
Menatap sangat serius pada Jia, Xiaoli di buat bingung dengan jawaban Jia yang seolah tidak langsung pada intinya. Dan itu membuat Xiaoli semakin resah, namun tetap berusaha untuk tenang, meski jantung sudah berdetak begitu cepat hingga ingin melompat jauh meninggalkan raganya.
"Kita tidak akan berkomunikasi..." jawab Jia kemudian. "Kamu hanya akan di fasilitasi oleh jaringan internet yang hanya terhubung untuk daratan Jepang saja. Kita tidak akan bisa berkomunikasi sebelum kamu kembali ke sini..."
Menggeleng pelan, "Apa maksud kamu, Jia?" tanya Xiaoli lirih. Wajahnya mengerut tak percaya dengan apa yang di jelaskan sang kekasih.
"Hmmm... Kamu juga tidak akan bisa menghubungi keluarga kamu di kampung..." lanjut sang gadis. "Aku yakin orang tua kamu sekarang sudah tau, jika kamu akan di kirim ke Jepang dalam waktu dekat." jelas Jia dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Bukankah dengan begitu waktu tiga tahun akan terasa sangat lama, Xiaoli?" tanya Jia dengan air mata yang kembali meluncur tanpa bisa di cegah lagi. Membayangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di antara waktu selama itu.
Tersenyum gamang, "Keputusan Daddy tidak akan pernah bisa kita rubah... Apapun caranya..."
Tidak bisa menjawab, Xiaoli mengalihkan pandangannya. Dari menatap wajah cantik sang kekasih, beralih menatap lapangan di bawah sana. Bergantian menatap pilu pada dua orang yang tengah bekerja membersihkan lapangan bola.
"Seberat ini mencintai mu, Jia..." lirih sang bodyguard.
Dan apa yang di gumam kan sang bodyguard kembali memancing tangis sang gadis. Jia tersedu dengan air mata yang terus berjatuhan.
Kepala bergerak pelan, dan mendarat di pundak Xiaoli yang masih menatap pilu pada rumput hijau yang sudah rapi. Tidak akan ada yang bisa mengerti betapa ia mencintai pemuda satu ini, selain mereka sendiri yang saling merasakan.
"Maafkan aku, Amore...." ucapnya dalam isakan.
"Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan oleh keluarga ini..."
"Aku tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa..." lanjutnya masih terisak sembari mengusap air mata yang berjatuhan.
Sebegitu mengerikannya menjadi anak orang terkaya di Italia. Sebegitu beratnya membawa nama Xavier Sebastian di belakang namanya.
Tidak mudah untuk menjadi anak seseorang yang di anggap bisa dengan mudah menggenggam dunia.
Dan tidak seorang perempuan bisa dengan mudah mendapatkan pasangan, ketika ia berada di lingkungan yang terbiasa dengan kehidupan selayaknya anak Raja.
Karena akan banyak lelaki yang mundur sebelum bertarung.
"Aku tidak yakin akan bisa berjauhan dengan mu, Xiaoli..." lirih Jia dengan rasa sesak di dalam dada.
"Maafkan aku... Maafkan Daddy... dan... Klan Black Hold yang menerapkan aturan gila seberat ini..."
Ucap sang gadis dengan terbata-bata. Kalimat demi kalimat yang ia ucapkan, di tanggapi dengan ekspresi diam sang kekasih.
__ADS_1
Bukan berarti Xiaoli membenci semua ini. Hanya saja ia merasa memang tidak seharusnya mengejar langit yang selalu berada di atas.
Ia merasa, jika dirinya hanyalah pasir yang selalu berada di Bumi. Kalau terbang tertiup angin, tetap saja ujung-ujungnya akan jatuh kembali ke tanah, atau menempel pada dahan, maupun atap rumah.
"Maafkan kami, Xiaoli..." ucap Jia untuk kesekian kalinya.
Xiaoli menoleh ke sisi kanan, menatap teduh pada wajah cantik yang basah oleh air mata, dan tengah bersandar di pundaknya.
"Tidak perlu meminta maaf, Sayang... Karena memang tidak ada yang perlu di maafkan..." ucapnya lembut sembari mengecup singkat kening sang kekasih.
"Kamu tidak salah sama sekali... Kalau kamu bukan anak dari seorang Michael Xavier, aku tidak akan pernah mengenalmu, bukan?" tanyanya mengusap air mata Jia, kemudian menarik tubuh itu untuk ia peluk lebih hangat.
Tidak peduli dengan sisa-sisa darah di wajah, leher maupun baju sang bodyguard, Jia tetap nyaman ketika di peluk sedemikian erat. Tak peduli dengan bau parfum yang sudah menghilang dan berganti dengan bau darah kering.
Itu semua karena ada cinta tulus yang ikut menguar bersamaan dengan dekapan hangat sang bodyguard.
"Aku mencintaimu, Xiaoli! Aku tulus mencintaimu!" ucap Jia dengan suara yang nyaris habis karena isak tangis belum benar-benar menghilang.
"Aku pun mencintai kamu lebih dadi nyawaku sendiri, Bao Bao!" jawab Xiaoli kembali mendaratkan kecupan di kening Jia. Hanya saja kali ini ia mengecup kening Jia dengan sangat dalam. Seolah menyalurkan cinta dengan sangat pelan, namun pasti.
"Kamu perempuan satu dari dua perempuan yang membuat aku rela mati selain Ibu ku, Bao Bao..." bisik sang pemuda. "I love you..." lirihnya terdengar sangat syahdu.
"I love you too, Sayang, Amore mio..." balas Jia sembari mendekatkan bibirnya pada bibir Xiaoli. Hingga sebuah kecupan singkat di berikan untuk sang kekasih yang tengah babak belur.
"Berjanjilah untuk tetap mencintaiku, sampai aku kembali..." pinta Xiaoli dengan mengacungkan jari telunjuknya. Meminta simbol perjanjian yang erat.
"Aku akan berjanji!" jawab Jia cepat karena sesuai dengan isi kepala dan hatinya. "Dan kamu juga harus tetap mencintaiku! Sampai kapanpun juga!" lanjutnya meraih jari kelingking Xiaoli dengan jari kelingkingnya.
"Aku pegang janji kamu.."
"Aku juga akan memegang janji kamu! Tidak ada gadis lain di sana!" ujar Jia.
"I promise!" yakin sang pemuda.
Saling menarik dan mengait erat jemarinya, seolah menjadi simbol betapa erat janji yang mereka ucapkan.
Di antara jemari yang bertaut, ada bibir yang saling menarik senyum tipis penuh makna.
"I love you..." ucap Xiaoli kembali terdengar begitu syahdu.
__ADS_1
"I love you too..." balas Jia tak kalah syahdu.
Di antara jari kelingking yang bertaut, di antara janji yang di gaungkan, dan di antara cinta yang yang di salurkan melalui tatapan mata, sebuah ciuman di wujudkan dengan sangat lembut.
Hingga sepasang mata mereka terpejam dan tubuh yang semakin kehilangan jarak. Tanpa peduli jika seandainya dua petugas kebersihan di bawah sana melihat pada mereka.
Dan cinta... akan terpisah setelah sentuhan yang hangat yang menyayat pada akhirnya, karena sebuah tugas yang tak bisa di tolak.
Mampukah mereka bertahan dalam rindu?
Mampukan mereka bertahan dalam kisah cinta yang tanpa komunikasi lebih dari tiga tahun lamanya.
***
Sementara itu, di malam itu ada gadis pirang dengan rambut keemasan yang terjebak dalam kemacetan yang panjang setelah pulang dari sebuah acara kecil bersama para sahabatnya.
Mobil berjalan begitu lambat, bahkan sesekali berjalan lambat. Ia menatap jendela yang ada di sebelah kirinya. Semua yang terlihat sangat tidak asing baginya. Karena setiap hari ia lewati.
Meskipun sesekali ia harus susah payah menyusun rangkaian ingatan akibat amnesia yang ia alami.
Ada beberapa tempat yang di anggapnya menyimpan kisah tersendiri yang seolah terlupakan begitu saja oleh nya.
Satu hal yang sangat ingin ia ingat, yaitu tentang laki-laki yang selalu di ingatkan oleh Flo, jika dia adalah kekasihnya. Siapa lagi bukan Georgio Xavier Sebastian.
Di tengah lamunannya tentang sosok tampan yang belum berani ia perlakukan layaknya sang kekasih, mobil yang membawanya berhenti total.
Dan saat itulah, tiba-tiba sebuah motor yang menyelinap di antara mobil-mobil yang berbaris antri karena macet berhenti tepat di sampingnya.
Fokus gadis cantik yang tak lain adalah Virginia itu akhirnya teralihkan pada sosok dengan motor hitam dan helm hitam. Bukan hanya itu yang hitam, tapi juga jaket kulit yang di kenakan.
"Axton..." gumamnya tanpa sadar.
Setelah sekian detik menatap pada sosok yang di panggilnya Axton, Virginia langsung memalingkan wajahnya. Karena Axton rupanya menoleh kaca buram di mana wajahnya ada di baliknya.
' Tidak mungkin Axton hafal dengan mobilku, 'kan? ' tanya nya dalam hati.
Virginia dengan sengaja menutup gorden kecil yang biasa di gunakan untuk menghalangi sinar matahari masuk ke dalam mobil. Demi menghindari tatapan Axton yang mungkin saja berniat untuk mengintip dirinya, jika memang Axton hafal dengan mobil yang sering di gunakan untuk mengantar jemput dirinya.
"Ini seperti mobil..." gumam Axton mengamati mobil yang menurutnya tidak asing.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...