
Jio duduk di balik kemudi Bugatti Divo miliknya, dengan wajah tampannya yang khas, serta aura mempesona yang turun temurun. Ah, semua gadis akan dengan mudah bertekuk lutut di depannya.
Tapi sayang, pemuda itu hanya terus fokus menatap pagar besi nan kokoh yang masih tertutup rapat. Tanpa peduli beberapa kendaraan yang lewat di sampingnya menoleh ke arahnya untuk mencuri pandang.
Bodyguard telah pergi, menyisakan dirinya menunggu sang.... sahabat...
Ya, satu sebutan yang mungkin hanya menjadi tempat persembunyian dua insan yang sama - sama memendam rasa yang sama, tanpa berani mengungkapkan. Atau sekedar mengartikan jika yang mereka rasakan mungkin saja adalah... cinta.
Pagar besi terbuka secara otomatis. Sebuah mobil Limousine keluar dari sana. Bisa di pastikan jika itu adalah mobi Papa Virginia, alian Irgee Brown.
Pagar kembali tertutup rapat secara otomatis, meskipun dapat di lihat ada seorang satpam yang berdiri di bagian dalam dekat pagar untuk mengantar kepergian Limousin putih itu.
Jio masih sabar menunggu, hingga beberapa menit kemudian pagar kembali terbuka. Dan kali ini yang keluar adalah mobil yang mampu menggetarkan jiwa sang Tuan Muda Xavier.
Mini Cooper orange keluar dari pagar besi setinggi 3 meter yang baru saja terbuka. Samar - samar dapat di lihat oleh mata tajam Jio dari kaca bagian depan, jika Mini Cooper itu di kemudikan oleh seorang gadis cantik dengan rambut keemasan yang bergelombang di bagian ujung nya.
"Morning, girl..." gumam Jio menyapa. Meski gadis itu tak mungkin bisa mendengarnya. Bahkan gadis itu tak menyadari mobil Jio yang terparkir 50 meter di sisi kiri rumah mewahnya.
Mobil Virginia melaju ke sisi kanan dari rumah Virginia. Segera pula Jio menginjak pedal gas untuk mengikuti laju Mini Cooper sang gadis.
Sebelum menambah kecepatan untuk lebih dekat, Jio melirik spion bagian tengah. Dahinya berkerut, saat melihat sebuah mobil sport Lamborghini Aventador berwarna hijau yang sedari tadi diketahui Jio berhenti beberapa meter di belakangnya, ternyata ikut berjalan bersamaan dengan dirinya.
Insting mengatakan mobil itu mengikuti pergerakan seseorang. Namun Jio tak dapat menduga, apakah mobil itu mengikutinya, atau mengikuti Virginia.
"Musuh kah?" gumam Jio masih terus fokus pada dua sisi. Fokus depan untuk Virginia, fokus belakang untuk Lamborghini Aventador yang entah ada siapa di dalamnya.
"Jika musuh Klan Black Hold, kenapa aku tidak merasakan apapun!" lanjutnya bergumam.
"Apa dia mengikuti Nia?" pikirnya terus sembari melirik kebelakang.
Mini Cooper keluar dari kompleks elit, di ikuti mobil Jio dan terakhir si Lambo hijau. Tiga mobil mewah keluar secara beriringan.
Kini mobil hijau itu tepat berada di belakang mobil Jio, menggunakan mata tajam dan batinnya, Jio samar - samar berhasil melukis wajah orang di balik kaca depan mobil yang gelap.
Seorang pemuda, yang usianya tak jauh darinya. Dan itu bukanlah Lussio Lee.
"Siapa dia?"
__ADS_1
Jio sengaja mengurangi kecepatan mobilnya. Saat mobil Jio sudah berjarak beberapa meter di belakang Mini Cooper Virginia, tiba - tiba Lamborghini Aventador menyalipnya. Dan kini mobil hijau itu tepat berada di depannya.
Tak ada hal aneh yang di lakukan si Lambo. Jelas jika si Lambo itu tak bermasalah dengannya.
Lalu?
"Apa dia mengikuti Virginia?" tanya Jio pada diri sendiri. Wajahnya masih terlihat santai. Tapi dengan kenyataan jika mobil itu mengikuti Virginia, jelas hatinya tidak sesantai wajahnya.
Di dalam Mini Cooper, Virginia melirik spion bagian tengah mobilnya. Dahinya berkerut saat melihat mobil Lamborghini hijau berada tepat di belakangnya. Padahal jalan di sampingnya cukup luas untuk mobil sport itu menyalip.
Insting normal manusia segera bekerja. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Sehingga Mini Cooper orange melaju lebih cepat. Dan saat itu pula, Lamborghini Aventador ikut menambah kecepatan.
Virginia mulai tidak tenang. Hatinya mulai panik. Ia kurangi lagi kecepatan mobilnya secara mendadak. Dan seketika itu juga si Lambo ikut pelan mendadak.
"****!" umpat pemuda di dalam Lamborghini karena hampir hilang kendali. Mengira Virginia akan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa mobil itu mengikuti ku?" gumam Virginia. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Khawatir akan keselamatan dirinya tentu saja.
"Jika dia penjahat, aku harus meminta tolong siapa di jalanan seperti ini?" gumamnya dengan nafas lebih cepat dari sebelumnya.
Sementara di dalam Bugatti Divo berwarna biru, Jio tersenyum miring. Sedari tadi ia mengamati pergerakan dua mobil di depannya. Ia juga tau jika Virginia sengaja menambah atau mengurangi kecepatannya. Ia yakin gadis itu sudah mengetahui jika si Lambo mengikutinya. Namun Jio tetap dalam kecepatan normal untuk sebuah mobil sport.
Mobil Virginia terus melaju dengan menambah kecepatan. Begitu juga dengan si Lambo hijau. Jio pun akhirnya melakukan hal yang sama.
Lambo hijau ternyata mulai berusaha mensejajari mobil Virginia. Tentu saja Virginia mulai panik. Sedang Jio semakin mengikis jarak antara mobilnya dan mobil Virginia.
Virginia yang panik karena mobil hijau di sampingnya, sama sekali tak sempat melihat spion yang menunjukkan mobil di belakangnya. Sehingga ia tak tau jika ada Tuan muda Xavier di belakang sana.
Mini Cooper orange dan Lamborghini hijau kini berjalan sejajar, dengan kecepatan yang sama tentu saja. Jalanan yang sepi dan luas membuat dua mobil bebas berjalan macam itu.
Kaca mobil si Lambo hijau sebelah kanan turun dengan sangat epic. Sementara Virginia membiarkan kaca mobilnya tetao tertutup. Ia tak mau menoleh ke sisi kiri, dimana mobil itu berada.
"Ayo, Virginia... Kamu harus segera sampai kampus!" gumam Virginia semakin menambah kecepatan mobilnya, hingga mencapai 150 km/jam. Tak pernah sebelumnya ia melaju dengan kecepatan itu.
Pemuda di dalam Lambo hijau sempat kaget ketika Virginia berani melaju secepat itu. Akhirnya ia melakukan hal yang sama, karena baginya kecepatan itu biasa saja untuk ia sendiri. Ia kembali berusaha mengejar Mini Cooper orange setelah menutup kembali kaca mobilnya.
Sedangkan Jio, ia sempat panik saat mobil Virginia melaju sedemikian cepat. Takut jika sang gadis hilang kendali, dan terjadi hal yang tak ia inginkan, maka ia akan merasa sangat bersalah atas insiden itu. Jio pun akhirnya mengejar Mimi Cooper dan Lamborghini hijau dengan kecepatan setara.
__ADS_1
Tiga mobil mewah dengan harga yang berbeda - beda, seolah tengah beradu di aspal tengah kota. Bugatti Divo yang berada di kisaran harga US$ 5,4 juta, Mini Cooper senilai hampir US$ 90 ribu dan Lamborghini Aventador yang berada di kisaran harga US$ 500 ribu.
Jalanan yang lengang mempermudah tiga pemuda menjalankan aksi heroik mereka. Seolah tengah berkejar - kejaran, tanpa tau satu sama lain.
Virginia tau, jika di kejar si Lambo hijau, namun ia tak tau jika Bugatti yang kemarin ia tumpangi ada di belakangnya.
Jio tau jika Mini Cooper di kemudikan oleh Virginia, tapi ia tak tau siapa yang berada di dalam Lambo hijau. Dan apa urusan si Lambo hijau mengejar Virginia.
Sedang penghuni Lambo hijau tau jika Mini Cooper adalah Virginia, tapi ia tak tau jika ada pemuda lain yang mengawasi mereka beberapa meter di belakangnya.
Lalu dimanakah mereka akan bertemu nantinya?
Entahlah, yang jelas beberapa menit setelah berkejar - kejaran, kini mobil Virginia berbelok masuk ke dalam gerbang kampus Sapienza, dan langsung masuk ke area parkir dengan dada yang kembang kempis.
Memilih untuk berhenti di tempat parkir yang masih luas. Nafas Virginia naik turun tidak karuan.
Tentu saja ia sendiri panik, tak percaya bisa melaju dengan kecepatan sedemikian tinggi. Angka yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.
Sementara Lamborghini yang mengikutinya berhenti tepat di depan gerbang kampus. Menatap jauh ke arah Virginia yang tak lagi terlihat olehnya.
"Ternyata dia bisa berkendara secepat itu..." gumamnya tersenyum. "Baiklah, kapan - kapan sepertinya kita harus balapan, Virginia..." lanjutnya merasa semakin kagum akan sosok Virginia.
Sedangkan Jio, ia memilih berhenti tepat di belakang si lambo. Ia terus menatap sinis pad Lambo hijau di depannya. Menunggu, siapa tau ada kesempatan untuk bisa melihat wajah pengemudinya. Dengan begitu ia akan mudah melacak siapa dia? Dan kenapa mengikuti Virginia.
"Baiklah, Boy! aku ingin sedikit mengenalmu!" ucap Jio mengambil ponsel dari dalam dashboard nya.
Segera ia ketikkan nomor yang tertera di plat mobil itu. Kepintarannya sebagai seorang hacker sangat berguna untuk saat ini. Saat ia penasaran siapa yang mengikuti sahabatnya sejak kecil itu.
"Kita lanjut nanti!"
Gumam Jio meletakkan ponsel di jok samping. Kemudian kembali menginjak pedal gas ke arah depan, melewati Lambo hijau yang masih betah parkir di depannya. Ia terus menatap kaca bagian depan Lambo hijau. Guna mendapatkan kejelasan wajah si pengemudi.
Saat mobil Jio melintas di depannya. Barulah pemuda di dalam Lambo hijau menyadari, jika ia tadi melihat Bugatti biru itu juga terparkir bersamanya di komplek rumah Virginia.
"Siapa dia?" gumamnya.
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1
Baiklah, di episode ini ternyata semua bertanya siapa dan siapa. 😅
Kalau kakak - kakak reader nih, kira - kira dari mana saja? 🤔