sudah dua jam seluruh penghuni rumah tersadar dari tidur lelap mereka. Tidur yang tak biasa, karena itu terjadi dalam satu waktu setelah menikmati desert yang di berikan kepada maid dan penjaga yang sedang bertugas. Tak lupa para penjaga yang sedang tidak bertugas di rumah belakang.


Begitu juga dengan Michael yang ikut tertidur setelah di suapi Chania desert yang di bawa dari lantai dasar.


Satu persatu bangun dan sedikit demi sedikit mendapatkan kesadaran masing - masing. Namun belum juga sepenuhnya para maid dan penjaga sadar Michael sudah menebar letusan senjata dari balkon kamarnya.


Mau tak mau, siap tidak siap semua berkumpul di bawah tepat di depan balkon kamar Michael.


Dengan deru nafas menahan kekhawatiran, Michael menjelaskan jika Chania telah menghilang.


Michael semakin yakin saat mendapati koper Chania tak ada di tempat biasanya. Bahkan beberapa blok baju Chania menghilang. Michael semakin bingung saat Chania meninggalkan kartu debit yang ia berikan saat pertama kali masuk ke perusahaannya.


Dan lebih gila lagi, ponsel milik Chania kini berada di genggamannya. Tanpa menyisakan chat dengan siapapun, selain namanya di sana.


"Sepandai itu dirimu mengelabui ku, Baby..." lirih Michael menggenggam ponsel milik Chania. "Maafkan aku..." lanjutnya mengusap layar ponsel Chania yang menunjukkan foto mereka.


Di layar itu, menunjukkan foto keduanya berada di kursi balkon kamar. Tak ada senyum di bibir Michael yang tergambar. Namun senyuman tulus terbit dari bibir Chania yang bermanja di pangkuannya kala itu.

__ADS_1


Mengingat kembali kejadian kemarin, sampai dimana ia mengingat sikap aneh dua penjaga kamarnya.


"Apa mereka tau sesuatu?" gumamnya.


Tak butuh waktu lama ia segera mencari dua penjaga yang kini entah berada dimana. Mereka berdua ikut berpencar mencari sang Nyonya muda.


"Hey kau!" ucap Michael menghentikan seorang pengawal yang baru saja keluar dari pintu penyimpanan senjata di lantai bawah.


"Siap, Tuan!" pengawal itu menunduk setelah melihat sang bos memanggilnya dari ujung tangga.


"Suruh Adam dan Ken menghadap ku sekarang juga!"


"Baik, Tuan!"


Segera pria berusia 35 tahun itu menyambungkan alat komunikasi rahasia yang selalu menempel di telinga pengawal yang sedang bertugas.


Tak butuh waktu lama, nama yang baru saja di sebutkan Michael sudah ada di hadapannya. Tepat di lantai atas istana megah Michael.


"Cepat katakan!" bentak Michael karena dua nama itu sama - sama diam. "Jangan kalian aku tidak mencurigai kalian sedari kemarin."


"Maafkan kami, Tuan muda." ucap mereka serempak.


"Sebenarnya Nona Chania mendengar semua percakapan Tuan muda dan Nyonya Deborah!"


"Fvck!" sahut Michael. "Kenapa kalian diam saja!"


"Nona Chania mengancam kami, akan melompat dari lantai tiga jika kami menghalangi Nona menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya Deborah, ataupun melaporkan apa yang beliau ketahui pada Tuan muda."


"BRENGSEK!"


Brug! brug!


Umpatan Michael di iringi dengan suara kakinya yang menghantam keras perut dua pengawal.


Tanpa bisa melawan, dua pengawal hanya mundur beberapa langkah karena saking kuatnya jejakan kaki seorang Michael Xavier.


"Maafkan kami, Tuan muda." ucap keduanya serempak menahan sakit.


"Mati saja kalian! tidak berguna!" amarah Michael semakin menggebu. Mengetahui ternyata Chania mengetahui semua rahasia yang justru menjadi bom waktu.


Menuruni tangga dengan cepat. Pikirannya mulai di penuhi rasa menyesal. Harusnya kemarin ia mengakui semuanya. Memohon ampun dan memulai semua dari awal.


🪴🪴🪴


Kemana kah Michael akan pergi?


Sebelumnya Othor minta maaf, jika jalan cerita tak sesuai yang reader inginkan. Tapi memang ini adalah alur dari awal.

__ADS_1


Jika merubah narasi takutnya akan membuat ruwet, terlalu panjang dan bertele - tele. Dan akhirnya semua jalan cerita menjadi tidak nyambung. 🙏🙏🙏


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2