
Michael, sang mafia yang masih tetap tampan dan gagah meski sudah setengah abad hidup di dunia dan sudah sangat terkenal dengan kebengisannya itu tengah duduk melamun setelah mencetuskan keputusan yang sudah tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun.
Karena apa yang ia ucapkan adalah janjinya pada mendiang sang Ayah dan juga pada orang tua dari Xiaoli Chen sendiri.
Jika ia membatalkan semua itu, pasti stigma buruk akan sampai di pundaknya yang sudah memikul beban berat karena menjadi penerus Klan Black Hold yang jumlah jaringannya tidak main-main.
"Honey..." suara lembut yang selalu membuatnya luluh di kala bara api amarah membakar tubuhnya terdengar di sisi kanan.
Hanya saja alam bawah sadarnya seolah menolak kehadiran siapapun yang muncul di sekitarnya. Sehingga ia hanya diam ketika mendengar suara itu. Meski ia diam, ia sangat yakin jika sang istri tercinta tidak akan pernah meninggalkan dirinya dalam keadaan seperti ini.
Merasa sang suami masih enggan untuk bicara, tak membuat Chania beranjak pergi dari sisi sang suami. Ia justru memeluk lengan kekar yang setiap hari membawanya dalam mimpi yang indah dan penuh bunga-bunga bermekaran.
Meski sesekali ia harus mengalami mimpi buruk seperti kehilangan orang-orang yang ia sayangi di dalam suatu medan pertempuran.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, Baby..." suara dari lelaki karismatik itu akhirnya terdengar di dalam kamarnya yang luas setelah beberapa saat hanya keheningan yang di rasakan oleh Chania.
Mendengar suara mantan bosnya itu, akhirnya Chania mendongak, menatap teduh dan penuh cinta pada wajah tampan rupawan di sana. Meski hati masih menyimpan satu pertanyaan tentang hubungan Xiaoli dan Jia kedepannya.
"Aku sudah berjanji pada mendiang Papa yang tak bisa aku dustakan, untuk menjadikan putra sulung Xiao sebagai penerus Jack Black di generasi setelah aku."
"Setelah aku menilai Xiaoli secara langsung... Memang hanya Xiaoli Chen yang aku rasa pantas mendampingi Jio di masa depan. Berdua, berdiri di barisan paling depan untuk membela klan, menggantikan aku dan Jack yang selama ini sudah berdiri di barisan paling depan."
Ucap sang Mafia mengeluarkan unek-uneknya yang sejak tadi membebani isi kepalanya.
"Aku tau, Honey..." gumam Chania. "Kamu tidak akan bisa melanggar janji pada mendiang Papa Frederick dan Mama Madalena."
"Tapi jika Xiaoli tetap berangkat, aku yakin Jia akan sangat bersedih..." gumam Michael lagi. "Bisa saja Jia akan sangat murka padaku, entah esok maupun suatu hari! Apalagi jika Jia tau resiko apa saja yang akan di hadapi oleh Xiaoli."
"Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk berpisah bahkan tanpa komunikasi!" lanjutnya. "Karena di sana adalah tempat yang penuh dengan ujian." Michael menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu tau, Baby? Jack dulunya adalah bodyguard yang penuh canda tawa dan pecicilan. Dia sangat jahil! Begitu keluar dari sana, kamu lihat sendiri seperti apa dia saat pertama kali kamu mengenalnya..."
"Ya... Aku tau, Honey... Gia sering mengadu pada ku. Dan mengatakan Jack kadang sangat dingin, tapi juga terkadang hangat." jawab Chania mengakui betapa dingin bodyguard satu itu. Melebihi dinginnya suaminya sendiri.
"Kalau begitu... kenapa tidak kamu beri alat komunikasi yang bisa terhubung dengan kita saja, Honey! Dengan begitu mereka akan tetap berkomunikasi dengan baik."
"Tidak bisa, Baby... Semua itu sudah di atur oleh Sensei Arata. Peraturan tetaplah peraturan."
"Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka tidak terlalu lama berpisah?"
"Tidak ada!" jawab Michael menggeleng cepat. "Hanya Xiaoli sendiri yang bisa membuat waktu terasa cepat atau lama." jawab sang mafia.
__ADS_1
"Caranya?" Chania memperbaiki posisi duduknya. Ia antusias dengan apa yang akan di ucapkan sang suami. Untuk kemudian di sampaikan pada sang putri untuk di teruskan pada Xiaoli. Meski mungkin harus diam-diam.
"Dulu Jack menyelesaikan tugas itu dalam kurun waktu tiga tahun," jawab Michael. "Dan kata Sensei Arata, Jack adalah muridnya yang paling cepat menyelesaikan tugas ini."
"Dan Sensei Arata bilang, semua tergantung dari murid itu sendiri. Sejauh mana mereka menyelesaikan tugasnya."
' Jadi, semua bisa di usahakan Xiaoli? '
' Jika benar Xiaoli serius dengan Jia, aku yakin dia pasti berusaha menyelesaikan lebih cepat, bukan? '
Batin sang Nyonya besar sembari mengangguk mendengar jawaban sang suami.
"Lalu... menurut kamu... Apa Xiaoli lelaki yang baik untuk Jia, Honey?"
"Aku tau Xiaoli pemuda yang baik. Aku juga yakin dia bisa menjaga Jia dengan baik. Hanya saja di sana..." Michael berhenti berucap, dan hanya menghela nafas berat.
"Apa?" tanya Chania yang memang sesungguhnya tak paham akan apa yang di khawatirkan oleh suaminya.
Michael menoleh sang istri, menatap sendu. Kemudian menemukan wajah anak-anak mereka yang mirip dengan sang istri di beberapa titik.
***
"Di sana, tidak hanya fisik dan otak saja yang akan di uji. Tapi juga akan banyak godaan!" ucap Jack pada Andreas yang sejak tadi menunggu bodyguard alumni Sensei Arata itu bercerita.
Mereka semua tengah membicarakan Xiaoli yang siap di kirim ke Jepang untuk menempa ilmu di Sensei Arata. Menggantikan posisi Jack Black yang sudah berusia lebih dari setengah abad. Usia Jack dan Michael memang tidak jauh berbeda.
Di sana, bukan hanya ilmu fisik saja yang di tempa. Melainkan ilmu pendidikan bisnis yang nilai standar ujiannya tidak main-main.
Hanya orang tertentu saja yang di terima di sana. Semua berdasarkan pilihan dari orang-orang tertentu pula.
"Aku tidak mau bercerita dengan pasti. Yang jelas, aku saja sampai muak di sana hampir 3,5 tahun lamanya!" jawab Jack.
"Apa godaan itu berhubungan dengan... wanita?" tebak Noel ragu-ragu.
"Salah satunya!" jawab Jack mengayunkan kepalanya ke bawah dan ke atas secara lambat.
"Tapi... Kalau kamu bisa, aku yakin Xiaoli juga pasti bisa!" sahut Dimitri yakin.
"Kita lihat, seperti apa dia setelah kembali dari sana!" kikik Andreas. "Aku yakin dia akan sedingin anda, Tuan Jack!" lanjutnya.
"Aku rasa juga begitu!" sahut Noel.
__ADS_1
Jack dan Dimitri saling tatap satu sama lain mendengar ocehan Andreas dan Noel. Yang mereka bayangkan tentu saja berbeda dengan apa yang di bayangkan oleh bodyguard yang lain.
Karena yang ada di benak mereka adalah hubungan kedepannya antara Xiaoli dan Nona muda mereka yang tentu saja belum di ketahui oleh bodyguard lainnya selain mereka berdua dan keluarga Michael Xavier.
***
Sementara itu di dalam kamar sang Tuan Muda Xavier, ada dua pemuda yang sedang terlibat obrolan serius namun di lakukan dengan sangat santai.
Jio duduk di meja kerjanya, mengotak atik layar ponsel dan dengan iseng ia meretas ponsel sang kekasih. Dan iseng pula ia melacak keberadaan kekasihnya yang ternyata masih berada di jalan yang tak asing baginya.
' Untuk apa ia pergi ke rumah Flo? '
Gumam sang putra mahkota.
Sedang Jellow berbaring santai di atas ranjang empuk nan mewah milik Jio. Menatap langit-langit kamar, dan melukis wajah cantik gadis yang terakhir kali ia kencani.
' Ah! Dia masih selalu saja membayangiku! '
Jengkel sang pemuda mengingat sang mantan yang memilih pergi karena memergoki dia ber-disco di salah satu klub malam di Perancis bersama dengan beberapa penari seksi.
"Kau tau jika Jia kencan dengan Xiaoli, kenapa diam saja?" tanya Jellow mengalihkan fokusnya dari bayangan sang mantan.
"Aku baru tau kemarin, you know!" jelas Jio sedikit menghentak. "Aku memberi dia kesempatan untuk berbicara pada Daddy sampai besok, jika tidak maka aku yang aan membongkarnya dan dia akan terlihat seperti pengecut. Tapi ternyata dia mengatakan hari ini!" jelas Jio apa adanya.
"WEEWW!!" seru Jellow bangkit dari rebahan dengan menjadikan satu sikunya sebagai penyangga tubuhnya yang tinggi dan tegap.
"Hmm... lihat ini!" ucap Jio menunjuk wajahnya yang sedikit memar. "Aku bertarung dengannya di gedung latihan tembak semalam!"
"Oh my God!" pekik Jellow tak percaya akan semua cerita ini. Tapi tak mungkin juga jika seorang Jio membual, bukankah begitu?
"Lalu sekarang... apa menurutmu Xiaoli laki-laki yang cocok untuk Jia?" tanya Tuan muda Harcourt menatap serius pada sang putra mahkota. "Mengingat keduanya adalah petarung. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka sedang terjadi masalah..."
"Apalagi ladang masalah sudah ada di depan mata mereka dan siap untuk di panen!" lanjut Jellow menerawang jauh tentang berbagai kemungkinan yang mungkin saja terjadi di masa depan pada sepupu cantiknya itu.
"Aku tidak tau, Jell! Semua masih rumit di kepalaku!" jawab sang putra mahkota menghela nafas kasar. "Tapi Xiaoli bukanlah lelaki yang lemah. Jika untuk menjaga Jia saja, aku yakin bukan hal berat untuknya!"
"Hmmm.. Aku juga memikirkan hal yang sama!" sahut Jellow kembali merebahkan tubuhnya secara total.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan muncul di ponsel sang putra mahkota Xavier. Pesan dari seseorang yang rumahnya sedang di datangi oleh sang kekasih.
Flo [ Apa sebelum ini Virginia mengenal pemuda bernama Axton? Dia mengikuti Virginia sampai ke depan rumah ku, Jio! ]
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...