SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 251


__ADS_3

Sementara mobil Bugatti Divo warna biru milik Jio membelah keramaian kota Roma, ada Gerald yang sudah di sambut dengan sangat baik dan cantik oleh Chloe yang harus mengeluarkan baju satu lemari untuk menemukan baju yang pas untuk menyambut kedatangan sang Idola sekolah.


Hotpants berbahan jeans di padu dengan sweater crop lengan panjang, menjadi baju yang akhirnya di pilih oleh Chloe. Sangat simple namun Chloe sengaja memakai baju yang tidak terlalu terbuka. Ia khawatir terkesan menggoda sang pemuda.


Toh sejak kecil ia sudah memiliki kecantikan paripurna. Sedikit polesan sudah membuatnya cantik. Namun Chloe tetaplah gadis yang menyukai fashion. Ia suka berdandan. Terbukti dengan koleksi barang atau aksesoris mewahnya di usia yang masih terbilang 14 tahun.


"Hai!" sapa Gerald begitu melihat Chloe yang membuka pintu.


Tatapan Gerald langsung tertuju pada wajah cantik dan baju yang di kenakan sang gadis. Sangat simple namun tetap terlihat begitu seksi di mata lelaki yang melihatnya.


Apalagi kaki jenjang yang putih dan mulus sang gadis terlihat begitu sempurna tanpa penutup sehelai benang pun. Karena hotpants hanya menutupi bokong sampai sedikit ke bawah.


"Hai, Gerald!" balas Chloe dengan senyum manisnya. "Masuk, Gerald!" ucap Chloe dengan membuka pintu rumahnya lebih lebar. Senyum sama sekali tidak lepas dari bibir sang gadis.


"Tunggu! aku bawa sesuatu buat kamu!" Gerald mengangkat paper bag kecil di tangannya sampai depan dada. Dan ia serahkan pada Chloe yang seketika itu melongo melihat paper bag dari Gerald.


Dan saat itulah Chloe merasa semakin di atas awan. Padahal gadis itu belum tau apa isi dari paper bag itu. Tapi apapun yang berasal dari Gerald, apalagi di berikan secara langsung oleh Gerald dia pasti akan menyukainya.


Dan saat ini pun ia menatap paper bag itu dengan mata yang membulat lebar, dan bibir membentuk huruf O besar. Seolah tidak ada lagi yang lebih indah di dunia ini dari sesuatu yang di berikan oleh Gerald untuknya.


"Buat aku?" tanya Chloe seolah masih tak percaya jika Gerald akan datang dengan membawa sesuatu untuknya.


"Ya... siapa lagi? kan aku datang ke rumah kamu."


Dada Chloe bergemuruh, berdetak lebih kencang dari biasanya. Apa yang ia lihat siang itu benar - benar terasa seperti mimpi. Hingga akhirnya sebuah senyuman bahagia terbit dari bibIrnya yang manis. Tangan bergerak untuk menerima paper bag yang di sodorkan oleh Gerald.


Tangan dengan sepuluh jemari lentik itu nyaris bergetar saat hendak menyentuh paper bag. Namun rasa bahagia yang membuncah mendorongnya untuk menerima dengan cepat.


"Terima kasih, Gerald...." ucap Chloe dengan kaki yang tak sabar ingin melompat. Tapi tidak mungkin ia lakukan di depan Gerald, bukan?


"Sama - sama!" balas Gerald dengan seulas senyuman ringan. Ia sama sekali tidak menyangka Chloe akan merespon sedemikian rupa.

__ADS_1


"Masuk, Gerald."


Kali ini Chloe lebih berani untuk merangkul lengan Gerald dan mengajak sang pemuda masuk ke dalam rumah keluarga Robert. Merasa di datangi dengan membawa sesuatu, Chloe seolah menjamin jika Gerald siap untuk bertekuk lutut di hadapannya.


"Ya.."


Dan masuklah sepasang anak muda itu, tapi bukan sebagai sepasang kekasih. Entah hubungan apa yang mereka jalani saat ini. Yang jelas, Gerald hanya melihat Chloe cantik dan layak menjadi kekasihnya di saat waktu yang tepat.


Tapi semua itu masih terasa abu - abu di dalam dada. Meski rasa ingin memiliki Chloe juga ada.


Itu semua tentu tidak lepas dari efek kehadiran Jenia Mezzaluna di dalam kehidupan sang Tuan Muda kecil. Sepertinya gadis itu juga tidak hanya berperan di mata Gerald saja. Tapi juga sampai ke hati, meski dalam skala yang kecil.


Gadis cantik yang tak kalah cantik dari Chloe Patrizia. Hanya saja Chloe memperlihatkan sisi seksi dan feminimnya. Sedangkan Jenia lebih simple dan apa adanya. Dengan begitu kecantikannya terlihat alami tanpa kesan di buat - buat.


Bedanya, jika Chloe seolah menawarkan diri dan membuka pintu rumahnya dengan sangat lebar. Maka Jenia bagai batu karang yang sulit untuk sekedar di sentuh. Jika di tabrak paksa, bisa jadi Gerald sendiri yang akan hancur.


Rumit sudah kisah cinta Gerald Xavier.


Sedangkan Jio saat ini sudah makan siang bersama keluarga Brown. Ia di sambut bak pangeran yang mendatangi seorang puteri, untuk di jadikan permaisurinya.


"Maaf kalau rasanya kurang pas! aku baru belajar pertama kali," ucap Virginia yang duduk berdampingan dengan Jio.


"Apapun yang kamu buat, aku pasti akan menyukainya." jawab Jio apa adanya. Ia menoleh sang kekasih setelah menghabiskan satu piring makan siang yang tadi di ambilkan oleh sang kekasih.


Tersenyum senang, Virginia menatap Jio tatapan penuh cinta dan penuh damba. Seolah tidak ada laki - laki lagi di muka Bumi ini yang lebih sempurna dari sang kekasih.


Sedangkan Tuan besar Brown dan Nyonya, tersenyum melihat anak dan kekasihnya terlihat saling menyayangi dengan tulus.


' Semoga kalian akan terus bersama, apapun hasil dari pengobatan nantinya. '


Batin sang Mama.

__ADS_1


# # # # # #


Meninggalkan hari itu, hari yang di penuhi dengan kegiatan anak - anak dengan kisah nya masing - masing, maka hari ini adalah hari yang berat untuk di lalui sang putra mahkota.


Memasuki kamar pasien VVIP, dimana sang kekasih sudah terbaring di sana sejak tadi pagi, langkah Jio seolah tak napak di lantai. Semua terasa seperti mengambang dan tak ingin ia pijak, maupun ia sentuh..


Berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi terus berputar di kepala Jio sejak semalam. Segala ingatan tentang resiko yang akan di alami sang kekasih membuat Jio tidak bisa tidur dengan nyenyak semalaman.


Bagaimana jika Virginia berakhir dengan lumpuh?


Ia tak masalah, ia akan tetap menerima Virginia tanpa syarat, kalaupun sang kekasih harus mengalami kelumpuhan. Tapi jiwa kekasihnya?


Tidak akan semudah itu Virginia bisa menerima kondisi terburuk di dalam hidupnya. Di mana sebelumnya ia bebas berjalan, berlarian bahkan bahkan berkeliling Mall tanpa lelah, namun harus berakhir di kursi roda.


Semua itu tidak akan terasa mudah untuk seorang gadis. Belum lagi rasa minder pada kekasihnya yang mungkin akan ia alami.


Jio juga berangan, bagaimana jika Virginia lupa ingatan? kemudian lupa pula dengan dirinya.


Sanggupkah jika ia harus di lupakan oleh kekasih hati yang ia cintai dengan sepenuh hati. Bahkan sudah tidak mungkin ada tempat untuk gadis lain di dalam sana.


Sanggup kah ia menjalani hari yang mungkin membuatnya harus berjuang demi memulihkan ingatan sang gadis?


Langkah Jio sangat pelan karena tubuhnya yang terasa gontai tak bertulang. Senyuman pilu tergambar jelas di wajahnya ketika sang kekasih justru tersenyum manis di atas brankar pasien dengan infus yang sudah tergantung di atas tiang, dan jarum yang sudah menancap dengan sempurna di punggung tangannya.


"Ada apa, Jio?" tanya Virginia yang tidak memungkiri jika ia menyadari perubahan raut muka Jio saat memasuki ruangan.


Menarik nafas berta, dan menghelanya pelan, Jio semakin mengikis jarak dengan langkah yang semakin terasa berat. Dan berakhir dengan duduk di tepi brankar pasien, menghadap sang kekasih. Menatap lekat wajah cantik nan rupawan milik Virginia. Seolah tak ingin apa yang sedang di derita sang gadis terjadi pada gadis yang teramat ia cintai.


"Sayaang... aku baik - baik saja, ada apa dengan mu?" tanya Virginia menyentuh jemari Jio yang berada di pangkuan sang lelaki.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2