
Setelah sesi makan malam di keluarga Xavier malam itu, Gerald kembali ke kamarnya. Duduk di depan meja belajar berhadapan dengan sebuah laptop yang menunjukkan sebuah akun ig bernama pemilik Jenia Mezzaluna, sembari berangan dalam hati.
Kenapa sang Mommy selalu memperingatkan dirinya agar tidak menjadi seorang playboy? Dan menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita. Untuk apa? Pikirnya.
Sementara di depan matanya sudah ada Jenia yang sangat cantik dan menarik perhatiannya, bahkan di hari pertama berkenalan.
Meski di sisi lain, juga ada Chloe Patrizia yang sudah menarik perhatiannya sejak lebih dari empat tahun yang lalu. Teman lama yang cukup sulit untuk ia dekati di awal. Meski sekarang gadis itu mulai membuka jalan untuk dirinya.
Meski di kedua gadis itu terlihat berbeda sifat dan karakter.
Jika Chloe terlihat begitu cantik dan anggun di masa kecilnya, juga terlihat suka berganti - ganti aksesoris, juga bergonta ganti perlengkapan sekolah dari brand ternama.
Berbeda dengan Jenia yang nampak tidak terlalu suka mengenakan aksesoris. Meski begitu dapat dilihat jika apa yang melekat di tubuh Jenia adalah barang mahal dan langka. Alias limited edition.
Dua gadis itu saja sudah membuat sang Tuan Muda bingung harus memilih yang mana.
Lalu bagaimana jika dia sudah benar - benar keluar dari kandang dan terjun di dunia bisnis seperti seperti sang Ayah dan Kakak laki - lakinya?
Apakah ia akan menjadi Michael muda yang suka mengencani sekretarisnya?
Atau ia akan menjadi diri sendiri, dan suka mengencani banyak wanita manapun? Tak harus sekretarisnya.
Bergaul dengan berbagai kalangan elite, yang rata - rata mereka pasti cantik dan menarik, karena di dukung oleh uang yang melimpah untuk mempercantik diri.
Belum lagi jika dia sudah memasuki area club malam. Yang mana kebanyakan sering menjadi tempat berkumpulnya para wanita yang suka menggoda iman lelaki. Selain seksi, juga pandai merayu untuk menaikkan hasrat kelakian.
Saat semua orang tau jika dia adalah salah satu Tuan Muda dari keluarga Xavier, bukankah akan banyak wanita yang datang dengan sendirinya? Menawarkan diri untuk di kencani, walau hanya untuk semalam sekalipun.
Dulu, hampir dua puluh tahun yang lalu, sang Ayah sering mendapatkan tawaran itu. Tapi sayang, Tuan muda hanya ingin mengencani sekretarisnya yang sudah tak perawan.
Yang penting baginya kala itu, asal lincah melakukan gerakan seperti menunggang kuda.
Selain garis ketampanan yang turun temurun, Gerald juga di dukung oleh uang seri sang Ayah yang tidak ada batasnya. Tentu ia bisa dengan mudah menunjuk satu gadis manapun.
Gerald terus melihat satu persatu foto Jenia di akun sosial media gadis itu yang baru saja ia follow. Tak lupa ia meninggalkan sebuah tanda merah sebagai simbol ia sudah mengamati satu persatu foto yang jarang menunjukkan wajahnya secara penuh.
"Padahal cantik. Kenapa kalau foto hanya di ambil sebagian saja?" tanya Gerald.
Memang rata - rata foto Jenia tertutup rambut, atau foto dari samping. Bahkan beberapa foto di ambil dari belakang. Yang mana hanya menunjukkan rambut panjang yang tertiup angin.
"Jenia..." gumam Gerald mengingat kembali wajah cantik Jenia saat pertama kali memasuki kelasnya. Dan ia tak pernah lupa akan hoodie BTS yang di kenakan sang gadis.
"Chloe..." gumam Gerald saat mengingat wajah cantik Chloe di masa kecil.
Meski belum pernah melihat secara langsung, ia yakin Chloe sekarang semakin cantik.
Baiklah, biarlah sang Tuan muda berkutat dengan pergerakan hatinya di masa muda. Yang mana masih di bilang usia labil dan belum bisa stabil. Jauh berbeda dengan sang Kakak laki - laki. Yang mungkin lebih stabil sejak kecil.
__ADS_1
***
Jika di pantai ada Jio yang sedang berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya. Sedang di dua kamar anak muda yang ada di istana Xavier, juga ada dua anak muda pula yang sedang memikirkan sesuatu yang berbeda. Maka di salah satu kamar bodyguard ada...
Xiaoli Chen, bodyguard tampan yang sedang berdiri di dekat jendela. Menyandarkan satu lengannya pada kerangka kayu jendela, sedangkan matanya menatap jauh keluar jendela. Dan menjadikan bangunan megah tiga lantai sebagai titik fokus pandangan matanya.
Berada di lantai dua membuatnya lebih mudah untuk bisa melihat besarnya istana Xavier. Tanpa harus terhalang banyak tumbuhan bunga - bunga dan sebagainya yang tingginya tak lebih dari 3 meter.
Sejauh mata memandang, hanyalah bangunan megah Tuan Besar Xavier yang memenuhi pandangan mata sang pemuda. Namun bagi Xiaoli, bukan bangunan itu yang menarik perhatiannya. Bukan pula tanpa alasan untuk terus menatap bangunan super mewah itu.
Tapi keberadaan seorang Nona Muda yang ada di dalam sana. Seorang Nona Muda yang akhir - akhir ini membuat dirinya frustasi dan serba salah. Bagaimana tidak, dunia mereka berbeda. Mereka berdua berada di dalam circle yang jauh berbeda.
Ia teringat kejadian beberapa saat yang lalu. Saat ia sedang berada di pagar utama istana Michael untuk berpatroli, ada seseorang datang menggunakan mobil CRV berwarna putih. Orang itu turun untuk kemudian menanyakan sebuah nama yang sangat ia kenali, Georgia Xavier. Orang itu menitipkan sebuah kotak yang bertuliskan undangan pesta ulang tahun.
Undangan pesta ulang tahun dari orang kaya memang berbeda.
Undangan berbentuk box itu di terima oleh seorang penjaga gerbang. Namun saat akan memberikannya kepada Nona Muda ke dalam Istana, semua penjaga hanya saling pandang satu sama lain.
Seolah ada rasa takut tersendiri untuk memasuki istana Michael. karena memang tidak semua bodyguard dan penjaga bisa seenaknya memasuki istana Michael. Hanya bodyguard yang memiliki level tertentu yang di izinkan untuk memasukinya.
Sedangkan level tertinggi yang sedang ada di sana hanyalah dirinya. Dan itu membuat semua penjaga pagar besi berlambang MXS itu melihat ke arahnya. Mau tak mau akhirnya dialah yang membawa box undangan itu ke dalam istana MIchael.
Setiap satu langkah kaki mendekati istana, maka kecepatan detak jantung ikut bertambah pula. Dan saat kaki mulai memasuki istana Michael, maka debaran semakin terasa tak terkontrol di dalam dada.
Namun lelaki 21 tahun itu cukup pintar untuk menutupi segala kegugupan di dalam dada. Ekspresi datar sang bodyguard cukup membuat semua orang percaya, jika tidak ada yang salah di dalam dirinya.
Setelah bertanya pada seorang pelayan, maka Xiaoli segera menuju ruang makan yang di kabarkan menjadi letak keberadaan Nona Muda saat itu.
Dan siapa sangka belum sempat ia menyapa sang Tuan Besar, Tuan muda sudah menanyainya terlebih dahulu. Dan sayangnya, yang di tanyakan oleh Gerald sama sekali tidak ia ketahui.
Dan saat itulah, jantung yang sudah tak karuan semakin berdebar hebat, karena sang Nona Muda menoleh ke belakang, dan pandangan merekapun akhirnya bertemu untuk beberapa detik.
Deburan ombak seolah terasa begitu nyata di dalam dada sang bodyguard. Namun kewarasan mengatakan...
Jaga pandanganmu! lihat siapa yang ada di sekitarnya!
Ya! Ada Tuan Besar Xavier dan Nyonya Besar Xavier di sekitar Nona Muda Xavier.
Mimpi seolah terasa terlalu tinggi untuk di gapai, tapi siapa yang bisa membohongi hati sendiri?
Xiaoli mengagumi secara nyata tentang kecantikan sang Nona Muda. Dan satu hal yang sulit ia artikan, tak hanya sebuah kekaguman, melainkan sesuatu yang semakin hari semakin bertambah. Jika boleh lancang, ia ingin mengatakan jika ia terpesona dan jatuh cinta pada sang Nona Muda Xavier.
Xiaoli tersenyum lirih dan kecut. Dalam angan, ada sekelebat suara yang mengatakan jangan bermimpi terlalu tinggi. Namun ada suara lain yang mengatakan jika cinta tak memandang kasta.
Lama Xiaoli merabai dirinya sendiri di dekat jendela. Hingga diri merasa lelah merasakan perbedaan. Yang hanya bisa ia lakukan sekarang hanyalah menganggap Nona Muda Xavier adalah idola yang sangat ia kagumi.
Melirik jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Harusnya waktu baginya untuk istirahat. Karena tugas berpatroli nya hari itu hanya sampai jam tujuh malam. Tapi hati yang resah, membuat kakinya melangkah keluar kamar.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Noel yang sedang duduk di depan mess bodyguard.
"Hanya ingin berkeliling merasakan angin malam, Paman. Di kamar terlalu membosankan." kilah Xiaoli.
"Oh!" Noel mengangguk.
"Tumben Paman Noel ada di sini?" tanya Xiaoli pada Noel yang suah punya pasangan di Mess bodyguard khusus untuk mereka yang sudah berpasangan.
Menikah atau tidak menikah, selama mereka membawa pulang pasangan yang di anggap aman, maka mereka harus pindah ke mess bodyguard khusus.
"Aku hanya di minta Taun Jack untuk memastikan keamanan gudang senjata di belakang!"
"Oh..." Xiaoli mengangguk. Kemudian ia pun langsung pada misi awal. Yaitu berjalan - jalan keliling area luar Istana.
Langkah kaki sang bodyguard terus melangkah menjauh dari area mess. Dan semakin dekat dengan istana Michael. Ia masih terus berjalan, hingga sampai di bagian samping istana.
Langkah terus berjalan ke arah depan. Dengan keahliannya bergerak dengan senyap, kini ia sudah berada di bagian depan istana. Berada di bawah pohon, berdiri dengan tegak. Dengan beberapa cahaya lampu redup di area taman.
Sepasang mata mengamati sekitar. Saat di rasa anam, ia mulai mendongakkan kepalanya. Menatap sebuah jendela di lantai dua yang mana cahaya lampu utama masih menyala dengan terang.
' Apa Nona Jia belum tidur? '
' Apa yang dia lakukan? '
Gumamnya dalam hati.
Sampai beberapa menit kemudian, ia masih betah menatap jendela kamar yang jendela vitrase nya sudah tertutup, tapi tidak dengan gordennya.
Otak terus menduga - duga, apa kira - kira yang sedang di lakukan sang Nona Muda. Sampai bayangan berdiri dan bergerak terlihat dari balik jendela.
Siapa sangka pucuk di cinta ulam pun tiba. Pintu balkon bergeser ke sisi kiri. Seseorang keluar dari dalam kamar itu.
Daan saat seorang gadis keluar dari sana, cepat - cepat Xiaoli manyelinap di antara pepohonan. Menyembunyikan diri di antara batang pohon.
Tapi Nona Muda Xavier bukanlah sebarang Nona Muda. Tujuh tahun ia menempa ilmu di kuil Shifu. Diri juga di ajari untuk mengenal pergerakan sensitif di sekitar. Dan itu membuatnya tau, jika ada sesuatu yang baru saja bergerak di antara pepohonan.
"Siapa itu?" gumam Jia mendekati dinding pagar balkon. Melihat ke bawah, di antara pepohonan yang berjajar di tepi pagar istana.
"Tidak ada siapa pun!" gumamnya kemudian.
Sepasang mata terus menyisir setiap area di taman dan pepohonan. Ia juga menajamkan telinga untuk mendengar suara yang mungkin anak tercipta dari arah sana.
Namun semua nihil...
Ia tak melihat siapa pun, dan tak menemukan bayangan apapun. Akhirnya sang Nona Muda menyerah.
Ia berfikir, mungkin saja itu adalah penjaga yang berpatroli. Ataupun kucing yang melintas.
__ADS_1
Sementara Xiaoli mematung di balik pohon dengan dada yang berdebar. Berharap Nona Muda tak menemukannya.
...🪴 Bersambung ... 🪴...