SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 152


__ADS_3

Memantau Gia dari dalam mobil hummer nya, Jack di buat geram dengan aksi laki - laki sok berkuasa di kota Roma. Segerombolan laki - laki seperti preman terus saja mengganggu Gia. Membuatnya mengepalkan tangannya yang melingkar pada benda bundar di depan dada.


Obrolan mereka mungkin hanya samar - samar terdengar dari dalam hummer Jack bagi orang biasa. Tapi bagi seseorang dengan telinga yang terlatih seperti Jack, tentu bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan oleh mereka.


"Lepas!" teriak Gia menarik tangannya kuat.


"Kamu tidak akan bisa lari, girl..." ucap pria terakhir tersenyum menggoda.


"Hiihh!" Gia berhasil melepaskan tangannya dan segera berlari ke arah kanan, mendekati mobil hummer Jack. Hanya saja Gia tak tau jika itu mobil Jack.


Laki - laki bertindik memberi kode pada teman - temannya untuk mengejar. Jangan sampai mangsa lepas, pikirnya.


Gia berlari secepat yang ia bisa, tapi tetap saja segerombolan laki - laki itu lebih cepat. Jarak tersisa 1 meter saja dan Gia akan tertangkap.


Posisi Gia sudah sampai di sisi kanan belakang mobil Hummer Jack. Namun Gia tertangkap oleh tangan salah seorang pengejar.


"Lepas!" teriak Gia menginjak kaki si penangkap, hingga akhirnya ia kembali terlepas. Saat berbalik untuk kembali berlari, tanpa sadar,


Bruukk!


Tubuh kecilnya menubruk sesuatu yang membuatnya hampir terpental jika saja sebuah tangan kekar tidak meraih tubuhnya.


Merasa cukup shock, Gia segera mendongak untuk melihat siapa yang ia tubruk. Sepasang matanya mendelik. Tapi rasa takut lenyap begitu saja, saat matanya menangkap wajah yang begitu ia kenali.


"Tuan, tolong saya!" seru Gia segera beralih ke sisi kanan Jack. Memegangi lengan Jack. Meminta perlindungan pria itu dari serangan para berandalan.


Sejak tadi, sejak ia turun dari mobil hummer nya, tatapan Jack tak lepas dari para segerombolan manusia yang menurutnya tak berguna. Tatapan tajam itulah yang membuat mereka melepaskan Gia.


"Mau jadi jagoan?" tanya Jack dingin.


Laki - laki bertindik yang mungkin saja pimpinan geng itu tersenyum culas. Merasa punya banyak kawan, tidak perlu takut menghadapi satu orang saja.


Tapi bagi seorang Jack Black, melawan 100 berandal jalanan sendirian adalah hal yang mudah. Karena kebanyakan mereka hanyalah sok jago, dengan mengandalkan latihan bela diri. Tanpa berguru dengan benar.


"Bukan kami... tapi anda yang sok jago!" balas laki - laki bertindik yang merasa kalah umur dengan Jack. "Kami bertujuh! sementara anda?" tanyanya menyebikkan bibir sombong.


Suara gelak tawa terdengar dari kelompok pecundang itu membuat Jack geli.


"Majulah dengan tangan kosong! kita lihat! siapa yang jagoan, siapa yang pecundang!"


Tersenyum culas, laki - laki bertindik melepas jaket kulit hitamnya, melemparnya di trotoar. Sementara kawannya yang lain ikut mengambil kuda - kuda.


Jack, pria itu terlihat sangat santai dan tenang, tanpa melakukan hal - hal aneh macam yang di lakukan pihak lawan. Ia mendorong pelan tubuh Gia agar masuk ke dalam mobilnya.


Laki - laki bertindik maju duluan. Menyerang menggunakan tinjuan. Belum juga tinjuannya tepat sasaran, tangannya sudah terpelintir oleh gerakan sigap Jack.


Jack memutar tangan kanan laki - laki itu sampai ke belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Aaakhh!" pekik laki - laki bertindik itu.


Melihat temannya dalam kuncian Jack, dua orang maju bersama untuk melawan. Namun saat itu juga keduanya harus terpelanting ke belakang akibat dua jejakan Jack yang mendorong keras perut mereka.


"Fvck!" umpatan terdengar dari salah satu orang jatuh terpelanting.


Dua orang lainnya mencoba untuk maju. Menolong si bertindik yang semakin menjerit kesakitan. Namun kaki dan tangan Jack cekatan untuk membuat keduanya tersungkur.


Hanya dengan begitu saja, dua sisa lainnya sudah merasa tidak akan menang. Akhirnya mereka berdua memilih untuk melarikan diri. Setelah menepuk lengan teman - temannya yang berjatuhan.


"Kau lihat!" bisik Jack pada pria bertindik. "Teman - teman mu bahkan meninggalkan mu bersamaku!" ucap Jack mencibir. "Bagaimana kalau sekarang duel satu lawan satu?" tantang jack bengis. "Aku bisa meremukkan tulang - tulang mu dalam 5 menit saja!"


"Ampun! ampun!" ucap laki - laki bertindik melirik melas pada Jack. Wajahnya sudah memerah menahan rasa sakit di tangannya.


"Sekali lagi aku melihatmu menggoda gadis manapun, aku bersumpah! tanganku sendiri yang akan meremukkan kepalamu!" ancam Jack, membuat pria itu reflek menggelengkan kepalanya cepat.


"Saya janji, Tu..Tuan! tidak akan me..mengganggu ga..dis manapun!" ucapnya terbata, menahan sakit yang semakin menjadi - jadi.


Jack mendorong tubuh laki - laki itu, hingga musuhnya itu kehilangan keseimbangan. Dan terjungkal tepat di atas jaketnya. Menoleh Jack sekilas, dan segera bangkit. Melarikan diri dari tatapan Jack yang seperti tatapan Malaikat pencabut nyawa.


Gia kembali turun dari hummer yang di kendarai Jack. Mendekati Jack yang masih menatap tajam punggung lawan.


"Terima kasih, Tuan!" ucap Gia menundukkan kepala cukup dalam.


"Apa yang kau lakukan malam begini di halte?" tanya Jack tanpa menjawab ucapan terima kasih Gia.


"Dimana kamu tinggal?"


"Di rumah kos jl. Lasisco Burj."


"Masuklah, aku akan mengantarmu..." ucap Jack sembari berjalan mendekati pintu kemudi."


"A...Tunggu, Tuan!" ucap Gia menahan lengan Jack yang hendak membuka pintu kemudi.


Sontak Jack menatap lengan kirinya. Dimana sepasang jemari lentik melingkar di lengannya.


"Maaf, Tuan!" ucap Gia reflek melepas tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Membuatnya terlihat begitu gugup.


"Ada apa?" tanya Jack menoleh Gia.


"Apa saya tidak merepotkan?" tanya Gia. "Nanti Tuan Jack akan berputar arah kalau mengantar saya lebih dulu."


"Lalu?" tanya Jack datar.


"Em... saya hanya merasa tidak enak, Tuan!" Gia menunduk dalam. "Tuan menolong saya saja, saya sudah merasa sangat beruntung."


Jack menghela nafasnya panjang. Merangkul pundak Gia dan membawanya kembali memutari mobil, ke arah dimana pintu penumpang bagian depan berada.

__ADS_1


"Masuklah, jangan banyak bicara!" ucap Jack membuka pintu, dan memaksa Gia untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Tapi, Tuan!"


"Diam!" dengkus Jack tak lagi ingin di bantah.


Jack kembali ke pintu kemudi. Bersiap untuk melajukan mobil yang di fasilitasi oleh Michael untuk para anak buah andalannya. Atau lebih tepatnya khusus bodyguard utama saja.


Jika di tanya seperti apa hati seorang Jack Black saat ini? Maka hatinya mengalami hal yang tak biasa. Jantung berdetak lebih cepat. Namun ia sangat ahli menyembunyikan ekspresi wajahnya. Wajahnya tetap terlihat datar, bahkan nyaris dingin.


***


Di tempat lain, di rumah sakit dimana Maya di rawat. Ada Dimitri yang tengah mengajak bicara Maya. Menceritakan kembali apa yang di alami Maya dan Nyonya mudanya.


Obrolan demi obrolan melebar kemana - mana. Dari hanya menceritakan ulang, sampai akhirnya menceritakan keadaan keluarga di kampung. Terakhir tentang pasangan.


Obrolan yang semula serius, kini menjadi obrolan santai bahkan nyaris membuat keduanya cekikikan. Saling menceritakan pengalaman jatuh cinta di masa muda, juga saling menceritakan cinta yang tak terbalas.


Maka pada suatu titik, mulut Maya akhirnya berucap sesuatu yang membuat Dimitri diam seribu bahasa. Tertegun mendengar pengakuan sebuah rasa.


"Saya mengagumi Tuan Jack, melebihi saya pernah mengagumi seseorang yang pernah saya cintai di masa lalu.." ucap Maya menunduk dalam. "Tapi saya sadar, Tuan... siapa lah diri ini. Nona Gia jauh lebih pantas untuk nya. Bukan saya..."


Dimitri menatap lekat pada bawahannya itu. Sebagai seseorang yang ikut berperan memberi jalan untuk Jack dan Gia bersatu, ia sedikit merasa bersalah. Ia tak tau jika ada gadis lain yang lebih dulu mengagumi sahabatnya itu daripada pertemuan Jack dengan Gia berbulan - bulan lalu. Saat menemukan Chania di Venice.


Tapi mau apa di kata, Jack dan Gia tampak mulai saling menyimpan rasa. Saling menyembunyikan getaran yang sudah terasa.


"Maafkan aku, May! aku sama sekali tidak tau tentang apa yang kamu rasakan." ucap Dimitri. "Akulah yang pertama kali menjodoh - jodohkan Jack dengan Gia. Kemudian Tuan dan Nyonya ikut melakukan hal yang sama." lanjut Dimitri. "Saat aku tau jika Jack mulai sedikit respect dengan Gia, aku justru semakin bersemangat untuk menyatukan mereka."


Ucapan Dimitri terlihat ada sedikit penyesalan. Bagaimanapun ia cukup tersentuh dengan setiap cinta yang tumbuh dari seorang gadis.


"Tuan tidak perlu merasa bersalah... Saya yang harusnya sadar diri." jawab Maya. "Semua dapat melihat, jika Nona Gia jauh lebih menarik di banding saya yang hanya bisa berpakaian bodyguard! Menghabisi musuh tanpa ampun. Hati saya tak selembut hati Nona Gia."


"Cinta tak memandang semua itu, May!" sahut Dimitri. Ia tak setuju dengan perbandingan sepihak yang di lakukan Maya.


"Tapi itu nyata, Tuan!" ucap Maya, menatap lesu ke arah depan.


Dimitri membuang muka. Ia tak tau harus berbuat apa supaya Maya tidak merasa kerdil hanya karena segi fisik.


"Tapi Tuan tidak perlu khawatir!" ucap Maya menoleh Dimitri. Menatap lekat atasannya itu. "Mulai hari ini, saya adalah Maya versi baru. Tidak akan lagi mengharapkan Tuan Jack Black! saya adalah Maya terbaru dengan harapan baru!" ucap Maya tersenyum yakin.


Dimitri menoleh Maya yang terlihat berambisi untuk hati yang lebih tenang. Melupakan sesuatu yang mungkin akan sulit di gapai. Karena hati sahabatnya memang cukup sulit untuk di goyahkan.


"Katakan saja jika suatu waktu kau membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita!" ucap Dimitri. "Selagi tidak ada musuh, aku akan menjadi teman curhatmu di tempat khusus. Untuk menghindari desas desus yang membuat beberapa anak buah lain akan berfikir jika aku menganak emaskan dirimu!" lanjut Dimitri dengan nada setengah bercanda.


"Saya tau, Tuan!" sahut Maya tersenyum senang. Bersiap memulai hari baru dengan melupakan cintanya pada Jack Black. Juga melupakan bencinya pada Gia Octarin.


...🪴 Happy reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2