
Memiliki kesempatan untuk bisa menikmati gumpalan empuk seorang nona muda di keluarga Arlington, tentunya hal yang sangat langka. Meskipun bukan putri kandung Arlington, tentu saja rasa tubuh Selena setara Tuan Putri.
Berkulit putih mulus tanpa celah, keharuman dari parfum yang berharga, tentu saja membuat hidung dua bodyguard Michael di mabuk kepayang.
Hanya menghirup aroma lehernya saja sudah berhasil membuat juniornya berdiri tegak. Berharap bisa menyentuh pemilik keharuman berasal.
Noel dan Andreas tak melewatkan sedetikpun kesempatan untuk bisa menghisap, menjilat, mengulum, menggigit manja put*ng Selena, juga memijat lembut gumpalan selembut squishy.
Sesekali mereka mainkan jemari mereka di puncak pink. Menggoyang cepat, kemudian menjepit dan menariknya manja untuk membangkitkan gairah Selena.
Selena sempat mendesis karena rasa geli yang aneh. Sekuat tenaga ia menolak perasaan itu. Namun naluri alamiah membuat bagian bawah tubuhnya tetap timbul rasa basah.
Satu tangan Andreas sudah merabai kancing celana jeans ketat Selena. Bersiap untuk membuka kancing dan menurunkan resleting celana Selena. Namun bibirnya masih asyik menyesap kenikmatan di dada Selena. Dalam benaknya, kini saat yang tepat untuk mengobrak abrik apa yang di simpan di dalam sana. Meruntuhkan pertahanan Selena dengan sebuah kenikmatan yang mereka ciptakan.
Saat sedang asyik - asyiknya menikmati gumpalan empuk di dada Selena, tiba - tiba pintu terbuka dengan cara di dobrak kasar. Suara berisik itu membuat Noel dan Andreas murka. Terutama Noel, ia sangat mudah terpancing emosi.
"Lepaskan dia!" seru seseorang dari ambang pintu. Gigi bergemeretak, menatap benci pada Andreas dan Noel.
"Siapa kau!" seru Noel melepaskan Selena. Berdiri tegak menghadap orang asing itu. "Untuk apa kau ada di sini?" lanjutnya merasa tak mengenal orang itu.
Cepat - cepat Selena menutupi dadanya. Meraih baju yang teronggok di lantai. Namun saat berusaha memakainya, Andreas menarik pergelangan tangan Selena. Membuat Selena tak berkutik dan terkunci. Akhirnya ia hanya bisa menutupi dada menggunakan baju yang ia dekap dengan satu tangannya.
Sedang seseorang yang menghancurkan momen intim Andreas dan Noel itu tersenyum sinis. Menatap remeh pada Andreas dan Noel.
"Kalian ingin tau siapa aku?" tanyanya sinis. "Aku di sini untuk menyelamatkan Papa ku!"
Noel dan Andreas saling melirik. Papa siapa yang dia jemput. Lalu apa urusannya dengan mengganggu mereka untuk bisa menikmati tubuh menggoda Selena?
Selena pun ikut memicingkan matanya. Menatap penasaran pada orang asing di ambang pintu.
"Namaku Zico Mourinho!" jawab pria berusia berusia sekitar 31 tahun.
Semua membelalakkan matanya, tak terkecuali Selena yang reflek membuka mulutnya lebar.
Saudara tirinya?
"Ka...kau.." Selena tergagap.
"Ya! saudara tiri ku..." Zico tersenyum culas.
__ADS_1
"Meskipun kalian saudara, apa kau pikir kami akan melepaskan wanita ini begitu saja?" tanya Noel. "Tidak semudah itu, Tuan!" Noel tersenyum sinis.
Noel paling emosi disini. Tak mudah baginya untuk mengendalikan emosi yang terlanjur meletup - meletup dari dalam dirinya. Hasratnya untuk bisa menikmati tubuh Selena sudah di puncak. Kesempatan pun belum tentu datang dua kali. Tapi harus jatuh begitu saja, tentu saja ia murka.
Berbeda dengan Noel, maka Andreas lebih bisa mengatur emosi. Andreas memiliki jiwa yang lebih tenang di banding Noel. Meskipun ia harus mengalami hal yang dengan Noel, tapi ia masih bisa menstabilkan gejolak di dalam tubuhnya.
Tersenyum culas, "Lalu apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja?" tanya Zico menatap remeh pada Noel. "Satu lawan satu dengan tangan kosong! kalau aku menang, biarkan aku membawa saudara tiri ku!"
"Baiklah!" sahut Noel cepat. Ia memiliki postur lebih tinggi dari Zico, pastilah lebih mudah untuk menang. Toh dia bodyguard terlatih, pikir Noel.
"Maju!" seru Reno. "Kalau kau kalah, perintahkan teman mu itu untuk melepas adik tiri ku!"
"Ok, fine!" seru Noel mulai mengepalkan tangan kanan dan meninjukan ke telapak tangan kiri. Di putar ke kanan, di putar ke kiri.
Keduanya maju bersamaan. Zico maju setelah melepas jas hitamnya yang mahal, dan melempar pada Selena. Jas hitam itu jatuh tepat di atas kepala Selena. Segera Selena menariknya ke dalam dekapan.
Melihat kakak tirinya terlihat berjuang untuk menyelamatkan dirinya, tentu saja Selena tersenyum sombong. Ia akan segera terlepas dari dua bodyguard mesum yang menjijikkan itu, pikirnya.
Mengambil kuda - kuda yang sama, kemudian sama - sama berjalan berputar dengan aura menegangkan. Merasa waktu yang tepat untuk menyerang, maka Zico maju lebih dulu.
Zico menghantam wajah Noel dengan tinjuan nya. Tinjuan pertama berhasil di tangkis oleh Noel. Tapi tinjuan dari tangan satunya tak terdeteksi oleh Noel. Karena sebenarnya tinjuan pertama hanyalah jebakan untuk Noel.
Sakit luar biasa di bagian hidungnya. Namun Noel berhasil mempertahankan kakinya untuk tetap berdiri di tempat yang sama.
"Ayo, Kak!" seru Selena memberi semangat.
"Hah!" Noel tersenyum culas.
Keduanya kembali mengambil ancang - ancang, berputar sesaat, kemudian Noel menyerang lebih dulu. Mengarahkan tinjuan kembali. Namun ternyata Zico ikut maju dan menyeruduk Noel. Mendorong Noel yang badannya lebih besar dari dirinya, hingga Noel tersungkur ke dinding.
Noel menjejakkan kaki, menghentakkan dadanya, membuat Zico kembali mundur beberapa langkah.
Saat hendak menyerang kembali, tiba - tiba sesuatu mengalihkan perhatian Noel sekilas. Noel melirik Zico, lalu kembali saling serang untuk beberapa menit. Hingga akhirnya Noel tersungkur ke belakang. Cepat - cepat Zico menjejakkan kakinya di leher Noel, dan Noel dinyatakan kalah.
"F*ck!" umpat Noel.
"Hah!" hela Zico, "kau kalah!" ucap Zico dengan sombongnya. "Keluar kalian dari sini!" hentak Zico dengan suara meninggi.
"Brengsek!" umpat Noel berdiri dari tersungkurnya. Menoleh Andreas sekilas untuk mengajaknya meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Begitu saja kau kalah!" bisik Andreas saat keluar dari ruangan itu.
Noel hanya melirik sekilas sahabatnya itu. Kemudian merangkul pundaknya untuk menjauh dari bangunan tua itu. Membawa semua anak buah mereka meninggalkan bangunan tua, dan kembali ke Roma.
Di sepanjang perjalanan, tentu saja Andreas di buat bertanya - tanya. Tak mungkin pasukannya menyerah begitu saja. Toh Zico tak terlihat membawa banyak pasukan.
***
Sedangkan di dalam ruangan tadi, Selena segera memakai bajunya. Cukup canggung memang berada di dalam ruangan bersama seorang pria yang baru ia kenal. Tapi saat tau jika laki - laki itu adalah anak Frank yang katanya berada di luar negeri, maka Selena merasa lebih aman.
"Terima kasih, Kak Zico! aku tidak menyangka kamu akan datang!" ucap Selena pada Zico yang sedang memakai kembali jas nya.
"Hem.." jawab Zico datar. "Ikut denganku!" ucap Zico melangkah keluar.
Selena yang merasa di selamatkan pun, mengikuti perintah kakak tirinya itu. Tanpa berfikir panjang, bagaimana laki - laki itu tau dimana keberadaannya dengan sang Papa berada.
Zico melajukan sendiri mobil sport mewah berwarna merah dengan Selena di sampingnya. Tak ada percakapan di antara keduanya. Zico tampak fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke arah kota Roma.
Mobil Zico telah memasuki kota Roma. Tak sampai setengah jam, mobil merah Zico sampai di parkiran bangunan apartemen.
Sampai mereka tiba di depan pintu pun, tak ada percakapan berarti di antara keduanya. Zico memasang wajah dinginnya. Sedang Selena hanya meyakinkan dirinya, bahwa laki - laki itu benar kakak tirinya.
Keduanya memasuki apartemen, Zico segera menutup pintu kembali. Melepas jas hitamnya dan melempar ke sofa. Segera menekan tombol air minum. Meneguknya dengan khidmat.
"Terima kasih ya, Kak! kamu sudah menyelamatkan aku." ucap Selena tersenyum senang. Menatap kagum pada kakak tirinya yang ternyata tak kalah tampan dari Michael Xavier. Mereka pun terlihat seumuran.
Menyipitkan mata, menatap Selana yang tersenyum cerah, "Menyelamatkanmu?" tanya Zico dengan kening yang berkerut. "Hahaha!" Zico tertawa lepas dengan kepala yang menggeleng. Seolah sedang menertawai Selena.
Melihat cara tawa Zico, ekspresi Selena berubah dalam sekejap. Zico berjalan mendekati jendela, membuka tirai putih yang menghalangi pemandangan di luar kaca.
"Kak! kita ini saudara! kamu... kamu tidak mungkin menyakitiku, kan?" tanya Selena takut.
Tersenyum miring, "Kita memang saudara, Selena. Darah kita berasal dari pria yang sama. Tapi kau juga harus ingat!" Zico menoleh kembali pada Selen. Membelakangi jendela kaca yang menunjukkan kegelapan menjelang pagi. "Kita lahir dari ibu yang berbeda!" menatap dingin pada Selena.
Tatapan yang tajam, tatapan yang hampir sama dengan tatapan membunuh Michael. Tak ada senyum ataupun gelak tawa lagi di wajah tampan Zico. Aura yang jauh berbeda saat pertama kali mereka bertemu di bangunan tua tadi.
"Kak...." lidah Selena tercekat.
...🪴 Happy reading 🪴...
__ADS_1
Wah..wah.. siapa Zico ini sebenarnya?
Bocoran next episode, adalah kondisi Chania dan Maya.