SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 67


__ADS_3

Sebuah pertanyaan kecil, namun Chania sudah gelagapan untuk menjawab. Mengerjapkan mata bingungnya beberapa kali. Otaknya bekerja keras untuk segera mendapatkan jawaban terbaik dalam waktu yang singkat.


Bak menghadapi ujian sekolah, ia harus berhasil menjawab tanpa harus mengikuti remidi yang lebih menjengkelkan pastinya.


"Kenapa?" tanya Michael santai. Namun nyatanya membuat Chania sedikit melompat dalam pelukan Michael.


"Hah?"


"Kenapa kamu terlihat bingung?" Michael menatap dalam wajah Chania.


"Aa..."


"Pasti kamu juga tidak tau!" potong Michael tersenyum simpul. "Tebakan ku benar kan?" ucap Michael sembari mengeratkan degan gemas tangan kokohnya di pinggang Chania.


"Aa.. i..iyaa.. begitulah!" jawab Chania mengangkat kedua alisnya.


Michael mengangguk dingin, "Apa kamu tidak sempat bertanya pada Verra?"


"Ti..tidak!" jawab Chania gugup.


Takut jika sang Tuan Mafia mengetahui gelagatnya. Karena pada kenyataannya Michael cukup jitu mengamati gelagat musuh. Sangat mudah membedakan mana lawan mana kawan.


Ya, sesuai dengan prediksi Chania. Michael memicingkan matanya. Namun hanya berlangsung beberapa detik saja. Karena setelah itu ia berhasil membuat Michael mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa lehermu, Honey?" tanya Chania mendekatkan wajahnya pada leher Michael. Mengangkat tangan untuk menyentuh goresan merah di leher.


"Hanya tergores pisau" jawab Michael santai.


"Bagaimana bisa!" tatapan mengintimidasi pada Michael yang terlihat tak merasakan sakit sama sekali.


"Sakit?" tanya Chania serius.


Michael hanya menjawab dengan gelengan kecil serta bibir yang menyebik kecil.


"Tidak sesakit saat gair4h tak tersalurkan." goda Michael mencium leher jenjang Chania.


"Haha! mandi dulu sana!" Chania mendorong pelan dada suaminya. Menahan geli di lehernya.


"Baiklah, Nyonya Xavier... setelah ini siapkan dirimu!" kecupan kecil mendarat di bibir Chania.


"Siap, Tuan Xavier!" jawab Chania.


Michael melangkahkan kakinya menuju ruang walk in closed. Chania menatap punggungnya dengan jantung yang selalu berdegup kencang. Layaknya remaja jatuh cinta.


# # # # # #


🍄 Dua hari kemudian . . .


Matahari mulai terbit dengan malu - malu. Cahaya pagi yang menyejukkan hati menyelimuti kota Roma, Italia. Negara yang memiliki salah satu dari tujuh keajaiban dunia itu sudah memasuki musim gugur. Dimana banyak daun mulai menguning dengan cantiknya.


Chania masih cukup nyaman di dalam dekapan Michael yang juga masih terlelap. Mencari kehangatan di tengah suhu yang menurun. Pertempuran di atas ranjang menjelang pagi membuat keduanya terlambat untuk bangun.


Tok tok tok!


Michael mengerjapkan matanya. Di lanjut membuka matanya dengan malas. Entahlah, pagi itu rasanya ia sangat malas untuk beranjak dari ranjang. Apalagi saat menyadari Chania masih memeluknya dengan erat.


Tok tok tok!


Ketukan kembali terdengar. Membuat Michael mau tak mau menggeser kepala Chania. Dan tak sedikitpun istrinya itu terusik, karena saking lelapnya dalam tidur.


Menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan menurunkan kaki dari ranjang, berdiri sembari memperbaiki selimut istrinya. Di lanjut dengan melangkah mengambil jubah tidur untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka.


"Ada apa?" tanya Michael setelah membuka pintu.

__ADS_1


"Maafkan kami, Tuan muda." menunduk dalam, takut menatap sepasang mata bosnya.


"Ada apa! cepat katakan!" jengah Michael pada seorang penjaga pintu utama rumah Michael.


"Ada Nyonya Deborah di ruang tamu, Tuan!"


"Sh!!**! apa yang dia lakukan disini! kenapa tidak kalian cegah!" bentak Michael lirih, takut jika Chania terbangun dari tidurnya.


"Maafkan kami, Tuan. Beliau membawa banyak pasukan di luar."


"Brengsek!" umpat Michael menghela nafas berat. "Aku akan menemuinya!" ketus Michael menutup pintu dengan kasar namun tak menimbulkan suara berlebihan. Sehingga ia berharap Chania tetap bersama mimpi indahnya.


***


Mengganti baju dengan baju casual setelah membersihkan dirinya, celana pendek dan kaos ketat berwarna biru melekat di tubuhnya. Jangan tanya seperti apa tampannya seorang Michael Xavier dengan penampilan seadanya itu. Sudah pasti membuat jantung banyak wanita hampir melompat dari tempatnya meskipun tak mendapatkan lirikan sedikitpun.


Menuruni tangga setelah 15 menit dari ketukan pintu, Michael melangkah dengan gagah dan tampan menuju ruang tamu.


Terlihat di salah satu kursi mewahnya, Oliver tengah bercakap intens dengan mamanya, Deborah Arlington.


"Ingat, jangan sakiti gadis itu." desisan Deborah yang masih sempat masuk ke telinga Michael yang tajam.


Tanpa sepatah katapun Michael duduk di kursi single dengan menebar aura dingin miliknya. Menatap jengah pada dua wanita di hadapannya.


"Selamat pagi, Michael Xavier Sebastian." sapa Deborah dengan nada yang cukup dingin untuk di dengar.


Namun tak membuat seorang Michael takut seujung kuku pun. Sama - sama memiliki kekuasaan, harta berlimpah dan pengakuan dunia. Hanya saja kekuasaan Deborah itu...... entahlah.


"Apa mau mu!" tanya Michael dingin.


"Mau ku?" tanya Deborah. "Hahah!" terkekeh dingin, "kau tau apa mau ku, Michael!"


Michael membuang nafas jengah. Menatap sekilas Oliver yang hanya diam di samping ibunya. Namun sepasang mata lentik wanita itu mengarah pada Michael yang begitu mempesona. Mampu menyihirnya meskipun memasang wajah ketus sekalipun.


Tersenyum miring, "Waktu?" tanya Michael. "Waktu yang kau ucapkan tidak akan pernah mempengaruhi hidupku, Deborah!"


"Michael!" bentak Deborah.


Bergeming, bentakan Deborah sama sekali tak membuat kaget ataupun takut. Bahkan tak ada gerakan sedikitpun. Hanya tatapan semakin jengah saja yang mengarah pada Deborah dan di lanjut ke arah Oliver yang sedikit kaget dengan bentakan ibunya.


"Selena semakin parah! apa kau lupa masa kecil kalian, dasar brengsek!" bentak Deborah. "Sampai detik ini dia bahkan tidak tau indahnya dunia luar, Michael! Hanya bisa membuka mata sesaat di dalam kamarnya, menghirup udara sekitar dengan duduk di kursi roda! apa kamu tidak kasian dengannya? apa kamu lupa kalian saling menyayangi di masa kecil!"


Michael terdiam, untuk sesaat dia mengenang masa kecilnya, bahkan dengan gadis di samping Deborah itu.


"Cepat serahkan Chania padaku, Michael!" bentak Chania.


"Turunkan suaramu!" sahut Michael dengan sedikit membentak dan tatapan yang tajam.


"Apa peduliku! semakin bagus jika gadis itu mendengar kalau kau yang membuatnya datang ke perusahaan mu!"


"Berisik!" bentak Michael berdiri dari duduknya. "Keluar!" menunjuk pintu utama.


"Aku akan mengatakan pada gadis itu, jika kau bersekongkol dengan ku menjebak dia untuk mendapatkan sumsum tulang belakangnya!" ancam Deborah.


"Jika kau tidak keluar sekarang juga, timah panas ku akan menembus kepalamu, dan kepala Oliver sebagai bonusnya!" sahut Michael mengarahkan pistol yang ia keluarkan dari balik celana bagian belakang.


Aksi Michael itu di ikuti dengan antar pengawal yang saling menodongkan senjata. Saling mengancam, saling mengarahkan moncong pistol ke arah kepala.


Berdiri dari duduknya dengan santai, "Tembak saja kalau kau mau, Michael! Aku pastikan sekutu ku juga akan menembak kepala ibumu!"


Michael tersenyum smirk, meskipun ia belum tau siapa sekutu Deborah, dia yakin penjagaan di LA sudah bagus. Apalagi sang Papa ada di sana.


"Whatever!" desis Michael.

__ADS_1


"Chania!" teriak Deborah tiba - tiba. "Keluar kau! kau harus tau sebusuk apa pria yang kau cintai ini!" teriak Deborah mengarah ke bagian dalam rumah Michael. "Jangan merasa bangga jika kau merasa di cintai nya! kau hanyalah tumbal!"


Dorr!


Tanpa aba - aba Michael menarik pelatuk senjata apinya dan mendarat tepat pada guci di samping Deborah.


Berbeda dengan Deborah yang sudah biasa mendengar suara letusan senjata, Oliver di buat sedikit melompat hingga menutup wajahnya. Takut jika sang ibulah yang tertembak.


"Ketika kau memikirkan putrimu, apa kau tidak memikirkan jika Chania juga seorang putri?" desis Michael tanpa menoleh pada Deborah maupun Oliver. "Apa perasaan mu sebagai seorang ibu sudah mati, sampai kau mengorbankan putri tiri mu, demi putri kandungmu?"


"Hahahaha!" tawa menggelegar Deborah meluncur begitu saja. "Putri tiri? siapa yang mengakui dia sebagai putri tiri ku?" tanya Deborah sinis. "Terlahir akibat perselingkuhan tidak pantas aku anggap sebagai putri tiri ku!" desis Deborah. "Bilang saja jika kau berubah pikiran, kau mencintai gadis itu, dan enggan menyerahkan padaku!"


"Keluar! atau mulutmu menjadi sasaran pistol ku selanjutnya!" ancam Michael mengarahkan moncong pistol pada wajah Deborah. "Kau tau tembakan ku tak pernah meleset, Deborah!" desis Michael tanpa peduli dengan ucapan Michael.


"Aku akan mendapatkan Chania dengan caraku! dasar pengkhianat!" ucap Deborah kesal.


"Bawa putri mu keluar dari sini! aku muak melihatnya setiap hari!" ucap Michael.


"Brengsek!" umpat Deborah. "Ayo Oliver! jangan lagi menukar hidup mu sebagai Tuan Putri demi laki - laki pengkhianat ini!" Deborah menarik tangan Oliver dengan kuat.


"No, Mom!" Oliver berusaha menarik tangan Oliver. "Aku mau di sini!"


"Jangan membantah!" tegas Deborah menatap tajam putrinya.


Semua menurunkan senjata seperti yang di lakukan Michael. Menjadikan dua wanita yang melangkah keluar rumah sebagai pusat perhatian.


Di sudut lain ruangan, tepatnya di balik dinding. Sepasang mata lentik meneteskan air matanya. Tubuhnya bergetar menahan isakan. Sepasang kaki terasa lemas bagai jelly, hingga jatuh terduduk tak berdaya di atas marmer.


' Apa yang sudah aku harapkan? apa yang sudah aku impikan? '


Lirihnya mengusap perutnya. Seketika ia yakin anaknya akan lahir tanpa ayah.


"Nona..." ucap seorang maid yang sedari tadi berdiri di samping Chania. Secara tidak sengaja ikut mendengar pembicaraan Tuan mudanya beserta tamunya.


"Jangan.." lirih Chania menepis tangan maid yang ingin membantunya berdiri.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak ada maksud apapun." ucapnya sopan ikut berlutut di samping Chania.


"Aku mau ke kamar! jangan katakan pada Michael jika aku mengetahui semuanya." lirih Chania mengusap air matanya dengan gerakan cepat.


"Tapi, Nona.."


"Please.." mohon Chania menatap sendu pada maid.


"Baiklah, Nona. Tapi saya mohon Nona jangan berbuat apapun yang membahayakan Nona."


"Aku tahu!" jawab Chania berusaha bangkit dan kembali ke kamarnya dengan menaiki lift. Karena tangga tidak akan memudahkan kakinya yang lemas.


' Aku hanyalah gadis yang di incar sumsum tulang belakangnya. Aku tidak akan pernah mendapatkan Michael seperti mimpiku. Apapun yang terjadi Mommy akan melindungi kalian. '


Ucapnya dalam hati sembari mengusap perutnya dengan lembut. Satu tangan lainnya mengusap sisa - sisa air mata.


Bersandar pada dinding, merasa tak menyesal ia berpura - pura tetap tidur saat mendengar seorang pengawal menyebutkan nama Deborah. Nama yang tertulis di dalam buku diary sang Mama.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


Spesial long episode buat para reader tercinta. 🤩


Apa yang akan di lakukan Chania?


Sesuai bocoran kemarin, next episode akan ada drama di dalam istana Michael Xavier. 😉

__ADS_1


Salam Lovallena 🌺


__ADS_2