
Di istana Michael, Sepasang suami istri tengah berunding di dalam kamar yang luas, dengan lukisan naga di atapnya.
Beberapa bulan lagi, si kembar akan memasuki jenjang perkuliahan. Michael dengan segala kekayaan dan tahta yang ia miliki, tentu ingin sang putra dan putri masuk ke kampus terbaik di dunia.
Michael ingin kedua anak kembarnya melanjutkan kuliah di kampusnya dulu, Harvard University. Namun Chania menolak dengan keras. Karena tak ingin lagi berpisah dengan kedua anaknya.
Bagi Chania, cukup tujuh tahun saja mereka berpisah. Dan jangan pernah ada lagi kata perpisahan di antara mereka. Hati seorang ibu tentu jauh lebih lembut dan lebih terikat kepada anak - anak mereka.
"Pokoknya mereka harus kuliah di Roma saja!" keukeh Chania. "Toh di sini banyak kampus yang bagus!" lanjutnya tidak mau di bantah sang suami.
"Mereka harus mengenal dunia, Baby..." jawab Michael lembut. Ia masih berada dalam ambang kesabaran yang bagus. Mungkin hanya saat bersama Chania saja dia bisa jauh berlipat sabar.
"Memangnya kalau kuliah di sini mereka tidak akan mengenal dunia?" tanya Chania menatap sinis suaminya.
"Bukan begitu, Baby... Kamu tentu tau... Harvard University, kampus ku dulu adalah kampus terbaik nomor dua di dunia! Sementara kampus di Roma rata - rata masih di atas peringkat 150 lebih!"
"Berarti kamu tidak bangga pada negeri kamu sendiri?" tanya Chania memicing.
Michael menghela nafas berat, "Bukan begitu, Baby... Aku hanya ingin anak - anak ku tumbuh seperti diriku! Menempa ilmu pertahanan diri di kuil ku dulu, lalu mendapatkan ilmu akademi di Harvard, sama seperti Daddy nya!"
"Lalu kamu juga ingin Jio sepeti kamu yang hobi mengencani Sekretaris tidak perawan?" sindir Chania, membuat Michael kalah telak kali ini.
"Ha?" Michael tersentak. Tak menyangka maksud penjelasannya justru mengarah pada satu masa lalu yang di anggap istrinya sangat suram itu. Tubuh gagah Sang Tuan Besar Mafia membeku untuk sesaat.
"Kamu ingin dia seperti kamu, yang merasakan banyak tubuh wanita seksi?" tanya Chania dengan nada lebih tinggi. Seolah ia menemukan kesempatan untuk membuat suaminya tak berkutik.
Michael menggaruk belakang kepala yang tidak gatal. Ia tak bisa menjawab apa - apa. Jika pada yang lain, mungkin ia akan menjawab iya. Tapi yang sedang bicara dengannya ada Sang Ratu di Istananya. Mana mungkin ia semudah itu menjawab iya. Bisa - bisa istana akan ambruk dalam hitungan detik saja.
"Bukan begitu, Baby... Maksud ku.." Michael melirik kanan kiri untuk menemukan alasan yang tepat. "Biar mereka juga bisa hidup mandiri..." lanjut Michael. "Atau begini, Jio di Harvard, dan Jia di sini! Jio adalah penerus utama kerjaan bisnis kita, Baby..."
"Kamu mau mereka berpisah?" tanya Chania menatap lirih suaminya. "Bagaimana kalau Jia iri?" tanya Chania terus mengelak setiap ide suaminya.
"Haaaah..." Michael menghela nafas panjang sembari menggaruk kasar rambutnya. Gemas dengan istrinya itu.
"Pokoknya tidak ada kuliah di Amerika! Mereka berdua harus tetap di Roma! TITIK!" Chania menekan kata tituk tepat di depan wajah suaminya.
"Baby..." lirih Michael berharap istrinya masih bisa di rayu.
"Kalau kamu memaksa, aku akan ikut mereka tinggal di Amerika! Dan pulang hanya saat mereka pulang!" ujar Chania berdiri dari sofa dimana keduanya tengah berunding.
Michael mendelik, "Lalu aku bagaimana?" tanya Michael menatap punggung Chania yang berjalan ke arah pintu keluar. "Dengan siapa aku bercinta?"
"Kocok saja sendiri!" sahut Chani cuek.
"What!" pekik Michael semakin mendelik. "Baby! jangan gila ya!" teriak Michael berdiri dari duduknya dengan berkacak pinggang.
Chania mencibir dengan gerakan bibir. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras.
Michael semakin frustasi. Ia hempaskan kembali tubuhnya di sofa. Menghela nafas berat.
"Kalau begitu Sapienza menjadi kampus untuk kalian semua!" gumamnya pelan. Mengingat ketiga anaknya. Dimana Gerald kelak juga pasti di larang Chania untuk kuliah di luar negeri.
***
Masih di kota yang sama, hanya beda tempat saja. Pemuda tampan dan pemudi cantik yang merupakan saudara kembar tengah berdebat dari balik masker mulut mereka, akibat kehilangan jejak gadis cantik yang di dambakan Sang Pemuda.
__ADS_1
Di tengah perdebatan yang cukup tegang, tiba - tiba punggung sang pemuda di tabrak seseorang dari belakang. Namun yang membuat saudara kembar itu segera menoleh adalah suara lembut yang langsung meminta maaf.
Saat Jio menoleh ke belakang, seketika itu juga tubuhnya membeku. Darah benar - benar seolah berhenti mengalir di urat nadinya. Semua sorot mata
Gadis yang ia cari, Virginia Brown sedikit menunduk dengan mengatupkan kedua telapak tangan di depan hidungnya. Meminta maaf pada laki - laki yang tanpa ia sadari adalah Jio.
"Maafkan saya, Kak..." ucapnya lagi. Mengira Jio jauh lebih tua darinya. Karena Jio terlihat menjulang 20 cm lebih tinggi dari tubuhnya.
"Hemm.. Tidak masalah!" sahut Jia yang tau jika sang Kakak akan mendadak gaguk untuk menjawab permintaan maaf gadis itu.
Jia segera menarik lengan Jio untuk menjauh. Belum saatnya untuk berinteraksi dengan gadis yang di impikan sang kakak. Belum saatnya untuk menunjukkan kepulangannya.
Dari balik masker, wajah Jio sangat tegang. Meski Jia terus menarik lengannya, Jio seolah enggan untuk berpaling dari Virginia yang terlihat sangat cantik dari jarak sekian senti meter saja.
"Kak! Jangan bodoh, please!" bisik Jia menyadarkan Jio yang melamun.
Dengan gemas Jia menangkup rahang Jio dan membuat remaja 17 tahun itu menoleh ke arah depan dengan paksa.
"Jia!" hentak Jio tidak terima, namun ia tetap menuruti keinginan sang adik.
"Ayooo.. jalan!" paksa Jia menjauh dari Virgina yang tertegun menatap keduanya.
Jia menoleh kebelakang, dan sorot matanya bertemu dengan sorot mata Virginia.
"Dia memang cantik, kalau aku laki - laki, aku juga pasti mendambakannya!" bisik Jia pada Jio.
"Jangan gila!" sentak Jio.
"Pasti dia sudah punya pacar! Mana mungkin gadis secantik dia tidak punya pacar!" sindir Jia sama - sama berjalan ke arah depan.
"Dia pasti jadi gadis idaman di sekolah!" ucap Jia sengaja membuat Jio panas.
Jio menghela nafas, ia tau sang adik sengaja membakar apa yang ia tahan di dalam dada.
"Kira - kira setampan apa ya pacar Virginia?" Jia berandai - andai. Membayangkan sesuatu yang belum jelas benar adanya.
"Hanya aku yang paling tampan di matanya!" sahut Jio ketus.
"Itu dulu, Kak! Sekarang kamu lihat sendiri, dia sudah tumbuh jadi gadis cantik, manis, dan feminim... Aa.. Aku dulu pernah memimpikan menjadi gadis seperti Virginia.." ucap Jia menghadap ke langit. Mengingat saat kecil ia ingin menjadi gadis cantik yang anggun. "Kemudian akan banyak anak laki - laki yang mengidolakan aku!" Jia sengaja menggoda sang Kakak dengan sedemikian menggelitik.
Jio menyebikkan bibirnya malas. Dalam hati Jio tetap yakin, Virginia sekarang adalah Virginia nya 7 tahun lalu. Dengan gelang merah yang masih melingkar di tangan Virginia sebagai bukti nyata.
"Kalau dia sudah punya pacar, apa Kakak akan tetap mengejar Virginia?"
"Dia tidak punya pacar!" sahut Jio lebih ketus lagi.
"Kakak yakin?"
"Hemm..." jawab Jio datar. Namun dalam hati, ia sangat yakin akan hal itu.
"Baiklah, kapan - kapan ayo kita mata - matai dia!"
"Untuk apa?" tanya Jio malas.
"Supaya kita tau, dia punya pacar atau tidak!"
__ADS_1
"Aku yakin dia tidak punya pacar!" keukeh Jio.
"Aku juga yakin! Tapi kalau aku sudah membuktikannya!" ucap Jia tersenyum cerah. "Ajari aku bawa mobil!" ucapnya tiba - tiba tanpa ragu.
"No!" jawab Jio enteng dan spontan.
"Ayolah, Kak!" Jia merengek, menggoyang lengan kakaknya, sambil terus berjalan guna mengarahkan sang Kakak untuk keluar dari area wisata.
"Sebelum belajar mengemudi, kau harus menghadap Daddy dan Mommy! Jika mereka iya, maka aku juga akan iya!"
"Mana mungkin mereka mengijinkan aku!" jawab Jia cemberut. "Yang katanya nunggu 19 tahun lah, atau apalah! Padahal umur kita sama!" gerutunya. "Harusnya apa yang kita dapat sama!"
"Karena sesungguhnya perempuan cukup di antar dan di kawal bodyguard seperti Mommy dna Aunty Sania!"
"Hem... Mereka kan perempuan - perempuan jaman dulu, Kak! Aku gadis masa kini, masa iya kemana - mana di antar supir dan di kawal bodyguard. Meskipun aku tau, aku tidak sehebat Tuan Muda Georgio Xavier Sebastian!" menyindir sang kakak dengan sedikit mendongak. Agar tepat bersuara di samping telinga Jio. "Tapi aku yakin bisa melindungi diriku sendiri!"
"Sudahlah, Daddy tau apa yang terbaik buat kita!" jawab Jio meredakan kecemburuan saudara kembarnya. "Usia mereka sudah puluhan tahun, sedangkan kita baru hampir 18 tahun. Pengalaman hidup kita masih sedikit. Apalagi kita anak - anak dari Tuan Besar Xavier!" ucap Jio. "Hampir semua orang tau siapa Daddy!"
"Yaa..yaa... Baiklah, Tuan Muda Xavier..." ucap Jia lagi dengan sedikit menggoda.
Jio mengacak - acak rambut di puncak kepala Jia dengan gemas. Adiknya memang terkadang sangat cerewet dan sedikit menyebalkan.
***
Sementara gadis cantik, berambut pirang keemasan, sejak mendongak untuk melihat sepasang muda mudi yang ia anggap sebagai sepasang kekasih, justru tertegun. Mematung menatap Jia dan Jio yang berlalu dengan tatapan heran.
' Aku pikir mereka sepasang kekasih... Tapi mata mereka terlihat sangat mirip, meskipun warna rambut mereka berbeda. '
Gumam Virginia dalam hati.
' Tapi mata itu .... '
Angannya terus berlanjut. Mengingat - ingat akan sepasang mata yang menurutnya tidak asing.
"Ada apa, Virginia?" tanya salah satu temannya.
"Oh.. Tidak!" jawab Virginia. "Ayo lanjut!" ucap Virginia kembali menarik tangan temannya. Kali ini ia fokus berjalan ke depan tanpa canda tawa. Agar tidak lagi menabrak pengunjung yang lain. Atau mungkin pasangan yang lainnya.
...🪴 Happy Reading 🪴...
Dear Kakak - Kakak Reader semuanyaaa.... 🥰
Salam sehat, salam sejahtera untuk semua...
Author ingin menyapa di up kali ini... Di episode - episode selanjutnya pemeran utamanya akan bertambah ya... Yakni kehidupan si kembar...
Novel ini mungkin masih akan cukup panjang. Jadi jangan bosan - bosan buat nengok dan membacanya ya 🥰🥰
Jangan lupa tinggalkan Like, Vote dan ulasannya ya kakak... 🤩
Bintang 5 juga sangat membantu untuk pertumbuhan novel Sang Mafia...
Jejak apapun yang kakak tinggalkan, Author mengucapkan TERIMA KASIH 🙏🥰🥰
Salam manis,
__ADS_1
Lovallena ❤️