SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 173


__ADS_3

Meninggalkan Jio dan Virginia yang sedang melepas rindu dengan hanya saling bertukar pandang. Di kampus masih ada Jia yang jam kuliahnya tidak sama dengan Jio.


Dengan di antar oleh seorang bodyguard Jia sampai di halaman dengan selamat tentu saja.


Dua bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Nona Muda Xavier itu menunggu tepat di depan kampus. Jia melarang keras keduanya untuk mengikuti pergerakan dirinya di dalam kampus. Tentu saja itu sangat memalukan bagi seorang Jia Xavier.


Meskipun Mahasiswa lain hanya memandang heran. Karena tidak ada Mahasiswi selain Jia yang sampai harus di antar dan di tunggui oleh dua bodyguard sekaligus.


Jia duduk bersama teman - temannya, Gladys dan Reena di taman kampus. Dimana banyak Mahasiswa lain yang tengah berkumpul di sana. Bergerombol dengan sahabat mereka masing - masing.


Beberapa Mahasiswi ada yang mencoba untuk berteman dengan Jia. Tentu saja untuk sekedar berusaha bisa mengenal sosok Jio lebih dekat. Tapi tak satupun berhasil berkenalan dengan Jio. Bahkan Gladys dan Reena sendiri sampai hari itu belum pernah bercakap dengan Jio secara langsung.


"Hai, Jia!" sapa seorang Mahasiswi yang di ketahui Jia dan teman - temannya sebagai Kakak tingkat.


"Hai.." balas Jia datar.


"Jia, kamu tadi berangkat bersama Jio?" tanyanya mendekat pada Jia dan yang lain.


"Tidak! Dia kuliah pagi, jadi kami berangkat masing - masing!" jawab Jia santai.


"Oh, pantas tadi dia pergi bersama seorang gadis pakai mobil mewahnya!" ucap Mahasiswi itu dengan nada yang sulit di artikan.


Sontak ketiganya mengerutkan kening mereka. Ingin tak percaya, tapi mana mungkin ada asap kalau tidak ada api.


Bagi Jia, rasanya tidak mungkin kalau Jio pergi bersama seorang gadis yang dia sendiri juga tidak mengenalnya. Tapi siapa gadis yang bersama Jio selain dirinya di kampus ini?


Dan bagi Gladys dan Reena, itu adalah kabar buruk. Yang mana mereka saja belum bisa untuk sekedar berkenalan, tapi Jio sudah pergi bersama seorang gadis menunggangi mobil sport termewah yang ada di parkiran.


"Siapa?" tanya ketiganya bersamaan. Hanya saja suara Gladys dan Reena lebih tinggi dari suara Jia.


"Yang aku tau gadis itu Mahasiswi Kedokteran!" jawabnya enteng. "Apa itu pacar Jio ya?" tanya nya menatap Jia.


"Mahasiswi Kedokteran!" pekik Gladys dan Reena bersamaan.


"Iya!" jawab Mahasiswi itu. "Benar Jio berpacaran dengan Mahasiswi Kedokteran itu?" tanyanya lagi pada Jia.


"Aku tidak tau! Kakak ku tidak bilang apa - apa!" jawab Jia datar. Namum dalam benak gadis cantik itu terus bertanya - tanya, siapa yang bersama Jio.


"Oh!" Kakak tingkat Jia itu ber-O ria sambil manggut - manggut. "By the way saran aku .. coba deh tanya, mereka pacaran apa tidak? Soalnya kemarin aku lihat gadis itu juga merayu pacarnya teman aku!" ucapnya kemudian. "Kan sayang, kalau Mahasiswa sekeren Jio kencan dengan gadis seperti itu..." ucapnya mengirim sinyal panas untuk Jia dan sahabatnya.


"Hah! Kamu yakin?" tanya Gladys yang masih tak percaya Jio mengajak Mahasiswi Kedokteran masuk ke mobil pribadinya.


"Tentu saja! Kalau tidak percaya coba aja video call!" ujarnya kemudian berlalu dari hadapan tiga sahabat itu.


"Siapa yang di bawa Jio?" tanya Gladys pada Jia.


"Mana aku tau!" jawab Jia cuek.


"VC dong!" sahut Reena, "penasaran kita!"


"Nggak ah! Itu bukan urusan aku!" jawab Jia. "Lagi pula aku tidak yakin kalau Kak Jio punya pacar!"


"Memangnya kenapa?"


"Ya... Karena.. Sesuatu!" jawab Jia cuek.


"Hai!" suara seorang pemuda membuyarkan obrolan tiga bersahabat itu.


"Ya?" jawab tiga bersahabat secara bersamaan.


Tiga Mahasiswi melongo, melihat siapa yang berdiri di depan mereka. Seorang pemuda dengan pakaian casualnya, tersenyum manis pada tiga gadis itu.

__ADS_1


"Boleh tanya?" tanya pemuda itu.


"Boleh!" jawab Gladys cepat. Sebagai remaja pencari pemuda tampan, tentulah Gladys cepat tanggap jika menyangkut lelaki keren dengan wajah rupawan. "Tanya saja!"


"Fakultas Arts & Desain dimana, ya?" tanya pemuda itu.


"Oh! Sebelah sana!" jawab Gladys menunjuk jalan lebar yang mengarah ke belakang gedung. "Masuk saja! Nanti pasti ketemu tulisannya!"


"Oh... Terima kasih, ya?' ucap pemuda itu.


"Sama - sama!" jawab Gladys. "Mahasiswa baru kah?"


"Aku sudah mendaftar, tapi baru hari ini bisa masuk kuliah!"


"Oh, kami juga mengambil Arts & Desain!" sahut Jia.


"Berarti kita satu kelas?" tanyanya menatap lekat pada Jia. Mengingat wajah Jia paling berbeda dari dua lainnya. Membuat pria itu menatap lekat sang gadis. Jika yang lain memoles wajah mereka di beberapa bagian. Berbeda dengan Jia yang selalu tampil natural.


"Bisa jadi!" jawab Jia.


Pemuda itu tersenyum, "boleh kenalan?" tanya pemuda itu. "Namaku Diego Maldini!" ucapnya mengulurkan tangan pada Jia.


Jia menatap uluran tangan itu. Dan saat itu juga Gladys dan Reena saling lirik, kemudian menyenggol lengan Jia. Dari mereka bertiga, Jia lah yang di pilih untuk bersalaman pertama kali.


"Jia!" jawab Jia menerima uluran tangan lelaki muda bernama Diego itu.


Diego menebar senyum manis yang hanya ia tujukan pada Jia. Kecantikan natural sang putri Mafia memang selalu menarik perhatian kaum adam. Hanya saja Jia tidak sepeka perempuan pada umumnya. Dia lebih cuek bahkan no reken.


Tapi untuk pemuda tampan dan manis ini, entahlah. Jia bersedia menerima uluran tangan pemuda itu. Yang artinya mulai detik itu mereka di nyatakan saling mengenal satu sama lain.


"Jia saja?" tanya Diego mengulur waktu untuk bisa menyentuh tangan lembut Jia.


"Ya, Jia saja!" jawab Jia memilih untuk memperkenalkan nama kecilnya saja, dan langsung menarik tangannya dari sang pemuda.


"Gladys!"


"Reena!"


Kedua sahabat Jia saling bersahutan menyebutkan nama masing - masing.


"Hai, Gladys! Hai Reena!" sapa Diego ramah.


"Hai juga, Diego!" jawab keduanya bersamaan.


"Baiklah kalau begitu! Aku ke sana dulu!" pamit Diego.


"Ok, Diego!" jawab Gladys.


Sebelum berlalu, Diego mengangguk pelan untuk menyapa Jia yang tak menjawab pamitnya. Yang di sapa hanya tersenyum memaksa.


"Dear God! Tidak kakak tidak adik! Keduanya sama - sama memiliki daya pikat luar biasa!" ujar Gladys setelah Diego berlalu.


"Apanya?" tanya Jia cuek.


"Ya kalianlah!" sahut Reena. "Ajaib bukan? Jio bisa memikat kami semua. Dan kamu! Memikat semua lelaki di kampus ini!" lanjut Reena terkekeh riang.


"Lebay!" seru Jia yang di arahkan pada Reena.


"Heheh! Tapi memang benar apa yang di katakan Reena!" sahut Gladys, "dan lagi! Sepertinya Diego tampan dan kaya juga, ya?"


"Jeli amat!" ketus Jia.

__ADS_1


"Terlihat dari apa yang dia pakai!"


Jia hanya menyebikkan bibirnya malas. Rasanya ia kurang tertarik jika harus membahas lawan jenis. Bukan tidak normal, tapi jiwanya belum sanggup untuk berpaling dari cinta pertamanya, Daddy Michael.


***


Kembali pada Bugatti Divo berwarna biru yang terparkir di tepi jalan dekat lautan lepas di luar kota Roma. Di dalamnya masih ada dua anak muda yang masih betah berbagi cerita.


Entah semua, atau beberapa di sembunyikan. Yang jelas keduanya masih tampak saling berganti bercerita.


Membuka kaca jendela mobil di sisi kiri san kanan, membuat angin laut bebas memasukinya. Menerpa dua wajah yang sama - sama menyimpan rindu.


Beberapa kali mereka saling pandang, beberapa kali pula keduanya terlihat mencuri - curi pandang.


"Wajahmu tidak banyak berubah, Jio..." ucap Virginia. "Aku bisa dengan mudah mengenali kamu!"


"Kamu juga!" sahut Jio. "Tetao cantik seperti delapan tahun lalu!"


Virginia tersenyum dengan wajah merah merona. "Kamu masih bisa mengenali aku?"


"Tentu saja!" jawab Jio. "Setiap hari aku bisa melihat foto - foto mu yang berhamburan di aplikasi berbagi foto.


"Hah!" pekik Virginia. Ia langsung ingat satu nama follower yang mencuri perhatiannya. "xgeorgio itu akun kamu?" tanya Virginia menatap lekat Jio. Bahkan tubuhnya ikut menghadap Jio.


Tersenyum simpul, "Ya.." jawab Jio.


"Kenapa kamu tidak langsung menyapa?" tanya Virginia merasa kesal dengan sikap Jio.


"Karena aku belum siap untuk menyapa mu di media sosial. Tapi ternyata Tuhan memang sidah mengatur pertemuan kita."


Drrtt


Ponsel Virginia bergetar, membuat sang gadis segera meraihnya di dalam tas.


"Halo, Mom?"


"Nia.. Kenapa kamu belum pulang?"


"Sorry Mom! Nia ada perlu di luar! Nia akan segera pulang!"


"Baiklah, Mommy tunggu. Hati - hati bawa mobilnya!"


"Yes, Mom!"


Virginia mengakhiri panggilan dari sang ibu, dan langsung menoleh Jio.


"Kita harus segera pulang, Jio! Mommy menunggu ku!"


"Baiklah! Kita ambil mobilmu!"


Mengangguk pelan dan menatap lembut sepasang mata Jio. Kelembutan yang sama dengan delapan tahun. Virginia tak banyak berubah. Masih tetap membuat hati Jio bergetar setiap berdekatan.


Ya.. Meskipun pemuda jenius itu belum berani mengartikan getaran yang selalu ia rasakan.


Sahabat kah?


Atau cinta kah?


Atau... Apalah!


Yang jelas, selama ini ia hanya memimpikan satu gadis, yaitu Virginia Brown. Jika ia di katakan berbeda dengan sang Ayah yang sulit menyatukan hatinya di usia muda. Maka Jio sudah berbanding terbalik. Ia bahkan menautkan hatinya pada gadis yang ia kenal sejak kecil.

__ADS_1


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2