
Delapan tahun tak pernah bertemu, tak membuat tiga orang yang dulunya satu sekolah itu lupa akan wajah masing - masing.
Lussio Lee tentu saja tak akan pernah melupakan wajah seorang Jio. Salah satu orang yang ia anggap harus bertanggung jawab atas tewasnya sang Ayahanda selain Michael Xavier.
Ia pun sangat mengenal sosok Virginia. Karena sejak kejadian delapan tahun lalu. Ia terus mengincar Virginia sebagai umpan untuk mengeluarkan Jio dari sarangnya.
Dan saat mata - mata mengatakan jika Jio dan Virginia berada di kampus yang sama, maka saat itulah waktu yang ia anggap tepat untuk memulai penderitaan seorang Georgio Xavier.
Sementara Jio sendiri masih bisa mengenal jelas wajah Lussio Lee. Pemuda yang menyekap Virginia saat ink. Entah sejak kapan lelaki itu berulah. Yang jelas sebelumnya tak terdeteksi pemuda itu memasuki kota Roma.
Namun nyatanya musuh selalu tak kehabisan akal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Termasuk hal keji sekalipun. Dengan mengirim mata - mata yang cukup pandai berpura - pura menjadi Mahasiswi.
Menatap sendu pada Virginia, kemudian menatap tajam pada Lussio. Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan gadis cantik yang sedang tersiksa. Akibat menjadi tawanan akan masalah yang bersangkutan dengan Klan Balck Hold. Meskipun semua berawal demi melindungi sang gadis dari lelaki brengsek macam Lussio.
Lussio menarik rambut panjang berwarna keemasan milik Virginia dengan sangat keras.
"Emmmhhh!" erang Virginia merasakan kepalanya sangat sakit dan panas bersamaan. Namun ia tak bisa berteriak akibat mulut yang tertutup lakban hitam.
Melihat itu, tentu Jio semakin geram. Tangan terkepal kuat. Siap menghancurkan tubuh Lussio dengan keji, karena berani menyentuh Virginia.
"Kau lihat!" ucap Lussio. "Betapa teman ku ini tak bisa menahan rasa sakit sama sekali!" lanjutnya terkekeh.
"Lepaskan dia, Lussio!" seru Jio dengan suara teramat kencang.
Namun Lussio justru semakin tertawa, "rupanya kau tak tahan jika sahabatmu ini kesakitan!"
"Lepaskan dia!" seru Jio melempar pisau kecil secara senyap. Sama sekali tidak ada yang menyadari jika tangan Jio bergerak dengan sangat cepat.
"Aaakkhh!" teriak Lussio. "Brengsek! F*ck!" umpat Lussio menahan rasa sakit. Ia tarik pisau kecil yang menancap di dadanya bagian atas.
Lussio mengangkat pisau kecil milik Jio di depan wajahnya, menatapnya sembari mengusap dadanya. Hanya pucuknya saja yang terdapat aliran darah merah.
"Hahahaha!" tawa Lussio kemudian, "tidak semudah itu kau melukai ku, Jio!" Lussio menepuk dadanya. Ia sudah memakai baju pelindung peluru di dalam sana. Membuat pisau pun tak bisa menembus dengan baik. Ujung pisau hanya menyerempet bagian bawah leher yang tak tertutupi anti peluru.
"Lepaskan dia, atau aku akan benar - benar meremukkan tulangmu!"
Sesungguhnya Jio pun tau jika Lussio memakai anti peluru, tapi ia sengaja membuat peringatan kecil.
"Sebelum kau meremukkan tulang keponakan ku! Langkahi dulu mayatku!" sahut laki - laki berbadan besar yang merupakan paman Lussio Lee.
Jio memicingkan matanya, menatap penuh kebencian pada lelaki yang mulai berjalan mendekati Lussio.
__ADS_1
"Dan kau tidak akan bisa melangkahi mayat Pamanku, wahai pecundang!" ujar Lussio tersenyum miring, "aku akan menyiksa gadis ini, kalau sampai kau berani melawan Pamanku!" ucap Lussio dingin, tegas dan dengan gigi yang mengerat. Tangan kanan masih menarik kuat rambut Virginia.
"F*ck you!" desis Jio geram semakin geram. "Apa sebenarnya yang kau inginkan?"
Lussio tersenyum sinis. Ia lepaskan tangan yang menarik rambut panjang Virginia dengan sangat kasar. Hingga kepala Virginia seolah terhempas begitu saja.
"Yang ku inginkan hanyalah nyawamu dan nyawa Michael Xavier yang tak berguna itu!" decih Lussio mengucap nama Michael dengan kebencian sepenuh dada. "Jadi serahkan nyawamu! Dan aku akan melepas gadis ini!"
Jio menatap sendu Virginia. Mata sedih Virginia membuat hati Jio semakin bergetar. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Seolah berkata jangan.
' Jangan lakukan apapun yang di perintahkan Lussio, Jio... '
Ucapnya dalam hati. Hanya bisa berucap dan memohon dalam hati. Virginia semakin meneteskan air mata. Ia terus menggelengkan kepala.
Namun waktu terus berjalan, pama Lussio mulai melempar semua senjata di tubuhnya ke atas paving. Ia berjalan mendekati Jio. Kali ini ia ingin melawan Jio dengan tangan kosong.
Menyungging senyuman sinis, Paman Lussio yakin, jika sore ini ia akan membuat nyawa seorang putra mahkota melayang. Tanpa harus bersusah payah menghabiskan peluru ataupun anak panah. Tanpa harus ada pertumpahan darah antar pasukan.
Apalagi yang bisa membuatnya bangga, selain bisa menghabisi pemuda yang di gadang - gadang sebagai penerus Klan Black Hold. Klan Mafia terbesar di Eropa. Bahkan merambah Benua Amerika.
Langkah dingin semakin mendekati Jio yang terpatung di tengah halaman. Dimana semua mata anak buah Lussio bisa melihat dengan jelas apa yang mungkin saja akan di alami sang pemuda.
Namun sebagai anak buah Lussio Lee, mereka harus tetap satu tujuan. Yaitu harus yakin dan percaya, jika Klan mereka akan memenangkan pertempuran melawan Klan Black Hold.
Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?
Semua bisa saja menjadi mungkin. Apalagi Paman Lussio bukanlah sembarang orang. Ia dikenal suka menyiksa seseorang tanpa belas ampunan meskipun hanya melakukan kesalahan kecil.
"Kau dengar!" ucapnya, "satu perlawanan mu akan di balas dengan satu hukuman untuk gadis itu!" melirik Virginia dengan senyuman culas.
Jio menatap sinis lelaki yang badannya tiga kali lipat lebih besar dari dirinya. Sama sekali tak ada rasa takut dalam diri Jio berhadapan dengan musuh sebesar itu. Karena ia pernah mengalahkan musuh semacam pria itu dalam pertarungan ilegal.
Tersenyum miring, "apa keponakanmu itu terlalu lemah untuk melawan aku?" tanya Jio dengan nada mengejek. "Apa dia banci?" lanjutnya culas.
"Brengsek!" teriak Lussio. "Beraninya kau mengatai ku banci!" sembur Lussio kembali menarik kasar dan kuat rambut Virginia.
Sementara Paman Lussio menggenggam erat tangannya sendiri. Rasanya sudha tak sabar menghantam kepala Jio menggunakan tangannya sendiri.
"Emmhh!" suara Virginia terdengar sangat miris.
Seketika itu, jantung Jio serasa di tancapi puluhan belati bersamaan. Namun wajah Jio masih terlihat sangat tenang. Ia sengaja tak melihat ke arah wajah Virginia secara langsung. Karena ia yakin, emosinya mungkin tak akan pernah tertahan jika melihat air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
"Kau lihat, bukan!" ucap Jio pada lelaki di depannya. "Dia hanya berani menyakiti wanita! Hahahaha!" gelak Jio melawan emosi di dalam dada.
"Lussio Lussio... Harusnya kau itu rok!" ejek Jio. "Sekalian pakai lipstik!"
Jio engaja memancing amarah kubu lawannya. Dan tentu saja untuk mengulur waktu. Ia tak ingin mati konyol tanpa perlawanan. Ia hanya sedang menunggu momen yang tepat untuk menyeret kepala Lussio dan Pamannya.
Perkiraan Jio tak pernah meleset. Hanya dengan kalimat singkatnya. Lussio sudah terbakar emosi. Segera ia berjalan cepat dingin ke arah Jio dan pamannya.
"Biarkan aku yang memotong leher anak ini, Paman!" ucap Lussio.
"Kau yakin?"
"Hemm!" jawab Lussio menatap tajam Jio. "Anak Mommy seperti dia bukanlah lawan yang sulit!"
"Baiklah! Aku yakin kau bisa dengan mudah melubangi matanya!"
"Jaga gadis itu! Tarik rambutnya jika anak ini melawan! Atau tekan remote pengendali bom di punggungnya! Atau jika perlu perk*sa di ramai - ramai di hadapan pemuda sialan ini!"
"Hahahaha!" tawa sang Paman. "Biarkan Paman yang pertama, Lussio!"
"Tentu saja!" jawab Lussio tersenyum culas.
Meskipun wajah Jio tampak biasa saja. Ia tau di dalam dada laki - laki itu sudah muncul bara api yang sedemikian besar. Ia bisa dengan mudah menyiksa Jio di saat seperti ini.
"Mulai!" seru Paman Lussio yang sudah berdiri di samping Virginia. "Selamat menikmati tontonan terbaik sepanjang masa, girl!" bisiknya di telinga Virginia.
Seketika itu, gadis itu kembali menangis. Ia tak akan bisa melihat Jio terluka walau sedikit.
' Jio... ' lirihnya dalam hati.
BUGGH!
Satu tinjuan melesak di pipi kiri Jio. Sebagai awal dari penyiksaan seorang Georgio Xavier.
Lalu bagaimanakah nasib keduanya setelah ini?
Bisakah mereka kembali bersama?
Dunia kejam Mafia tidak akan pernah mengenal kata ampunan. Jika ada kesempatan untuk menyiksa musuh, makan akan mereka lakukan!
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1